Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 14. Tidak diterima.


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, seperti biasa Jumirah setiap harinya saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dia berangkat ketempat biasa untuk melakukan kegiatannya, mempromosikan hasil karyanya sambil melukis. Ditempat yang baru ternyata banyak sekali yang datang melihat hasil karya Jumirah yang terlihat begitu menakjubkan, ada yang datang untuk membeli lukisan Jumi, tapi ada juga yang hanya untuk melihat Jumirah melukis, tidak sedikit dari mereka yang minta diajari melukis diatas kanvas oleh pelukis jalanan itu. Tentu saja dengan senang hati Jumirah mengajari mereka melukis diatas kanvas. Ada perasaan senang pada diri Jumirah saat ada yang mau belajar melukis darinya.


Suara canda tawa dari mereka telah membuat Jumirah lupa akan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya.


Saat sedang sibuk melukis tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berhenti disampingnya.


Terlihat seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik dan begitu anggun keluar dari dalam mobil bersama seorang pemuda tampan, mereka berjalan mendekati Jumirah. Jumirah yang sedang duduk langsung berdiri, ia hanya diam sambil memperhatikan kedua orang yang sedang berjalan kearahnya. Kedua matanya tidak bisa lepas dari wajah perempuan paruh baya yang tidak asing lagi baginya, perempuan yang sama yang sudah dua kali secara tidak sengaja ia temui.


"Selamat datang." Ucapnya sambil membungkukkan badan.


"Ini semua lukisan kamu nak?" Tanya perempuan paruh baya itu sambil melihat-lihat lukisan yang sudah dibingkai dengan indah berjejer dipinggir jalan, perempuan paruh baya itu adalah Caroline, ia datang bersama anak laki-lakinya yaitu Arya Fernandez.


"Iya nyonya,ini hasil karya saya." Jawab Jumirah ramah.


"Cantik...." Caroline memuji hasil karya lukis Jumirah yang memang begitu cantik.


"Terimakasih nyonya, apa ada yang bisa saya bantu, nyonya mau mencari lukisan apa? Disini ada lukisan pemandangan, tentang pantai, pedesaan, juga ada lukisan berbagai bunga." Jumirah menunjukkan satu persatu lukisannya yang sudah jadi.


"Kalau yang ada disebelah sana itu milik mereka yang minta dilukis." Jumirah menunjukkan beberapa lukisan wajah seseorang yang sengaja dipisahkan karena itu milik para pelanggan yang saat ini sedang belajar melukis setelah sebelumnya mereka minta dilukis oleh Jumirah.


"Bisakah kita bicara sebentar nak? Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu." Ucap Caroline mengagetkan Jumirah.


"Mau bicara apa nyonya? Apa itu sangat penting? Kalau iya tunggulah sebentar lagi, biarkan mereka menyelesaikan lukisan mereka dulu nyonya." Kata Jumirah melihat kearah dua orang yang sedang asyik melukis sesuatu diatas kanvas.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya dua orang itu selesai juga.


"Terimakasih ya Mbak Jumi, sudah mengajari kami melukis, ini untuk membayar lukisan punyaku, mana lukisan aku mbak?" Tanya seorang perempuan yang tadi minta dirinya dilukis oleh Jumirah.

__ADS_1


"Oh iya sebentar mbak," Jumirah mengambilkan dia buah lukisan yang tadi dibuatnya.


"Ini punya si mbak berkacamata, dan yang ini punya kamu." Jumirah menyerahkan dua lukisan kepada dua orang gadis remaja itu.


"Wah... terimakasih mbak,ini keren." Ucap mereka bersama-sama.


"Lukisan kami boleh dibawa pulang gak mbak?" Tanya mbak yang satunya.


Boleh silahkan dibawa saja." Jawab Jumirah sambil tersenyum ramah.


Kedua gadis remaja itupun pergi dengan wajah ceria masing-masing membopong dua lukisan, satu lukisan mereka yang dibuat oleh Jumirah dan yang satunya lagi lukisan yang mereka buat sendiri.


"Em... maaf nyonya lama menunggu." Ucap Jumirah kembali menghampiri Caroline dan Arya setelah kedua gadis remaja tadi sudah pergi.


"Sayang... maaf." Tiba-tiba Caroline mendekati Jumirah, ia menarik keatas topi kain yang dipakai Jumi, lalu ia menyilakan rambut Jumirah yang menutupi kedua telinganya.


"Kamu Cristina anak kami yang hilang 20 tahun yang, aku tau dari ciri-ciri kamu yang juga sama dengan Cristina, hiks...dia juga hanya memiliki satu telinga dan kakinya... hiks... dia juga memiliki kaki seperti kamu, kamu Cristina, aku yakin itu, hua...." Tangis Caroline semakin kencang sambil memeluk erat tubuh Jumirah.


"A...aku...!" Jumirah nampak gugup tidak tahu harus berbicara apa, kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


Caroline melepas pelukannya, ditatapnya dengan lekat gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Sayang... akhirnya aku menemukanmu nak, ini mommy nak, mommy kamu, mommy yang sudah melahirkan kamu." Ucapnya sambil memegang kedua pipi Jumirah.


"Be.. benarkah? Mom... mommy i...ibu kandungku?" Tanya Jumirah putus-putus dengan kedua mata berkaca-kaca. Cairan bening lolos dari kedua matanya yang indah.


"Iya...iya sayang, hiks...!" Jawab Caroline menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan cairan bening terus keluar dari kedua matanya.

__ADS_1


"Hua.... mommy, akhirnya aku bisa menemuinya Kakek Bas, dia mommy Jumi kek!" Seru Jumirah melihat keatas menatap langit sambil memanggil Kakek Bas yang sudah tiada.


Satu hari kemudian setelah meminta izin ke Farel, Jumirah dibawa Caroline untuk tinggal bersamanya dirumah mereka. Tepat pukul 16.00 WIB. Jumirah dijemput oleh Arya untuk dibawa kerumah utama mereka.


Sesampai dirumah Jumirah disambut dengan baik oleh Caroline dan para asisten rumah tangga mereka, tapi tidak dengan Angel yang terus menatap Jumirah dengan tatapan tidak suka, bahkan ia tidak mau bersalaman dengan Jumirah saat Caroline menyuruhnya untuk bersalaman dengan kakak kandungnya.


"Daddy...!" Seru Angel menghampiri ayahnya yang baru pulang dari kantor." Daddy... Arya membawa seorang perempuan kerumah ini, katanya dia kakaknya Angel." Angela memberitahukan kepada ayahnya tentang Jumirah.


"Hah...!" Alex nampak terkejut, beliau mempercepat jalannya agar cepat sampai kedalam rumah.


"Dad... Cristina sudah ketemu Dad...dia ada disini." Ucap Caroline menghampiri suaminya yang baru pulang. Alex menatap tajam kearah Jumirah dari atas sampai bawah.


"Bukan mom...,dia bukan putri kita."Seru Alex dengan suara keras.


"Dia putri kita Dad, lihatlah... telinganya." Caroline menyilakan rambut Jumirah memperlihatkan telinga Jumirah yang hanya memiliki satu telinga saja.


"Jalannya juga agak pincang sama seperti Cristina putri kita yang hilang 20 tahun yang lalu Dad, mommy yakin kalau dia adalah Cristina." Caroline terus berusaha meyakinkan suaminya.


"AKU TIDAK MEMILIKI PUTRI CACAT SEPERTI DIA, DIA BUKAN PUTRIKU!" Ucap Alek dengan suara keras terdengar menggelegar memenuhi ruangan membuat semua yang sedang berada disana jadi merasa takut termasuk Jumirah, hatinya sungguh merasa sakit atas penghinaan yang keluar dari mulut laki-laki yang kata perempuan paruh baya itu adalah ayah kandung dirinya.


"Daddy...!" Teriak Caroline tidak percaya dengan ucapan suaminya yang tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri.


"PERGI KAMU, DAN JANGAN PERNAH KEMBALI KERUMAH INI LAGI!" Bentak Alex kepada Jumirah.


"Tidak, jangan usir dia, dia Cristina putriku, kamu jahat Daddy, mommy kecewa sama kamu Dad." Ucap Caroline menahan tubuh Jumirah agar tidak pergi.


"Mommy... lepaskan dia, aku tidak mau punya anak cacat seperti dia." Teriak Alex Fernandez menarik tangan istrinya agar melepaskan tangan Jumirah.

__ADS_1


"Hiks...." Jumirah langsung berlari meninggalkan kedua orang tua, adik dan kakak kandungnya, hatinya sungguh merasa sakit ternyata sang ayah tidak menginginkan dirinya.


__ADS_2