
Sarapan pagi itu membuat Andre tak bisa fokus karena terus pandangannya terus melihat pada bibir Sarah.
"bibir ku rada bengkak ya?" tanya Sarah yang melihat Andre menatap bibirnya
Andre hanya menggeleng sambil mengunyah sarapannya, ia berusaha menahan senyumnya sendiri.
"pagi ini rada beda" keluh Sarah kembali dan sedikit menggigit bibirnya.
Sedikit desiran terasa di tubuh Andre yang terus melihat memainkan bibirnya. Ia terus berusaha menahan tawanya, ia terlalu senang pagi itu. Muncul pikiran kotor di otak Andre bagaimana jika Sarah setiap hari makan udang? Benaknya tertawa terbahak.
Ditengah bergelutnya krisis dan masalah, Andre justru bersyukur, karena dengan krisis itu sendiri kini dia dan Sarah bisa lebih dekat.
Perubahan sikap Andre pada Sarah, membuat Sarah merasakan kenyamanan dimana ada seseorang yang sangat memperhatikan dan memanjakannya saat ini.
Hari hari yang mereka habiskan bersama membuat Sarah akhirnya mampu merasakan perubahan pada sikap Andre padanya. Ia tidak berani untuk mempertanyakan hal itu. karena tidak ingin dianggap sebagai orang yang lupa akan perjanjian mereka yang telah mereka sepakati bersama, bahwa kehidupan mereka adalah sebuah perjalanan kehidupan pernikahan setahun dalam kepalsuan.
Pergulatan perasaan Sarah yang menganggap sandiwara Andre terlalu sempurna atau Andre memang orang yang totalitasnya tinggi, membuat Sarah tidak berani mengartikan sikap sikap manis Andre padanya.
Setiap dia merasakan debaran dengan sikap Andre padanya, dia selalu mengingat, bahwa Andre hanya merindukan Susan dan mungkin menanggapinya untuk menutupi rasa rindu semata.
Pagi itu Sarah membersihkan kamar Andre. Ia menemukan foto Susan yang terselip dibalik sebuah berkas di dalam lacinya. Sarah menatap wajah Susan yang tertawa lepas menunjukan kebahagiaan. Entah mengapa, Terselip rasa sakit di dalam dadanya. Ada sesuatu yang begitu pedih yang ia rasakan saat itu. mungkin ia hanya iri pada gadis beruntung itu. benaknya hanya berani menyimpulkan seperti itu.
Dipenuhi dengan orang orang yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Berbanding dengannya yang memang sejak kecil hanya dilempar dari satu keluarga ke keluarga yang lain, dimana akhirnya ia hanya sekedar sebagai pesuruh atau pembantu dalam rumah yang menampungnya.
Kilatan perjalanan hidupnya seakan muncul seketika. Meski tantenya yang sekarang adalah orang yang baik, tidak kasar, namun tetap saja ia memperlakukan Sarah seperti pembantu, apalagi saat Sarah mendapat pekerjaan, sang bibi bahkan menjelaskan padanya bahwa ia ingin Sarah membantu biaya kuliah Yuni agar Sarah mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja. Sarah seakan harus membayar kembali biaya hidupnya selama ditampung.
Sarah meletakkan pelan foto Susan yang pada tempat sebelumnya. Tak terasa matanya berkaca kaca. Ia lupa bahwa ia tidak berhak cemburu pada gadis itu.
“ahh.. kenapa dengan mu Sarah, kamu tahu bahwa dialah pemiliknya” ucapnya sendiri
Suara telpon rumah membuat Sarah tersadar dari lamunannya.
“Halo!” Jawab mengangkat gagang telpon rumah
“Sayang, Aku telpon kamu gak ngangkat! Kamu dimana aja?” ucapnya bertanya cemas
Sarah mengernyitkan keningnya mendengar Andre yang menelponnya dengan mesra
“HP ku dikamar!” jawabnya lagi
“Kamu bisa ke apartemen sekarang gak?”
“Kenapa?”
"Ada berkas yang harus diambil, sedang aku lagi meeting penting, nanti jam 10:00 aku perlu berkas itu” jelas Andre
Sarah melihat jarum jam yg sudah menunjukan jam sembilan
“Ok! Aku ambilin!”
“Kamu naik taksi aja, nanti pak Budi jemput kamu di sana, biar cepet!” jelas Andre lagi
“Iya, aku berangkat sekarang!” jawabnya
“Thanks beib!” Andre menutup telpon
Dia kembali mengernyitkan keningnya. Masih merasakan sikap Andre yang seakan memang seperti serius dengan sikap mesranya.
Sarah pun pergi ke apartemen Andre yang lama sekali tidak ia datangi. Tempat itu terlihat tetap rapi dan bersih. Mungkin Andre yang sering pulang malam dan telat menghabiskan waktu disana dan berkomunikasi dengan Susan.
__ADS_1
Sebab sudah beberapa bulan ini Sarah tidak lagi melihat Andre berkomunikasi dengan Susan.
Ia mengirim pesan ke Andre untuk menanyakan dimana berkas yang harus ia ambil. Saat memasuki kamar Andre, Sarah melihat ada yang berbeda. Dulu saat dia disana, tempat itu seakan dipenuhi foto Susan, tapi hari ini dia tidak menemukan satu pun foto Susan disana.
Sarah Justru menemukan sebuah foto besar yang tak semestinya Andre letakkan disana. Sarah tercengang menatap foto yang tak lain dan tak bukan adalah foto pernikahan mereka.
Tring!
Suara pesan masuk memecah kesunyian dan mengagetkan Sarah yang dari tadi termenung memikirkan hal itu.
‘di brankas, password 201120’ tertulis seperti itu
Sarah menatap pesan Andre, dia baru saja memberikan kode brankas yang mungkin didalamnya ada hal hal penting.
Bagaimana mungkin ia mempercayainya? Dia hanya seorang istri palsu!. Bukan seseorang yang seharusnya mengetahui hal itu!.
Belum ia lagi selesai memikirkan hal itu, Sarah tersadar dengan angka yang tertulis di pesan, tanggal pernikahan mereka!
Suara bel pintu depan berbunyi. Sarah pun kembali kaget. Akhir akhir ini ia sering larut dengan pikirannya sendiri, karena terlalu banyak hal yang seakan berubah dan tidak masuk akal baginya.
Sarah keluar membuka pintu untuk pak Budi yang sudah menjemputnya. Sarah meminta Pak Budi menunggu sebentar untuk ia mengambil berkas yang diperlukan Andre.
Andre menjelaskan berkas apa yang harus Sarah ambil. Terdapat banyak hal hal berharga di dalam brankas. Sarah memotret berkas yang Andre maksud dan memastikan ia tidak salah mengambilnya. Sarah pun memberikan berkas pada Pak Budi.
“Saya diminta menjemput ibu, bukan berkas bu!” jelas pak budi
Sarah berpikir sejenak. Mungkin ini hal penting yang tidak bisa Andre percayakan ke pak Budi. Sarah pun menurut dan berangkat bersama Pak Budi.
Saat di mobil, Sarah terus menatap berkas yang ia pegang, ia melamun sepanjang jalan memikirkan hal hal yang
janggal yang terus ia temukan. Ia terus berpikir sikap Andre akhir akhir ini padanya, sekarang ia menemukan lagi hal hal yang justru menambah kebingungan untuknya.
“Ibu mau turun di depan apa lewat parkiran bu?” tanya Pak budi
Tapi Sarah masih diam, pandanganya kosong. Ia masih fokus pada pikirannya sendiri. Pak Budi yang merasa tidak ada respon dari sang nyonya pun melirik di spion. Ia menyadari sang nyonya sedang memikirkan sesuatu.
“Bu Sarah! Bu Sarah!” panggilnya lagi
Sarah pun tersadar dari pikirannya.
“ya pak?” jawabnya sedikit kaget
“Ibu mau turun di depan atau saya turunin di parkiran?” bertanya perlahan
“Di parkiran aja pak!”
“Baik bu!”
Sarah turun dan menuju lift, ia berusaha untuk tidak bertemu siapa pun disana. Pak budi pun mengirim pesan ke atasannya bahwa Sarah sudah menuju ke atas. Pintu lift terbuka di lantai 6, ada seseorang lelaki paruh baya yang masuk. Ia tidak menekan nomor pintu lift karena sudah menunjukan lantai 13. Mereka pun saling cuek.
Andre sudah menunggu istrinya di depan lift. Ia baru selesai meeting dan langsung berlari ke arah ruangannya karena pesan pak Budi Sarah sudah memasuki lift.
Ting! Pintu lift terbuka. Andre pun tersenyum melihat Sarah. Bapak paruh baya itu juga tersenyum pada Andre yang keluar dari lift.
“Pak Andre!” sapa Lelaki tersebut
“Pak!” hanya menjawab biasa tapi tersenyum senang
Lelaki itu mengira sang bos ingin memasuki lift. Tapi saat Sarah keluar disambut Andre, lelaki itu pun menoleh.
__ADS_1
“Sorry ngerepotin kamu sayang!” Andre langsung merangkul pinggang Sarah
Sarah berusaha melepas rangkulan Andre dan merasa canggung karena ada orang lain disana.
“Pak Teo! Kenalkan Istri saya! Sarah” Andre memperkenalkan Sarah pada salah satu managernya
Pak Teo pun kaget dan merasa tidak nyaman karena dari tadi dia bahkan tidak melihat ke arah Sarah saat di lift.
“Teo!” Lelaki itu mengulurkan tangan
Sarah pun menyambut uluran tangannya. Tanpa menyebutkan namanya.
“Senang bertemu anda!” jawabnya sopan dengan senyuman
“Maaf bu, saya tidak mengenali anda sebagai istri pak Andre!” jelasnya merasa tidak nyaman
“Tidak apa pak” kini Sarah yang merasa tidak nyaman
“Ayo!” kembali merangkul pinggang Sarah berjalan menuju kantornya
“Mari pak!” pamit Sarah pada pak Teo
Sarah pun masuk ke kantor Andre dengan rangkulan. Beruntung sang sekretaris belum kembali ke mejanya karena masih membahas hasil meeting barusan.
Sarah pun menyerahkan berkas pada Andre.
“Bener?” Sarah menyerahkan berkas yang dimaksud Andre
“Hmmm..” Andre mengiyakan.
Wajah Andre terlihat berseri, ia tak terlihat stress akhir akhir ini.
“Kalau gitu aku langsung balik!”
Saat Sarah akan berpaling ingin pergi, bergegas Andre menahan lengan Sarah untuk menahannya
“Tunggu bentar laah..! kamu lama gak kesini!” Ucapnya menatap Sarah
Sarah merasakan tatapan Andre berbeda padanya
‘apa aku yang baper ya?’ bisik hati Sarah
“Bukannya kamu ada meeting bentar lagi?” Sarah mengingatkan Andre tentang meeting yang memerlukan berkas yang ia pegang
“Masih sepuluh menit lagi” jawab Andre malas
Sarah pun duduk. Andre pun meletakkan berkas di meja kerjanya dan kembali menemani Sarah duduk disana.
“Ada yang beda dari terakhir aku datang..” ucapnya dengan nada ragu
Andre melihat sekitar kantornya yang masih memiliki interior lama
“Maksudku apartemen!” tatapan Sarah terlihat tegas, tatapannya mengandung makna bertanya
\~\~\~\~\~\~\~\~
Terima kasih pada kakak kakak yang baik hati yang sudah memberikan Vote, Like, Gift & Komentarnya
Semoga tetap selalu suka ya..
__ADS_1