Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 42.Marah


__ADS_3

Dua hari sudah Joni dirawat dirumah sakit, Jumirah selalu datang kerumah sakit untuk melihat keadaan Joni gantian dengan kakaknya.Jika malam hari Farel dan Choirul yang datang untuk menemani Joni tapi jika siang hari Jumirah yang datang kerumah sakit.


"Jon...ngopi Jon,ah... segarnya Jon,ayok Jon ngopi-ngopi!"Seru Aden sambil menyeruput kopi buatan kekasihnya."Bagaimana Jon, sudah pingin pulang atau masih betah tinggal disini?" Tanya Aden meledek.


Selama Joni dirawat Aden sering datang kesana mengantarkan Jumirah untuk menemani Joni disiang hari menggantikan Farel dan Choirul.


"Kakak seneng ya kalau Joni tinggal disini? Terus kakak bisa bebas berduaan sama kak Jumi."Jawab Joni menatap tajam kearah Aden.


"Yoi...kakak jadi bebas berduaan sama wanita pujaan hati kakak ini,tentu saja kakak senang karena tidak ada yang mengganggu."Aden memeluk Jumirah dari samping sengaja membuat Joni tambah kesal.


"Mas...!"Jumirah melotot kearah Aden.


"Hehehe... sengaja sayang, pingin tau bagaimana reaksi bodyguard kamu itu."Bisik Aden lirih sambil terkekeh.


"Hai...lo...! Jangan bisik-bisik!"Seru Joni terlihat sangat marah.


"Sayang...sama orang tua manggilnya jangan seperti itu ya,gak boleh dengan panggilan lo-gue,gak sopan."Nasehat Jumirah dengan suara lembut sambil berjalan menghampiri Joni yang masih duduk di ranjang pasien, Jumirah tersenyum sambil menggenggam tangan Joni.


"Kak Jumi,kapan Joni boleh pulang,joni pingin pulang, hiks...!"Rengek Joni dengan wajah sendu.


"Besok kata dokter kamu boleh pulang sayang."Kata Jumirah memberitahu.


"Beneran kak, asyik...!"Joni bersorak kegirangan.


"Duh senangnya yang sudah boleh pulang."Kata Aden.


"Ha...ha... rasain kak Aden, mulai besok sudah tidak bisa berduaan lagi dengan kak Jumi karena Joni tidak akan membiarkan kalian berduaan."Ucap Joni sambil tersenyum sinis kearah Aden.


"Hahaha...kamu sungguh lucu bocah!"Aden tertawa melihat sikap bocah laki-laki yang tidak memiliki rasa takut da banyak akalnya itu.


"Ayok kamu minum obat dulu terus istirahat biar lekas sembuh!"Perintah Jumirah menyiapkan obat untuk diberikan kepada Joni.


Joni meminum obat itu satu-satu.


"Mas Aden gak berangkat ke kantor?"Tanya Jumirah setelah memberikan obat untuk Joni.Sedangkan Joni sudah kembali berbaring diatas ranjang pasien.

__ADS_1


"Aku tidak ke kantor, urusan kantor aku serahkan ke Gibran karena aku ingin bersama kekasihku lebih lama hari ini."Jawab Aden terlihat santai sambil tersenyum menatap wajah kekasihnya yang semakin hari semakin cantik aja membuat ia semakin tidak mau meninggalkan wanita pujaannya itu.


"Ih... gombal banget sih!"Seru Jumirah sambil cemberut malah terlihat menggemaskan.


"Sayang... jangan seperti itu dong bikin gemes tau gak!"Ucap Aden jadi semakin gemas melihat Jumirah.


"Kita cari makan dulu yok mumpung tuh bocah lagi tidur."Bisik Aden menarik tangan Jumirah.


Mereka keluar untuk mencari makanan meninggalkan Joni yang sudah terlelap tidur.


"Hah...itu!"Gumam seorang perempuan cantik saat melihat Jumirah dan Aden keluar dari mobil, mereka berjalan berdampingan masuk kedalam cafe.


"Ada apa Ros?"Tanya seorang perempuan paruh baya, mereka adalah Rosita dengan Nyonya Claudia yang juga hendak makan di-cafe itu.


"Lihat tante, itu bukannya Aden,kok dia bisa ada disini tante."Kata Rosita memberitahu.


"Hah... iya benar,ayok Ros kita bikin malu perempuan itu."Ajak Nyonya Claudia bergegas keluar dari dalam mobil untuk menemui anaknya yang saat ini sudah berada didalam cafe bersama Jumirah.


"hem...!"Rosita tersenyum tipis, dibukanya pintu mobil,ia keluar dan berjalan setengah berlari mengejar Nyonya Claudia yang sudah berjalan duluan.


"Aku mau makan mie goreng saja lah mas."Jawab Jumirah.


"No...kamu tidak boleh makan mie goreng,makan nasi!Aku gak mau kamu sakit."Kata Aden dengan tegas.


"Hem... sekali-kali Bolehlah!"Rengek Jumirah manja sambil memanyunkan bibirnya.


"No...no...no!"Jawab Aden tetap tidak mengizinkan Jumirah makan mie goreng.


"Eh... Aden! Saat mereka sedang berdebat soal makanan tiba-tiba terdengar seseorang memanggil membuat kedua pasangan kekasih itu langsung menoleh kearah sumber suara.


"Ibu,Ros!"Panggil Aden terkejut melihat dua perempuan yang tau-tau ada dibelakangnya.


"Oalah kamu ternyata ada disini toh! Kita boleh gabung gak?"Tanya Nyonya Claudia pura-pura kaget meminta izin untuk gabung sengaja ingin membuat Jumirah merasa malu dan pergi meninggalkan anaknya itu.


"Boleh dong bu."Jawab Aden.

__ADS_1


"Makasih ya nak!"Ucap Nyonya Claudia duduk dikursi sebelah kanan Aden tanpa menoleh kearah Jumirah.


"Sayang...Sini,duduk disini saja nak!"Panggil Nyonya Claudia kepada Rosita agar duduk disamping Aden,"kamu... tolong geser, biarkan dia duduk disitu!"Perintah Nyonya Claudia menyuruh Jumirah pindah tempat duduknya ke bangku yang lain karena bangku yang sedang diduduki Jumirah akan digunakan untuk duduk Rosita.


"Tidak, tetap disitu Jum, Rosita bisa duduk ditempat yang lain."Kata Aden dengan tegas melarang Jumirah pindah tempat duduknya.


"Tapi nak...dia...."


"Dia datang bersamaku,jadi aku yang berhak memberi perintah dengannya."Kata Aden memotong ucapan digenggamnya tangan Jumirah agar ia kembali duduk ditempat semula.Jumirah menundukkan kepalanya,ia pun kembali duduk ditempat semula.Rosita dan Nyonya Claudia menatap sinis kearah Jumirah.


"Sayang...tadi Rosita membelikan kemeja untuk kamu lho!"Nyonya Claudia berbicara seperti itu agar Jumirah cepat pergi meninggalkan mereka."Ros...dimana kemejanya tadi Ros?"Tanyanya kepada Rosita.


"Eh...iya tante."Rosita mengambil sesuatu dari dalam baper bag.terlihat sebuah kain yang masih terbungkus rapi dengan menggunakan plastik bening,ia menyerahkannya kepada Aden.Rosita tersenyum tipis sambil melirik kearah Jumirah setelah menyerahkan kemeja yang tadi dibelinya kepada Aden.


"Ini buatku Ros?"Tanya Aden menerima bungkusan dari Rosita.


"Iya,aku carikan warna sesuai dengan warna kulit kamu,itu keren lho mas, model terbaru."Ucap Rosita sambil tersenyum, sesekali ia melirik kearah Jumirah yang sudah terlihat gelisah.


"Coba buka sayang,ibu juga penasaran lho!"Nyonya Claudia membantu Aden membuka plastik yang digunakan untuk membungkus kemeja.


"Wow... bagus nak, Rosita pintar ya,kamu sungguh beruntung punya calon istri seperti dia."Ucap Nyonya Claudia sambil tersenyum sinis melirik kearah Jumirah.


"Sayang!Ibu tadi habis melihat-lihat baju pengantin,ibu sudah tidak sabar melihat kalian cepat menikah."Lanjut Nyonya Claudia membuat Jumirah juga Aden jadi bingung.


"Maksud ibu apa ya? Siapa yang disuruh cepat menikah?"Tanya Aden.


"Lho... kamu bagaimana sih,kan kemarin kita sudah sepakat akan segera melangsungkan pernikahan kamu dengan Rosita."Jawab Nyonya Claudia membuat Jumirah langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Aden.


"Apa maksud ibu? Kapan kita membahas masalah itu bu?"Tanya Aden semakin penasaran.


"Maaf aku harus pergi sekarang."Jumirah langsung bangkit dan bergegas pergi meninggalkan Aden yang saat ini sedang bersama dengan ibundanya dan sang mantan, hatinya sungguh terasa sakit.


"Jum... jangan pergi sayang!"Panggil Aden langsung bangkit untuk mengejar kekasihnya tapi tangannya ditarik oleh Nyonya Claudia.


"IBU... LEPAS!"Ucap Aden dengan suara keras, dengan wajah yang sudah berubah merah karena marah, Aden begitu marah dengan sikap ibunya yang sudah membuat wanita pujaannya jadi salah paham sehingga pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2