
Sang ibu memasuki kamar dan ternyata Sarah tidak disana
“Ponselnya di kamar! Sarahnya ...” Nensi terus melihat lihat dan membuka kamar mandi
“gak ada!” lanjut Nensi ragu
“Gak ada gimana mah?” Andre semakin khawatir
Sarah pergi? benak itu semakin berbisik
Sarah meninggalkannya! kengerian itu muncul. Andre pun semakin panik
“Bentar mama cari dia! Siapa tahu dia di dapur!” Nensi kembali melangkah
“tutup dulu ya? nanti mamah hubungi lagi” ucapnya ikut merasa khawatir karena memang tak terlihat bayang bayang sang menantu ada di rumah besar itu.
Nensi menanyakan pada semua orang di rumahnya keberadaan sang menantu, namun semua tak bisa menjawab.
“ya tuhan.. Sarah! mamah harap kamu tidak pergi sayang” dessah Nensi merasa takut dengan pikirannya.
Suara dering telpon Nensi kembali terdengar! Terlihat jelas jika Andre kembali menghubunginya.
“gimana mah?” tanyanya langsung, suara itu jelas menggambarkan kepanikan yang luar biasa.
“Sarah gak ada!” ucapnya
“apa?” Andre berdiri.
Sang kakek yang masih bersamanya melihat jelas telah terjadi sesuatu dengan sang cucu.
Andre dengan cepat menyambar jasnya.
“ada apa Andre?” tanya kakek
“Sarah pergi kek!” raut wajahnya sedih dan khawatir, panik dan entahlah, tak ada kata yang cocok untuk menggambarkan ekspresi Andre saat ini.
“tidak mungkin! dia tidak keluar dari rumah itu!” jawab kakeknya santai
Andre menoleh pada sang kakek!
“maksud kakek?” Andre mengerutkan kening
Sejenak kakeknya terdiam.
“kakek memiliki mata dimana mana! Dan istrimu tidak meninggalkan rumah sama sekali” jelas sang kakek.
“terus dimana dia?” ucap Andre lagi
“berarti dia masih di dalam rumah” jawabnya
Seketika kengerian menghantam tubuh Andre, di rumah? tak bisa ditemukan? Berarti Sarah...?
Andre tak berani melanjutkan pikirannya yang berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
“Lebih cepat pak!!” pinta Andre pada supir yang membawanya menuju rumah utama.
Mobil melaju dengan cepat, sedang di dalam rumah, semua pembantu berusaha mencari Sarah. Sang mertua khawatir jika ia pingsan seperti sebelumnya.
Mobil Andre memasuki halaman. Ia pun berlari memasuki rumah dan memanggil manggil nama Sarah. Namun tetap tak ada.
Keputus asaan Andre terlihat saat Ia memasuki kamar mereka di lantai 2. Ia berjalan malas menuju balkon kamarnya. Ia telah mencari Sarah di seluruh rumah besar tersebut.
Andre baru saja mengeluarkan satu batang rokoknya untuk ia sulut. Namun tangannya terhenti melihat ada sosok putih di gazebo paling belakang. Andre pun berlari menuruni tangga. Ia berpapasan dengan ibunya.
“Sarah di gazebo belakang mah!” ia berlari menuju gazebo
Sang bunda hanya melihat betapa khawatir anaknya. Betapa ia mencintai istrinya, sedang Sarah begitu ingin pergi. Nensi hanya menghela nafasnya.
__ADS_1
Andre mendekati Sarah dengan perlahan. Ia berpikir Sarah mungkin pingsan disana.
“Sayang.. !” perlahan ia meletakkan tangannya dengan lembut di pipi Sarah.
Ketakutan melanda Andre jika Sarah yang terbaring disana dalam kondisi pingsan, tangan Andre gemetar meletakkan telapak tangannya pada wajah yang kini terlihat begitu putih. Pipi itu terasa dingin karena udara sejuk disana.
Merasakan sebuah tangan hangat di pipinya, Sarahpun terbangun dari tidur siangnya.
“Kamu gapapa?” bisiknya menghempas nafas yang ia tahan melihat Sarah yang terbangun dengan tatapan datar dan kosong
Andre melihat begitu banyak bercak gigitan nyamuk di tubuh Sarah, Karena ia hanya mengenakan dress berlengan pendek. Ia bangun dan mengaruk garuk lengannya. Andre duduk disamping Sarah dan melihat lengan Sarah.
“Kenapa tidur disini?” Ia menatap cemas pada istrinya
“Aku ketiduran!” jawabnya dingin, Sedingin pipi itu, sedingin tatapan itu.
Andre menatap wajah Sarah yang masih sibuk melihat lengannya yang penuh dengan bentol bentol dan menggaruknya.
Tiba tiba Andre memeluknya. Sarah ingin menghindar, tapi ia menyadari mertuanya yang berdiri di teras sedang menatap mereka.
Helaan nafas Andre terdengar, hatinya lega. Ia begitu takut Sarah pergi tanpa kata.
“Kurasa kita gak perlu berpura pura mesra lagi di depan mamah!” bisik Sarah
“Aku minta maaf!” ucap Andre mengeratkan pelukannya
“aku benar benar minta maaf sayang! maafin aku” ucap Andre lagi terdengar sedih
Sarah diam terpaku. Ia tidak mampu merasakan cinta Andre saat itu. yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari lelaki itu.
Sarah mendorong Andre agar melepaskan pelukannya. Ia menatap Andre seakan dengan tatapan benci. Ucapan keras dan kasar Andre pagi tadi seolah mengingatkan Sarah akan takdir yang ia jalani sewaktu ia kecil.
Ia pun menatap dingin pada Andre. Andre yang masih memegang bahu Sarah pun merasakan dinginnya tatapan istrinya.
“Ayo, kita masuk! Badan kamu penuh bentol bentol gini!” ia menatap hingga ke kaki Sarah
“Kamu gak 'papa sar?” tanya Nensi menyambut sang menantu
“Saya ketiduran mah!” senyumnya hangat, senang menerima perhatian sang mertua
“Ya sudah sayang...istirahat di dalam!” mengelus bahu Sarah
“bawa istrimu masuk Ndre!” Pinta Nensi pada Andre yang berdiri disamping Sarah
Andre merangkul bahu Sarah ketika ia berjalan menuju tangga, tapi Sarah menghindarinya, Andre pun menarik
tangannya kembali dan hanya mengikuti Sarah yang menaiki satu persatu anak tangga.
Saat Sarah duduk di tepi ranjang, Andre duduk disamping dan memutar tubuh Sarah menghadap padanya.
“Sini!” Andre mengambil tangan Sarah
Sarah ingin menarik tapi Andre menahan. Sarah menatapnya semakin dingin. Matanya masih membengkak karena tangisan pagi tadi.
“Biar bentol bentolnya hilang!” ucap Andre mengoles bentol bentol Sarah dengan obat penghilang gatal
“Aku bisa sendiri!” ingin mengambil, tapi Andre menolak
Ia mengoles pelan satu persatu bentol di lengan Sarah. saat Andre berlutut mengoles di kaki, Sarah menatap wajah Andre yang begitu perhatian padanya.
Persis seperti tantenya dulu, ketika ia terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah, tantenya akan datang dengan membawa koyo dan membantu menempelkan pada tubuh Sarah yang terasa sakit. Perhatian itu begitu hangat, namun hanya sebuah bantuan agar ia kembali bisa bekerja. Kembali menjalani aktifitas budaknya
Tak terasa Sarah meneteskan air mata mengingat nasibnya yang tak pernah berubah. Ia menganggap Andre pun seperti itu. air mata itu menetes di depan Andre. ia mengangkat wajahnya melihat wajah Sarah yang menunduk melihat ia mengoles bentol pada kaki Sarah.
“Sarah..!” ucapnya lirih melihat air mata Sarah
Sarah seakan mematung. Ia berusaha melawan perasaan sedihnya. Kondisi kehamilannya ini membuatnya begitu sensitif dan membuatnya sering sekali meratapi nasibnya.
__ADS_1
Kejadian demi kejadian seakan membuatnya semakin merasa terpuruk dan semakin rendah. Andre duduk di samping Sarah dan menyeka air mata Sarah. ia kembali memeluk Sarah.
“Maafin aku sar! Maafin aku! aku mohon!” ucapnya lembut dan membelai kepala Sarah lembut
Hatinya pedih menatap kesedihan sang istri yang seakan tiada henti
“Tolong biarin aku pulang!” pintanya lirih disela tangisnya dan mendorong tubuh Andre untuk melepaskan pelukannya
“Aku tau aku salah! Mungkin kamu sangat marah saat ini dengan ku” ucap Andre yang masih memegang kedua bahu Sarah
“tapi aku mohon.. tolong jangan sakiti diri kamu!” permintaan Andre begitu tulus dan dalam
“Aku tertekan disini! Aku ingin pulang!” pintanya lagi
“tolong izinin aku pulang! Aku mohon!” Air matanya mengiringi permintaan Sarah yang memelas.
Sarah menatap Andre seakan mengiba dan memohon. Tatapan seorang budak yang meminta untuk dilepaskan oleh tuannya tergambar jelas dalam sorot mata teduh dan sedih.
Andre menunduk sedih tak mampu melihat tatapan Sarah padanya.
“Aku mohon ndre.. ! aku mohon.. !” Sarah terus meminta dengan air mata yang sekarang menganak sungai.
Tak tega menatap mata itu, akhirnya Andre pun mengangguk mengiyakan permintaan Sarah. ia tidak sanggup lagi melihat Sarah yang begitu sedih saat itu.
“Jangan sedih lagi! Kamu bakalan susah sembuh kalo kamu stress!” Ucap Andre menyeka air mata Sarah dan tersenyum padanya
Sarah bersikeras ingin pulang pada penerbangan terakhir malam itu, tapi Andre melarangnya. Akhirnya ia kembali dengan penerbangan pertama pada keesokan harinya.
“nanti kamu di jemput Pak Budi, hem?” ucap Andre melepas kepergian sang Istri.
Sarah tersenyum, meski wajah itu masih terlihat sedih. Ada sedikit semangat yang tergambar dalam senyum tipisnya.
“jangan mikir apapun lagi! Hanya pikirkan kesembuhan kamu” ucap Andre lagi
Andre kembali memeluk Sarah sebelum Sarah memasuki pesawat pribadi yang disediakan Andre untuk mengantarnya.
“telpon aku kalau udah landing ya?” ucapnya lagi masih memegang kedua bahu Sarah.
Pegangan itu begitu erat. Andre tak rela berpisah, tapi Kondisi Sarah tak bisa membuatnya bersikeras menahannya.
Andre menghela nafas berat saat ia menunduk. Mencoba melepas beban dalam dadanya dan mampu menahan Sarah untuk tidak kembali.
“minum obat dan istirahat yang cukup ya? jangan masuk kerja dulu! Hem?” pinta Andre lagi
“hem!” Sarah menatap Andre sedih
Apa arti semua ini ndre? Apa kamu seberat itu berpisah denganku? Atau kamu hanya tak siap menjawab pertanyaan mamah saja?
Benak Sarah berusaha membaca semua sikap Andre padanya saat itu
Andre kembali memeluk Sarah, seorang pramugari yang muncul seakan meminta ia untuk segera memasuki pesawat.
“belum pisah aja aku udah kangen ma kamu” ucap Andre memejamkan mata memeluk Sarah.
Benarkah? Benarkan ini Ndre? Benak Sarah yang membuat bibir tersenyum, entah mengapa hatinya menghangat mendengar ucapan Andre yang seakan begitu mencinta
Sarah melepas pelukannya, namun senyumnya seketika pudar saat melihat seseorang yang berdiri pintu pesawat
Ternyata Andre hanya bersandiwara! Benak Sarah menghilangkan semua kehangatan dalam hatinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Bentar lagi semua terungkap ya kakak..
Sabar ya.. sesabar Andre pada Sarah.. hehehehe
kalau berkenan, boleh dong vote, gift, mawar kopi atau cuma sekedar likenya .. Terima kasih
__ADS_1