Impian Jumirah

Impian Jumirah
Ucapan polos si Joni.


__ADS_3

"Woy...!


"Eh kodok loncat-kodok loncat!" Suara latahnya Baldatun keluar saat merasa kaget.


"Ah si monyong, nyebelin banget sih lo! Ngagetin orang saja deh." Ucapnya sambil mendorong pelan lengan pemuda tampan yang sudah membuat dirinya kaget.


"Hahaha lo sungguh lucu sekali bikin gue jadi gemes-gemes...!" Pemuda itu malah menarik kedua pipi Baldatun karena gemas.


"Aaa... monyoooong!" Teriak Baldatun memukul kepala pemuda tadi dengan menggunakan buku yang ia pegang.


"Aw... sakit dok!" Ucap pemuda tadi sambil mengusap kepalanya sendiri." Makan yok say!" Ajaknya.


"Gue belum lapar, lo duluan aja, gue mau nungguin Jumi, hus... sana-sana pergi." Usir Baldatun.


"Ih... gak setia kawin lo dok kodok!" Ucap laki-laki itu sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe jelek amat sih lo Rul sudah seperti ikan louhan aja, setia kawan kali nyet!" Baldatun malah terkekeh geli melihat ekspresi wajah pemuda tampan yang ada didepannya yang bernama Choirul, teman baiknya dari masih sekolah TK, sempat berpisah enam tahun karena Baldatun harus ikut bersama kedua orang tuanya ke Jakarta, mereka kembali dipertemukan saat Baldatun dan kedua orangtuanya pulang kembali ke kampung halaman dan melanjutkan sekolah disana saat kelas dua SMP.


"Eh... kok gue dari tadi gak lihat Mas Farel ya?" Tanya Irul.


"Mas Farel kata Jumi sedang gak enak badan jadi tidak kesini." Jawab Baldatun memberitahu.


"Oh... pantas dari tadi gue gak lihat Mas Farel." Ucap Irul.


"Halo gaes...!" Sapa Jumirah yang baru selesai mengajar anak-anak melukis berjalan menghampiri kedua sahabatnya diruang tamu.


"Beneran lo datang, nih kodok gue ajakin makan dari tadi katanya nunggu lo!" Ucap Choirul.

__ADS_1


"Tenang aja aku tadi udah pesan makanan, paling sebentar lagi makanannya datang." Kata Jumirah sambil duduk disebelah kanan Baldatun.


Dan benar saja baru selesai berbicara, ada sebuah motor berhenti didepan gedung.


Tiiiin...


Terdengar klakson motor dari luar, "paket...!" Teriak si-pengantar makanan.


"Tuh kan... apa aku bilang," ucap Jumirah bergegas keluar untuk mengambil dan membayar pesanannya, tidak lama iapun masuk kembali dengan membawa dua buah kardus berbentuk bulat.


"Wow pizza...!" Seru Choirul menatap dua kardus pizza berukuran besar dan satu berukuran sedang ditangan Jumirah.


"Buat kita yang ini saja, kalau yang gede ini buat anak-anak." Jumirah meletakkan satu kardus pizza berukuran sedang diatas meja sedangkan yang dua dibawa masuk untuk diberikan anak- yang jumlahnya ada 15 anak.


"Ye...!" Dari ruang tamu Choirul dan Baldatun mendengar teriakkan dari anak-anak yang terdengar begitu bahagia mendapat oleh-oleh dari Dari Jumirah.


"Kak Jumi, kak Alda, besok kan hari minggu, kita jalan-jalan yok kak, kita juga ingin di ajak jalan-jalan sama kalian." Rengek anak-anak saat didepan gedung mengantar ketiga orang yang hendak pulang kerumah mereka masing-masing. Mereka yang sudah dengan baik hati selalu menemani dan mengajarkan anak-anak jalanan itu tentang kehidupan dan selalu memberi mereka semangat. Berkat Jumirah dan kawan-kawan mereka yang tadinya hidup tanpa arah dan tujuan tanpa orang tua maupun saudara yang mengawasi, menasehati atau membimbing mereka, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tidak mempunyai pendidikan, bicara mereka kasar, mereka rela mengemis dipinggir jalan hanya untuk membeli makanan, mereka dapat merasakan hangatnya keluarga, karena Jumirah dan kawan-kawan memperlakukan mereka dengan baik, penuh kasih sayang.


"Oh iya, besok hari minggu ya? Oke... kita besok jalan-jalan, kalian besok jam tujuh harus sudah siap,kakak jemput kalian dan... kita jalan-jalan...!" Seru Jumi, anak-anak yang sedang berada diluar mengantarkan Jumi dan Baldatun juga Choirul yang mau pulang langsung bersorak kegirangan.


"Yes, asyik... akhirnya kita jalan-jalan gaes, hore...!" Joni, si anak laki-laki yang memiliki kulit agak gelap tapi sudah terlihat bersih tidak dekil lagi seperti pertama kali Jumirah bertemu dengannya. Ia langsung melompat dan salto sangking senengnya.


"Joni... awas nanti encokan lho!" Seru Jumirah saat melihat bocah laki-laki berbadan pendek itu salto.


"Emangnya kak Jumi..., encokan! Tenang aja kak, badan Joni kuat gak bakal encokan." Ucap Joni sambil mengangkat kedua lengannya menunjukkan otot-otot lengannya yang masih kecil tapi dengan penuh percaya diri Joni bersikap seolah dia adalah seorang atletis yang memiliki otot kuat.


"Alah Jon... jon!" Irul mengacak rambut Joni yang sedikit berantakan.

__ADS_1


"Tapi memang benar Jon, anak laki-laki memang harus kuat buar kita bisa melindungi orang-orang yang kita sayangi." Lanjut Irul.


"Bener kak, Joni pingin jadi cowok kuat biar besok Joni bisa melindungi Kak Jumi dan Kak Alda juga semua saudara Joni disini." Jawab Joni dengan polosnya membuat kedua mata Jumirah langsung berkaca-kaca merasa terharu dengan bocah laki-laki tidak diketahui berapa umurnya yang sesungguhnya karena menurut cerita dia sudah ditinggal kedua orang tuanya saat masih sangat kecil, seorang perempuan membawanya, perempuan itu merawat dan membesarkannya serta mengajari Joni yang masih sangat kecil untuk mengemis, tapi Joni lebih memilih mengamen dari pada harus meminta-minta. Kalau dilihat dari postur tubuhnya diperkirakan bocah laki-laki yang sabenarnya sangat cerdas dan memiliki banyak akal itu baru berusia enam tahun.


"Aduh Jon, terimakasih sayang, kakak sungguh terharu." Jumirah langsung memeluk bocah laki-laki itu.


"Besok kalau sudah gede Joni juga akan menikah dengan kak Jumi." Ucap Joni dengan polosnya.


Glek...


Jumirah menelan ludahnya sendiri langsung melepas pelukannya.


"Hey anak bau kencur, masih kecil udah ngomong nikah segala, sekolah yang benar jadi orang sukses dulu baru mikirin soal itu. Kakak aja yang sudah segede ini belum mikir kearah situ, lha ini bocah kemarin sore ngomongnya udah kayak orang gede." Choirul kembali mengacak rambut Joni merasa gemas.


"Biarin aja, wek..., Kak Irul cemburu ya? Pokoknya besok kalau sudah gede Joni mau menikah dengan Kak Jumi, mau ya kak." ucap Joni menarik dan menggoyang-goyangkan tangan Jumirah.


"Eh... hehehe....i... iya." Jawab Jumirah gugup sambil tertawa kecil.


"Aduh mak...! Jumirah, lo dilamar sama bocah ingusan!" Kata Choirul sambil menepuk keningnya sendiri.


"Hahaha... Joni... Joni...!" Seru anak-anak yang lain.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada seseorang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian, orang itu seperti sedang merencanakan sesuatu dengan temannya.


"Oke... kita lakukan nanti malam, kalian aku tunggu disini jam delapan." Perintah salah seorang perempuan kepada kedua laki-laki berpakaian seperti seorang preman.


"Baik bos," jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Heh... lihat saja apa yang akan kalian lakukan setelah ini, kalian sudah mengambil mereka dariku, akan aku ambil lagi apa yang sudah kalian ambil dariku, hem...." Ucap perempuan itu sambil tersenyum licik.


__ADS_2