Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Praduga yang menyiksa


__ADS_3

Andre terus menerima ucapan selamat dari orang orang. Sesaat setelah Andre resmi menjadi komisaris utama, peningkatan keamanan pun menjadi semakin tinggi.


Kini kamar Sarah dijaga oleh dua orang bodyguard laki laki, dan seorang perempuan yang berjaga di dalam.


Andre menanyakan bodyguard yang menjaga Sarah dan meminta kontaknya. Ia menghubunginya langsung untuk menanyakan kondisi Sarah disana. Sang bodyguard menunjukan Sarah yang tertidur. Andre pun tenang.


Andre beberapa kali menghela nafas mengeluh. Ia ingin sekali acara itu berakhir. Ia ingin menemui cintanya yang kini terbaring sakit.


Sarah dibangunkan oleh usapan lembut tangan suaminya yang menunggu ia terbangun. Ketika ia membuka mata, ada senyuman di wajah suaminya saat itu.


“Jam berapa sekarang?” tanya Sarah


“Jam dua belas” bisik Andre masih membelai wajahnya.


Sarah bangun dan menyandarkan diri.


“Acaranya dah selesai?”


“Udah!” Andre terus menatap Sarah mesra dengan senyuman


“perut kamu masih sakit?” tanyanya


Sarah menggeleng. Andre melirik pada bubur tak tersentuh yang berada di nakas dekat ranjang mereka. Andre beranjak mengambil dan membawanya keluar, ia memanaskan bubur tersebut pada microwave yang terdapat di pantri kamar super mewah tersebut.


Tak berapa lama ia  kembali ke kamar dengan membawa bubur hangat untuk Sarah. namun langkahnya terhenti ketika melihat Sarah berusaha memasang sepatunya


“apa yang kamu lakukan Sar? Mau kemana?”


“aku akan pulang! Kamu menginaplah disini, aku ngerti kok!” ucap Sarah  yang memahimi mungkin Andre sangat menginginkan ia keluar dari kamar itu.


“menginaplah disini!” pinta Andre lembut.


“apa kamu yang memesan kamar ini?” Sarah berusaha mencari kebenaran dari obrolannya bersama Susan. Entah mengapa Sarah berharap Andre mengatakan tidak.


“iya!” Andre tersenyum tapi seketika senyum itu hilang.


Andre telah membayangkan malam ini dengan sempurna, melamar Sarah kembali, membayangkan bagaimana ciuman penerimaan dari Sarah, dan bagaimana mereka menghabiskan malam di kamar ini.


Namun semua harus terpupuskan karena Sarah dalam kondisi sakit. Rasa kecewa Andre bukan karena sakitnya Sarah, tapi ia kembali batal mengungkap perasaannya pada Sarah dengan cara yang romantis.


Deg!


Jantung Sarah kembali terasa jatuh. Ternyata semua benar! Ditambah ekspresi Andre yang terlihat begitu kecewa, sepertinya benar! Dia hanya menjadi pengganggu untuk mereka berdua.


“aku akan minta antar dengan nona yang di depan” ucapnya beranjak ingin turun dari ranjang


“sar!” tahan Andre


“tak apa Ndre! Aku mengerti kok!” ucapnya lagi, tapi apa yang Sarah mengerti? Andre sendiri tidak mengerti.

__ADS_1


Kembali dering telepon Andre berbunyi, dari sang asisten yang diberikan oleh kakeknya. Andre beranjak menjawab.


“hem!............  Hem! ................ Hem! ........... besok aja, kamu gak usah datang, kita ketemu besok aja!” ucapnya pada seseorang di telpon


Sarah memalingkan wajahnya. Ia yakin jika telpon itu dari Susan yang menunggu Andre. kembali desiran pedih itu terasa.


Ingat sar! Ingat! Dia bukan siapa siapa kamu! benaknya melawan.


Anak mamah! Tetaplah baik baik ya? bujuknya dalam hati pada sang buah hati.


Sarah sudah siap meninggalkan tempat itu tanpa peduli Andre ingin tetap disana.


“mau kemana kamu?” tanya Andre dengan nada dingin dan kesal dengan sikap Sarah.


“kamu tinggallah.. aku bisa pulang sendiri” ucapnya berusaha tersenyum.


“kembali ke tempat tidur kamu sar!” ucapan itu begitu tegas.


Perkataan Andre berbau emosi. Sarah bisa mengerti jika Andre kesal saat ini. malamnya telah terganggu olehnya, jadi wajar jika ia marah.


Berbeda dengan pemikiran Sarah, Andre kesal pada Sarah yang sedari tadi bersikeras ingin pulang, sedang wajahnya saja seperti manusia zombi yang tak berdarah, bahkan Sarah belum makan malam sama sekali.


Disaat ia menderita maag, kenapa justru ia terlambat makan! hal itu lah yang membuat Andre kesal. Wajah itu begitu sembab dan pucat, bukannya ingin istirahat, Sarah malah bersikeras ingin pulang di tengah malam.


Sarah seperti tak peduli pada kesehatannya. Sedang ia begitu mengkhawatirkannya.


Sarah kembali duduk di tepi tempat tidur. Andre menghela nafas, dan mendengarnya membuat Sarah menutup mata. Helaan nafas itu ia anggap sebagai keluhan Andre padanya.


“kalau merasa bersalah! Maka menurut saja, semua sudah seperti ini, jadi paling tidak, buat diri kamu nyaman” ucap Andre masih dengan nada kesal


Ahhh... nasibku! Benak Sarah meratapi merasa diomeli. Ia teringat kembali dirinya yang dibeli. Dirinya yang dulu menjadi budak di tempat orang orang yang ia tumpangi.


“jarak rumah dan hotel ini tidak jauh! Apa tidak bisa aku pulang saja?” ucapnya dengan mata berkaca kaca


Andre menghela nafas lagi, entah mengapa, malam ini ia tak mampu mengontrol emosinya. Kekacauan yang dibuat Susan, dan kengerian menghadapi sikap Sarah yang kembali dingin membuatnya sulit untuk bernafas.


“kamu belum makan! makanlah, buburnya sudah ku panaskan” Andre kembali mendekati Sarah, Sarah melirik pada meja yang berada disana, terlihat uap bubur keluar dari mangkuk yang tersaji yang disanding dengan segelas susu yang biasa ia minum.


“tadi mamah kirim susu kamu kesini” jawab Andre.


“mamah sangat khawatir, kakek juga, tadi dia hanya nitip pesan agar kamu jaga kesehatan” jelas Andre


Ya! kakek! Lelaki yang mungkin setelah ini akan menghinanya. Sarah menunduk, ia senang dengan perhatian sang mertua yang menganggapnya seperti putrinya sendiri. Tapi? Apa perempuan itu akan tetap menganggapnya sama ketika .. Sarah tak ingin lagi berpikir jauh. Ia menggeleng kecil berusaha mengusir pikirannya sendiri.


“pusing?” tanya Andre kembali mendekat.


“aku tidak ingin makan!” jawab Sarah


“kalau begitu kita keluar sekarang, aku akan bawa kamu ke rumah sakit” kesal Andre

__ADS_1


“kamu sakit maag, sekarang kamu memilih tidak makan” Andre terus mengomel seperti dulu Sarah padanya


“apa mau kamu Sar? Apa hanya aku yang sekarang khawatir dengan kamu? apa kamu tidak peduli pada diri kamu sendiri?” Andre semakin emosi


“baiklah! Aku akan makan!” jawabnya seperti penurut diiringi air matanya yang menetes


Berada di kamar itu membuat Sarah sangat tersiksa. Ia mengingat semua kata kata Susan padanya. ia bukan apa apa? Ditambah dengan sikap Andre yang jelas menunjukkan kemarahan padanya.


Sarah mulai memasukan sendok bubur ke dalam perutnya dengan menahan tangisnya.


Oh ya.. aku harus makan, untuk anakku! Semangat itu keluar dan membuatnya mampu menelan, perlahan bubur itu mulai berkurang, sendok demi sendok.


Andre tersenyum melihat Sarah yang mau menikmati buburnya. Hatinya sedikit tenang.


Setelah selesai, Andre mengambil mangkuk dan gelas Sarah


“Gantilah baju kamu, di lemari ada baju tidur yang bisa kamu pakai” ucapnya kini melembut


“hem!” Jawab Sarah singkat.


Andre pun keluar membawa gelas dan mangkuk kotor tersebut.


Sarah membuka lemari, terlihat sebuah lingerie berwarna merah maron yang terlihat begitu seksi.  hatinya kembali teriris, ia membayangkan kulit putih Susan yang mengenakan pakaian seksi itu yang akan menghabiskan malam bersama Andre.


Mereka memang akan menghabiskan malam bersama!Benak itu merintih. Hati itu tak bisa dibohongi. Ia terlalu sakit, air matanya menganak sungai menatap pakaian haram tersebut. ia menunduk memegang erat pintu lemari yang ia buka.


Kenapa sangat sakit! Padahal aku tahu semua ini! benaknya mencoba menelaah, tapi pedih tetaplah pedih, irisan luka itu seakan menganga.


Sarah mengambil jubah tidurnya saja, ia hanya mengenakan untuk menutup tubuhnya. Perlahan ia naik ke tempat tidur, ia menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.


Ia berusaha menahan isak tangisnya ketika ia mendengar Andre kembali memasuki kamar.


Andre melihat Sarah yang berbaring miring memunggunginya. Perlahan Andre menyentuh bahu Sarah, tapi dengan cepat Sarah mengendikkan bahu pertanda ia menolak sentuhan Andre.  Sarah menangis dalam diamnya, ia tak bisa menahan sakit dihatinya.


“maafin aku!” ucap Andre menarik tangannya


Sarah tak ingin ia sentuh sama sekali. Wanita itu tak bisa membaca sedikitpun cintanya. Andre merasa risau.


“Sar!” panggil Andre.


Andre ingin menanyakan apakah Sarah mendengar pembicaraannya dengan Susan, tapi ia kembali berpikir,


kondisi Sarah sedang seperti sekarang, itu tak mungkin ia lakukan  jika ia tak ingin Sarah bertambah parah.


“tidurlah! om Ardi bilang, istirahat dapat membantu kamu agar cepat sembuh” ucap Andre beranjak keluar.


Saat suara pintu tertutup, Sarah tak bisa lagi menahan isakan tangisnya hingga terdengar jelas! Entah mengapa ia tak rela lelaki itu pergi, ia tahu Andre mungkin akan menemui wanitanya.


Sedang Andre hanya pergi ke balkon ruang suit tersebut, ia menyesap rokok untuk menghilangkan segala kekacauan pikirannya malam ini.

__ADS_1


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


__ADS_2