
"Sayang, aku kangen, keluarlah aku sudah ada didepan rumah." Kata seseorang dipanggilan telpon.
"Hah... serius mas?" Tanya Jumirah merasa terkejut." Bohong lah." Lanjutnya.
"Ih gak percaya, kalau sampai beneran aku ada diluar aku mau dikasih apa?" Tanya seorang laki-laki diseberang telpon tapi tidak ada jawaban dari Jumirah karena Jumirah diam-diam sedang mengintip dari jendela untuk melihat apakah beneran ada orang diluar atau tidak. Ternyata memang benar, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri dan bersender di depan mobilnya sambil menelpon.
"Halo Jum... halo...," panggil laki-laki itu berulang kali tapi tidak dijawab oleh Jumirah, lalu panggilan telpon dimatikan.
"Hah... ternyata memang benar." Gumam Jumirah lirih."
"Ada apa Jum?" Tanya Farel tau-tau ada dibelakangnya membuat Jumirah loncat saking kagetnya.
"Hah... aduh Mas Farel mengagetkan saja deh, untung jantung Jumi gak ikut loncat," ucap Jumirah memegangi dadanya karena terkejut.
"Ya kamu-nya mencurigakan, sikap kamu sudah seperti maling saja, kamu sedang ngintip siapa sih?" Tanya Farel penasaran mendekati jendela.
"Oh... pantas." Ucap Farel setelah melihat keluar lewat jendela.
"Sudah sana cepetan temui dia, kasihan tuh orang nungguin didepan sebelum ada mbak Ijah datang mengganggunya." Goda Farel.
Mbak Ijah adalah tetangga mereka, perempuan sedikit bermasalah dengan jiwanya, suka menggoda laki-laki tampan.
"Ih amit-amit jangan sampai." Jawab Jumirah sambil memukul-mukul keningnya sendiri.
Dert...
Handphone Jumirah kembali bergetar.
"Waduh... dia menelpon lagi, ya sudah aku tinggal ya mas, hehehe...!" Ucap Jumirah sambil cengengesan menatap Farel.
"Yo wes cepetan sana!"Perintah Farel.
"Iya, halo maaf tadi sinyalnya jelek." Jawabnya berbohong sambil berlari masuk kedalam kamarnya lagi untuk mengambil jilbab.
"Hem... aku harus bisa melawan perasaan ini, dia pantas mendapatkan kebahagiaannya, semoga kamu bahagia bersamanya Jum." Gumam Farel dalam hati sambil menatap punggung Jumirah yang sedang berlari masuk kedalam kamar.
Setelah beberapa menit kemudian ia keluar lagi sudah memakai jilbabnya dan jaket serta rok panjang. Jumirah menatap Farel sambil tersenyum.
"Siip," Farel membalasnya dengan senyuman dan menunjukkan jempolnya kearah Jumirah.
"Thanks...!" Ucap Jumirah lirih sambil memegang handphone.
"Cepetan keluar kalau gak terpaksa aku dobrak pintunya." Ancam laki-laki yang menelponnya.
__ADS_1
"Ish... sembarangan main dobrak!" Protes Jumirah." ini aku lagi jalan, sabar napa."
"Hem." Farel menyenderkan tubuhnya ditembok sambil memejamkan matanya, ia menarik nafas dalam-dalam berusaha bersikap tenang, menghilangkan rasa sesak di-dadanya setelah Jumirah keluar untuk menemui kekasihnya yang sudah menunggu didepan.
"Sayang... akhirnya keluar juga kamu, aku kangen." Ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Aden.
"Kok Mas Aden datang kesini malam-malam sih!" Ucap Jumirah ketika sudah berada didepan Aden."
"Ini masih sore Jum, baru jam delapan." Aden langsung menarik tangan Jumirah dan mengecup punggung tangannya dengan lembut membuat Jumirah jadi tersipu malu.
"Mas jangan seperti itu nanti ada yang lihat, malu, kata pak ustadz gak boleh dosa." Ucap Jumirah sambil menundukkan kepalanya.
"Cuma cium tangan doang Jum." Protes Aden.
"Ya tetap gak boleh mas, kita bukan muhrim." Jelas Jumirah.
"Ya sudah kita nikah yok biar kita bebas mau ngapain aja." Ajak Aden.
"Ih... aku belum mau nikah, masih banyak yang ingin aku lakukan." Jawab Jumirah menarik tangannya dari genggaman tangan Aden.
"Tapi aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan kamu Jum." Ucap Aden.
"Sabar dong, tunggu sampai aku bisa membuat anak-anak itu mencapai cita-cita mereka."
"Hem...!" Jumirah mengangkat kedua bahunya tidak tau.
"Alamak Jum." Aden menepuk keningnya sendiri.
"Hehehe...." Jumirah terkekeh. "Sabar ya mas, orang sabar disayang pacar lho!"
"Wah... beneran? Berarti kamu sayang sama aku!" Aden tersenyum menatap wajah Jumirah.
"I...iya!" Jawab Jumirah gugup.
Aden mendekatkan wajahnya ke wajah Jumirah.
"Eh... enggak boleh mas, kata pak ustadz yang ngajarin aku ngaji gak boleh nanti dosa." Ucap Jumirah saat Aden hendak mencium bibirnya.
"Kenapa banyak banget yang gak boleh sih, pegangan tangan gak boleh, mau cium juga gak boleh." Protes Aden. "Dulu setiap kali bertemu aku bebas mencium kamu dimana saja, kenapa sekarang gak boleh? Padahal aku kangen."
"Pokoknya gak boleh, kalau Mas Aden beneran tulus mencintai aku, mas harus menahan diri tidak boleh melakukan itu karena kita belum muhrim, itu yang dikatakan pak...."
"Pak ustadz!" Potong Aden menghentikan ucapan Jumirah.
__ADS_1
"Pinter." Jawab Jumirah menunjukkan jempolnya.
"Haduh... tapi aku pingin sayang,sekali saja boleh ya, please!" Ucap Aden memohon.
"Enggak, aku takut dosa." Jumirah tetap tidak mau melakukannya karena takut dosa.
"Ya sudah kita jalan yok, temenin aku makan, sepulang dari kantor aku langsung kesini belum sempat makan malam." Ajak Aden.
"Hah... kok bisa? Mas Aden gak boleh telat makan nanti sakit, ya sudah aku pamit dulu sama Mas Farel." Ucap Jumirah.
"Cepetan aku tunggu." Kata Aden.
Jumirah berlari masuk kedalam rumah setelah beberapa menit ia pun keluar lagi masih memakai baju yang sama, jilbab yang sama.
"Aku gak ganti baju gak apa-apa kan?" Ucap Jumirah.
"Ya gak apa-apa lah,kamu tetap kelihatan cantik memakai baju apapun." Aden membukakan pintu mobilnya untuk Jumirah.
"Monggo, silahkan masuk bidadariku!" Ucap Aden sambil membungkukkan badan bersikap seperti seorang pelayan memberi hormat kepada majikannya.
"Hehehe... mas bisa aja,"Balas Jumirah sambil terkekeh." Terimakasih tuan!" Lanjut Jumirah masuk kedalam mobil, duduk dikursi samping kursi kemudi. Aden menutup kembali pintu itu setelah kekasihnya sudah berada didalam mobil, ia berlari memutar ke pintu samping, dibukanya pintu mobil, ia bergegas masuk dan duduk dikursi kemudi.
"Oke sayang apa kamu sudah siap? Kita berangkaaat!" Seru Aden langsung menjalankan mobilnya untuk mencari makanan.
Ditempat lain.
"Bu, ternyata kedua orang tua Jumirah itu orang kaya lho bu!" Kata Pak Sutejo memberitahu istrinya saat mereka sedang bersantai diruang tengah sambil menonton acara televisi.
"Ah... kata siapa?" Tanya Bu Lasmi tidak percaya.
"Beneran Bu, tadi bapak lihat sendiri pas ada dirumah kontrakan mereka, Jumi sendiri yang bilang kalau dia orang tua kandungnya,ini kesempatan bagus untuk kita bu, kita tidak akan kesusahan nyari duit." Lanjut Pak Sutejo.
"Maksud bapak apa?" Tanya Bu Lasmi tidak mengerti dengan maksud ucapan suaminya.
"Kita minta uang yang banyak kepada mereka untuk imbalan karena kita sudah merawat dan membesarkan anak mereka." Jelas Pak Sutejo.
"Kalau mereka tidak mau ngasih duit ke kita." Sambung Dewi.
"Hem... lihat saja kalau mereka sampai tidak mau memberi kita uang." Kata Pak Sutejo sambil tersenyum licik dengan sebuah rencana.
"Yee... minta uang yang banyak ya pak, nanti aku mau minta dibelikan motor baru." Ucap Dewi kegirangan.
"Apa... motor baru? Motor kamu kan masih bagus Wik, buat apa beli motor." Potong Bu Lasmi.
__ADS_1
"Ih ibu, gak apa-apa lah buat ganti-ganti, teman-teman Dewi semua motornya bagus