Impian Jumirah

Impian Jumirah
Aku jadi semakin cinta.


__ADS_3

"Anak-anak, hari ini Kakak Jumi tidak bisa menemani kalian belajar, jadi, nanti kalian ditemani Kakak Farel saja ya. Kalian jangan nakal, belajar yang bener!" Jumirah berpamitan kepada anak-anak saat ia hendak pergi ke gedung pameran seni lukis. Jumirah berangkat pagi-pagi sekali karena ia harus mengecek terlebih dahulu apakah semuanya sudah rapih sebelum para pengunjung datang karena dia salah satu panitia yang mengurus segala sesuatu di gedung itu.


"Mas, nitip anak-anak. Aku sudah bilang sama Alda, nanti selesai mengajar dikelas sebelah, Aku suruh Alda menemani Mas Farel juga untuk mengajari anak-anak ini,"


"Siip ..., Kamu hati-hati di jalan." Balas Farel.


"Oke," jawab Jumi singkat.


Gubrak.


Tampak seorang anak laki-laki tiba-tiba mendorong pintu dengan kasar menimbulkan suara keras membuat semua yang ada di dalam ruangan itu loncat sangking kagetnya. Dengan nafas ngos-ngosan anak laki-laki itu menghampiri Jumirah dan Farel juga beberapa anak yang juga ada diruangan itu. Anak laki-laki yang baru datang itu adalah Joni.


"Haduh Jon, ngagetin aja kamu!" kata Jumirah sambil memegang dadanya sendiri karena kaget.


"Hufh, hah ... Kakak ..., diluar sudah ada Kak Aden!" Joni memberitahu sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Oalah iya, terimakasih Jon!" Jumirah bergegas pergi setelah diberi tahu kalau Aden kekasihnya sudah datang untuk mengantarkan dia ke gedung pameran.


"Kakak ...! Semangat," teriak Joni.


"Oke Jon, terimakasih!" jawab Jumirah sambil tersenyum menoleh ke arah Joni.


"Halo sayang, wih ... cantiknya bidadariku," ucap Aden sambil membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya itu.


"Gombal," balas Jumirah sambil tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya.


"Kok gombal sih yang, aku serius lho sayang! Kamu memang cantik banget hari ini," kata Aden sambil tersenyum menggoda sang pujaan hati.


"Prikitiuw, ternyata Mas Aden pintar banget bikin cewek klepek-klepek."

__ADS_1


"Asyik, berarti kita memang jodoh sama-sama seperti ikan. Kita sama-sama di bikin klepek-klepek, hihihihi ...." balas Aden sambil menjalankan mesin mobil.


"Haduh," Jumirah menepuk keningnya sendiri. "Mas, mobilnya bisa lebih cepat lagi gak jalannya? Sepertinya Aku sudah terlambat, biasanya jam sebelas siang sudah mulai ramai pengunjung." kata Jumirah sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Bisa dong!" jawab Aden menambah kecepatan mobilnya. Setelah satu jam diperjalanan, akhirnya mereka sampai juga di gedung pameran seni lukis.


"Terimakasih ya Mas sudah mau mengantarkan Aku." ucap Jumirah setelah Aden menghentikan mobilnya di depan gedung pameran.


"Kamu jangan bicara seperti itu, karena ini sudah jadi kewajiban Aku mengantarkan kemanapun bidadariku ini pergi. Aku ingin menjadi seorang suami yang selalu siaga, siap, antar, jaga."


"Ciye-ciye ..., so sweet banget sih! Ah, Aku jadi semakin cinta." Jumirah tersenyum menggoda kekasihnya.


"Masa sih! Ah, jadi GR Aku. Mulai sekarang panggil Aku Abi."


"Hah ...." Jumirah menyipitkan matanya sambil nyengir.


"Kenapa? Kok malah nyengir gitu sih, jelek tahu, kayak kuda." Aden kembali menggoda Jumirah.


"Hehehe, bercanda sayangku!" Aden meraih kedua pipi Jumirah, ia memalingkan wajah Jumirah agar menghadap ke arahnya.


"Awas ah, Aku harus keluar sekarang."Jumirah menyingkirkan tangan Aden dari kedua pipinya. "Duh ... ini kenapa lagi, kok macet lagi sih Mas?"


"Kenapa Umi?" tanya Aden. "Oalah, lho ... kok bisa macet lagi sih, padahal Mas sudah suruh orang perbaiki lho!" Aden membantu melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuh kekasihnya itu.


Deg ...


Jantung Jumirah berdebar kencang saat wajah Aden begitu dekat dengan wajahnya. Ia sampai memejamkan matanya sambil menahan nafas tidak sanggup melihat wajah tampan kekasihnya itu, takut khilaf dan akhirnya akan berbuat dosa karena sangking terpesonanya dengan wajah tampan dari sang kekasih. Jumirah menggigit bibir bawahnya dengan kedua mata terpejam.


"Sudah belum Mas?" tanya Jumirah tanpa membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Belum." jawab Aden sambil menarik-narik sabuk pengaman yang memang susah di buka.


Ceklek ...


Akhirnya sabuk pengaman itu bisa dibuka setelah Aden menarik-narik dan menggoyangkannya beberapa kali. Namun, ia sengaja tidak memberitahu Jumirah jika sabuk pengaman yang mengikat tubuh kekasihnya itu sudah bisa dibuka saat ia melihat wajah sang kekasih yang ternyata sedang memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya seperti sedang menahan sesuatu. Aden tersenyum, timbul sebuah rencana untuk mengerjainya.


"Kok lama banget sih Mas? Bisa terlambat Aku nanti, keburu orang-orang pada datang ke sini untuk melihat pameran." ucap Jumirah tanpa membuka matanya.


"Sebentar lagi sayangku!" kata Aden sambil menahan tawanya, ia sengaja agar dirinya bisa lebih lama menatap wajah kekasihnya itu dengan jarak yang sangat dekat. Dia pun akhirnya tidak sanggup lagi menahan diri, dikecupnya dengan lembut bibir mungil Jumirah yang dari tadi terus menggodanya membuat Jumirah tersentak kaget, ia membulatkan matanya dengan sempurna langsung mendorong tubuh Aden agar menjauh darinya.


"Astaghfirullah, astaghfirullah." Jumirah terus istighfar memohon ampun kepada sang pencipta sambil mengusap bibirnya sendiri dengan kasar menggunakan telapak tangannya berulang kali. "Mas Aden, Aku sedang puasa kenapa Mas mencium Aku, batal puasaku nanti. Kita nggak boleh melakukan ini saat sedang puasa di siang hari. Ah ... Mas Aden bagaimana sih, dosa kita nanti." Jumirah terus menggerutu merasa kesal dengan sikap kekasihnya yang main nyosor aja.


"Haduh ... maaf Umi. Abi tidak tahu, beneran deh suwer!" Aden mengangkat tangannya keatas meminta maaf. Ya sudah, nanti Abi berdoa supaya Umi tidak batal puasanya, 'kan yang cium Umi,Abi, jadi biar dosanya Abi yang tanggung."


"Hah ... ah emboh lah, malas ngomong sama Mas," Jumirah mencoba membuka gagang pintu mobil, namun, ternyata masih terkunci.


"Mas ... bukain!" rengek Jumirah manja.


"Hem ... Aku bakal bukain pintunya kalau kamu mau memanggilku Abi." ucap Aden pura-pura cuek.


"Mas ...! Aku nggak ada waktu lagi, cepetan buka pintunya, Abi!" akhirnya Jumirah menyerah, ia memanggil Aden dengan panggilan Abi agar kekasihnya itu mau membukakan pintu mobil.


******


******


"Ada apa Nak? Apakah ada yang sedang kamu tunggu?" Tanya Nyonya Claudia mendekati putrinya yang tampak gelisah saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. "Ayok Nak, kita mulai acaranya takut kemalaman, saatnya tiup lilin. Lihat, teman-teman kamu sudah pada nungguin tuh!"


"Sebentar Bu, Retha nungguin Kak Aden dulu. Dia sudah janji mau datang bersama Kakak Jumi." Margaretha belum mau memulai acaranya sebelum Kakak kesayangannya itu datang.

__ADS_1


"Hah ... jadi benar kalau mereka masih menjalin hubungan? berarti benar kata Rosita, Kakak kamu selama ini telah berbohong. Kurang ajar sekali anak itu, berani-beraninya dia membohongi Ibu. Hem ... lihat saja, Ibu tidak akan tinggal diam."


__ADS_2