Imitasi Dua Hati

Imitasi Dua Hati
Imitasi menjadi Berlian (Tamat)


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Kakek Andre tidak tinggal diam. Dia mengurus Susan dengan baik, mengancam jika perempuan itu masih mengganggu sang cucu maka ia tak segan segan akan memutus semua koneksinya hingga perempuan tersebut tak bisa kembali lagi ke tanah air.


Kandungan Sarah kini telah memasuki waktu waktu yang mendebarkan, ia hanya menunggu HPL yang telah di perkirakan dokter.


Sarah mengecek kembali keperluan untuk melahirkan, ia sudah merasa yakin, jika semua kebutuhan sudah berada dalam tas yang kelak akan ia bawa ke rumah sakit.


Sarah juga kembali menyusun pakaian bayi yang sudah mereka siapkan, ia merapikan kembali box bayi yang berada di dekat tempat tidurnya.


Semua keperluan bayi diberikan oleh sang kakek sebagai hadiah untuk mereka. Sebuah kamar bahkan sudah disiapkan, namun Sarah menolak memisahkan kamar mereka saat putranya masih kecil. Ia hanya meminta agar box bayi harus berada di kamar mereka.


Sarah tersenyum mencium bantal kecil yang baru ia ambil. Perasaan tak sabar menunggu sang buah hati membuat jantungnya berdebar melebihi saat ia disentuh sang suami.


Sarah kembali mengusap perutnya dan tersenyum lebih lebar memandang box bayi dengan nuansa biru.


Andre yang mengawasinya dari meja kerja yang kini berada di kamar mereka juga ikut tersenyum. Ia mengabadikan moment itu dalam jepretan foto.


‘bumilku edisi happy’ tulisnya dalam caption foto tersebut


Sarah merasa kakinya mulai pegal, ia pun memilih duduk di sofa. Sesaat Sarah menoleh pada Andre yang terlihat fokus pada pekerjaannya.


“mas.. kakiku pegal” ucapnya bermanja pada Andre yang kembali asyik menatap layar laptopnya


Andre menutup laptop dan berjalan pada sang istri yang duduk santai di sofa. Andre memangku kaki Sarah dan memijatnya lembut.


Sejak kehamilan Sarah sembilan bulan, Andre memilih berkantor di rumah, ia telah menjadi suami siaga untuk istri tercinta.


“kamu pasti capek ngurus aku yang gini!” ucap Sarah karena Andre terus saja diam


Andre tersenyum mengulum bibirnya sendiri.


“mas kok diam aja sih! Kalau gak suka, udah! Aku gak maksa kamu kok mijitin aku” ia menarik kakinya namun Andre tahan.


Bibir bawah Sarah telah maju, wajahnya mulai masam. Namun Andre sangat menyukainya, ia sangat suka ketika Sarah merajuk manja.


Andre mengangkat kaki Sarah, ia mencium kaki yang kini terlihat membengkak tersebut. Andre semakin mendekat. Senyumnya mengambang karena menyukai sikap istrinya yang sekarang


“aku sangat suka kalau kamu merajuk manja seperti ini” usap Andre pada puncak kepala istrinya.


“karena aku merasa kamu bersandar padaku, kamu memiliki ku” perlahan mendekatkan wajahnya dan berakhir dengan ciuman pada bibir Sarah yang tadinya maju.


“kamu juga ujung ujungnya meminta sarung tongkatmu” jawab Sarah saat melepas ciuman lama Andre.


“hahahahahaha” Andre tergelak.


“istriku paling pengertian deh!” tangan Andre mulai nakal


“sayang, aku masih capek” elak Sarah


“Cuma sebentar sayang!” Andre terus merabanya


“tapi ..” protes Sarah


“kan dokter bilang kita harus sering sering melakukannya agar jalan lahirnya nanti mudah” jelas Andre


“eleh.. alasan!” senyum Sarah meletakkan tangannya di rahang sang suami.


“setelah ini aku puasa selama 40 hari kata mamah... paling gak aku sahur yang kenyang dulu sayang” lanjut Andre membujuk


Sarah tertawa lebar mendengar kelucuan sang suami


“kamu jangan macam macam ya selama 40 hari nanti??” suara itu penuh penekanan


“mana berani aku! Nanti kamu suruh aku tidur di sofa lagi” Andre mengingatkan kejadian waktu itu


Sarah pun kembali tertawa.


“makanya jangan nakal” ucapnya


Tapi usapan Andre terus membelainya dan membuatnya semakin memanas. Dan akhirnya mereka pun memudahkan jalan lahir sang anak.


******


HPL semakin mendekat, kegugupan Andre semakin meningkat. Ketakutan dan kengerian saat menonton video tentang kelahiran membuatnya tak mampu membayangkan jika Sarah akan berada pada masa itu.


“jangan banyak bergerak sayang! Nanti kamu kecapean” Andre mendekati Sarah yang menyiapkan buah untuknya


“ah.. tidak mas.. Cuma ngambil buah gini aja” senyumnya


“kaki kamu semakin bengkak, apa kita gak kedokter aja?” pinta Andre


“ini hal wajar kok” jelasnya


“aduhh.. kok mamah malah pergi sama papah saat kamu kaya gini” keluh Andre merasa takut karena tak ada orang tuanya


“lho.. kok kamu gitu, mamah sama papah juga gak pengen pergi, tapi gimana lagi.. masalah segitu besar kan harus mereka yang hadapi mas” jelas Sarah


“iya sih! Kenapa juga yayasan disana harus ada masalah” keluh Andre lagi


“sudah .. tenang ya..” Sarah mengerti jika Andre terlihat berbeda saat menjelang HPL putra mereka


-----------


Andre melirik Sarah yang terbaring di atas ranjang, tangannya tetap bekerja diatas meja, tapi sesekali matanya terus menatap sosok yang berbaring miring terlelap dalam tidur siangnya.


Andre meninggalkan mejanya untuk mengisi kembali air minum. Sarah terbangun dengan rasa nyeri pada perutnya


“uuuhh..” keluhan itu terdengar jelas.


“sayang .. ini kontraksi palsu apa kamu beneran mau lahir?” usap Sarah pada perutnya


Tapi sakit itu semakin meningkat. Ia pun bergegas ke kamar mandi dan mengecek apakah pertanda kelahiran itu sudah terlihat.


“ahhh.. sepertinya kamu akan lahir hari ini” senyumnya di sela rasa sakit.


Buliran kering kini mulai terlihat, helaan nafas Sarah mulai terengah, rasa itu semakin sakit.


“mas..!” panggil Sarah keluar dari kamar mandi


Ia berjalan perlahan memegang perutnya yang semakin nyeri. Sarah berjalan menuju kamar ganti dan mengganti pakaiannya, sesekali kontraksi itu menghilang, tapi ketika kontraksi itu kembali, maka rasa nyeri itu semakin sakit.


Sarah berusaha mencari ponsel miliknya, namun saat ia menghubungi Andre, suara ponsel itu jelas terdengar di atas meja kerja sang suami.


“ahhh.. uuhhhh...” keluhan itu terus keluar dari mulutnya saat rasa sakit itu kembali menyerang.

__ADS_1


“sabar ya sayang.. tahan ya.. kita ke rumah sakit dulu!” usap Sarah pada perutnya. Bulir bulir keringat itu semakin banyak membuat wajah dan lehernya terlihat basah.


Sarah beranjak menuju pintu, ia berjalan perlahan ketika rasa sakit itu berkurang.


“bi... bi..” panggilnya


Mendengar Sarah memanggil bibi, Andre berlari keluar dari dapur.


“mas! Mas.. huh.. huh...” keluhnya mengangkat tangannya meminta Andre mendekat.


“sayang kamu kenapa?” tanya Andre langsung panik melihat Sarah yang menahan sakit


“sepertinya aku mau melahirkan mas” ucapnya ketika tangan Andre sudah merengkuh tubuhnya


“bibiiiiiiiiiiiiiiiii!” teriak Andre memanggil bi Sumi


“mas!” tegur Sarah mendengar suara Andre yang terdengar begitu nyaring


“ayo ayo.. pelan pelan sayang!” Andre mengajak Sarah


berjalan ke arah luar


“aduh.. non! Udah mulai sakit ya?” tanya Bibi mendekat


“tas mas.. tas..” ucapnya mengingatkan Andre


Andre membantu Sarah duduk di ruang tengah. Ia berlari menuju kamar mereka untuk mengambil tas perlengkapan melahirkan Sarah.


“sini bibi pijat pinggangnya non” bibi mulai sedikit memijat pinggang Sarah.


Karena bi Sumi sangat mengerti area mana yang saat ini sangat menyiksa.


“huh huh huh” Sarah mencoba mengatur nafas ketika serangan sakit itu kembali terasa


“bibi akan minta pak Midun siapin mobil di depan” bi Sumi beranjak meninggalkan Sarah.


“sayang aku harus gimana?” ucap Andre yang mendekati Sarah dan melihat bagaimana istrinya menahan sakit


“mas.. sakit!” keluh Sarah menatap suaminya


Ternyata keringat Sarah tak kalah dari Andre. Keringat Andre seperti mandi. Karena sejak mengetahui Sarah mulai kontraksi, kegugupan, kepanikan, kekhawatiran dan ketakutan menjadi satu dalam benaknya.


“mas.. tenanglah.. aku memerlukan kamu.. kalau kamu gugup gitu.. aku gimana?” Sarah mencoba tersenyum disela rasa sakitnya


“iya iya! Aku gak gugup kok! Huh! Huh! Huh!” ucapan dan situasi Andre berbanding terbalik.


Sarah masih bisa tersenyum melihat ketakutan dan kepanikan dalam diri suaminya


“ayo! Kita ke rumah sakit” ajak Sarah


Ketika sampai di rumah sakit dokter memperkirakan jika waktu kelahiran sekitar empat jam lagi.


“empat jam dok?” ucap Andre merasa kaget dengan waktu selama itu Sarah akan menahan sakit.


“iya! Itu berdasarkan pembukaan yang kita lihat” jelasnya lagi


“mas..” panggil Sarah


“terima kasih dok” ucap Andre beranjak mendekati sang istri


“sus! Apa tidak ada obat untuk mengurangi rasa sakit ini?” tanya Andre tak tega melihat istrinya


“maaf pak, memang tidak ada, karena seperti itulah rasanya melahirkan” senyumnya


“maklumi ya sus! Suami saya memang berlebihan” ucap Sarah merasa malu


Hingga pada pembukaan sempurna, dokter memberitahukan pada mereka jika untuk bersiap diri.


Perlahan dokter membimbing Sarah, tangannya menggenggam erat tangan Andre, namun ketika Sarah semakin berjuang, Andre semakin tak tega dan akhirnya ia berada di puncak kepanikannya.


Seketika tubuhnya terasa ringan, kepalanya seperti berputar, ia pun goyah. Saat itu nyawanya terasa keluar dari tubuhnya.


“maassss!” teriak Sarah saat kembali mencoba mengedan


Suara teriakan dan cengkraman tangan Sarah membuat nyawa Andre kembali ke tubuhnya, membuatnya kembali kuat dan mampu menghadapi dirinya sendiri


“kamu bisa sayang!” Andre memberi semangat padanya


“coba lagi bunda!” dokter kembali membimbing.


Andre kembali semangat. Ia terus meyakinkan dirinya harus kuat, meski lututnya saat ini sangat gemetar.


“aaaaaaaaaggghhh” terikan Sarah dan genggaman tangannya menguat. Hingga akhirnya terlahirlah bayi tampan itu ke dunia.


“huh huh huh” suara nafas Sarah terengah dengan bermandikan keringat. Ia tersenyum ketika mendengar suara tangisan bayinya.


“terima kasih sayang... maafin aku membuatmu harus merasakan sakit ini” tangis Andre mengecup kening istrinya.


“maafin aku” ucapnya lagi


Sarah hanya membalasnya dengan senyuman sembari mengatur nafasnya kembali


“terima kasih telah menemaniku mas” balas Sarah dengan mata sayu


Dokter meminta Sarah untuk pertama kali memberi asi pada putranya.


Jantung Andre berdetak lebih kencang saat makhluk kecil itu diletakkan di dada Sarah. Dan mulut itu mulai menyesap sumber kehidupannya.


“selamat datang ke dunia ini sayang!” ucap Sarah tersenyum diiringi air mata bahagia.


Sarah menoleh pada Andre dan tatapan mereka bertemu, senyum mereka seakan enggan pergi. Kebahagiaan itu menyelimuti mereka bertiga.


“halo boy, nanti kita rebutan itu ya” ucap Andre meletakkan jarinya pada tangan mungil sang putra


Sarah terkekeh mendengar candaan Andre


“terima kasih sayang.. telah menyempurnakan hidupku, aku telah menjadi seorang ayah” senyum Andre kembali mengecup bibir sang istri


“kamu telah menyempurnakan hidupku juga mas” balasnya


Andre kembali menoel pipi gembul putranya yang masih menyesap puncak yang ia sukai.


“hei boy.. itu milik papah” godanya kembali membuah Sarah terkekeh.

__ADS_1


---------


Andre menemani Sarah hingga Sarah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Tubuhnya lelah namun Andre seakan tak merasakan hal tersebut, bahkan hingga sekarang, ia belum makan malam sama sekali.


“mas.. kamu belum makan malam” tegur Sarah


“nanti sayang!” jawabnya masih duduk menemani sang istri


“pergilah! Disini kan ada perawat juga” pinta Sarah


Brak suara pintu dibuka, Andre dan Sarah menatap ke arah pintu.


“mana cucu mamah!” suara nyaring itu terdengar riang


“hah! Mamah! Bikin kaget aja!” ucap Andre berdiri disambut pelukan oleh sang ayah


“selamat ya nak.. selamat.. kamu sekarang telah menjadi ayah” ayahnya menepuk punggu Andre dengan bangga


Nensi pun juga memeluk Sarah dengan haru tangis


“terima kasih sayang... terima kasih udah ngasih mamah cucu yang sehat” ucap Nensi


Sarah pun terharu mendengar ucapan Nensi yang sudah menganggap dirinya seperti putrinya sendiri


“terima kasih mah.. terima kasih udah terima Sarah sebagai menantu mamah dan menyayangi Sarah seperti putri mamah” isaknya


Andre yang melihat kedua wanita yang ia sayangi saling menangis pun mendekat dengan ayahnya


“lho.. kok pada nangis?” tanya ayah Andre


“ini tangis bahagia pah.. mamah terlalu senang” senyumnya


“oya? Mana cucu papah?” tanyanya


“tadi kata perawat bentar lagi akan dibawa kesini mah” jelas Andre tersenyum penuh kebanggaan


“mah.. mas Andre dari tadi belum makan malam!” Sarah melihat cemas pada Andre


Nensi tersenyum senang menatap putranya. Ia merasa sangat beruntung memiliki menantu yang perhatian pada sang putra meski disaat ia sedang seperti sekarang.


Setelah dipaksa, akhirnya Andre meninggalkan ruangan Sarah. Ia dipaksa pergi untuk makan malam.


Saat Andre kembali terdengar keributan di ruang Sarah. Ia pun bergegas masuk


Terlihat ketiga orang yang sedang berdebat hebat. Sedang putranya dalam gendongan sang ibu


“ada apa kek?” tanya Andre mendekat


“mas..” panggil Sarah manja


“sekarang giliran papah nen” ucap kakeknya pada Nensi.


“aku baru sebentar gendongnya pah” Nensi bersikeras tak ingin menyerahkan sang cucu yang masih di gendongannya


“astaga...!” Andre menyentuh dahinya seakan tak percaya yang ia lihat


“ayo mah.. papah belum gendong dia” minta sang suami lagi


Sementara mereka bertiga merubung sang cucu, Andre mendekat pada Sarah yang tersenyum melihat kelakuan tiga orang tua tersebut.


Andre membelai pipi sang istri dan mendaratkan ciuman di keningnya


“aku bahagia sayang!” ucap Andre berbisik disambut senyuman yang sangat manis.


“aku juga mas.. aku sangat bahagia saat ini, aku harap .. kita selamanya gini” ucap Sarah membalas tatapan Andre


“aku gak mau!” jawabnya memundurkan wajahnya


Seketika senyum Sarah menghilang


“mas!” Sarah menjadi gugup dengan jawaban Andre


“aku gak mau selamanya mereka yang menguasai anakku” tolehnya dengan raut berpura pura sedih.


Sarah pun langsung terbahak hingga membuat ketiga manusia yang sedang berdebat menoleh


“kenapa sar?” tanya kakek


“Sarah terlalu bahagia kek!” jawab Andre mencoba menggoda sang istri


“hah?” tanya Nensi


“ada yang protes mah... katanya..” omongan Sarah tertahan karena Andre menutup mulutnya


Sarah terkekeh dibalik tangan sang suami


“udah, kasih kan cicitku padaku Nensi!’ mereka pun kembali berdebat dan menghiraukan pasangan tersebut.


“kayanya kamu bakalan sulit mas” tawanya


“nanti kalau di rumah, aku bisa sayang... nanti aja kalau kamu udah 40 hari, baru aku bolehin mereka lagi”


“heh!” Sarah melengos suaminya hanya memikirkan hal tersebut


“Dasar mesum” senyumnya


Suasana ruangan tersebut pun penuh keceriaan, mereka telah melupakan jam yang sudah menunjukkan dini hari.


Kini kebahagiaan itu telah sempurna, hati mereka yang dulu hanya imitasi kini telah berganti dengan kebahagiaan yang tak berbanding dengan bongkahan berlian.


TAMAT


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Terima kasih banyak atas semua dukungan kakak semua pada novel ini hingga membuat saya mampu menyelesaikannya.


Mohon maaf jika ada kata atau kesilafan yang pernah saya lakukan selama penulisan novel ini.


Semoga setelah ini kita bisa berinteraksi lagi pada karya saya yang lain yang mungkin akan di terbitkan di flatform tetangga


sekali lagi, terima kasih dan sampai jumpa


Salam

__ADS_1


Hafila_Asda


__ADS_2