Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 10. Kedatangan pengacara dirumah Jumirah.


__ADS_3

"lo kenapa ada di hotel itu? Tanya Baldatun.


"Hiks... ternyata aku di jebak oleh seseorang Da, aku tidak tau kalau ternyata dia memasukkan obat tidur didalam jus yang aku minum, hampir saja aku jadi santapan laki-laki brengsek itu, hua..., kenapa masih juga ada yang ingin berniat jahat kepadaku Da!"Jumirah memberitahu sambil menangis.


"Siapa yang sudah menjebak lo? Kurang ajar, dia mesti dikasih pelajaran Jum, siapa orangnya? Biar kita kasih pelajaran dia!" Seru Baldatun terlihat sangat emosi mendengar sahabatnya dijebak oleh seseorang. "Tenanglah Jum, kamu tidak sendiri masih ada gue dan juga Choirul yang siap membantu lo kapanpun lo membutuhkan." Baldatun memeluk sahabatnya yang terlihat begitu syok dengan apa yang sudah terjadi padanya tadi siang.


Tling...


Tiba-tiba handphone Jumirah berbunyi, ternyata Aden kekasih Jumirah yang Chat ke nomor WA


"Hah...apa ini?" Jumirah nampak terkejut setelah membuka Chatting dari kekasihnya, ada tiga gambar foto dirinya sedang berpelukan dan berciuman dengan seorang laki-laki dengan sebuah tulisan di bawahnya.


Ternyata itu kelakuan kamu dibelakang aku, maaf aku sudah tidak sanggup lagi, selamat tinggal jangan pernah mencari atau menghubungi aku , mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


"Ada apa Jum?" Tanya Baldatun penasaran ikut melihat isi chat di WA sahabatnya itu.


"Lho..., siapa laki-laki itu jum? Kenapa kalian?" Tanya Baldatun merasa terkejut saat melihat foto-foto sahabatnya itu sedang bermesraan dengan laki-laki yang tidak ia kenal.


"Hiks... ternyata seseorang telah mengambil foto kita dan mengirimkannya kepada Mas Aden Da." Ucap Jumirah meletakkan handphonenya diatas kasur." Dia laki-laki yang sudah menjebak ku tadi siang Da." Lanjutnya.


"Lalu apa maksud orang itu mengirimkan foto itu, lo harus jelaskan ke cowok lo Jum, kalau dia sudah salah paham, bilang kalau lo dijebak!" Perintah Baldatun tidak tega melihat keadaan sahabatnya.


"Biarkan saja Da, sekarang aku sudah tahu apa maksud dari semua ini, ternyata orang itu sengaja menjebak ku agar aku dan Mas Aden kembali pisah, sepertinya aku tau siapa pelakunya, kalau memang Mas Aden beneran tulus mencintai aku apa adanya dia pasti akan berpikir panjang untuk mengambil keputusan karena aku tidak mungkin melakukan hal itu, tapi jika ternyata dia lebih memilih untuk mengakhiri hubungannya denganku berarti dia tidak benar-benar mencintai aku, aku-pun tidak akan menghubungi atau menemuinya, percuma aku menjelaskan, aku gak mau dihina lagi. Mungkin sebaiknya kita memang harus pisah saja daripada terus bersama hanya akan terus merasa sakit hati karena tidak ada kepercayaan terhadap pasangannya." Ucap Jumirah pasrah.

__ADS_1


"Tapi...." Baldatun tidak melanjutkan ucapannya karena Jumirah menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar ia tidak ikut campur dengan masalah pribadinya.


Jumirah terpaksa menginap dirumah sahabatnya karena malas untuk kembali kerumahnya sendiri.


Tepat pukul 08.00 WIB. Jumirah pulang kerumahnya diantar Baldatun.


Sesampai di rumah Jumirah dikejutkan dengan sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.


"Mobil siapa itu Jum ?" Tanya Baldatun penasaran saat melihat ada sebuah mobil terparkir didepan rumah Jumirah


"Hem...." Jumirah mengangkat bahunya tidak tau.


"Gue langsung pulang aja ya Jum, sudah ada janji dengan Irul mau melihat rumah barunya yang baru dibeli minggu kemarin." Pamit Baldatun.


"Oke, sama-sama, kalau ada apa-apa hubungi kami ya Jum, lo gak usah takut, lo gak sendirian, kami selalu siap membantu lo kapanpun lo membutuhkan, semangat...!" Seru Baldatun memberikan semangat untuk sahabat baiknya. Jumirah hanya tersenyum mendengar ucapan dari sahabatnya itu.


Jumirah masuk kedalam rumah setelah mobil dari sahabatnya itu pergi menjauh. Di dalam rumah ternyata sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan Jumirah.


"Oalah..., pak Richie toh! Ada apa pak? Tumben pagi-pagi sudah ada dirumah-ku?" Tanya Jumirah berjalan menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Laki-laki itu adalah seorang pengacara yang sudah Jumi kenal.


Sedang disebelahnya ada kedua orang tua dan adiknya.


"Selamat pagi Mbak Jumirah, maaf pagi-pagi saya sudah bertamu di rumah Mbak Jumi, ada sesuatu yang harus saya serahkan sekarang juga."Ucap pengacara itu mengambil beberapa lembar kertas dari dalam tasnya." Ini mbak." Pengacara itu memberikan kertas-kertas itu kepada Jumirah.

__ADS_1


"Apa ini pak?" Tanya Jumirah penasaran, ia memeriksa dan membaca tulisan yang ada di kertas." Apa maksudnya ini pak? Kenapa disini dijelaskan kalau rumah ini sudah menjadi milik kedua orang tuaku? Dan ini..., kenapa ada tanda tanganku? Padahal aku tidak pernah merasa bertanda tangan dan menyerahkan rumah ini kepada kedua orang tuaku." Ucap Jumi merasa terkejut.


"Maaf Mbak, tapi disitu sudah dijelaskan bahwa rumah ini sepenuhnya sudah resmi menjadi milik kedua orang tua anda, saya kesini cuma mau memberikan itu mbak, sekarang saya pamit permisi." Pengacara itu pergi begitu saja sementara Jumirah tampak diam saja.


"Apa maksudnya semua ini bu? Ini pasti kerjaan kalian bukan? Kenapa kalian tega sekali denganku,apa salahku dengan kalian?" Tanya Jumirah menatap tajam kedua orang tua dan adiknya yang terlihat begitu tenang.


"Sudahlah mbak, sekarang Mbak Jumi sudah tidak punya hak atas rumah ini lagi karena rumah ini sudah menjadi milik ibu dan bapak." Jawab Dewi terlihat santai tanpa merasa berdosa sama sekali.


"DIAM KAMU!" Bentak Jumirah menatap tajam kearah Dewi.


"JUMIRAH... JANGAN PERNAH MEMBENTAK PUTRIKU!" Bentak Pak Sutejo.


"Pak..., sudah." Bu Lasmi menarik tangan suaminya.


"Oh... jadi selama ini kalian menganggap Jumi apa? Bukannya Jumi juga putri kalian? Sekarang aku tau kalau kalian tidak pernah menganggap ku putri kalian." Ucap Jumirah sambil tersenyum sinis kearah kedua orang tuanya dengan kedua mata berkaca-kaca." Sampai kapanpun Jumi tidak pernah ikhlas kalian mengambil rumah yang bukan hak kalian, ini rumah Jumi dan Kakek Sebastian, kami mendapatkan rumah ini dengan penuh perjuangan, aku yakin kalau Kakek Sebastian yang sekarang sudah berada di surga juga tidak bakal ikhlas." Ucap Jumirah sambil meneteskan air mata, ia berjalan gontai menuju kamarnya, ia memasukkan sebagian baju dan barang-barang berharganya didalam koper berukuran besar. Saat sudah berada dipintu hendak keluar ia teringat dengan foto dirinya dan Kakek Sebastian, Jumirah kembali masuk kedalam kamarnya dan diambilnya foto dirinya dan Kakek Sebastian yang ada diatas meja riasnya.


"Kek... maafin Jumi kek, hiks... Jumi tidak bisa mempertahankan rumah yang sudah kita beli bersama ini." Ucap Jumirah sambil terisak.


Ting tong....


Terdengar bel rumah berbunyi saat bersamaan Jumirah keluar dari dalam kamarnya sambil menarik koper besar dengan tangan satunya mendekap sebuah bingkai foto berukuran sedang.


"Bukain pintunya Wik, siapa yang datang!" Perintah Bu Lasmi kepada anak perempuannya. Dewi yang sedang menonton acara televisi langsung berlari kedepan untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Mas..., Farel...!" Panggil Dewi terkejut setelah membuka pintu, ternyata kakaknya yang datang.


__ADS_2