
"Kakak..., ini bagusnya menggunakan warna apa? Kakak...kalau mau membuat warna ini aku harus mencampur warna apa saja?Kakak..., kenapa gambar punyaku jadi seperti ini?Kakak...kakak...!" Terdengar suara berisik dari anak-anak saling bersahutan didalam ruang melukis, ada saja pertanyaan yang mereka pertanyakan, namun,dengan sabar Jumirah dan kawan-kawan memberitahu apa yang harus mereka lakukan.
Tok...tok....
Terdengar pintu diketuk oleh seseorang saat mereka sedang sibuk mengajari anak-anak jalanan dan juga anak-anak dari warga sekitar yang juga tertarik ingin ikut belajar melukis. Terlihat seorang pejabat daerah memasuki ruangan itu bersama dengan seorang wanita muda untuk menemui Jumirah. Ternyata orang itu ingin mengajak Jumirah bekerjasama memasarkan hasil karya lukis anak-anak melalui online, hasilnya mereka gunakan untuk keperluan anak-anak jalanan itu sendiri yang sudah disetujui oleh pemerintah daerah. Jumirah hanya mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh pemerintah, baginya yang penting bisa untuk membantu kehidupan anak-anak jalanan agar lebih baik.
"Oke..., kami nanti akan memotong 30 persen dari hasil penjualan, kalau Mbak Jumi sudah setuju, kita bisa memulai kerjasamanya mulai besok, nanti anda kirimkan hasil karya mereka ke nomor ini, kita nanti coba sebar hasil karya mereka melalui internet, media sosial, semoga ini bisa membantu mereka agar lebih semangat dalam berkarya ya mbak, kita cuma bisa memberi dukungan dan semangat untuk mereka." Ucap wanita muda itu menyerahkan sebuah kartu nama kepada Jumirah. Lalu mereka berjabat tangan.
"Baiklah, semoga kerjasama kita lancar."Jawab Jumirah.
"Oke..., kalau begitu saya permisi, oh ya mbak jumi..., kalau tidak keberatan besok datanglah ke cafe Xxx, kita akan ada pertemuan dengan atasan kami disana, yaitu dengan pemilik galeri online, ini kesempatan emas Mbak Jumi untuk bisa lebih mengerti dan paham dengan tugas dari perusahaan, nanti mbak boleh bertanya-tanya langsung kepada beliau." Kata wanita muda itu memberitau.
"Oh..., baik kakak, saya usahakan untuk bisa datang kesana besok, sekali lagi terimakasih atas kepercayaan anda mengajak kami bekerjasama.
Selamat ya Mbak Jumirah, semoga sukses!" Kata seorang laki-laki yang tadi datang bersama wanita muda dari perusahaan yang memasarkan hasil karya melalui online.
"Terimakasih pak." Ucap Jumirah sambil membungkukkan badannya.
Kedua orang itupun pergi meninggal ruangan melukis yang terdiri dari 15 Anak, baik anak jalanan atau anak-anak warga sekitar yang juga ingin belajar melukis.
"Wah..., lo memang keren Jum, semoga ini merupakan awal dari keberhasilan kamu ya Jum, semangat!" Kata Baldatun setelah kepergian dua orang tadi.
"Keberhasilan kita Da," balas Jumirah membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Hehehe...iya." ketawa Baldatun sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
__ADS_1
Keesokan paginya Jumirah sudah bersiap-siap untuk pergi ke cafe yang sudah dijanjikan.
"Wow, cantik." Ucap Farel saat melihat Jumirah keluar dari dalam kamarnya.
Jumirah hanya tersenyum simpul mendengar pujian dari kakaknya.
"Bagaimana dengan penampilan Jumi mas?" Tanya Jumirah sambil tersenyum malu.
Ia telah merubah penampilannya, memakai jilbab dengan setelan kemeja panjang berwarna merah marun dan rok panjang berwarna hitam. Jumirah juga memoles wajahnya dengan bedak tipis memakai lipstik membuat wajah ayunya semakin ayu.
"Kamu terlihat lebih anggun," ucap Farel dengan kedua mata tidak berkedip sangking terpesona melihat perubahan adiknya yang jauh lebih terlihat cantik dan anggun setelah memakai busana muslim.
"Ah mas Farel terlalu berlebihan, aku pamit ya mas!" Jumirah pun pergi meninggalkan Farel yang masih duduk sambil menatap Jumirah pergi ke cafe itu dengan naik taksi langganannya yang sudah menunggu diluar.
Sesampai dicafe ternyata sudah ada wanita yang kemarin menemuinya, wanita itu datang bersama satu teman wanitanya, juga dua laki-laki paruh baya serta satu laki-laki yang terlihat masih sangat muda.
"Iya pak," jawab Jumirah singkat.
Saat sedang berbincang-bincang tidak sengaja Jumirah melihat seorang pemuda sedang berjalan memasuki cafe dengan seorang perempuan, dia adalah Muhammad Aden Mahendra, mantan kekasihnya.
Aden duduk membelakangi Jumirah saat ini sedang duduk.
"Oh... ternyata dia sudah memiliki kekasih baru, mudah sekali dia melupakan semuanya. Begitulah laki-laki cepat sekali berpindah ke lain hati." Kata Jumirah dalam hati.
"Ada apa mbak?" Tanya laki-laki paruh baya itu menatap curiga kearah Jumirah yang seperti sedang melamun.
__ADS_1
"Ah... maaf pak, tidak apa-apa." Jawab Jumirah gelagapan.
"Perempuan ini, kenapa suara terdengar tidak asing? Jumirah, ah tidak mungkin, Jumirah tidak memakai hijab," Gumam Aden dalam hati saat mendengar suara Jumirah yang duduk membelakangi dirinya.
"Oke mbak, semoga kerjasama kita berjalan lancar ya, kalau ada yang ingin anda tanyakan, jangan sungkan langsung hubungi saya atau asisten saya ini, dengan senang hati kami akan menjelaskan apa yang mbak Jum belum paham." Perintah pemilik perusahaan galeri online. "Kami akan satukan karya anda dan anak-anak bersama karya lukis yang memiliki kualitas baik, semoga nanti banyak yang berminat." Lanjutnya.
"Oke pak, terimakasih." Ucap Jumirah merasa senang. Merekapun berdiri dan kembali bersalaman sebagai tanda saling sepakat untuk memulai kerjasama.
"Jumirah..., iya tidak salah lagi, itu suara Jumirah." Aden langsung menoleh kebelakang ingin memastikan apa wanita yang dibelakangnya tadi beneran mantan kekasihnya atau bukan. Saat ia ingin mengejar wanita berhijab yang sedang berjalan keluar dari dalam cafe tangannya ditahan oleh perempuan yang datang bersamanya.
"Kamu mau kemana Den?" Tanya perempuan itu menggenggam tangan Perempuan itu bernama Rosita, mantan pacar Aden. Mereka akhirnya bertemu diluar kota saat Aden pergi untuk bisa melupakan Jumirah, setelah sempat berpisah beberapa tahun yang lalu dimana Rosita yang saat itu masih berstatus sebagai pacarnya tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar berita, namun, mereka kembali dipertemukan di kota yang Aden datangi untuk berlibur,menenangkan hatinya yang sedang terluka karena penghianatan dari kekasihnya yang sabenarnya hanya kesalah pahaman saja, ia tidak tahu kalau saat itu sabenarnya Jumirah dijebak.
"Tidak jadi," jawab Aden kembali duduk namun dalam hatinya ia ingin sekali mengejar perempuan memakai hijab yang tadi karena merasa curiga kalau perempuan itu adalah Jumirah.
"Kenapa aku memikirkan dia, ah... perempuan ja**lang itu, kenapa tiba-tiba aku mengingatnya, sialan." Gumamnya dalam hati.
Sementara diluar cafe Jumirah yang baru keluar tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki paruh baya yang sepertinya hendak makan bersama temannya di cafe itu.
"Maaf pak," ucap Jumirah menundukkan kepalanya.
"Iya gak apa-apa, lain kali berhati-hatilah kalau jalan." Jawab laki-laki paruh baya itu.
Deg....
Jumirah mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk melihat laki-laki yang ada didepannya.
__ADS_1
"Daddy...!" Ucapnya dalam hati setelah melihat wajah laki-laki yang ada didepannya ternyata adalah Alex Fernandez, ayah kandung Jumirah namun sepertinya Alex tidak mengenali Jumirah yang sudah merubah penampilannya itu.