Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 18. Mengetahui kebenaran.


__ADS_3

"Maaf nyonya, maksud aku datang kesini ingin menagih bayaran yang sudah nyonya janjikan untuk kami, masih kurang separo lagi bayarannya nyonya." Kata seorang gadis remaja kepada ibunda Aden didepan rumah utama Nyonya Claudia dan Tuan Surya Mahendra.


"Kenapa kamu datang kesini? Kan kita bisa ketemu diluar." Bisik Nyonya Claudia menarik tangan gadis remaja yang ternyata adalah Dewi agar menjauh dari rumahnya.


"Lha..., habisnya nyonya susah banget ditemui, setiap kali kita hubungi nomor anda selalu dimatikan, kami cuma mau minta hak kami nyonya." Protes Dewi menghempaskan tangan nyonya Claudia dengan kasar dari tangannya.


"Hey..., kamu berani membentak ku? Memangnya siapa kamu berani sekali membentak aku hah!" Ucap nyonya Claudia lirih sambil celingukan takut anaknya si Aden yang saat ini sedang berada dirumah utama melihat dan mendengar pembicaraan mereka.


"Makanya bayar dong nyonya, anda sudah lama banget tidak membayar, ini sudah berapa bulan? Anda bilang akan membayar sisanya kalau Mbak Jumi dengan Mas Aden pisah, mereka sudah lama banget pisah, laki-laki yang kita suruh untuk menjebak Mbak Jumi kemarin menelpon kami minta sisa pembayaran, dari mana kita punya uang untuk membayarnya,dia mengancam akan membongkar rahasia kita ke anak anda kalau besok pagi kami tidak membayar kekurangannya." Kata Dewi dengan suara ketus.


"Iya nanti aku transfer sisanya sekarang pergilah dari rumahku cepat!" Nyonya Claudia nampak emosi mendorong tubuh Dewi.Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka dari tadi didengar oleh Aden yang kebetulan hendak pergi, saat melihat ibundanya dan Dewi sedang berada diluar rumah, ia bersembunyi dibalik tembok untuk mendengarkan percakapan mereka.


Plok...plok...plok....


Tiba-tiba Terdengar tepuk tangan saat Dewi hendak pergi. Kedua perempuan itu nampak terkejut langsung menoleh kebelakang.


"A...Aden...!" Panggil Nyonya Claudia gelagapan.


"Bagus..., plok...plok... sungguh sandiwara yang luar biasa, jadi kalian yang sudah menjebak Jumirah? Tanya Aden berusaha bersikap tenang sambil bertepuk tangan.


"Enggak nak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, kita tadi...."


"Aku tanya apakah kalian yang sudah menjebak Jumirah?" Tanya Aden dengan suara pelan sambil menyatukan gigi-giginya menahan amarahnya.


"Bu... bukan." Jawab Nyonya Claudia masih belum mengaku.


"APA KALIAN YANG SUDAH MENJEBAK JUMIRAH HAH...!" Bentak Aden dengan suara keras membuat kedua perempuan itu loncat sangking kaget dan takut.


"Iya..., kami yang sudah menjebak Mbak Jumi itu karena ibu anda yang menyuruh kami dengan imbalan sejumlah uang tapi sampai sekarang ibu anda belum memberikan sisa uang pembayaran." Dewi akhirnya menceritakan kebenarannya karena takut.

__ADS_1


"Dewi...." Nyonya Claudia melotot kearah Dewi.


"Oh... kalian sungguh kejam, demi uang kalian telah menjebak Jumirah, padahal dia saudaramu, keluarga kalian, heh... sungguh ironis." Ucap Aden sambil tersenyum sinis kearah Dewi.


"Dia bukan saudaraku, dia hanyalah seorang anak pungut yang gak tau siapa kedua orang tuanya." Protes Dewi tidak mau mengakui Jumirah sebagai saudaranya.


"Hah...." Aden kembali menertawakan Dewi." Kamu dan kedua orang tua kamu memang gak punya hati, pergilah dari sini jangan pernah menunjukkan Wajahmu dihadapan ku lagi," usir Aden.


Aku akan pergi kalau ibu anda mau membayar sisa uang pembayaran kepadaku." Tolak Dewi masih belum mau pergi.


"Kamu...!" Ucap Nyonya Claudia kembali melotot kearah Dewi.


"Hahaha... ternyata demi uang, oke, sekarang juga akan aku transfer uang yang kamu mau berapa jumlahnya?" Aden mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya.


"Setengah milyar lagi!" Jawab Dewi dengan tegas.


"Hah...." Aden membelalakkan matanya mendengar jumlah uang yang disebutkan oleh Dewi. "Ibu...!" Aden menatap Nyonya Claudia tidak percaya sedang yang ditatap hanya menundukkan kepalanya.


"1182******,"


"Oke, uang sudah terkirim ke nomor tujuan sekarang enyahlah!" Usir Aden dengan suara keras. Dewi langsung berlari meninggalkan Aden dan Nyonya Claudia yang masih berdiri di halaman rumah.


"Sayang... maafin ibu nak, ibu cuma ingin yang terbaik untuk kamu." Nyonya Claudia berusaha mengejar anaknya yang sedang berjalan menghampiri mobilnya namun tidak dihiraukan oleh Aden yang sudah terlanjur kecewa dan marah terhadap perbuatan ibu kandungnya sendiri. Dengan kasar Aden membuka pintu mobilnya dan membantingnya dengan kasar pula menimbulkan suara keras.


Brag....


"Den... Aden, bukain pintunya nak, biarkan ibu menjelaskan."


Tok tok tok tok....

__ADS_1


Nyonya Claudia terus mengetuk kaca mobil namun sekali lagi tidak dihiraukan oleh Aden,ia menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan rumah utama kedua orang tuanya.


"Hah... brengsek kalian...!" Teriak Aden sambil memukul setir mobil." Kenapa aku bodoh sekali, percaya begitu saja dengan foto yang dikirimkan waktu itu, ternyata Jumirah tidak bersalah sama sekali, dia hanya dijebak." Ucap Aden dengan wajah penuh emosi, terlihat ada penyesalan diwajahnya saat mengingat kekasihnya yang ternyata tidak pernah mengkhianati dirinya." Aku harus mencari Jumirah, dan meminta maaf dengannya." Lanjutnya dengan kedua mata berkaca-kaca sambil menyetir mobil.Sesampai dikantor Aden langsung menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Jumirah.


Di tempat lain.


"Jumirah... sabenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu dek!" Kata Farel ketika mereka sedang sarapan bersama.


"Mau bicara apa mas? Katakan saja!" Perintah Jumirah terlihat santai sambil mengunyah nasi.


"A... aku mencintaimu Jum, maukah kamu menikah denganku, kita bersama selamanya."


"Uhuk-uhuk...." Jumirah tersedak.


"Aduh ini minum Jum." Farel memberikan segelas air putih untuk Jumirah.


Glek... glek.... Jumirah langsung menenggak air putih itu hingga habis, ia nampak diam saja sambil mengatur nafasnya kembali.


"Mas Farel sadar dengan apa yang mas katakan barusan? Mas serius?" Tanya Jumirah ketika hatinya sudah tenang kembali menatap lekat wajah Farel yang sedang duduk didepannya.


"Memangnya apa aku seperti main-main Jum, sudah dari dulu aku menyukai kamu,aku sungguh mencintaimu." Jawabnya.


"Maaf mas, aku hanya menganggap mas Farel sebagai kakakku saja, tolong jangan rusak persaudaraan kita dengan perasaan itu." Kata Jumirah bangkit dari duduknya." Aku pergi dulu mas." Lanjutnya tanpa menoleh kearah Farel.


"Apa karena laki-laki itu? Apa karena dia laki-laki yang sudah mencampakkan kamu? laki-laki yang bernama Aden." Ucap Farel menghentikan langkah Jumirah.


"Mas... tolong jangan pernah sebut namanya lagi, karena aku sudah tidak ingin mendengar apapun tentang dia, sekarang ini aku tidak mau memikirkan itu, aku ingin fokus dengan pekerjaan aku mas, aku ingin meraih cita-citaku untuk menjadi seorang pelukis terkenal, membuat bangga bangsa dan negara dan juga... kedua orang tuaku." Ucapnya lirih sambil menunduk saat mengatakan kedua orang tuaku.


Melihat Jumirah tiba-tiba sedih Farel jadi merasa bersalah, ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Jumi yang sedang berdiri tidak jauh dari meja makan.

__ADS_1


"Maaf dek, iya mas janji tidak akan berbicara seperti itu lagi, maafkan aku." Farel memeluk Jumirah.


__ADS_2