
keesokan paginya orang suruhan Caroline beneran datang ke kontrakan untuk menjemput Jumirah.
"Apa nona sudah siap?" Tanya seorang laki-laki muda menghampiri Jumirah yang baru keluar dari dalam rumah dengan menenteng tas besar dan menggendong tas ransel berukuran sedang, dibelakangnya ada Farel dengan membawa beberapa lukisan yang telah dibingkai dengan indah milik Jumirah.
"Sebentar Pak, ada yang ketinggalan," Jumirah masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil barang nya yang ketinggalan.
"Maaf kek, hampir saja Jumi melupakan kakek!" Ucap Jumirah mengambil sebuah foto laki-laki tua dengan dirinya yang ia gantung di dinding kamarnya.
Jumirah menatap kamarnya sebentar sebelum ia keluar dengan tatapan yang sulit diartikan, hanya dia sendiri yang tau apa yang saat ini sedang ia rasakan. Setelah beberapa menit didalam kamar ia pun keluar lagi dengan mendekap sebuah bingkai foto berukuran sedang.
"Ayok pak, aku sudah siap." Kata Jumirah setelah mereka sudah berada diluar, terlihat Farel sudah berada didalam mobil duduk di depan samping kemudi. Laki-laki tadi membukakan pintu tengah, belakang kursi kemudi untuk anak dari majikannya itu.
"Kita jemput anak-anak dulu ya pak di-penampungan!" Perintah Jumirah setelah mereka semua sudah berada didalam mobil.
"Baik non." Jawab laki-laki itu langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah kontrakan.
******
"Hore... itu pasti Kakak Jumi!" Seru seorang anak perempuan yang bernama Shella.
"Hai kawan-kawan... cepetan keluar Kakak Jumi sudah datang!" Teriak Shella memanggil teman-temannya yang berada didalam rumah penampungan milik pemerintah daerah itu. Terlihat dari dalam beberapa anak berlari keluar secara berebut.
"Asyik... Kakak Jumi datang yeee...!" Terdengar sorak sorai dari anak-anak sambil berlari.
"Hay... jangan dorong-dorongan nanti jatuh sayang." Ucap Jumirah sambil berdiri didepan pintu menunggu anak-anak itu keluar.
Setelah menemui pengurus penampungan dan meminta izin untuk membawa anak-anak jalanan itu untuk tinggal bersamanya, Jumirah berjalan menghampiri anak-anak.
"Yeee... kita jadi pindah kerumah baru kakak hari ini?" Tanya bocah perempuan berusia tujuh tahun bernama Empi terlihat begitu senang sambil bersorak kegirangan.
"Iya sayang, bagaimana apa kalian mau tinggal bersama kakak atau ingin tetap tinggal disini saja, ayok siapa yang mau ikut Kakak Jumi tunjuk jari...!" Ucap Jumirah.
__ADS_1
"Aku...!" Jawab mereka bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka keatas.
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang, barang-barang kalian apa sudah diperiksa? Ayok diperiksa dulu ada yang ketinggalan apa enggak!" Perintah Jumi menyuruh anak-anak itu untuk memeriksa barang-barang milik mereka masing-masing.
"Tida ada kak!" Jawab mereka serempak.
"Eh... kok dari tadi kakak gak lihat Joni, mana Joni?" Tanya Jumirah saat menyadari kalau bocah yang memiliki banyak akal itu tidak ada diantara mereka.
"Joni ada didalam kak, paling lagi beol di toilet, dari semalam dia bolak-balik ke toilet." Jelas seorang anak laki-laki yang memiliki badan tinggi tapi kurus yang suka dipanggil Tiger sama teman-temannya.
"Oalah, apa dia sakit?" Tanya Jumirah lagi terlihat sangat khawatir, ia pun berjalan masuk kedalam untuk melihat keadaan Joni.
"Sepertinya dia terkena diare deh kak." Jelas Murni.
"Jon... Joni...!" Panggil Jumirah mencari keberadaan bocah laki-laki yang begitu bersemangat dengan polosnya ingin menikah dengan dirinya jika sudah dewasa nanti.
Ceklek... terdengar pintu toilet dibuka dari dalam.
"Joni... kamu kenapa sayang? Wajah kamu pucat sekali Jon? Apa kamu sakit?" Tanya Jumirah langsung berlari menghampiri Joni yang sedang berjalan dengan lemas wajahnya terlihat pucat.
Brug... dia jatuh diatas lantai.
"Jon...!" Jumirah terkejut.
"Oalah Jon, ayok kita pergi kerumah sakit sekarang." Jumirah membantu Joni berdiri, ia membopong tubuh Joni yang sepertinya sudah tidak sanggup untuk berjalan karena lemas.
"Kak Jumi turunin Joni, malu Joni kak, masak harus digendong sama calon istri." Ucap Joni membuat Jumirah jadi terkekeh geli mendengar ucapan polos dari Joni.
"Ya sudah nanti kalau kamu sudah gede gantian kakak yang kamu gendong, sekarang biarkan kakak yang gendong kamu dulu, hehehe... kamu itu lho Jon ada-ada saja, masih berharap kelak bakal menikah dengan kakak." Ucap Jumirah sambil tertawa kecil.
"Ada apa dengan Joni kak?" Tanya teman-teman Joni ketika melihat Jumi keluar dari dalam dengan membopong tubuh Joni.
__ADS_1
"Kita kerumah sakit dulu ya anak-anak, Joni harus segera diobati." Ucap Jumirah.
Farel berlari menghampirinya untuk membantu membawa Joni masuk kedalam mobil.
"Apa yang terjadi dengannya Jum?" Tanya Farel mengambil tubuh Joni yang sedang dibopong Jumirah.
"Dia diare, Katanya sudah dari semalam dia berak-berak, kita harus segera membawanya kerumah sakit." Jelas Jumirah sambil menyerahkan tubuh Joni kepada Farel.
"Oalah Jon... Jon! Gimana kamu mau melindungi Kakak Jumi kalau kamu seperti ini, makan apa semalam kamu sampai seperti ini?" Tanya Farel menggoda Joni sambil berjalan menuju mobil dengan membopong tubuh Joni yang sudah terlihat sangat lemas.
"Dia semalam terlalu banyak makan pedas kak, gara-gara Tiger tuh yang ajakin dia makan rujak." Jelas Empi.
"Eh... kok gara-gara gue,dianya sendiri yang mau!" Protes Tiger tidak mau disalahkan.
"Yaelah Jon, jadi gara-gara kamu makan rujak toh! Ah cemen kamu, masak makan rujak langsung sakit seperti ini." Farel kembali menggoda Joni.
"Huh... Joni gak mau ngomong sama kak Farel." Joni memalingkan wajah sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hehehe... kamu sudah seperti ini masih juga jutek sama kakak!" Ucap Farel terkekeh melihat sikap Joni yang terlihat begitu menggemaskan. Dengan hati-hati Farel memasukkan tubuh Joni kedalam mobil, diletakkan Joni dikursi tengah.
"Pak, kita kerumah sakit dulu ya pak untuk memeriksa keadaan anak ini." Ucap Jumirah kepada laki-laki yang sedang duduk dikursi kemudi.
"Baik non." Jawab laki-laki itu.
"Ayok anak-anak!" Seru Jumirah memanggil anak-anak jalanan yang semua ada enam anak karena anak-anak jalanan yang lain lebih memilih untuk menjadi pengamen.
"Sebagian duduk dikursi belakang gak apa-apa kan," lanjut Jumirah karena kursi tengah cuma muat untuk empat anak bersama dirinya.
"Biar aku saja yang duduk dibelakang," kata Tiger.
"Murni juga duduk dibelakang sama Tiger gak apa-apa kan?" Tanya Jumirah.
__ADS_1
"Gak apa-apa kak." Jawab murni.
Murni dan Tiger masuk duluan kedalam mobil karena mereka duduk dikursi paling belakang, disusul anak-anak yang lain duduk dikursi tengah bersama Joni dan Jumirah, sedang dikursi paling depan ada Farel dan supir atau orang suruhan Caroline yang menjemput dan mengantarkan mereka kerumah baru Jumirah pemberian Caroline.