
"Kamu mau kemana Jum?" Tanya Farel saat melihat Jumirah yang sudah terlihat rapih memakai celana jeans panjang dan jaket tidak lupa memakai jilbab, padahal baru pukul 06.00 pagi.
"Aku mau nyari anak-anak mas,aku yakin mereka masih berada dikota ini," jawab Jumirah sambil memakai sepatunya.
"Kamu mau nyari dimana? Sama siapa? Biar polisi saja yang mengurus, kita tunggu kabar dari mereka saja Jum.Memangnya kamu tau dimana mereka? Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu." Ucap Farel nampak khawatir.
"Sendiri, aku tidak bisa menunggu terlalu lama," jawab Jumirah dengan suara tegas.
"Tunggu,aku temani." Ucap Farel.
"Tidak usah, mas Farel hari ini mesti bekerja kan? Mas Farel tenang saja aku bisa jaga diri." Jumirah bergegas keluar rumah selesai memakai sepatu sport-nya.
"Kamu naik apa Jum?" Teriak Farel lagi.
"Motor...!" Jawab Jumirah dari luar, tidak lama terdengar suara motor berjalan dan menjauh dari rumah kontrakan mereka.
Jumirah menyelusuri jalanan kota Jakarta, ia memasuki daerah-daerah kumuh yang ada di ibukota, Jumirah menunjukkan foto anak-anak yang diambilnya saat mereka sedang bersama di-gedung tempat tinggal mereka sebelum terbakar, ia bertanya ke semua orang yang tinggal di daerah itu siapa tahu ada yang melihat anak-anak seperti yang ada didalam foto. Dan ternyata tidak ada satupun yang melihat mereka, Jumirah tidak mau menyerah, ia masih berusaha mencari seorang diri tanpa merasa lelah atau takut sedikitpun.
"Eh... lihat gaes... itu seperti kakak Jumi, jangan-jangan dia sedang mencari kita." Seru seorang anak perempuan saat tidak sengaja melihat Jumirah dari sebuah kaca kecil yang ada di ruang tempat emak ompong menyembunyikan mereka untuk sementara sampai para polisi berhenti mencari dan menyelidiki kasus mereka.
"Iya benar, itu Kak Jumi, Kak... kakak...." Teriak mereka didalam ruangan. Jumirah tidak bisa mendengar suara mereka yang tidak dapat terdengar dari luar meskipun mereka berteriak-teriak sekalipun, karena ruangan itu kedap suara.
"Yah... Kak Jumi... kembali... tolongin kita kak!Kita disini...!" Teriak Joni saat melihat Jumirah malah pergi dengan sepeda motornya.
__ADS_1
"Hiks... Kak Jumi tidak mendengar kita, hua... tamatlah kita, aku tidak mau dibawa pergi, aku tidak mau jadi pengemis lagi, hua...." Seorang anak perempuan menangis dengan keras merasa putus asa karena rencananya dua hari lagi sebagian dari mereka akan dibawa oleh anak buahnya emak ompong keluar kota.
"Tenanglah dek, kita akan mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini." Kata seorang perempuan yang paling besar diantara mereka berusaha menenangkan anak perempuan yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Iya bener, ayok gaes kita harus kompak mencari akal untuk bisa keluar dari sini." Sambung Joni.
Sementara diluar terlihat Jumirah yang sedang menyetir motor tiba-tiba menghentikan laju motornya." Kok tadi seperti ada yang manggil ya,aku seperti mendengar suara anak-anak meminta tolong!" Gumam Jumirah dalam hati menoleh kesamping, ditatapnya sebuah bangunan tua yang ada disampingnya," kenapa aku ingin sekali datang kerumah itu?" Gumamnya lagi.
Tin....
Suara klakson motor mengagetkan lamunan Jumirah.
"Neng... tolong pinggirkan motornya jika ingin berhenti, kamu menghalangi motor lain yang ingin lewat." Ucap seorang perempuan paruh baya yang juga sedang mengendarai motor dibelakang Jumirah.
"Iya bu, maaf bu!" Jumirah menjalankan motornya lagi, ia bergegas pergi lupa dengan bangunan tua yang ada disampingnya tadi
"Maaf Bu, apakah ibu sudah tau dengan kabar yang menimpa Non Jumirah dan kawan-kawannya?" Tanya seorang laki-laki paruh baya tapi masih memiliki badan segar seperti anak muda.
"Ada apa pak?" Tanya seorang perempuan paruh baya atau Ibu Caroline yang belum tau peristiwa yang menimpa putrinya.
"Lihatlah ini bu!" Laki-laki itu menyerahkan sebuah surat kabar kepada Bu Caroline.
Dengan teliti Caroline membaca surat kabar itu.
__ADS_1
"Hah... Cristina sayang...!" Ucap Caroline lirih dengan kedua mata meneteskan cairan bening.
"Kalian selidiki siapa yang sudah melakukan ini kepada putriku, mereka harus diberi pelajaran, habisi mereka semua yang sudah berani menyakiti putri dari keluarga Fernandez." Perintah Caroline tegas dengan kedua mata berubah merah, kemarahan seorang ibu langsung keluar ketika mengetahui anaknya menderita karena perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab.
"Baik bos." Jawab laki-laki itu langsung bergegas pergi.
"Selamat siang pak!" Sapa laki-laki itu saat berpapasan dengan Tuan Alex Fernandez yang baru pulang dari kantornya.
"Hem...." Alex hanya bersuara dengan mulut tertutup tanpa menoleh kearah laki-laki yang menyapanya. Dengan angkuhnya ia berjalan memasuki ruangan demi ruangan didalam rumahnya sendiri.
"Ada apa dia kesini mom?" Tanya Alex setelah melihat istrinya.
"Eh Daddy sudah pulang." Caroline berjalan menghampiri suaminya, ia mengambil tas yang sedang tenteng suaminya untuk dibawa masuk kedalam kamar." Dia cuma mau mengabarkan keadaan Cristina." Jawab Caroline jujur.
"Mommy masih juga memikirkan anak pincang itu?" Tanya Alex menghentikan langkahnya sambil melonggarkan dasinya, karena merasa gerah, beliau akhirnya menarik dasinya hingga terlepas dari kemeja dan dilemparnya dasi itu diatas sofa, dibukanya kancing kemeja yang dipakai sehingga terlihat dadanya yang dipenuhi dengan rambut, menggoda kaum hawa, meskipun usia Alex sudah tidak muda lagi tapi masih memiliki bentuk tubuh yang bagus, berotot terlihat begitu menggoda.
"Selalu, sampai kapanpun mommy selalu memikirkan dia." Jawab Caroline tegas namun terlihat cuek tidak mau menatap suaminya, karena beliau tau jika suaminya tidak akan pernah menyukai atau membiarkan dirinya terus memikirkan Jumirah. Caroline terus berjalan menuju kamar utama untuk meletakkan tas milik suaminya yang berisi berkas-berkas penting milik kantornya.
"Mommy, Daddy sudah bilang berhenti memikirkan anak cacat itu, aku tidak ingin orang sampai tau kalau aku punya anak cacat." Ucap Alex yang sedang berjalan dibelakang Caroline.
Deg....
Caroline menghentikan langkahnya,Hatinya begitu sakit mendengar putrinya dihina oleh ayah kandungnya sendiri. Beliau menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya agar tidak emosi.
__ADS_1
"Em... sebaiknya Daddy mandi saja dulu setelah itu kita makan!" Perintah Caroline sambil tersenyum palsu, ia memaksakan untuk tersenyum pura-pura bersikap tenang walau sabenarnya ia ingin mengamuk dan mencaci maki laki-laki yang sudah 25 tahun menjadi suaminya itu, laki-laki yang sudah dengan sengaja membuang darah dagingnya sendiri karena malu memiliki anak cacat seperti Jumirah.
"Hiks... sampai kapan kamu bersikap seperti itu mas? Kenapa kamu tidak mau mengakui dia sebagai anakmu sendiri? Dia juga butuh kasih sayang dan pengakuan kita sebagai orang tua kandungnya, hiks... kasihan kamu nak, harus menderita diluar sana seorang diri.Maafin mommy belum bisa membuat Daddy kamu mau menerima dan mengakui kamu sebagai putrinya ." Ucap Caroline lirih sambil terisak setelah suaminya berada didalam kamar mandi.