Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 40.Rumah baru.


__ADS_3

Perkenalkan para tokoh dalam cerita impian Jumirah.



Jumirah saat belum memakai hijab๐Ÿ‘†, gadis cantik dengan fisik tidak sempurna tapi memiliki semangat yang tinggi untuk merubah takdirnya.



Muhammad Aden Mahendra โ˜๏ธ



Farel๐Ÿ‘†



Joni, si bocah pemberani.๐Ÿ‘†



Baldatun ๐Ÿ‘†



Choirul๐Ÿ‘†



Alex Fernandez๐Ÿ‘†



Caroline.๐Ÿ‘†



๐Ÿ‘† Margaretha



Dewi๐Ÿ‘†



Angela๐Ÿ‘†



Nyonya Claudia โ˜๏ธ



Rosita ๐Ÿ‘†



โ˜๏ธTuan Surya Mahendra


__ADS_1


Anak-anak jalanan ๐Ÿ‘†


Seperti itulah kira-kira mereka, maaf kalau kurang cocok, itu sebagian dari para tokoh pemain belum semuanya๐Ÿ˜


Semoga gak ada yang marah ya fotonya author ambil sebagai visual ๐Ÿ™


Kalau ada yang mau kasih saran, boleh-boleh, author mengucapkan banyak terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ™


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Margaretha masuk!" Perintah Aden dengan ketus tidak ingin adiknya itu terlalu lama berduaan dengan seorang laki-laki.


"Kakak...!" Protes Margaretha tidak mau meninggalkan kekasihnya di luar.


"Retha...!"Bentak Aden.


"Ih... kakak jahat." Margaretha menghentakkan kakinya lalu ia berlari meninggalkan kakak dan kekasihnya yang masih berada di taman.


"Apa kamu serius dengan adikku anak muda?" Tanya Aden menatap tajam kearah Galih.


"Aku serius kak, aku beneran sayang sama dia." Jawab Galih dengan tegas.


"Kamu masih sekolah?" Tanya Aden lagi.


"Aku baru mau masuk kuliah kak!" Jawab Galih.


"Hem... baru mau kuliah berani dekati adikku, pergilah, jangan pernah kembali kesini sebelum kamu bekerja, buktikan kalau kamu benar-benar serius dengan Margaretha." Perintah Aden.


"Baik kak, aku akan buktikan kalau aku memang serius dengan adik kakak, aku akan kembali kerumah ini untuk melamar Retha setelah aku memiliki banyak uang." Ucap Galih dengan tegas.


"Hem... bagus, itu baru laki-laki sejati." Balas Aden sambil menepuk pundak Galih.


"Sayang... akhirnya kamu datang juga nak," sapa Nyonya Claudia menghampiri anak laki-lakinya yang baru datang.


"Maaf bu, aku kesini ingin bertemu dengan bapak,bapak dimana bu?" Tanya Aden.


"Oalah... bapakmu baru saja pergi nak, katanya mau bertemu dengan klien." Jawab Nyonya Claudia memberitahu.


"Oh... ya sudah besok aku kesini lagi bu, aku pamit."


"Hah... kamu baru saja datang sudah mau pergi lagi nak? istirahat dulu sana,ibu sudah masak ayok kita makan bersama nak, kita sudah lama tidak makan bersama." Ajak Nyonya Claudia.


"Besok saja bu, aku sedang ada urusan penting, besok aku kesini lagi." Ucap Aden.


"Beneran ya nak, ibu tunggu lho!" Seru Nyonya Claudia merasa senang akhirnya Aden, anak pertamanya, mau kembali pulang ke rumah dan makan bersama dirumah mereka.


Sementara ditempat lain dihari yang sama.


"Hua... Joni gak mau ditinggal kak, Joni gak mau dirawat." Teriak Joni sambil menangis saat seorang dokter mengatakan kalau Joni harus dirawat karena memerlukan banyak cairan akibat diare.


Joni dibawa keruang inap pasien, ditangannya dipasang selang infus.


"Kakak... Joni ikut, Joni gak mau disini...!" Teriak Joni terus memberontak ingin ikut Jumirah.


"Tidak Joni, kamu harus dirawat agar cepat pulih, supaya kamu kembali kuat lagi, kamu gak sendirian kok. Kakak Farel nanti yang temenin kamu disini. Tenanglah sayang, setelah melihat rumah baru kita, kak Jumi kesini lagi untuk menemani kamu, Kakak bakal nemenin kamu sampai kamu kembali pulih tidak lemes lagi, oke!" Rayu Jumirah.


"Enggak... Joni gak mau ditemani Kak Farel, Joni maunya ditemani Kak Jumi saja." Ucap Joni dengan wajah cemberut tidak mau menatap Farel.


"Haduh... aku mesti sabar ngadepin ini bocah!" Seru Farel sambil mengusap dadanya sendiri mendengar ucapan Joni yang gak tau kenapa tidak menyukainya.

__ADS_1


"Sabar mas, sabar!" Jumirah mengusap punggung Farel sambil menahan tawanya melihat ekspresi wajah Farel yang seperti sedang menahan amarahnya menghadapi Joni.


"Huh... ini semua demi kamu jum, kalau gak karena kamu rasanya mas pingin nabok mulut nih bocah!" Ucap Farel geregetan.


"Hehehe... ya sudah kakak pergi dulu ya, kasihan teman-teman kamu nungguin di mobil dari tadi." Kata Jumirah.


"Hua... cepetan kak, Joni bisa mati kalau berada disini terlalu lama dengan kak Farel." Tangis Joni yang tidak mau ditinggal Jumirah.


"Kamu...!" Ucap Farel sambil menahan amarahnya.


"Mas... sabar!" Kata Jumirah kembali mengusap punggung Farel sambil tersenyum menatap kakaknya itu.


"Hem...!" Farel tersenyum saat melihat senyum adiknya yang meneduhkan.


Jumirah pun pergi meninggalkan Joni yang terpaksa harus dirawat karena kekurangan banyak cairan akibat diare yang dideritanya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Wow... gede banget kak!Ini rumah atau istana, kereeeen...!" Seru anak-anak saat mereka sudah sampai dirumah baru Jumirah dari Caroline untuk mereka tempati.Semua menatap kagum sebuah bangunan bertingkat dua terlihat mewah nan besar, disampingnya terdapat bangunan lagi yang berukuran lumayan besar. Di halaman rumahnya terdapat taman dengan bunga-bunga yang tertata rapi.


"Ini beneran rumahnya pak? Bapak gak salah mengantarkan kita kan pak?" Tanya Jumirah kepada seorang laki-laki yang mengantarkan mereka kerumah pemberian Caroline.


"Tidak non,ini rumah anda." Jawab laki-laki itu.


"Tapi pak, ini besar sekali pak." Ucap Jumirah masih belum percaya.


"Apa perlu saya panggilkan ibu anda untuk datang kesini non!" Kata laki-laki itu karena Jumirah masih belum percaya kalau bangunan mewah yang ada didepan mereka adalah rumah Jumirah yang diberikan oleh ibundanya.


"Eh... gak usah pak." Jawab Jumi.


"Mari non, ikuti saya." Laki-laki itu dengan tegap berjalan mendekati rumah mewah itu.


Ceklek...


"Silahkan non." Kata laki-laki itu setelah membuka pintu.


Jumirah diikuti anak-anak dibelakangnya melangkah masuk kedalam rumah.


"Wow... wow... wow...!" Teriak para anak-anak langsung berlarian sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan masuk kedalam rumah yang super luas itu.


"Keren kak, ayok kak kita lihat keatas." Ucap bocah perempuan berbadan kurus rambutnya sedikit ikal sambil menarik tangan Jumirah.


"Bagaimana sayang, apa kamu suka?" Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dibelakang Jumirah membuat gadis berjilbab itu langsung menoleh kebelakang.


"Mommy...!" Panggil Jumirah dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Sheilla... ajak Sisil untuk melihat-lihat sayang!" Perintah Jumirah kepada bocah perempuan yang terlihat bengong menatap isi rumah yang super luas dan mewah seperti sebuah istana.


"Iya kak!" anak perempuan yang bernama Shella menggandeng tangan Sisil yang dari tadi menempel tidak mau jauh dari Jumirah.


"Mommy... ini beneran untuk Jumi dan anak-anak mom?" Tanya Jumirah menatap Caroline.


"Iya nak. Kenapa? Apa kamu tidak suka? Atau mommy carikan rumah lain yang lebih bagus lagi dari ini?" Tanya Caroline.


"Tidak mom, bukan seperti itu, tapi ini terlalu besar mom, rasanya Jumi tidak pantas mendapatkan ini,uang mommy pasti sudah habis buat beli rumah ini." jawab Jumirah merasa tidak enak.


"Uang tidak ada artinya lagi buat mommy sayang, kebahagiaan kamu yang paling penting, kamu tenang saja, uang mommy masih banyak nak," ucap Caroline sambil mengusap lembut pipi Jumirah.


"Mommy, hiks... Jumi tidak tau harus berkata apa, Jumi cuma mau mengucapkan terimakasih, terimakasih untuk semuanya mom, hiks...." Ucap Jumirah sambil terisak.

__ADS_1


"Ini sudah menjadi tanggung jawab mommy sayang. Mommy ingin melihat kamu bahagia, sudah cukup penderitaan yang kamu alami selama ini. Mommy gak mau melihat atau mendengar kamu menderita lagi, mommy akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu nak." Caroline mendekap tubuh Jumirah.


__ADS_2