
"Panasnya siang hari ini, aku gak kuat pingin minum," keluh seorang bocah laki-laki sambil duduk dengan kepalanya diletakkan diatas meja.
"Ngapain kamu Jon?" Tanya Jumirah yang baru pulang dari rumah sakit diantar sang kekasih.
"Kakak Jumi...." Ucap Joni terdengar lemah, masih dalam posisi kepala diatas meja tanpa melihat kearah Jumirah dan Aden yang sedang berdiri disampingnya.
"Kamu sakit Jon?" Tanya Jumirah khawatir sambil meletakkan dua kantong plastik berukuran besar diatas meja.
"Aku haus, lapar, lemas," jawab Joni terlihat tidak bersemangat. "Aku mau minum ya kak, aku sudah gak tahan pingin minum es yang sueger...ger...ger!"
"Eh...sabar Jon, bertahanlah sampai Maghrib, malu dong seorang bodyguard dari Kakak Jumi harus gugur puasanya karena tidak tahan menahan haus dan lapar." Ucap Aden sambil mengacak rambut Joni.
"Tapi aku lemes banget kak, kok gak Maghrib-maghrib sih, Maghrib... cepetan dong datang, aku sudah tidak tahan nih!" Gerutunya sambil mengangkat kepala dan melihat kearah kedua orang dewasa yang sedang berdiri.
"Hah,itu kening Kakak Jumi kenapa?" Tanya Joni langsung berdiri serta membelalakkan matanya merasa terkejut saat melihat ada sebuah perban menempel di kening Jumirah.
"Kakak tadi terjatuh Jon!" Jawab Jumirah sambil memegang perban yang menempel di keningnya.
"Kok kakak bisa jatuh? Bagaimana ceritanya? Wah...ini pasti karena Kak Aden tidak bisa menjaga Kakak Jumi, bagaimana sih Kak Aden, kalau gak bisa jagain Kakak Jumi mending pergi jauh-jauh sana dari Kakak Jumi jangan dekat-dekat, apa yang terjadi kak?" Tanya Joni sudah seperti orang tua saja.
"Kakak gak apa-apa sayang, ini gak ada hubungannya dengan Kakak Aden, Kak Aden malah yang menolong Kakak Jumi, kakak cuma lecet sedikit aja kok." Jelas Jumirah dengan suara lembut. " Yang lainnya dimana Jon?"Tanya Jumirah karena tidak melihat siapa-siapa selain Joni.
"Kakak Alda sama Kakak Irul sudah pulang satu menit yang lalu, Kakak Farel juga pergi, katanya mau menemui temannya, sedang anak-anak yang lain sudah bertapa didalam kamar masing-masing." Jawab Joni dengan malas kembali duduk, diletakkan kembali kepalanya diatas meja.
"Kok kamu masih disini? Tidak ikut bertapa juga didalam kamar." Potong Aden meledek bocah laki-laki yang sudah terlihat lemas, tidak berdaya menahan haus dan lapar itu.
__ADS_1
"Aku nungguin Kakak Jumi." Jawab Joni singkat masih dalam posisi semula.
"Masak sih? Nungguin Kakak Jumi apa nungguin kulkas?" Goda Aden.
"Nungguin Kakak Jumi lah, aku khawatir sama Kakak Jumi, takut Kakak Jumi kenapa-kenapa." Jawab Joni.
"Oh..., terimakasih sayang, kakak sungguh terharu. Sudah sekarang kamu kekamar saja sana tidur, biar puasa kamu gak batal, sabar Jon, tinggal dua jam lagi waktu buka puasa telah tiba. Ayok semangat gak boleh loyo, kakak nanti buatkan makanan kesukaan kamu, tapi kalau kamu nya tidak kuat dan memutuskan untuk membatalkan puasa, kakak tidak mau membuatkan makanan kesukaan kamu, kakak tadi membeli ini untuk kita buka puasa, kalau kamu gak puasa ya gak dapet ini deh." Jumirah sengaja mengancam Joni hanya ingin membuat bocah laki-laki itu kembali bersemangat untuk melanjutkan puasanya yang tinggal dua jam lagi berbuka puasa.
"Apa itu kak?"Tanya Joni menatap dua buah kantong plastik berwarna merah berukuran besar berada diatas meja.
"Ini bahan-bahan untuk membuat es buah, ada pecel lele juga ayam goreng, juga...."
"Oke-oke jangan diteruskan,aku lanjut puasa, ya sudah aku mau tidur aja didalam kamar, nanti aku minta pecel ayam sama es buahnya!" Seru Joni memotong ucapan Jumirah, ia segera loncat dari atas kursi dan bergegas lari menuju lantai dua bergabung dengan teman-temannya yang lain yang sedang beristirahat didalam kamarnya masing-masing.
"Oalah Joni... Joni!" Seru Aden dan Jumirah sambil menggelengkan kepala merasa geli dengan sikap Joni.
"Aku masih pingin lebih lama dekat kamu yang, kangen lho yang, aku senang akhirnya bisa melihat wajah kamu." Jawab Aden sambil tersenyum menatap wajah kekasihnya yang sangat ia rindukan setelah beberapa hari tidak bisa bertemu karena mereka harus pura-pura marahan.
"Puasa mas, ingat kita sedang puasa jangan liatin aku seperti itu nanti timbul perasaan yang bakal membatalkan puasa kita." Kata Jumirah mengingatkan.
Ditempat lain terlihat seorang laki-laki paruh baya terlihat sedang terburu-buru berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumah, laki-laki itu adalah Alex Fernandez. Alex menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil masuk kedalam gerbang rumah dan berhenti tepat disamping mobilnya.
"Dad...!"Panggil seorang pemuda tampan ketika sudah keluar dari dalam mobil.
"Arya, kamu darimana saja, pulang ke Indonesia bukannya menemui Daddy sama mommy kamu malah keluyuran ketempat lain." Ucap Alex dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Maaf Dad, tadi aku ingin menemui temanku dulu, mumpung dia juga ada di Indonesia, nanti sore ia hendak balik ke Jerman." Jelas Arya sambil berjalan menghampiri Alex dan mencium punggung tangannya.
"Gara-gara kamu aku jadi gagal menyingkirkan anak itu." Batin Alex.
"Ada apa Dad?" Tanya Arya karena Daddy nya terlihat bengong.
"Eh, enggak. Ya sudah Daddy mau pergi dulu, mau bertemu dengan teman lama, mommy ada didalam dengan Angela." Ucap Alex bergegas masuk kedalam mobil.
"Hati-hati Dad!" Seru Arya. "Deddy kelihatan aneh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu." Gumam Arya dalam hati sambil menatap mobil sang Daddy yang sudah pergi menjauh. Ia segara masuk kedalam rumah utama keluarga Fernandez untuk menemui mommy dan adik perempuannya setelah kepergian Alex didalam mobil yang dikendarai oleh supir pribadi Daddy-nya itu.
"Arya...!"Seru Angela sambil berlari kegirangan ketika melihat kakaknya datang.
"Kok kamu gak kasih tau aku kalau mau pulang? Aku kan mau pesan minta dibelikan sesuatu." Ucap Angel manja sambil melingkarkan tangannya di-lengan sang kakak.
"Sorry dek, aku mau ngasih surprise buat kalian, tapi tenang saja aku sudah belikan oleh-oleh untuk kamu, adik kesayanganku yang paling nyebelin."
"Benarkah? Asyik...!" Ucap Angel langsung memeluk tubuh Arya.
"Arya!" Panggil Caroline yang baru keluar dari dalam kamar sambil berjalan menghampiri anak laki-lakinya yang baru datang dari luar negeri.
"Mommy, bagaimana kabar mommy?" Tanya Arya.
"Puji Tuhan, mommy baik-baik saja sayang, kamu sendiri bagaimana kabarnya nak, kok kamu jadi tambah kurusan sayang." Ucap Caroline memeluk tubuh anak laki-lakinya itu.
"Ini seperti darah, ini darah apa nak? Apa kamu terluka sayang?" Tanya Caroline jadi khawatir saat melepas pelukannya tidak sengaja melihat noda darah di saku kemeja Arya.
__ADS_1
"Hah..., ini pasti darah Jumirah tadi, kenapa aku tidak melihat ada darah disini?" Gumam Arya dalam hati sambil melihat saku kemejanya yang terdapat noda darah.