
"Lo kenapa bisa seperti ini Jum?" Tanya Baldatun sambil mengoleskan salep obat keseleo dipergelangan kaki Jumirah.
"Panjang ceritanya,aduh pelan-pelan Da sakit...." Ucap Jumirah meringis kesakitan.
"Makanya jadi orang itu yang kalem napa jangan pecicilan Jum, begini kan jadinya, untung cuma keseleo coba kalau sampai patah." Baldatun malah menakut-nakuti.
"Ih kamu kok jahat banget jadi orang Da, seneng ya lihat temannya menderita?" Ucap Jumirah sambil cemberut.
"Ya enggak gitu Jum, itu kan cuma berandai-andai, hehehe...." Kata Baldatun malah cengengesan.
"Tadi aku ketemu tuan tanah yang dulu mau dijodohkan denganku Da," jelas Jumi.
"What...! Pak kepala botak yang sudah punya 6 istri itu?" Tanya Baldatun terkejut.
"Iya Da." Jawab Jumi singkat.
"Buju buneng, kok dia bisa berada disini?" Tanyanya lagi.
"Untunglah tadi ada dua orang laki-laki itu yang menolong, kalau gak... aduh Da aku gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi denganku kalau dua laki-laki tadi gak datang menolong."
"Ih dasar tuh kepala botak, sudah tua masih saja nguber-uber bocah, mesti dipotong lagi kali tuh dia punya terong." Kata Baldatun terlihat emosi.
"Hem...!" Jumirah menatap temannya merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh temannya itu.
"Hah...apa?" Tanya Baldatun yang juga jadi bingung tiba-tiba Jumi menatap dirinya seperti itu." Oh... lo pasti bingung dengan terongnya pak botak ya? Udah jangan dipikirkan lo masih belum cukup umur untuk mengetahui hal itu, lo kan masih bocah." Ucap Baldatun setelah menyadari sesuatu.
"Ha... apa kamu bilang? Aku masih bocah? Lha kalau aku masih bocah kamu siapa?" Jumirah mendorong tubuh Baldatun hingga terjatuh diatas kasur lalu dia menggelitiknya.
"Hahaha... ampun bos, gue nyerah, hahaha...," ucap Baldatun sambil tertawa karena geli.
__ADS_1
"Ayok bilang sekali lagi aku masih bocah." Jumirah masih belum berhenti menggelitik temannya itu.
"Iya, iya sorry bos, haha... berhenti bos, hahaha... ampun...!" Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Emang enak, awas ya kalau sekali lagi kamu bilang aku masih bocah tak bikin bergedel kamu!" Ancam Jumirah berhenti menggelitik.
"Hiks... jahat sekali si bos nih, masa gue mau dibikin bergedel, hiks...!" Baldatun pura-pura sedih.
Keesokan paginya mereka tampak sudah bersiap-siap hendak menghadiri pameran seni lukis yang dihadiri oleh orang-orang penting dan para seniman hebat yang sudah terkenal hingga mancanegara. Disana Jumirah nampak begitu senang bisa bertemu dengan para pelukis terkenal, baik Baldatun maupun Jumirah mengabadikan momen itu dengan mengambil gambar atau berfoto bersama tak lupa Jumirah minta tanda tangan juga nasehat untuk bisa seperti mereka.
Hari berikutnya mereka gunakan untuk berkeliling menikmati indahnya kota Jogja yang memiliki banyak tempat wisata, tak lupa mereka membeli oleh-oleh untuk anak-anak di Jakarta yang saat ini sedang berkarya mengeluarkan imajinasi mereka melalui seni lukis.
Satu minggu telah berlalu, saatnya mereka untuk kembali ke Jakarta. Mereka berangkat dari Jogja dengan naik mobil pribadi milik seorang pengusaha online yang mengundang Jumirah karena kebetulan beliau juga mau kembali ke Jakarta.
"Hore... kakak Jumi pulang!" Terdengar sorak sorai dari anak-anak saat melihat kedatangan Jumirah dengan membawa oleh-oleh untuk mereka.
Tok...tok....
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk oleh seseorang saat mereka sedang bercanda setelah satu minggu berpisah karena Jumirah harus pergi keluar kota untuk menghadiri pameran.
"Maaf Jum, diluar ada ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu." Kata Farel berdiri didepan pintu. Gedung itu memiliki beberapa ruang, ruang tamu ada di bagian paling depan, ruang tengah tempat untuk anak-anak berkarya, ruang belakang adalah ruangan yang paling luas karena diruangan itu terdapat banyak ruangan, ada beberapa kamar untuk anak-anak itu beristirahat, mereka juga menyediakan ruangan khusus sebagai tempat beribadah bagi anak beragama Islam, ada tiga kamar mandi dan toilet, juga terdapat dapur untuk mereka membuat makanan sendiri, dari kecil mereka sudah terbiasa mandiri jadi mereka membuat makanan sendiri jika mereka lapar.
"Siapa mas?" Jumirah menghampiri Farel.
"Nanti kamu juga tau sendiri." Jawab Farel sambil tersenyum menatap Jumirah.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jumirah setelah berada diruang paling depan kepada seseorang yang sedang duduk membelakanginya.
"Dad...!" Gumamnya lirih setelah melihat wajah laki-laki itu.
__ADS_1
"Maaf Mbak Jumirah aku mengganggu waktu anda." Kata laki-laki itu langsung berdiri yang ternyata adalah Alex Fernandez, ayah kandung Jumirah. Beliau bersikap seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Sampai saat ini beliau masih belum mau mengakui Jumirah sebagai Cristina, anaknya yang sudah dengan sengaja dibuang karena keadaannya yang cacat.
Alex Fernandez menyuruh seseorang untuk membuang putri kandungnya sendiri karena merasa malu memiliki anak cacat seperti Cristina atau Jumirah.
"Eh...iya tuan, silahkan duduk kembali." Jawab Jumirah ramah.
Alex Fernandez diam beberapa saat menatap wajah Jumirah yang ternyata begitu manis dengan balutan busana muslim dan kepalanya ditutupi dengan jilbab.
"Ada apa Tuan Alex mencari saya?" Tanya Jumirah menyadarkan lamunan Alex Fernandez.
"Maaf, bisakah anda ikut denganku untuk menemui istri ku? Saat ini dia sedang sakit, dia ingin sekali bertemu dengan anda," jawab Alex Fernandez dengan wajah sendu.
"mommy sakit?" Gumam Jumirah lirih.
"Aku mohon ikutlah denganku, dia ingin sekali bertemu denganmu!" Tiba-tiba suara Alex terdengar sedih.
"Baiklah saya ikut bersama anda karena istri anda tuan." Ucap Jumirah.
Jumirah akhirnya mau ikut pergi kerumah kedua orang tuanya demi mommy nya, ini kedua kalinya ia menginjakkan kaki dirumah yang super mewah dan besar itu.
"Sayang... akhirnya kamu datang juga nak, hiks!" Dengan wajah pucat dan tubuhnya yang terlihat lemah Caroline memaksakan untuk bangun saat melihat Jumi masuk kedalam kamarnya. Cepat-cepat Jumirah berlari menghampiri perempuan paruh baya yang sedang berbaring lemah diatas ranjang.
"Cristina sayang, jangan tinggalkan mommy sayang, kembalilah bersama mommy, hiks...." Tangis Caroline langsung pecah saat Jumirah memeluknya.
Angela adik kandung Jumirah yang kebetulan ada didalam kamar langsung keluar, ia tampak tidak suka melihat pemandangan yang ada didepannya, sesungguhnya Angela merasa keberatan jika Jumirah tinggal dirumah mereka, ia takut kasih sayang Ibundanya akan berpindah ke Jumirah jika Jumirah tinggal disana.
"Sayang... tinggallah disini bersama mommy," Caroline terus memohon sambil mengusap lembut punggung Jumirah.
"Maaf mom, bukannya Jumi tidak mau, tapi Jumi sudah nyaman dengan tempat baru Jumi bersama anak-anak, kita sama-sama berkarya mengeluarkan semua beban yang ada dihati kita melalui lukisan, dan hatiku merasa tenang saat melakukan itu," jelasnya sambil melepas pelukannya, ia menolak tinggal bersama kedua orang tua kandungnya." Tapi mommy jangan sedih, aku bakal sering datang kesini untuk menemui mommy." Lanjutnya menggenggam tangan Caroline dengan lembut.
__ADS_1