Impian Jumirah

Impian Jumirah
Mimpi.


__ADS_3

"Huh ... dasar Anak pembawa sial, pergi sana! Aku tidak sudi melihatmu!" Bentak seorang laki-laki paruh baya terlihat sedang marah, mengusir seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun.


"Hua ... Bapak tidak pak, Aku tidak mau pergi. Ibu ... tolong Bu, Bapak mengusirku Bu! Aku tidak bersalah, kalian salah paham." Teriak anak perempuan menatap sang ibu sambil menangis. Tangannya ditarik dengan paksa oleh laki-laki tadi untuk dibawa keluar, terlihat seorang perempuan paruh baya sedang duduk seorang diri tidak memperdulikan anak perempuannya yang sedang menangis memohon agar tidak diusir dari rumah.


"Pak ... kasihanilah Aku Pak, Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Kalau Aku disuruh pergi dari rumah, Aku harus tinggal dimana?"


"Aku tidak perduli, tinggal saja sana di kolong jembatan, itu tempat yang cocok untuk anak seperti Kamu. Dan satu lagi, Kamu bukan anak kami."


"Kalau aku bukan anak kalian terus Aku anak siapa? Kenapa kalian jahat, apa salahku sehingga kalian begitu membenci Aku padahal Aku selama ini mengikuti perintah kalian."


"Salahmu, karena Kamu sudah membuat hidup kami menjadi semakin menderita, gara-gara Kamu, usaha kami selalu gagal."


"Usaha kalian gagal bukan karena Aku, kenapa kalian menyalahkan Aku? Ini ujian Pak, bukan gara-gara Aku. Tuhan memberi cobaan untuk kalian agar kalian lebih dekat denganNya dan selalu bersyukur dengan semua yang diberikan Tuhan untuk kalian, seberapapun yang Tuhan berikan kepada kita, harus tetap disyukuri," kata anak perempuan itu.


"Hah, jangan menceramahi Aku, dasar bocah pembawa sial, sana pergi dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!" Bentak laki-laki itu melepas tangan anak perempuannya dan mendorong dengan kasar tubuh anak perempuan yang terlihat kurus keluar rumah dan ....


Brak ....


Terdengar pintu ditutup dengan kasar oleh laki-laki itu hingga terdengar suara keras, lalu pintu dikunci dari dalam.


"Pak! Jangan usir Aku Pak, hua ... maafin Aku Pak, Ibu ... tolongin Aku Bu!" Seorang anak perempuan memukul-mukul pintu rumah dengan telapak tangan memohon agar laki-laki tadi membukakan pintu untuknya.


"Pak ... hiks ... tolong bukakan pintu Pak! Aku minta maaf Pak, tolong jangan usir Aku Pak!" Teriaknya lagi sambil terisak. Namun, tidak dihiraukan oleh laki-laki tadi.


"Pak ... Maafin Aku, hiks ... Aku takut, Aku harus pergi kemana, hiks," ucap anak perempuan itu menjatuhkan badannya diatas lantai teras rumah kedua orang tuanya sambil menangis.


Ceklek ....

__ADS_1


Anak perempuan itu langsung berdiri saat mendengar pintu dibuka, ia langsung mengusap air matanya dan tersenyum menatap pintu. Ia merasa bahagia akhirnya kedua orang tuanya mau membukakan pintu berarti mereka masih menyayangi dirinya tidak jadi mengusir. Namun, ....


Brak ....


"Bawa semua baju kamu dan pergi dari sini, Aku tidak sudi memiliki Anak seperti Kamu!" Laki-laki tadi melempar tas berukuran sedang kearah anak perempuan yang masih berdiri didepan pintu.


"Hah ... tapi Pak!"


Brak ....


Belum selesai berbicara, laki-laki tadi langsung menutup pintu dengan kasar dan menguncinya kembali.


Brak-brak-brak....


"Pak ...! Buka Pak, Aku enggak mau pergi, tolong jangan usir Aku Pak! Brak-brak-brak ...," ucap anak perempuan itu sambil memukul-mukul pintu rumah.


Siiit.


"Aaaa ...." Teriak anak perempuan itu merasa terkejut, ia langsung menutup wajahnya sendiri karena merasa takut saat sebuah mobil tau-tau ada didepannya dan hampir menabraknya. Anak perempuan itu tidak melihat ada sebuah mobil karena ia berjalan sambil melamun sehingga tidak melihat ke jalan dan ....


Brug ....


"Aduh ...!" Seorang perempuan muda tau-tau berada di bawah ranjang karena terjatuh dari atas tempat tidurnya sendiri.


"Hah ... ternyata tadi aku bermimpi, hufh syukurlah! Aduh ... bokongku sakit sekali, kok Aku bisa jatuh sih?" Gumamnya sambil meringis kesakitan.


Tok tok.

__ADS_1


Terdengar pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar.


"Kak, apa Kakak baik-baik saja? Apa yang terjadi Kak? Kenapa Kakak berteriak?" Terdengar suara anak laki-laki dari balik pintu, ia mengkhawatirkan keadaan perempuan yang ada didalam kamar, perempuan itu ternyata adalah Jumirah.


Tok tok. "Kak!" Panggilnya lagi sambil mengetuk pintu.


"Iya Kakak baik-baik saja." Jawab Jumirah, cepat-cepat ia bangun dan berjalan menuju pintu kamar.


Ceklek.


Jumirah membuka pintu kamarnya, terlihat seorang bocah laki-laki berdiri di depan pintu kamar dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Oalah Jon, kok kamu jam segini belum tidur?" tanya Jumirah.


"Tadi Aku habis ambil minum di dapur, saat Aku mau naik ke atas untuk kembali ke kamar, Aku mendengar suara teriakan dari dalam kamar Kakak, Aku takut terjadi sesuatu dengan Kakak." Jawab Joni.


"Oalah Jon, makasih ya, kamu sudah mengkhawatirkan keadaan Kakak, tadi Kakak mimpi serem banget makanya Kakak teriak." Jelas Jumirah.


"Kakak pasti lupa berdoa ya sebelum tidur? Makanya Kakak berdoa dulu sebelum tidur biar tidak mimpi serem!"Joni bersikap seperti orang dewasa menasehati Jumirah yang usianya jauh lebih tua dari dia.


"Hehehe, iya Pak Jon!" ucap Jumirah sambil terkekeh menatap wajah Joni yang terlihat seperti seorang laki-laki dewasa sedang menasehati anak gadisnya.


"Ya sudah Aku mau tidur lagi." Joni langsung ngacir lari kelantai dua meninggalkan Jumirah yang masih bengong berdiri didepan pintu sambil menatap kepergiannya yang tanpa permisi tau-tau pergi begitu saja setelah memberi nasehat.


"Ealah Jon." ucap Jumirah sambil menggelengkan kepala. Lalu ia menutup pintu kamarnya kembali setelah Joni sudah naik ke lantai dua menuju kamar dia yang berada di lantai dua, untuk bergabung dengan teman-teman Joni yang sudah berpetualang di dunianya masing-masing, yaitu di dunia mimpi mereka. "Kenapa kejadian sepuluh tahun datang di mimpiku? Apa yang terjadi dengan Bapak dan Ibu ya? Kenapa tiba-tiba Aku memimpikan mereka? Apakah mereka sedang merindukan Aku? Ah ... PD sekali Aku." Gumamnya sambil tersenyum tipis, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mensucikan diri dan melakukan sholat tahajud.


Kecantikan seseorang terlihat bukan dari Mike up yang ia pakai, tapi karena perilaku orang itu yang baik. kecantikan wanita tidak akan ada arti tanpa akhlak dan perilaku yang mulia. Selama Kamu mau menerima dirimu sendiri dan merasa bahagia dengan dirimu apa adanya maka kamulah wanita yang paling cantik.

__ADS_1


__ADS_2