Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 16. Jumirah dan anak-anak jalanan.


__ADS_3

Seperti yang sudah dijanjikan, Jumirah datang ke-taman dengan membawa buku gambar dan alat-alat menggambar lainnya, ia juga membawa alat-alat lukisnya.Sesampai di-taman ternyata sudah ada banyak tiga anak jalanan yang sepertinya sudah tidak sabar menunggu kedatangannya.


"Itu dia Kakaknya datang gaes!" Terdengar suara anak laki-laki bersorak kegirangan menyambut kedatangan Jumirah.


"Halo... maaf ya kakak terlambat, ini teman-teman kamu sayang?" Tanya Jumirah dengan suara lembut menatap kedua anak perempuan teman anak laki-laki tadi.


"Iya kak, kenalin mereka teman-teman aku namanya Shella dan Empi, kalau namaku Joni" Kata anak laki-laki itu memperkenalkan kedua temannya dan dirinya kepada Jumirah.


"Oh..., senang berkenalan dengan kalian...!" Jumirah menyalami kedua anak perempuan yang sepertinya baru berusia 7 dan 5 tahun.


"Oke... Seperti yang sudah kakak janjikan ini alat-alat menggambar untuk kalian." Jumirah menyerahkan buku gambar berukuran besar, pensil tulis untuk menggambar dan pensil warna yang berkualitas.


"Wah..., gede tenan buku gambarnya kak, keren...kakak baik terimakasih!" Seru salah satu anak perempuan menatap kagum buku gambar yang berukuran besar, begitu juga dengan kedua temannya yang tidak henti-hentinya memuji Jumirah yang sudah mau berbagi alat-alat menggambar ke mereka.


"Sekarang ayok kita cari tempat yang enak buat menggambar." Ajak Jumirah sambil memperhatikan keadaan didalam taman yang begitu luas.


"Disana saja kak!" Seorang anak perempuan menunjukkan sebuah tempat dibawah pohon besar dipinggir taman yang terlihat bersih.


"Oke,ayok adik-adik." Mereka berjalan mengikuti langkah kaki Jumirah. Sesampai ditempat itu Jumirah membuka tikar lipat yang ia bawa dari rumah, direntangkan tikar itu diatas tanah sebagai alas untuk dirinya dan ketiga anak jalanan itu.


Jumirah mulai mengajari anak-anak menggambar, mereka tampak serius melihat cara Jumirah menggambar dibuku gambar.

__ADS_1


"Gambar-lah sesuatu menurut imajinasi kalian, pertama buatlah sebuah lingkaran samar-samar saja, sambil memikirkan gambar apa yang ingin kalian buat, lalu...." Jumirah dengan sabar mengajari mereka cara menggambar yang benar diatas kertas.


"Nanti kalau gambarnya sudah jadi, kalian juga harus hati-hati memberi warna, seperti ini." Jumirah memberi contoh cara memberi warna yang benar pada gambar yang sudah ia buat.


"Nah... kalian sudah paham belum? Jadi pada saat kalian memberi warna pada gambar yang sudah kalian perhatikan pensil warna kalian jangan terlalu ditekan terlalu dalam nanti hasilnya jadi tidak bagus, warnanya jadi jelek, setengah ngambang aja ya, biar warnanya jadi bagus seperti punya kakak nih!" Jumirah memperlihatkan gambarnya yang sudah jadi dengan warna yang memukau.


"Kakak memang hebat." Puji Joni.


"Terus itu apa kak?" Tanya anak perempuan bernama Shella menunjuk sebuah kotak berukuran sedang tergeletak disamping Jumirah.


"Oh...itu alat-alat lukis kakak!" Jumirah mengambil kotak yang berisi cat air,kuas dan palet, wadah untuk tempat cat air yang sudah diencerkan siap untuk melukis. Dengan hati-hati Jumirah membuka kotak miliknya, mereka langsung mendekat ingin melihat lebih dekat isi kotak.


"Kok bentuknya seperti itu, gunanya untuk apa kak?" Tanya anak-anak itu dengan polosnya karena mereka baru pertama kali melihatnya.


"Boleh dong! Ini juga bisa untuk memberi warna gambar kalian, tapi akan lebih bagus lagi kalau menggambarnya dengan kain ini, ini namanya kain kanvas, nanti kakak ajarin caranya melukis diatas kanvas, sekarang kalian selesaikan dulu gambar kalian oke!" Ucap Jumirah sambil tersenyum memperkenalkan alat-alat lukisnya.


Mereka kembali ketempat semula melanjutkan pekerjaan mereka menggambar sesuai dengan keinginan mereka.


Setelah jam menunjukkan pukul dua belas siang, Jumirah mengajak ketiga anak jalanan itu beristirahat untuk mencari makanan.


"Besok masih mau belajar melukis lagi gak? Kalau mau datanglah lagi kesini besok pagi." Ucap Jumirah saat mereka sedang menyantap makanan mereka.

__ADS_1


"Besok aku gak bisa ya kak, besok mau ngamen, nyari duwit dulu." Jawab Joni sambil mengunyah nasi.


"Oh... begitu."Ucap Jumirah menatap ketiga anak itu dengan tatapan yang sulit diartikan, yang jelas ia merasa terenyuh melihat anak-anak seusia mereka harus berjuang mencari uang demi untuk menyambung hidup.


"Ternyata ada yang hidupnya jauh lebih menderita daripada aku, walaupun aku dibuang karena orang tuaku tidak menginginkan aku tapi masih ada orang lain yang merawat dan mengurus aku, tapi mereka... dengan tubuh sekecil itu mereka harus turun kejalan mencari uang sendiri untuk mencari makanan." Gumam Jumirah dalam hati dengan wajah sendu menatap ketiga bocah kecil yang terlihat sangat lahap menyantap makanan.


"Kakak kenapa tidak memakan makanan kakak?" Tanya Joni yang sepertinya masih lapar.


"Kamu mau?" Tanya Jumirah yang paham kalau bocah laki-laki itu masih lapar.


"He... kalau kakak gak mau makan, buat Joni aja kak, sayang daripada dibuang." Jawabnya sambil nyengir.


"Ambillah, kakak masih kenyang." Jumirah memberi makanannya yang masih utuh kepada bocah laki-laki berbadan kumel tapi sangat menggemaskan.


"Asyik... nyami-nyami, makasih kakak." Jawab Joni kegirangan langsung melahap makanan milik Jumirah.


"Hati-hati makannya Jon!" Perintah Jumirah sambil tersenyum geli melihat cara makan Joni yang seperti sudah satu minggu gak dikasih makan.


Tak terasa satu bulan telah berlalu.


Seminggu sekali Jumirah datang ke taman dibantu oleh Farel dan Baldatun mengajarkan anak-anak jalanan melukis, dengan sisa tabungan yang ia miliki, Jumirah membeli alat-alat lukis dan dibagikan untuk anak-anak yang mempunyai semangat luar biasa untuk menjadi orang sukses, ia juga membagikan makanan gratis untuk mereka yang semakin bertambah setiap minggunya.Sekarang jumlah mereka ada tujuh anak jalanan yang ikut belajar melukis. Atas izin dari pemerintah dan pengelola taman, setiap seminggu sekali Jumirah mengajari anak-anak jalanan di taman itu, mereka para anak-anak penerus bangsa yang mempunyai mimpi ingin menjadi seorang pelukis terkenal untuk merubah hidup mereka agar lebih baik. Ada kebahagiaan tersendiri dalam diri Jumirah saat melihat anak-anak itu terlihat begitu semangat ingin mencapai cita-citanya, semangat mereka yang begitu tinggi membuat hati seorang Jumirah menjadi terenyuh dan bertekad ingin membantu anak-anak itu untuk mewujudkan impiannya.Ia meminta bantuan dari para sukarelawan yang bersedia memberikan modal untuk anak-anak jalanan yang mempunyai semangat luar biasa untuk memberikan tempat yang layak untuk mereka tinggal karena selama ini mereka tidur disembarang tempat dengan beralaskan tikar atau koran bekas.Ternyata usaha dan kerja keras Jumirah ingin melihat anak-anak jalanan itu tumbuh menjadi seseorang yang berkualitas, dengan karya-karya mereka yang menakjubkan telah mendapat apresiasi dari masyarakat dan pemerintah setempat.

__ADS_1


Untuk menghargai kerja keras Jumi dan teman-temannya pemerintah membangun sebuah gedung untuk mereka kelola, sebagai tempat anak-anak berkarya mengeluarkan imajinasi mereka melalui karya lukis.


__ADS_2