
"Daddy bangun hiks..., kami sangat merindukan daddy." Bisik Angela lirih sambil terisak. Di genggamnya tangan sang daddy yang saat ini sedang berbaring lemah diatas ranjang pasien.
Seminggu sudah Alex Fernandez berada dirumah sakit belum tersadar dari komanya setelah seminggu yang lalu berhasil diselamatkan berkat Jumirah yang ternyata memiliki golongan darah yang sama dengan dirinya.
"Sayang, kamu pulanglah dulu nak, biar mommy yang menunggu daddy. Kamu sudah dari pagi belum pulang, biar Arya mengantarmu pulang ya nak!" Perintah Caroline terhadap anak bungsunya yang sudah dari pagi tidak mau keluar dari dalam kamar tempat sang daddy saat ini sedang dirawat. Angela sangat menyayangi Alex, ia anak mereka yang paling dekat dan paling manja dengan sang daddy. saat mengetahui sang daddy mengalami kecelakaan, Angela yang paling sedih diantar kedua anak Alex yang lain. ia bahkan sempat memiliki firasat buruk soal daddy-nya saat sang daddy hendak pergi, Angela terus merengek tidak ingin daddy- nya itu pergi karena ia merasa bakal terjadi sesuatu dengan sang daddy namun, Alex yang saat itu sedang dipenuhi emosi karena merasa telah dijebak oleh rekan bisnis sekaligus sahabatnya sendiri tetap nekad untuk pergi meskipun putri bungsunya itu terus merengek agar daddy-nya tetap dirumah saja.
"Tapi mom, daddy masih belum bangun, hiks." Jawab Angela tidak mau bangun dari duduknya. Ia masih menggenggam tangan Alex. Ditatapnya wajah sang ayah yang masih belum sadarkan diri.
"Mom... Daddy mom!" Lanjut Angela merasa terkejut saat merasakan ada gerakan tangan dari sang daddy." Daddy sadar mom, lihat tangan daddy bergerak-gerak."
"Hah... iya sayang, sebentar ya nak, mommy panggilkan dokter." Caroline memencet sebuah tombol yang terpasang di pinggir ranjang untuk memanggil seorang perawat atau dokter, mereka sengaja memasang bel di ranjang pasien untuk memudahkan jika tiba-tiba terjadi sesuatu terhadap pasien.
Tidak lama terlihat seorang dokter laki-laki dan seorang perawat wanita masuk kedalam kamar pasien.
"Ada apa nyonya?" Tanya seorang laki-laki yang terlihat masih muda dengan memakai jas putih, dia adalah dokter spesialis yang menangani Alex.
"Tolong dok, suamiku sepertinya sudah sadar dari komanya. Tadi dia menggerakkan tangan."Jelas Caroline memberitahu.
dokter muda yang usianya sekitar tiga puluh tahunan itu mengecek keadaan Alex.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ternyata memang benar, detak jantungnya sudah normal kembali." Kata dokter itu setelah memeriksa keadaan Alex. "Sebentar ya nyonya.
*****
Satu bulan kemudian.
"Bagaimana keadaan Tuan Alex mas?" Tanya Jumirah kepada kakak laki-lakinya.
"Daddy Cris, dia adalah daddy kita, kenapa kamu selalu memanggilnya tuan." Kata Arya.
" Beliau tidak mau mengakui aku sebagai anaknya, kenapa aku harus memanggilnya daddy? Aku adalah anak yang tidak pernah diinginkan oleh orang tua kandungku sendiri, aku akan memanggilnya daddy kalau Tuan Alex sendiri yang meminta." Jelas Jumirah dengan wajah sendu. "Lagian belum tentu juga kan, kalau aku adalah Cristina saudara kalian. Mungkin saja apa yang dikatakan Tuan Alex itu benar, Cristina kalian sudah tiada, aku Jumirah bukan Cristina, kita tidak ada ikatan darah."
"Hahaha... wajah mirip bukan berarti orang itu adalah anak dan orang tua kandungnya kan, banyak diluar sana, orang memiliki wajah mirip tapi bukan saudara kandung atau anak kandung."
"Hah... kenapa aku tidak kepikiran untuk melakukan itu ya?" Tiba-tiba Arya mengingat sesuatu.
"Melakukan apa mas?" Tanya Jumirah penasaran.
"Tes DNA, kamu harus melakukan tes DNA agar semuanya jelas, apa kamu Cristina atau bukan."
__ADS_1
"Tapi..." Jumirah kembali menundukkan kepala.
"Yakinlah, karena aku dan mommy juga yakin kalau kamu memang Cristina." Kata Arya menepuk pundak Jumirah.
"Oh iya maaf mas, aku harus pergi sekarang. Hari ini aku ada janji untuk pergi ke gedung pameran. Waduh, aku sudah sangat terlambat, ya sudah aku tinggal dulu ya mas, salam buat Tuan Alex dan Nyonya Caroline." Jumirah langsung pergi meninggalkan Arya yang masih duduk seorang diri.
Disebuah gedung pameran ternyata disana ada reporter televisi yang sudah menunggu untuk mewawancarai Jumirah, seorang pelukis jalanan yang sekarang sudah memiliki sekolah untuk para anak-anak jalanan dan anak-anak yang terpaksa harus putus sekolah karena keadaan ekonomi orang tua mereka. Perjuangan Jumirah untuk merubah takdirnya yang dulu sering dihina dan ditertawakan oleh teman-teman dan juga orang tua maupun saudaranya sendiri karena keadaan fisiknya yang tidak sempurna, akhirnya sekarang ia malah dipuja dan dikagumi oleh banyak orang karena semangatnya dan kepandaiannya dalam membuat karya lukis yang begitu menakjubkan. Dalam waktu bersamaan saat Jumirah sedang diwawancarai oleh wartawan, Alex yang masih berada dirumah sakit ditemani Caroline juga Angela menonton acara televisi yang ada didalam kamar tempatnya dirawat.
"Angela coba cari gelombang yang lain ada acara apa, bosan nonton sinetron!" Perintah Caroline kepada putrinya karena remote televisi dipegang oleh putrinya itu. Angela memencet tombol remote televisi berulang kali tapi tidak ada acara yang bagus.
"Tunggu nak, coba mundur ke saluran yang tadi!" Perintah Caroline yang seperti melihat seseorang yang tidak asing disalah satu channel. Angela terus memencet mundur tombol remote televisi.
"Stop-stop!" Kata Caroline.
"Mom... itu seperti...!" Ucap Angel saat melihat seorang wanita memakai hijab, sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan cantik di dalam televisi.
"Dad... lihat itu putri kita dad, dia begitu cantik ya dad, hiks..." Ucap Caroline dengan kedua mata berkaca-kaca berharap Alex akhirnya luluh hatinya dan mau menerima kenyataan kalau Jumirah adalah Cristina, putri mereka yang hilang 20 tahun yang lalu. Alex tampak diam tidak berbicara sepatah kata namun, kedua matanya terlihat berkaca-kaca, seperti ada sebuah penyesalan. Jumirah menceritakan semuanya tentang bagaimana akhirnya ia menjadi seorang pelukis. Perjuangannya untuk bisa tetap bertahan hidup di kota bersama dengan seorang kakek yang sudah mengajari tentang kehidupan, dia juga memberikan sebuah motivasi dan semangat untuk para pemuda dan anak-anak yang memiliki kekurangan seperti dirinya untuk tidak mudah putus asa, harus tetap yakin pada diri sendiri jangan pernah merasa malu karena memiliki fisik tidak sempurna.
"Buat kawan-kawan semua yang memiliki kekurangan seperti aku, gak usah malu atau minder, ada kata-kata yang sampai sekarang selalu aku ingat dari seseorang, orang itu adalah kakakku Mas Farel, satu-satunya orang yang selalu percaya denganku, dia bilang, tutupi kekuranganmu dengan kelebihan yang kamu miliki, lama kelamaan orang juga tidak akan memperdulikan kekurangan kita berkat kelebihan atau kepandaian yang kita punya, yang penting kita harus percaya diri dan yakin kalau kita pasti bisa. Ayok kawan kita tunjukkan ke semua orang dan juga ke dunia, kalau kita juga bisa menjadi orang hebat suatu saat nanti. Tuhan maha adil, Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan kita. Aku jadi seperti ini karena ada saudara dan kawan-kawan yang selalu mendukungku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa."
__ADS_1