
“Sar... ! Sarah!” memanggil dengan lembut, namun sepertinya tidur itu terlalu nyenyak.
Andre mengulurkan tangan menggerak gerakan bahu Sarah, tapi tubuh itu tak bergerak sama sekali, tidak merespon suara maupun sentuhan lembut itu.
“Sayang bangun dulu!” ucapnya lagi
Namun Sarah masih tak bergeming. Mata Andre membulat, serangan kegugupan mulai melanda tubuhnya.
“Sarah! sar..?” Andre mulai panik karena tidak ada respon dari Sarah sama sekali
Andre membalik tubuh Sarah yang meringkuk membelakanginya dan Sarah terlihat sangat pucat, Wajahnya sepucat kapas.
Andre yang melihat itu ketakutan. Ia membuka Selimut tersebut, keringat Sarah tampai terlihat membasahi lehernya.
Perlahan tangan Andre terulur menyentuh dahi Sarah. Badannya terasa sangat panas. Andre membuang selimut yang menutupi tubuh Sarah, ia membawa tubuh itu kedalam rengkuhan gendongannya, Andre ingin membawa Sarah ke Rumah sakit.
Saat tangan Andre mengangkat leher dan bawah lutut Sarah. ia membuka mata.
“Kamu apa apaan?” bisiknya tersadar menahan Andre yang ingin mengangkat tubuhnya
“Kita ke rumah sakit!” Andre kembali mencoba membangunkan Sarah untuk digendong
“Lepasin! Aku baik baik aja” ucapnya kini membuka mata
“Badan kamu panas, kita harus ke rumah sakit!” Andre duduk di samping Sarah dan membujuknya, namun Sarah mencari dan menarik kembali selimutnya karena udara yang terasa sangat dingin.
“Aku Cuma demam, nanti minum obat juga sembuh!” ucapnya berbalik kembali memunggungi Andre
Andre menarik bahu Sarah lembut
“Sar.. ! ini bukan demam biasa, badan kamu panas banget!” Andre terus memaksa agar Sarah ke rumah sakit
“Udah sana.. berangkat aja! Aku gak ‘papa kok!” Kini Sarah menatap Andre yang duduk di sampingnya sudah terlihat begitu rapi dengan pakaian kantornya
Andre pun melepas jas dan meletakkan di kursi malas di kamar itu. ia menyingsingkan lengan bajunya. Mengambil handuk kecil untuk kompres.
“Tinggalin aja, aku bener bener gak ’papa!” Sarah menolak perawatan yang Andre berikan
“Badan kamu kaya kompor gini masih bilang gapapa?” Andre memaksa meletakkan kompres di dahi Sarah
“Aku pengen sendiri dre!” jawab Sarah menatapnya memohon
“Gak! Aku gak biarin kamu sakit gini sendiri!” ucapnya dengan tegas
“kamu suka atau gak! Terserah! Yang pasti aku gak akan kemana mana!” Andre menatap dalam mata Sarah yang setengah terbuka
Sarah pun diam. Ada ketegasan di wajah Andre yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Andre mengambil bubur yang tadi ia letakkan, Andre ingin menyuapinya.
“Aku bisa sendiri!” Tangan Sarah mulai terulur ingin mengambil sendok dari Andre.
Tapi Andre tidak memberikannya. Ia terus menyuapi Sarah. hingga beberapa sendok!
“Udah! Aku kenyang!” Sarah menolak suapan Andre
“Dikit lagi!” Andre memaksa Sarah membuka mulutnya
__ADS_1
Sarah pun terpaksa terus menelan bubur yang sebenarnya sangat tidak ia inginkan. Bubur itu terasa sangat pahit, sepahit kenyataan yang ia hadapi saat ini.
Setelah selesai sarapan bubur yang dipaksakan oleh Andre, Sarah pun minum obat.
Andre terus disana memperhatikannya. Ia mengganti handuk kompres yang sudah tidak dingin lagi. Sarah menatap Andre yang merawatnya dengan intensif.
Hatinya semakin sakit menerima kenyataan jika lelaki sebaik itu kelak tidak akan perhatian lagi dengannya. Sarah mencoba mengalihkan pandangannya
“Kamu dah telat lho!” Sarah mengingatkan Andre untuk bekerja
“Aku kerja dari rumah hari ini! jadi kamu tenang aja” pinta Andre
Perlahan mata itu mulai sayu, Sarah mulai mengantuk karena efek obat yang ia minum. Demamnya mulai turun. Ia pun mulai terlelap, Andre membenahi selimut Sarah dan keluar. Sarah hanyut dalam mimpinya sendiri
“istiharatlah.. lupakan semuanya” ucap Andre mengecup dahi Sarah sebelum ia meninggalkannya keluar kamar.
*
*
Pak budi dan Dona (sekretaris Andre) pun di minta untuk membawa berkas berkas yang harus Andre tandatangani ke rumah mereka
“Saya baru tau kalau pak Andre sudah menikah” ucap Dona dalam perjalanan menuju rumah sang atasan
“Ibu sering ke kantor, kenapa mbak Dona sampai gak tau?” Pak budi merasa aneh, karena Dona merupakan sekretaris Andre di Kantor
“Kayanya tiap kali ibu ke kantor saya lagi gak disana pak!” jelas Dona
Perlahan mobil tersebut memasuki sebuah perumahan sederhana yang berada di pinggiran kota.
Tapi pemikiran Dona Salah, ketika mobil perlahan dan menepi, mobil itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Jauh dari bayangan mewah yang ia bayangkan karena Andre adalah seorang yang bisa disebut sebagai milyuner
“Disini pak?” Tanyanya tak percaya
“Rumah pak Andre?” masih mencoba meyakinkan pandangannya yang setengah tak mempercayai anggukan pak Budi yang mengiyakan pertanyaannya yang pertama
“Iyya!” Penekanan kata Iya pak budi seolah menjadi jelas pandangan Dona pada Rumah itu.
Masa Rumah Pak Andre? benak itu masih tak percaya dengan netra dan pikirannya
“Gak salah pak?” Dona masih merasa tidak percaya
“Saya dengar ibu tidak suka pakai pembantu, makanya mereka memilih rumah sederhana biar gak terlalu repot!” jelas Pak Budi
“Wahh.. saya jadi penasaran seperti apa ibu!” ucapnya antusias membuat pintu dan keluar dari mobil
Andre mempersilakan Dona dan Pak Budi masuk. Dona meletakkan setumpuk berkas yang harus di cek Andre hari ini. Mereka pun sibuk dengan pengecekan pengecekan.
“Coba kamu cek laporan dari marketing? Seingat ku angkanya gak segini deh!” Andre memberi tanda pada file yang ia cek
Dona kembali mengambil berkas dari marketing yang setebal kitab suci. Saat mereka fokus pada pekerjaan masing masing, Tiba tiba terdengar suara dari dapur. Andre pun langsung meletakkan berkasnya di meja dan pergi menuju dapur mereka.
“Sayang! Kok bangun? Kamu bisa panggil aku!” ucapnya mendekati Sarah yang ingin mengambil gelas minum
“Aku haus, air minum di kamar habis” Sarah mencoba meraih gelas di lemari
Andre mengambil gelas dan mengambil minum untuknya. Sarah pun minum. Andre mengambil gelas Sarah dan meletakkan punggung tangannya di dahi Sarah. badan itu masih terasa hangat.
__ADS_1
“Ntar sore kita ke dokter!” ucapnya penuh ketegasan
Sarah menggelang.
“Ntar sore pasti udah mendingan” jawabnya dengan malas dan menarik kembali sweater yang ia kenakan.
Terdengar suara dering telpon dari ruang depan, Sarah mengenali suara tersebut bukan ringtone dari ponsel milik Andre. Dona pun menjawab ponselnya.
“Ada tamu?” Sarah bertanya dengan sedikit melirik ke arah ruang depan
“Dona, sekretaris ku! Ayo aku kenalin!” ajak Andre merangkul Bahu Sarah
“Oooh.. jangan, aku terlihat kacau seperti ini, malu!” ucapnya Kembali ingin mengisi tempat air untuk dibawa ke kamar
“kamu tetap cantik kok” senyumnya mengambil gelas Sarah
“sini! Aku bisa sendiri” Sarah ingin mengambil kembali
“Biar aku aja! Kamu istirahatlah” Andre mengantar Sarah ke kamar
Saat Sarah berbaring, Andre langsung memberi selimut padanya. memastikan posisi senyaman mungkin untuk sang istri. Ia pun duduk di tepi ranjang dan menatap Sarah dengan tatapan yang membuat jantung sarah berdebar.
“Kamu pengen aku disini?” Andre membelai rambut Sarah yang berada di atas telinga.
Sarah melirik mendengar kata kata Andre yang sangat lembut. Suara itu seakan nyata, tak sedikit pun terdengar palsu.
“Sekretaris kamu diluar, bukan disini! jadi gak perlu pura pura gitu” ucapnya pada Andre dengan sedikit gerakan bibir yang akan tersenyum.
Andre tertawa kecil mendengar kata kata Sarah yang seakan menilai setiap perbuatannya sebagai pura pura. Padahal ia begitu tulus mengucapkan semua itu, tapi Sarah hanya menganggapnya sebagai sandiwara.
Andre keluar dan kembali dengan air minum untuk Sarah yang ia letakkan di nakas samping tempat tidur Sarah.
“Kalau perlu sesuatu panggil aku ya?” kembali membelai puncak kepala Sarah
Ia pun keluar, sesaat ia menoleh pada Sarah saat masih memegang daun pintu. Ia tersenyum, sedang Sarah membalasnya hanya dengan mengangguk.
Hari itu Andre merawat Sarah dengan sangat intensif. Saat makan siang, Andre pun mengantar makan siang Sarah ke kamar.
“Aku bisa makan di dapur” ucapnya dengan mata sayu
Wajahnya masih terlihat sangat pucat. Tatapannya masih mengekspresikan kesedihan.
“Kamu sakit. Makan disini aja, di luar dingin” Andre meletakkan makan Sarah di depannya
Andre pun pergi mengambil sweeter milik Sarah dan mengenakannya pada Sarah.
“Aku bisa sendiri” seraya mengenakan sweater yang dibantu Andre
Saat memakaikan sweater pada Sarah. wajah Andre begitu dekat dengan wajah Sarah. sejenak dadanya merasakan getaran saat mata mereka bertemu. Tapi Sarah bergegas menghindar dan Andre pun merasa canggung karena itu.
Andre duduk di depan Sarah. ia menunggu Sarah menyuap makanannya.
“Kamu bisa pergi!” pinta Sarah lembut
Andre menggeleng!
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1