
Saat ini Andre sudah tak mampu lagi membujuk Sarah, wanita itu benar benar telah memasuki fase marah dan merajuk yang tak bisa dibujuk.
Pagi pun menyapa, Andre terbangun karena rasa nyeri pada punggungnya yang telah tidur di sofa, ia pun tak melihat Sarah di atas ranjang mereka
“huh...” keluh nafas Andre yang menduga Sarah tidur di kamar lain
Tadi malam, saat Andre manaiki ranjang mereka, Sarah justru meninggalkan tempat peraduan itu, ia berjalan membawa bantalnya menuju sofa.
Tak ada kata, tak ada tatapan, ia hanya menghindari Andre, ia tak ingin Andre dekati apalagi untuk disentuh, ia merasa tak sudi.
Wajahnya datar, muram dan kelam. Kemarahan telah menghapus semua senyum manisnya.
Yang membuat Sarah sangat marah, Andre memberi tag tersebut di pintu, itu berarti ia meminta tak diganggu saat bersama Susan, sama seperti saat Sarah yang sering mampir ke kantor Andre dan sering melakukan percintaan mereka disana.
Pikiran buruk dan curiga telah membutakan semua, meski pikirannya tetap percaya jika Susan menggoda Andre, namun kejadian tag tersebut membuatnya menjadi salah paham.
Apa yang ingin kamu lakukan mas? Sampai kamu memberi tag itu?
Pikiran itu terus menghantuinya. Hingga membuat matanya membuka sempurna. Sesekali Sarah menoleh pada Andre yang berbaring di sofa. Bayangan kejadian itu kembali hadir dan membuat ia membuang muka.
“pagi pah!” sapa Sarah menyambut mertuanya yang mendekati meja makan
“pagi.. gimana kondisi kamu sar?” tanya ayah Andre sembari duduk di meja makan
“baik yah.. kemarin ternyata cuma kontraksi palsu, kemarin juga udah dibimbing sama dokternya biar bisa bedain kontraksi palsu sama tidak” jelas Sarah seakan kemarin hanya itu yang terjadi dan tak ada masalah apapun.
Nensi masih melirik tanpa berkomentar pada Andre yang duduk di samping Sarah. Ia melihat jelas pasangan tersebut tampak dingin dan tanpa saling tatap.
“hmm.. syukurlah kalau udah gakpapa” jawab ayah Andre tersenyum
“maaf ya pah, waktu papah pulang, Sarah udah tidur, tadinya juga ingin sambut papah pulang, tapi habis minum obat langsung tidur” elak Sarah
“iya gak papa sar” Senyum ayah Andre mengerti
Setelah itu, sarapan pun berlangsung dalam diam dan kondisi yang canggung. Nensi yang biasanya super kepo memilih diam mengingat kejadian kemarin yang membuat Sarah berada di rumah sakit.
“kamu tadi jalan pagi sar?” tanya Nensi masih menikmati sarapannya meski sesekali mendapat tatapan canggung sang putra
“iya mah! Cuma gak terlalu jauh, karena masih sedikit nyeri” jelasnya
Andre menoleh pada Sarah. Biasanya Sarah selalu membangunkannya untuk meminta ditemani berjalan, tapi hari ini ...?
Saat kembali ke kamar, Sarah menyiapkan pakaian kerja Andre dan meletakkannya di atas kasur.
“aku gak kerja” ucap Andre melihat apa yang dilakukan Sarah
Sarah pun kembali memasukkan pakaian tersebut ke dalam lemari.
“sayang pliss... jangan diam seperti ini” bujuk Andre kembali mendekat pada Sarah
“bicaralah.. aku gak kuat kamu diam gini” keluh Andre ingin memeluk Sarah, namun kembali Sarah tolak.
“aku minta maaf, tapi kejadian kemarin bukan aku yang undang dia, percayalah!” jelas Andre
“heh!” suara Sarah tampak kejam membuat penjelasan Andre hanya sekedar kebohongan semata
“kamu pasti gak percaya ‘kan?” tanyanya ragu
__ADS_1
“aku lebih percaya dengan apa yang ku lihat!” jawab Sarah dingin
“akhirnya kamu bicara” senyum Andre
“lebih baik kamu pergi ke kantor! Paling tidak aku tidak perlu melihat kamu disini” sambung Sarah
Perkataan dingin Sarah terasa tajam menyayat hati Andre. Istrinya tak ingin melihatnya. Hal yang paling tidak ia sukai dan paling ia takuti.
“tolong jangan katakan itu sayang! Itu terlalu menyakitkan” pinta Andre lemah
“lihat! Kalau aku bicara maka semua akan terus menyakitimu 'kan? Makanya lebih baik aku diam! juga lebih baik lagi jika kita tak bersama dulu agar aku mampu meredam diriku” jelas Sarah beranjak ingin keluar kamar
“Sarah!” Andre menahan lengannya yang ingin pergi
“bahkan sekarang kamu tak memanggilku sayang!” gumamnya pelan dan terasa menyakitkan
Sarah diam, sedang Andre masih menahan lengannya
“baiklah! Aku akan ke kantor, aku akan buktikan jika semua itu bukan bukan keinginanku dan bukan aku yang melakukan kesalahan” jelas Andre pelan
“tag itu terpasang jelas di pintu kamu!” dada Sarah terlihat turun naik menahan emosinya
“demi tuhan, aku tidak mengetahuinya sar!” jawab Andre
“heh!” jawab Sarah lagi dengan nada rendah
“nanti akan aku kirim rekaman cctv nya, kita akan tahu semua, yang pasti bukan aku yang meminta Susan datang” jelas Andre
“kantor kamu bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang! Bahkan aku saja dulu harus menunggu setengah jam untuk bertemu suamiku sendiri, lalu susan! Dia...” nafas Sarah terengah karena terlalu emosi.
Andre tak bisa berkata kata, semua kata kata Sarah memang benar, tapi faktanya memang ia tak mengetahui jika Susan memasuki kantornya.
“tapi sumpah sayang! Aku benar benar tidak tahu kalau susan berada di dalam” Andre terus membela dirinya
“pergi! Aku gak mau denger suara kamu .. pergi ndre!” teriaknya semakin kesal dengan derai air matanya
Andre menunduk
“semakin menatap kamu aku semakin emosi, aku takut anak ku ikut tersakiti” ucap Sarah memegang perutnya
Andre memejamkan mata dengan helaan nafas yang tak beraturan, dadanya terasa sesak, tak bisa membela dirinya sendiri karena semua asumsi itu berujung pada fakta yang benar dan tak bisa diterima Sarah.
“baiklah... aku akan berangkat ke kantor! Nanti akan aku kirim semua rekaman cctvnya” ucap Andre berjalan menuju ruang ganti mereka.
Sarah berjalan keluar dari kamar mereka, ayah Andre yang tadinya berada di tangga mendengar pertengkaran mereka dengan jelas, karena kamar mereka di lantai dasar tak menggunakan peredam suara.
Sarah berjalan menuju gazebo di belakang rumah. Ia membawa sebuah buku di tangannya.
“kemana sar?” tanya Nensi yang baru keluar dari dapur.
“berjemur mah!” jawabnya menoleh sebentar
Sarah tak berani menunjukkan wajahnya yang sembab, ia takut akan mendapat interogasi dari sang mertua.
Sarah melamun sendiri memikirkan apa yang ingin ia lakukan selanjutnya
Haruskah aku melupakan kejadian itu? Tapi jika ku biarkan Andre pasti akan terus menemuinya..
__ADS_1
Mungkinkah Andre masih punya perasaan pada susan?
Apa mungkin mereka akan memilih kembali bersama?
Jika aku memilih pergi, kemana aku?
Kalau aku tetap diam, menghukum Andre, aku sendiri yang justru tersiksa..
aku harus gimana?
“ahhhh...” keluh Sarah mengangkat kepalanya melihat ke atas seolah ingin menghilangkan sesuatu yang menghimpit dadanya.
Sebuah pesan membuyarkan lamunan
‘lihat lah.. ini bukti aku tidak mengkhianati kamu sayang’
Tulisan pada pesan tersebut tertulis
Sarah pun membuka pesan tersebut dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Andre tiba di kantor, ia terus menuju pusat pengawasan gedung yang berada langsung di bawahnya.
Ia meminta semua cctv saat susan tiba hingga pergi dari gedung tersebut. Untuk cctv ruang kantornya langsung ia akses dari komputernya sendiri. Semua cctv itu di edit dan menjadi sebuah video saat Susan keluar dari mobil hingga meninggalkan halaman gedung.
Sarah menangisi dirinya yang terlalu cemburu pada sang suami, ternyata Andre memang tak pernah mengkhianatinya. Ia pun merasa malu sendiri.
Ia tersenyum, kini hilang sudah keraguan dalam dadanya, namun yang muncul hanya rasa malu tak terkira.
‘sayang.. udah kamu liat kan? Aku tidak bersalah’ pesan itu kembali masuk
Kembali pesan itu hanya Sarah lihat, bingung ingin mengatakan apa.
Masalah pengeditan cctv tersebut tercium oleh kakek Andre. Ia melirik Andre yang tak fokus dalam meeting pagi itu.
“jadi ular itu berani mendatangi kamu?” tanya kakek saat di dalam lift hanya berdua dengan Andre
Andre menoleh panik.
“aku akan panggil penanggung jawab security dan resepsionis” lanjutnya
“kek! Jangan perbesar masalah ini..! Sarah juga sudah tak salah paham lagi, Andre takut hal ini akan sampai ke telinga mamah, kakek tahu sendiri kalau mamah sudah ngamuk kaya gimana!” bujuk Andre
“yakin mamah kamu belum tahu? Kalau Sarah curhat ke dia bagaimana?” tanya mengangkat salah satu keningnya
Andre hanya menghela nafas. Apa mungkin Sarah yang hanya membaca pesannya sedang bersama sang ibu?
“setelah ini kakek tidak akan membiarkan ular itu mengganggu kehidupan kita lagi!!” ucapnya geram saat pintu lift terbuka
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Hampir tamat ya kakak.. sepertinya konflik perebutan kekuasan di perusahaan Andre tak perlu diceritakan panjang lebar ya.. karena novel ini katanya membosankan untuk dibaca..
Jadi .. tidak akan lama lagi akan kita tamatin aja ya.. trims
salam
Hafila_Asda
__ADS_1