Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 8. Tawaran kerjasama.


__ADS_3

"Bagaimana dengan keadaan ibu saya dok? Sakit apa beliau dok?" Tanya Jumirah setelah seorang dokter perempuan selesai memeriksa keadaan ibunya yang tiba-tiba pingsan, Jumirah langsung menelpon seorang dokter yang dulu sering memeriksa keadaan Kakek Sebastian saat beliau masih hidup saat melihat ibunya pingsan.


"Maaf Mbak Jumi, ternyata setelah saya periksa ibu anda terserang penyakit jantung ringan, tapi saya harap agar Mbak Jumi dan keluarganya yang lain tetap harus berhati-hati, diusahakan agar ibu Mbak Jumi tidak terlalu banyak pikiran."Jelas dokter wanita itu.


"Jantung dok?"Jumirah sangat terkejut begitu juga dengan Pak Sutejo dan Dewi yang juga sedang berada didalam kamar.


"Ya sudah saya permisi pulang mbak ,ini obat yang harus Mbak Jumi tebus, pola makan ibu anda tolong dijaga ya mbak!" Perintah dokter wanita itu. "Mari pak,saya permisi" Lanjut dokter itu menoleh kearah Pak Sutejo.


"Iya dok, terimakasih." Jawab Pak Sutejo ramah.


Jumirah mengantarkan dokter perempuan itu sampai kepintu sedang Dewi dan Pak Sutejo masih berada didalam kamar menemani Bu Lasmi yang terlihat lemah berbaring diatas kasur.


"Ini semua gara-gara kamu, anak tidak tau balas budi, apa kamu masih ingin mengusir kami setelah kamu membuat dia sakit, perempuan yang sudah merawat dan membesarkan kamu hingga bisa seperti sekarang ini?" Tanya Pak Sutejo ketus setelah Jumirah sudah kembali kedalam kamar lagi untuk melihat ibunya. Jumirah berjalan mendekati Bu Lasmi yang masih berbaring, digenggamnya tangan Bu Lasmi sebentar lalu ia pergi meninggalkan kedua orang tua dan adiknya yang masih berada didalam tanpa mengeluarkan sepatah katapun namun terlihat ada penyesalan diwajahnya.


"Maaf bu, mungkin ini memang salahku, tapi apakah kalian tidak berfikir kalau kalian juga salah? Apa yang kalian lakukan telah menyakiti hatiku. Dari dulu sampai sekarang kalian selalu berbuat tidak adil terhadapku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kalian selalu menyalahkan tanpa mau memikirkan bagaimana perasaanku, hiks...." Jumirah menangis seorang diri setelah berada di dalam kamarnya sendiri.


Satu minggu telah berlalu, Jumirah membiarkan kedua orang tua dan adiknya tetap tinggal dirumahnya walaupun dalam hati ia tidak ingin mereka berada dirumah. Jumirah melakukan itu demi Bu yang mempunyai penyakit jantung, sedangkan Aden akhirnya mengetahui kalau ternyata Jumirah tidak seperti yang ia pikirkan berkat informasi dari orang suruhannya yang ditugaskan untuk menyelidiki tentang Jumirah dan keluarganya.


"Mau apa Mas Aden kesini?" Tanya Jumirah sambil melukis ditempat biasa tanpa menoleh kearah Aden.

__ADS_1


"Em... maafkan aku sayang, aku sudah tahu semuanya, ternyata kedua orang tua kamu sengaja berbicara seperti itu agar aku membenci kamu dan akhirnya kita berpisah." Ucap Aden berjongkok didepan Jumirah yang masih duduk sambil melukis keadaan jalan yang begitu ramai dengan kendaraan bermotor maupun mobil.


Jumirah bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil cat air yang ia butuhkan tanpa memperdulikan pemuda tampan yang masih jongkok ditempat semula.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu kebenarannya." Kata Jumirah masih terlihat cuek.


"Sayang..., bisakah kita kembali seperti dulu? Maafkan aku yang sudah berbicara kasar dan menghina keadaan kamu waktu itu, aku...." Aden berusaha menggenggam tangan Jumirah tapi tangannya langsung dihempaskan dengan kasar oleh Jumirah.


"Pergilah aku tidak ingin bicara denganmu lagi, tolong tinggalkan aku sendiri mas." Ucap Jumi tanpa melihat kearah Aden.


"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu mau memaafkan dan kembali bersamaku lagi." Aden menarik tangan Jumirah dengan kasar dan menatap lekat wajah wanita yang sangat dicintainya itu yang malah menunduk tidak mau melihat kearahnya." Aku tau kalau sabenarnya kamu masih mencintaiku, begitu juga aku yang sampai detik ini masih sangat mencintaimu, maafkan semua ucapan ku waktu itu yang sudah membuat kamu sakit hati, semua karena aku terlalu percaya dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang tuamu." Aden menahan tubuh Jumirah yang hendak pergi.


"Bohong..., aku tau kalau kamu juga masih mencintaiku, kalau kamu memang sudah tidak mencintaiku lagi, maka tataplah wajahku dan bilang kamu tidak mencintaiku!" Perintah Aden mencengkeram erat lengan Jumirah.


"Aw...." Jumirah meringis kesakitan menatap lengannya yang terasa sakit karena cengkraman tangan Aden yang begitu kuat.


"Maaf." Aden melonggarkan cengkraman nya, ia berganti memegang kedua pipi Jumirah dan dipalingkan wajah Jumi untuk menghadap kearahnya.


"Katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi, maka aku tidak akan menemui mu, aku akan pergi dari kehidupan kamu untuk selamanya." Ucap Aden sambil menatap lekat wajah Jumirah yang masih memejamkan mata tidak mau melihat kearahnya.

__ADS_1


"JUMIRAH...! Bentak Aden karena Jumirah masih belum mau membuka kedua matanya.


"Aku..., hiks...." Jumirah menangis.


"Sudah..., aku sudah tau jawabannya, tenanglah sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, maafkan aku." Aden mendekap tubuh Jumirah.


Ditempat lain terlihat Bu Lasmi dan Dewi sedang belanja di mall, tidak sengaja mereka bertemu dengan Nyonya Claudia, ibunda Aden yang juga sedang belanja.


"Maaf ." Ucap Dewi saat tidak sengaja menyenggol keranjang yang sedang didorong oleh Nyonya Claudia dan asisten rumah tangganya yang juga diajak belanja untuk keperluan dapur dan keperluan lainnya.


"Em... kamu, sepertinya aku pernah melihatmu." Ucap Nyonya Claudia menatap lekat wajah Dewi yang terlihat tidak asing baginya.


"Oh... iya, kamu adiknya pelukis jalanan itu kan?" Tanya Nyonya Claudia setelah mengingat siapa gadis remaja yang ada didepannya, beliau pernah melihat Dewi dengan Jumirah dan anaknya makan disebuah cafe, dirinya mengetahui Dewi ternyata adalah adiknya Jumirah dari anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari informasi tentang keluarga Jumirah.


"Nyonya mengenal anak saya?" Tanya Bu Lasmi kaget.


"Kalian adalah keluarga pelukis itu, bisakah kita bisa bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Ajak Nyonya Claudia.


Dewi dan ibunya saling bertatapan dan akhirnya merekapun mau mengikuti Nyonya Claudia. Mereka berjalan mengikuti langkah kaki Nyonya Claudia menuju kesebuah cafe untuk mak siang. Nyonya Claudia yang sudah tau kelemahan adik dan ibunya Jumirah yang ternyata tidak akur dengan Jumi dan tidak bisa melihat uang dalam jumlah yang cukup banyak menawarkan kerjasama kepada mereka berdua untuk memisahkan anak semata wayangnya dengan Jumirah.

__ADS_1


"Bagaimana apa kalian setuju? Aku akan memberikan imbalan dua kali lipat setelah kalian berhasil memisahkan mereka berdua." Nyonya Claudia berusaha merayu Bu Lasmi dan Dewi yang sepertinya sudah mulai ada tanda-tanda tertarik dengan tawaran kerjasama dengan dirinya untuk memisahkan Aden dan Jumirah.


__ADS_2