
Waktu berlalu tanpa terasa, ngidam unik Sarah semakin berkurang seiring perutnya yang mulai membuncit.
“sayang! Besok aku harus ke kantor karena ada meeting yang harus aku hadiri” Andre mengusap perut sang istri yang mulai mengantuk
“besok?” tanyanya
“hem!” jawab Andre ragu. Ragu jika istrinya mau ditinggal seperti minggu sebelumnya yang harus ia lalui dengan tangisan hingga tengah malam.
Sarah menangis dari siang hingga tengah malam seakan tak lelah karena kekesalannya ditinggal Andre saat ia tidur siang. Meski mereka melakukan video call saat Andre memang sedang meeting penting tapi tetap saja tak bisa menghilangkan rasa sedih sang istri dan terus menangis.
“kok baru kasih tau sekarang?” tanyanya serius dan kembali bangun dari baringnya
“aku takut kamu menangis seperti kemarin” jawabnya
Sarah menunduk merasa bersalah. Ia memang tak bisa menahan dirinya, tak bisa mengontrol dirinya meski berkali kali ia tahan.
“maafin aku mas.. aku juga gak tau kenapa aku sekarang gini” ucapnya menunduk menatap perutnya sendiri
“bukan salah kamu sayang..!” bujuk Andre mengambil kedua tangan Sarah dan menciumnya mesra
“ini keinginan anak kita yang gak ingin papahnya jauh dari dia” senyum Andre membuat sarah tersenyum.
“aku sangat beruntung sekarang! Punya suami yang super pengertian, punya mertua yang sangat menyayangiku dan kakek yang selalu mendukung” ucapnya tersenyum
“hem!” Andre mengecup dahi Sarah
“besok meetingnya jam berapa?” tanya Sarah
“pagi, tapi gak tau sampai jam berapa.. soalnya setelahnya harus ada pertemuan lagi untuk intern perusahaan” lanjut Andre
“kayanya seharian deh!” wajahnya kembali masam
Ia tak akan kuat jika seharian tak bersama Andre, tidur siang hanya bisa ia lakukan jika ia sudah mendapat suntikan dari sang suami.
“berarti gak bisa tidur siang dong besok?” lanjut Sarah mengerutkan wajahnya dengan masam
Andre tersenyum mendengar kata tidur siang dari istrinya. Tidur yang harus diawali oleh kenikmatan yang ia sangat sukai.
“entahlah... bisa atau tidak sayang” bujuk Andre membelai lembut rahang kiri Sarah sedang tangan kirinya masih menggenggam erat tangan cantik sang istri.
“hmmmm..” keluh Sarah dengan menghela nafas berat.
“nanti kalau selesai aku akan cepat pulang kok!” Andre
mencoba menenangkan istrinya yang terlihat gusar
“atau nanti kalau break kita vicall” lanjutnya
“iya.. gitu aja deh!” senyum Sarah dengan terpaksa
Andre menghela nafas lega mendapat jawaban sang istri.
“ayo.. udah malam, kita tidur!” ajaknya
“besok pagi kasih dulu ya sebelum pergi?” pinta sarah pada jatahnya
__ADS_1
“hem! Pasti!” ucap Andre sambil mengajak Sarah berbaring dan kembali merengkuh tubuh itu ke dalam pelukan hangatnya.
Ia tersenyum dan memeluk erat sang istri, tangannya kembali mengusap perut yang kini mulai membuncit.
“sehat selalu ya anak papah” gumamnya setelah mendengar dengkuran halus sang istri.
******
‘mas, nanti kita makan siang bersama ya? Aku bawakan makan siang ke kantor’
Pesan itu terlihat di layar ponsel sang komisaris.
‘oke! Sekalian kamu bawa baju ganti, biar gak susah kalau nanti mandi’ balasnya tersenyum dan mendapat sikutan kecil dari kakek.
Senyum Andre pun menghilang menyadari dimana dirinya sekarang. Ya! Di rapat pemegang saham.
Sarah sibuk sendiri menyiapkan makan siang sang suami. Tidak seperti biasanya, ia selalu mengunci pintu saat jelang waktu makan dimana para pembantu memasak untuk mereka.
Semua bau masakan yang tidak sarah inginkan sangat menyiksanya. Meski Nensi kadang harus ‘melarikan’ menantunya saat jam masak, tapi tetap saja bau masakan itu seolah menempel ke seluruh rumah dan hanya mampu menghilang ketika Sarah menempel di dada sang suami untuk mengganti aroma tersebut.
Baru hari ini ia bisa bertahan lama di dalam dapur, karena ia memasak masakan yang ia inginkan. Dan hal itu membuat Nensi tersenyum senang melihatnya.
“tumben masak?” tanyanya memasuki dapur dan mendekati Sarah yang sibuk
“dari kemarin Sarah ingin masak ini mah!” tunjuknya pada ayam betutu yang ia buat
“lho.. kenapa gak ngomong? Kan bisa Bi Sumi masakin”
“gak mah.. kalau bi Sumi yang masak, Sarah gak bisa makan,
“cucu oma.. jangan lama cerewetnya ya...! kasihan mamah” Nensi menunduk berbicara pada perut Sarah
Sarah terkekeh kecil melihat kelakuan mertua yang selalu memperhatikannya seperti seorang ibu.
---------
‘aku dah mau otw.. tungguin ya!’ pesan itu terkirim pukul sebelas siang mengingat jarak rumah dan gedung utama yang sedikit jauh ditambah macet saat jelang makan siang.
Sarah melempar ponselnya di atas kasur. Ia sibuk menyiapkan diri untuk berangkat bertemu dengan suami tercinta. Senyum terus terkembang mengingat akan melakukan hal yang ia sukai untuk siangnya.
“iihhh.. kok aku jadi gini sih!” sarah tersenyum sendiri menyadari dirinya di dalam cermin
“sayang.. udah gak sabar ya ketemu papah?” usapnya pada perutnya dengan senyum lebar
Sarah mengambil tas dan menuruni anak tangga dengan semangat.
“pelan pelan sar!” tegur lembut sang mertua terdengar menyambutnya di bawah
“hehehe.. Sarah terlalu semangat mah” senyumnya
“ya.. mamah ngerti kok! Udah gak kuat nahan ya?” bisik sang mertua ketika Sarah sudah berada di sampingnya
“aahh... mamah bikin sarah malu aja deh” balasnya manja bergelayut di lengan sang mertua yang kini tertawa mendengar jawabannya dengan wajah merona
“tapi mamah bener kan?” godanya
__ADS_1
“sarah berangkat dulu ya mah” ciumnya pada pipi Nensi dan mencium tangan.
Nensi melepas kepergian menantunya dengan hati senang. Ia bersyukur Andre mendapat seorang istri yang mau menurut dan senang dekat dengannya.
Jika dulu ia selalu merasa bosan berada di rumah ketika sang suami sedang keluar, kini semenjak adanya Sarah ia merasa senang karena memiliki teman yang bisa menemaninya di rumah. Terlebih ia sangat cocok dengan menantunya tersebut
Sarah memandang gedung dimana mobil yang ia tumpangi kini memasuki halamannya. Kini tampuk pimpinan perusahan tersebut adalah suaminya.
Sebuah senyum bangga tersungging di bibir sarah. Bukan karena ia bangga akan jabatan dan kekayaan sang suami, tapi bangga karena dia telah berhasil membantunya menduduki jabatan yang Andre inginkan.
Sarah bergegas membuka tas untuk menghubungi sang suami jika ia sudah berada di bawah. Tapi sayangnya, ponsel itu tak berada disana, dan setelah ia mengingat ponsel terakhir ia tinggal di atas kasur.
Sarah hanya menghela nafas, tapi sejenak kemudian baginya itu tak masalah. Ia tinggal meminta resepsionis menghubungi suaminya seperti tamu tamu yang dulu berkunjung di kantornya.
Sebuah mobil berhenti di pelataran gedung yang yang bertuliskan sebuah nama perusahaan besar yang dikenal di seluruh negeri. Seorang wanita cantik dengan polesan make up sederhana memasuki tempat tersebut dengan membawa jelas sebuah tas bekal makan siang.
“selamat siang” sapa recepsionis pada Sarah
“selamat siang, saya ingin bertemu dengan pak Andre” ucap sarah tersenyum
Perempuan ramah itu sejenak menatap Sarah
“maaf bu, apa anda sudah membuat janji dengan beliau?” tanyanya
“iya, saya membawa makan siang beliau” balas sarah
“silahkan menunggu disana, nanti akan saya sampaikan pada sekretaris beliau” jawab resepsionis
“terima kasih” ucapnya dan berpaling menuju kursi tunggu yang berada di lobi gedung tersebut.
“bilang janji makan siang? Kalau memang mau makan siang, dia pasti sudah menghubungi pak Andre, dan pasti sekretaris pak Andre sendiri yang menunggu” ucap sang resepsionis pada temannya
“iya! Kemarin kemarin waktu kamu gak masuk juga ada yang datang, cantik banget dan ngaku istrinya” sahut temannya
“terus?” tanyaya
“waktu itu pak Andre gak ngantor, kan katanya dia di luar kota, terus masa istrinya gak tau suaminya di luar kota.. ternyata ku denger itu bukan istrinya” jelas temannya
“sepertinya banyak yang ngincar bos baru kita ya?” senyumnya terkekeh
“iya.. soalnya cakep banget sih” mereka berdua tertawa kecil
“hayo! Gosip lagi nih” tegur seseorang yang baru datang
“eh! Gak kok!” jawab mereka bersamaan
“pada mau makan siang gak?” tanyanya
“bentar lagi lah” temannya menatap jam yang menunjukkan pukul 11:45
“udah .. Cuma maju lima belas menit... ayo!”
Mereka pun pergi. Sedang sarah masih sabar menunggu sang suami.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1