
“Mimpi indah istriku!”
Ia pun mengecup keningnya dan tersenyum. Namun tiba tiba Sarah membuka matanya. Mata mereka bertemu, dan membuat jantung Andre terasa melompat keluar saat itu juga.
Andre menahan nafas, namun mata Sarah kembali tertutup dan membalik tubuhnya mencari guling yang selalu ia peluk. Ternyata wanita itu hanya mengigau, nafasnya kembali teratur, ia memang masih tertidur.
Andre menghela nafas lega. Ia takut Sarah mendapatinya. Ia pun hanya tersenyum, kembali membenahi selimut sang istri dan keluar dengan senyuman lucu.
Hampir saja! Benak Andre.
Pagi pagi Andre kembali ke kamar Sarah. ia ingin mengecek kembali kondisi sang istri, tapi ia mendapati Sarah yang sibuk mempersiapkan tas pakaian.
Sarah mendapat pemberitahuan untuk kembali ke perusahaan. Mereka ingin membahas hal baru terkait kasus pembatalan kontrak sebelumnya. Perusahaan tempat Sarah pun kini memiliki penawaran baru dari perusahaan lain.
“aku balik hari ini!” ucap Sarah melirik Andre yang memasuki kamar.
Andre merasa takut, jangan jangan Sarah pergi karena pengungkapannya tadi malam didengar olehnya.
“Kok mendadak?” tanya Andre merasa takut.
“Iya, ada penawaran dari perusahaan lain. Moga ini bisa membantu kami bangkit lagi!” Ucapnya sambil memasukkan barang barangnya ke dalam tas
“Aku gak bisa ngantar!” Ucap Andre dengan nada sedih
Sarah tersenyum mendengar Andre mengatakan itu. Bukankah selama ini Andre memang tidak pernah mengantarnya ke tempat kerja?
Andre melihat senyum Sarah yang seakan mengejek kata katanya.
“Soalnya Aku ada meeting jam 9 pagi!” jelasnya lagi
“Aku bisa pesan grab ke terminal” jawabnya
“Aku telpon Pak Budi aja, biar kamu di antar!” Andre keluar mengambil ponselnya
Sarah masih melanjutkan packingnya dan Andre pun kembali mendatanginya.
“Pak Budi udah OTW..” meyakinkan Sarah
“Pak Budi kesini 30 menit Cuma buat antar aku ke terminal yang hanya 10 menit? Kamu gak efisien!” Senyumnya menutup resleting tas dan beranjak keluar kamar.
“Pak Budi antar kamu sampai ke teras perusahaan kamu!” Jawabnya serius dan terkesan tegas
Sarah berhenti dan menoleh ke Andre
“Aku bisa sendiri Ndre! Kaya biasanya!” tatapnya serius
Andre mengikuti sarah keluar dan duduk bersandar pada sofa, ia menatap Sarah dengan tajam.
“Kenapa kamu selalu menolak fasilitas yang ku berikan? Tunjangan, kartu kredit, sekarang hanya supir yang mengantar kamu?” ucapnya kesal
__ADS_1
Rasa kesal itu sebenarnya cemburu dengan email yang ia lihat kemarin malam. Kekhawatiran akan Sarah kembali pada sang sahabat membuatnya semakin takut kehilangan sang istri.
Sarah mengerutkan kening merasa bingung dengan sikap Andre saat itu! akhir akhir ini memang dia selalu membuat mereka dekat, bukan seperti dulu hanya untuk berpura pura. Tapi sikap Andre yang terkesan menjadi suami sejati membuat Sarah merasa bingung.
“Karena aku gak berhak!” ucapnya pergi menuju dapur mengambil selai dan beberapa hal dari dalam kulkas
Andre menunduk kecewa dengan jawaban Sarah. Andre mengambil ponselnya dan menghubungi sekretarisnya.
“Batalkan meeting jam sembilan pagi ini, tunda setelah makan siang!” ucapnya kesal di telepon dan terdengar jelas di rungu Sarah
Sarah yang melihat Andre seperti itu meletakkan kembali gelas yang ia pegang. tadinya ia ingin menyiapkan sarapan, tapi sikap Andre barusan membuatnya diam tak bergerak.
“Kamu kenapa sih ndre?” Ia masih berdiri terpaku di dekat meja makan
“Karena kamu gak mau diantar pak budi! Jadi aku sendiri yang ngantar kamu!” Andre melirik kesal pada Sarah.
Sarah semakin bingung, sikap Andre marah padanya karena ia tak ingin merepotkan orang lain, tapi kenapa kemarahan itu seakan berlebihan?
Seharusnya Andre kesal karena ia meminta diantar. Tapi sekarang justru terbalik, dia menolak diantar tapi kenapa Andre kesal?
Sarah menggelengkan kepala melihat sikap Andre saat itu. Sarah pun mendekati Andre
“Kamu kesal?” tanya Sarah ingin memastikan mengapa sikap Andre seperti sekarang
“Iya, aku kesal!” akhirnya ia mengungkapkannya
“Karena...?” tanya Sarah lembut karena masih merasa bingung menghadapi Andre saat itu
“Aku benar bener gak ngerti kamu!” gumam sarah
Andre terdiam mendengar kata kata Sarah. Ia menunduk, ia menyadari ada apa sebenarnya dengannya. Kenapa dia kesal ke Sarah padahal dia yang cemburu?
Sarah ingin pergi ke kamar, tapi Andre menahan dengan menarik lengannya.
“Sorry..!” ucapnya dengan nada menyesal
“aku ...” Andre tak bisa mengatakan dan bingung ingin membuat alasan apa yang bisa ia katakan.
Sarah melihat ke tangan Andre yang menahannya. Andre mengusap wajahnya. Seperti bingung sendiri. Sarah menghela nafas mengerti. Mungkin Andre terlalu tertekan saat ini. hanya pemikiran itu yang bisa simpulkan.
“Kamu gak perlu batalin meeting pagi ini. Aku bisa pulang sendiri! oke!! Aku diantar Pak Budi!” Sarah mengalah
“Aku kacau Sar!” suara itu terdengar lelah namun genggaman tangannya semakin erat
Andre seakan tidak ingin Sarah kembali. Tapi dia tidak mampu menahannya. Karena ia tahu batasan itu tak bisa ia langgar.
“Udah hampir jam tujuh, mending kita sarapan!” ucapnya perlahan melepaskan genggaman tangan Andre.
Sarah membakar roti, karena dia tidak bisa menyiapkan apapun pagi ini. Di mengoles semua roti, memeberikan parutan keju dan memberikan ke Andre.
__ADS_1
“Aku ngerti dengan semua tekanan yang kamu hadapi. Dan aku tau kamu juga tertekan dengan hubungan kita. Aku akan lebih berusaha, agar aku seperti tak ada!” nada bicara Sarah seakan ingin membuat Andre nyaman namun justru kembali membakar Andre
Andre menatapnya dengan tatapan dingin.
Kenapa kamu selalu salah paham dengan posisi kamu? Itu yang dipikir Andre.
“pekerjaan baru ini justru mempermudah kita, kamu bisa balik ke apartemen, dan aku akan pamit pada Danu jika aku harus fokus pada kerjaan lagi, paling tidak aku bisa membantu melepaskan kamu pada satu tekanan ini, kamu bisa fokus dan gak perlu berpikir kita terbaca Danu” jelas Sarah
Andre tertunduk, Sarah mengkhawatirkan dirinya tapi dia merasa tak rela dia pergi
“Aku benar benar stress dengan salah satu project!” ucapnya menatap kosong pada piring sarapannya
“karena project ini seperti si malakama bagiku..” lanjutnya
Sarah pun menatap semakin kasihan pada Andre. Dia pun hanya akan kembali menjadi pendengar untuknya.
“Aku baru menjalankan project baru, Meski kontraknya pendek, tapi aku berharap project ini bisa bertahan lama. Aku sangat menyukai project baru ini” Andre menatap Sarah
Andre kembali menyantap sarapannya.
“Project ini ku ambil karena alasan sebuah project lama yang ingin ku pertahannya. Kontrak ditandatangani atas dasar project lama. Tapi sekarang, project lama itu sudah berakhir, dan pemilik project baru belum mengetahuinya” jelas Andre
Sarah terus menyimak curhatan Andre.
“Jika aku memberitahu project ku yang lama sudah berakhir, maka otomatis project baru ini juga berakhir. Sedangkan aku menginginkan kerja sama selamanya dengan project baru ini” kembali menatap Sarah dengan tatapan teduh dan sedih
Sarah terdiam mendengar cerita Andre. Ia benar benar seperti berada di zona dimana dia tidak mampu mengambil keputusan.
“Kenapa project lama mu berakhir?” Sarah mencoba menanggapi
“Pengkhianatan!” jawabnya singkat
“Heh?” Sarah merasa aneh dengan kata kata Andre
“Semacam itu! aku gak bisa cerita detailnya!” ucapnya menghindar
“Apa gak mungkin lagi menjalin kerjasama?” Sarah mencoba memahami
“Sangat tidak mungkin. karena project itu tak bisa dilanjutkan lagi.."
“apalagi Aku juga berusaha mencurahkan semua untuk project baru ini! aku takut project ini gagal” lanjutnya lagi
“Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap dengan project baru, apalagi kamu belum tahu betul prospek keuntungannya!” saran Sarah kembali menyeruput teh
Deg!
Hati Andre menatap kosong.
Keuntungan? Project itu keberuntungan dalam hidupku, aku menemukan ketulusan itu, dan aku ingin memiliki itu selamanya.
__ADS_1
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Bisa tebak project itu apa? kalau kakak semua mengerti jalan cerita novel ini, pasti sudah bisa menebaknya.. hehehehe