Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 13. Perasaan Farel.


__ADS_3

"Halo... bagaimana pak? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu?" Tanya seorang perempuan paruh baya yang sudah dua kali bertemu dengan Jumirah berbicara dengan seseorang dipanggilan telpon. Perempuan paruh baya itu terdiam beberapa menit sambil berdiri di balkon kamarnya, beliau nampak serius mendengarkan penjelasan seseorang di seberang telpon, Orang itu sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.


"Jadi dia tinggal berdua dengan kakaknya?" Tanyanya,lalu beliau kembali diam beberapa menit mendengarkan orang yang ada di sebrang telpon berbicara.


"Hah... jahat sekali mereka." Perempuan paruh baya itu nampak marah.


"Oh begitu...oke, kamu terus ikuti dan awasi dia kemanapun dia pergi, tapi kamu harus hati-hati jangan sampai ketahuan kalau kamu sedang mengawasinya, pastikan dia baik-baik saja, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan dirinya, kamu lindungi dia dari orang jahat yang bermaksud mencelakainya, termasuk kedua orang tua yang sudah merawat dan membesarkan dia, kamu harus kasih pelajaran mereka yang sudah membuat gadis itu menderita." Lanjut perempuan paruh baya itu memberi perintah untuk seseorang diseberang telpon. Panggilan telpon pun dimatikan setelah beliau memberikan perintah.


"Gadis itu..., kenapa setiap kali melihat wajahnya aku seperti melihat putriku? Rasanya begitu sakit mendengar dia hidup menderita, ingin sekali aku peluk dan bawa dia kesini agar dia tidak menderita lagi di luar sana. Apa mungkin dia memang putriku yang hilang 20 tahun yang lalu?" Gumamnya lirih


"Cristina... maafkan mommy nak, hiks...." Ucap perempuan paruh baya itu lirih, terdengar suara isak tangis darinya.


"Mom...!" Panggil seseorang, perempuan paruh baya itu langsung mengusap air matanya lalu beliau menoleh kebelakang


"Apa yang mommy lakukan disini? Di cariin Daddy dari tadi." Terlihat seorang gadis remaja menghampirinya.


"Daddy sudah pulang nak?" Tanya perempuan paruh baya itu yang ternyata bernama Caroline, istri dari pengusaha sukses bernama Alex Fernandez.


"Sudah mom, sekarang Daddy ada dibawah, ayok mom, Daddy menyuruh kita bersiap-siap." Jelas gadis remaja itu atau anak perempuannya yang bernama Angela putri Fernandez.


"Bersiap-siap? Memangnya kita mau kemana nak?" Tanya Caroline kepada putrinya yang sudah kelihatan rapi.


"Daddy mengajak kita makan diluar mom." Jelas Angela.


"Oh...ya sudah ayok." Ajak Caroline nampak bersemangat.


"Lha sih..., mommy gak mengganti pakaian mom dulu?" Tanya Angela bengong karena ibundanya masih memakai baju rumah.

__ADS_1


"Oh iya, mommy lupa, hehehe...." Ucap Caroline menatap baju yang ia pakai ternyata ia masih memakai daster.


"Capek deh!" Angela menepuk keningnya sendiri.


"Ya sudah Angel tunggu dibawah ya mom." Lanjutnya langsung keluar meninggalkan ibundanya yang sedang memilih baju untuk mengganti daster yang dikenakannya.


"Angela... tunggu nak, tolong sekalian kamu bawa tas mommy kebawah, itu handphone mommy masukkan kedalam tas mommy." Perintah Caroline sambil menunjukkan handphonenya yang ia letakkan diatas meja.


"Haduh... mommy kebiasaan deh, cepetan mom nanti Daddy marah kalau nunggu terlalu lama." Ucap Angel yang sudah berada didepan pintu, ia kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil tas dan handphone Ibunda lalu ia keluar lagi.


"Angela..., bilang sama Daddy suruh tunggu sebentar mommy sedang mengganti pakaian." Perintah Caroline lagi kepada putrinya.


"Iya mommy sayang." Teriak Angel yang sudah berada diluar.


"Dimana mommy Ngel?" Tanya laki-laki paruh baya yang memiliki badan tinggi tegap, berusia sekitar 43 tahun namun masih memiliki badan tegap dan kuat, wajannya juga masih terlihat segar seperti baru berusia 30 tahunan, beliau adalah Alex Fernandez seorang pengusaha sukses.


"Sedang ganti baju Dad...!"Jawab Angela sambil berjalan menghampiri ayahandanya yang sedang duduk bersama kakak laki-lakinya yang bernama Arya Fernandez.


"Bagaimana dengan kuliahmu Arya? Kenapa kamu belum kembali lagi ke Australia, bukannya kamu masih kurang satu semester lagi?" Tanya Alex kepada anak laki-lakinya.


Arya Fernandez anak pertamanya Alex Fernandez dan Caroline, saat ini ia sudah berusia 23 tahun. Arya masih kuliah namun ia juga bekerja membantu sang ayah mengurus perusahaan.


"Lusa aku berangkat Dad." Jawab Arya singkat.


"Bagaimana dengan kamu Ngel? Apa kamu sudah memutuskan mau kuliah di mana?" Tanya Alek ke anak perempuannya.


"Angel ingin kuliah di Jakarta aja Dad, Angel gak mau pisah dari kalian." Jawab Angel tidak mau kuliah di luar negeri.

__ADS_1


"Kenapa? Padahal Daddy ingin supaya kamu kuliah ditempat Arya." Ucap Alex.


"Gak mau Dad, pokoknya Angel ingin kuliah di Jakarta saja." Jawab Angela tidak mau dipaksa.


"Oke-oke... terserah kamu saja, tapi ingat... belajar yang bener jangan bikin malu kami, Daddy akan mengirim kamu kesana jika kamu disini ternyata tidak bersungguh-sungguh belajarnya." Ancam Alek kepada putri kesayangannya yang sangat manja dan sedikit keras kepala menuruni sifatnya yang juga memiliki sifat keras kepala.


"Ayok... mommy sudah siap." Terdengar suara Caroline yang tiba-tiba ada dibelakang mereka.


"Asyik...ayo Daddy...! Angel sudah lapar, Kita makan direstoran seafood aja ya Dad, Angel ingin makan ikan bakar yang mak nyus itu, em...."Ucap Angela sambil membayangkan makanan kesukaannya.


"Oke... terserah kalian saja." Jawab Alex.


Sementara ditempat lain.


"Apa kamu besok jadi mau melukis dipinggir jalan depan kontrakan?" Tanya Farel saat mereka sedang makan malam bersama.


"Jadi mas." Jawab Jumirah.


"Kenapa gak melukis dirumah saja nanti hasilnya kamu promosikan lewat internet, itu malah akan mempermudah kamu dalam


berkarya tidak harus turun ke jalan, di jaman modern seperti sekarang ini semua terasa mudah lho dalam berbisnis, kamu bisa menjual lukisan kamu secara online, kamu cukup memosting hasil karya lukis kamu lewat internet atau media sosial nanti pembeli akan menghubungimu jika mereka tertarik." Jelas Farel yang tidak mau melihat adiknya capek-capek mempromosikan hasil karya lukis dipinggir jalan.


"Memang benar apa kata Mas Farel, tapi aku lebih suka melukis dipinggir jalan, aku mendapatkan ide baru saat aku berada disana, dan yang penting aku merasa senang bisa melukis disana." Jelas Jumirah.


"Ya sudah kalau itu membuat kamu bahagia, aku hanya tidak ingin melihatmu kecapean, seandainya aku mempunyai banyak uang...aku tidak akan membiarkan kamu hidup menderita Jumi." Wajah Farel tiba-tiba berubah sendu.


"Mas Farel gak boleh bicara seperti itu, dengan Mas Farel ada disini berada disamping aku sudah membuatku bahagia, aku senang akhirnya kita bisa bersama lagi seperti dulu, terimakasih Mas Farel sudah mau menemaniku." Ucap Jumirah sambil tersenyum menggenggam tangan kakaknya dengan lembut.

__ADS_1


Deg...


"Ya Tuhan, perasaan ini... rasanya ingin sekali aku miliki dia sepenuhnya, seandainya kamu tau Jum, kalau selama ini aku sangat mencintaimu, perasaanku tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang." Batin Farel sambil tersenyum menatap wajah adiknya yang menyejukkan.


__ADS_2