
"Cristina... jangan pergi nak, jangan tinggalkan mommy lagi sayang... hiks... Cristina...!" Teriak Caroline sambil terisak ingin mengejar Jumirah yang sudah pergi menjauh dari mereka tapi ditahan oleh suaminya.
"Sudahlah mom, biarkan saja dia pergi, dia bukan putri kita." Bentak Alex dengan suara keras.
"Tidak..., dia putri kita Dad, mommy yakin itu, Daddy tadi sudah lihat telinga dia kan? Dan kakinya Dad, semua yang ada pada dirinya sama persis dengan keadaan Cristina yang juga mempunyai ciri-ciri seperti itu, mommy sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa gadis itu, ternyata dia dulu ditemukan oleh sepasang suami-istri di sebuah pedesaan yang tempatnya jauh dari sini, entah siapa yang sudah membawa Cristina sampai ketempat itu, mommy bersumpah tidak akan memaafkan orang yang sudah membuang putriku, hiks...!" Caroline kembali menangis." Awas Daddy... lepaskan mommy... Arya..., kejar adik kamu nak, dia Cristina adik kamu yang hilang!" Teriak Caroline kepada anak laki-lakinya yang dari tadi diam saja, sabenarnya ia ingin mengejar Jumirah tapi keinginannya ia urungkan karena takut saat melihat Daddy-nya melotot kearahnya, memberi kode agar dirinya tetap diam ditempat.
"Mom..., dia bukan Cristina, Cristina sudah mati 20 tahun yang lalu, aku tidak memiliki anak cacat, anak kita hanya Arya dan Angela." Kata Alex sambil mendekap tubuh istrinya.
"Kenapa kamu seperti itu Lex, apa salah dia sehingga kamu begitu membencinya, lepaskan tanganku Alex Fernandez." Ucap Caroline ketus sambil mendorong tubuh Alex, ia menatap tajam kearah suaminya itu, ucapannya terdengar kasar terhadap suaminya sendiri. Ini pertama kalinya Caroline memanggil nama suaminya tanpa dengan menggunakan panggilan Daddy setelah 26 tahun mereka menikah. Tampak ada kemarahan dan kekecewaan dimatanya. Caroline kembali teringat saat ia melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan, suaminya itu nampak syok saat melihat keadaan fisik putri mereka yang ternyata cacat, bahkan Alex Fernandez saat itu tidak mau melihat atau menyentuh putrinya sendiri, berbeda dengan Caroline sangat menyayangi putri mereka yang diberi nama Cristina Fernandez meskipun keadaan putrinya berbeda dengan anak-anak yang lain.
Caroline adalah anak tunggal dari pasangan suami-istri yang memiliki perusahaan multinasional produsen konstruksi dan peralatan pertanian yang menakjubkan dan dikagumi seluruh dunia, perusahaan mereka diserahkan kepada menantunya yaitu Alex Fernandez yang sebelumnya adalah orang kepercayaan dari kedua orang tua Caroline dan akhirnya Alex Fernandez dinikahkan kepada putri mereka yang merupakan pewaris tunggal perusahaan itu, ayahanda Caroline meninggal diusianya ke 75 tahun sedangkan ibundanya meninggal saat usianya 40 tahun karena penyakit kanker.
Caroline yang saat itu baru satu bulan melahirkan anak keduanya, ketika pagi hari hendak melihat bayinya yang berada didalam kamar khusus yang sengaja dibuatkan untuk bayi perempuan mereka, tiba-tiba dikejutkan dengan keadaan kamar Cristina yang kosong, ia langsung berteriak memanggil semua asisten rumah tangga dan juga suaminya, menanyakan keberadaan Cristina yang tidak ada diranjang bayi, Caroline nampak syok dan langsung pingsan saat semua orang yang berada dirumah utama tidak melihat keberadaan Cristina, lain dengan Alex yang terlihat tenang tanpa merasa kehilangan.
****
__ADS_1
"Hiks..., kenapa semua orang tidak menginginkan keberadaan ku? Kenapa aku harus dilahirkan jika akhirnya tidak di inginkan?Apa salahku Tuhan? Kenapa semua orang membenciku hanya karena keadaanku yang tidak sempurna, ini bukan keinginanku, jika boleh memilih aku juga tidak ingin seperti ini, aku juga ingin memiliki fisik sempurna seperti yang lain, hiks...." Jumirah menangis seorang diri disebuah taman, ia merasa sedih ternyata orang tua kandungnya juga tidak menginginkan dirinya. Saat ia sedang menangis tiba-tiba ada beberapa ekor kupu-kupu melintas didepannya, Jumirah mengamati kupu-kupu itu yang terlihat begitu asyik berpindah-pindah dari satu bunga ke bunga yang lain, tidak lama muncul lagi beberapa ekor kupu-kupu mendekati kupu-kupu yang tadi, mereka berterbangan mengelilingi taman, dari jauh ia juga melihat seorang anak laki-laki sedang asyik menulis sesuatu diatas kertas, Jumirah mengusap air matanya sendiri, lalu ia berjalan menghampiri anak yang seperti sedang menulis, saat sudah berada dibelakangnya ia tersenyum melihat apa yang sabenarnya sedang dilakukan oleh anak laki-laki itu, ternyata anak itu sedang menggambar pemandangan.
"Wah... indahnya..., ternyata kamu pintar sekali menggambar!" Seru Jumirah sambil tersenyum melihat anak laki-laki yang terlihat begitu serius menggambar diatas selembar kertas.
"Eh...kakak!" Anak laki-laki itu terkejut langsung menyembunyikan hasil gambar yang sudah ia buat dibelakang punggungnya.
"Kenapa diumpetin? Itu bagus lho...beneran!" Ucap Jumirah jujur dengan suara lembut, namun anak laki-laki itu malah menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat murung .
"Kenapa kamu sedih? Kamu suka menggambar ya?" Tanya Jumirah, anak itu hanya mengangguk pelan.
"Terus kenapa wajahmu terlihat murung?" Tanya Jumirah lagi." Boleh kakak lihat apa yang tadi kamu gambar?"
"Ah..." Hati Jumi langsung tersenyuh melihat hasil gambar yang sudah dibuat oleh anak laki-laki itu dengan sebuah pensil bekas yang sudah pendek.
"Ternyata kamu punya bakat menggambar ya? Pensilnya sudah pendek sekali dek, apa kamu tidak punya pensil yang lain selain ini? Kan susah ini kalau buat gambar dek?" Tanya Jumirah meminta pensil yang sedang dipegang oleh anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Kan tadi sudah aku bilang, kalau aku gak punya uang untuk beli alat-alat untuk menggambar, buat makan saja susah, aku mesti ngamen dulu buat beli nasi." Jawab anak itu dengan polosnya membuat hati Jumirah kembali terenyuh.
"Kalau kamu memang bersungguh-sungguh ingin menggambar, kakak mau membagi alat-alat menggambar punya kakak, karena kebetulan kakak juga suka sekali menggambar, bagaimana? Kalau kamu mau besok pagi kamu datanglah ketempat ini, nanti kakak bawakan pensil dan buku gambar baru untuk kamu,hem...!" Ucap Jumirah sambil tersenyum manis menatap anak laki-laki yang masih terlihat polos, ternyata dia adalah anak jalanan yang tidak memiliki orang tua, ia terpaksa mengamen mencari uang untuk makan.
"Beneran kak? Aku mau.....!" Seru anak laki-laki itu kegirangan.
"Oke, besok pagi jangan lupa datanglah kesini." Ucap Jumirah sambil tersenyum menatap bocah laki-laki itu yang terlihat begitu senang.
"Aku boleh mengajak teman-teman aku kak?" Tanya bocah itu.
"Boleh dong, semakin banyak yang mau menggambar semakin bagus, nanti kakak bawakan pensil dan buku gambar yang banyak."
"Hore...!" Teriak anak laki-laki itu berjingkrak-jingkrak kesenangan, ia langsung berlari sambil tersenyum bahagia.
"Hehehe... lucu sekali dia." Jumirah terkekeh geli melihat tingkah anak laki-laki itu yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Hem..." Jumirah kembali tersenyum sambil melihat sekelilingnya, hatinya merasa damai saat melihat bunga-bunga yang bermekaran begitu indah dipinggir taman, ditambah dengan sejuknya udara mampu melupakan masalah dalam hidupnya, timbul sebuah ide bagus didalam benaknya untuk anak-anak jalanan.
"Saatnya untuk bangkit, aku tidak boleh larut dalam kesedihan, aku harus tetap kuat, akan aku buat bangga kedua orang tuaku, aku tidak boleh lemah, mulai saat ini aku harus bisa bersikap tegas agar tidak mudah dimanfaatkan orang lain bahkan oleh orang terdekat sekalipun." Ucapnya lirih sambil meremas tangannya sendiri bertekad untuk terus maju menunjukkan kesemua orang yang sudah menghina dan merendahkan dirinya hanya karena dia memiliki fisik tidak sempurna, ia juga bisa menjadi seseorang yang hebat dikagumi oleh semua orang.