Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 72. Hampir tertabrak motor.


__ADS_3

Terkadang kita terpaksa harus berbohong demi untuk menjaga perasaan orang lain atau mencegah orang lain menjadi marah karena kenyataan yang pahit dan menyakitkan tapi janganlah melakukan kebohongan terus menerus karena itu akan membuat orang lain tidak percaya lagi pada diri kita, selain itu akan muncul tidak nyama atau rasa bersalah pada diri sendiri dan menggerus harga diri.(Belajar dari google 🤭)


Ngueeeeng....


"Aaa...."


Brug....


Jumirah yang hendak pulang dari perusahaan online, merasa terkejut Tiba-tiba ada sepeda motor dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya untung ia diselamatkan oleh seseorang, orang itu mendorongnya dari belakang hingga ia terjatuh dalam posisi tengkurap bersama dengan orang yang mendorongnya.


"Kamu tidak apa-apa mbak?" Kata orang yang menolongnya terlihat sangat panik membalikkan tubuh Jumirah karena Jumirah terdiam.


"Hah... Cristina!" Seru seseorang yang tadi mendorongnya, orang itu ternyata adalah Arya, kakak kandung Jumirah atau Cristina, ia baru pulang dari luar negeri handak bertemu dengan sahabat lamanya di gedung atau perusahaan online yang baru saja didatangi Jumirah, Arya yang baru keluar dari dalam mobil tidak sengaja melihat ada pengendara motor mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi kearah seorang perempuan berjilbab,ia langsung berlari sekuat tenaga untuk menolong perempuan itu, saat membalikkan badan si perempuan berjilbab yang tersungkur itu, ia sungguh terkejut ketika melihat wajahnya, terlihat darah segar keluar dari kening perempuan itu dan tidak sadarkan diri, ternyata dia adalah adik kandungnya bernama Cristina, Arya tau kalau dia adalah Cristina karena ibundanya Caroline yang sudah memberitahunya, Arya lah dulu yang menjemput Jumirah atau Cristina kerumah utama untuk tinggal disana bersama mereka tapi ternyata ditolak oleh ayah mereka yang tidak mau menerima Jumirah sebagai anak kandungnya, terlihat orang-orang berlarian menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi mas? Siapa yang melakukan ini?" Tanya seorang perempuan paruh baya setelah berada disamping Arya dan Jumirah yang masih tergeletak di tanah.


"Motor siapa tadi, kurang ajar tuh orang, pasti dia sengaja hendak mencelakai mbak ini."Jawab seorang gadis remaja yang kebetulan melihat kejadian.


"Cepetan bawa dia kerumah sakit sekarang!" Ucap yang lainnya merasa khawatir.


"Cristina... bertahanlah dek!" Arya langsung membopong tubuh Jumirah dan bergegas dibawa masuk kedalam mobilnya. Dengan kecepatan sedang Arya membawa mobil menuju rumah sakit.


Sementara ditempat lain terlihat seorang pemuda tampak sedang menelpon seseorang.


"Maaf bos, aku tidak berhasil menabraknya, tiba-tiba ada seseorang yang menolong perempuan itu.


"(📱)"


"Baik bos." Jawab pemuda itu tidak lama terdengar panggilan telpon dimatikan oleh orang yang ada diseberang telpon setelah mengatakan sesuatu kepada si pemuda tadi.


****

__ADS_1


Didalam ruang perawatan terlihat seorang perempuan muda memakai jilbab dengan wajah pucat nampak sedang berusaha untuk bangun dari rebahannya setelah beberapa menit akhirnya sadarkan diri dari pingsannya.Dia adalah Jumirah.


"Jangan bangun dulu Cris, tetaplah berbaring!" Perintah seseorang mengagetkan Jumirah atau Cristina.


"Kak Arya!" Panggil Jumirah terkejut melihat seorang pemuda sedang berjalan setengah berlari kearahnya.


"Apa yang terjadi denganku kak? Kenapa aku ada disini?" Tanya Jumirah yang belum ingat dengan kejadian yang hampir merenggut nyawanya.


"Apa kamu tidak ingat Cria? Tadi kamu hampir tertabrak motor." Kata Arya berusaha mengingatkan.


"Ah..." Jumirah memegang kepalanya yang terasa sakit." Oh iya aku ingat sekarang, lalu kenapa aku bisa berada disini? Dan Kak Arya kenapa juga ada disini?" Tanya Jumirah merasa bingung.


"Sayang...." Saat Arya hendak menjawab pertanyaan Jumirah tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari pintu. Mereka berdua menoleh kearah sumber suara, terlihat seorang pemuda tampan terlihat panik berlari menghampiri mereka.


"Mas Aden, darimana mas tau aku ada disini" Tanya Jumirah merasa terkejut dengan kedatangan kekasihnya itu.


"Tadi aku menelpon kamu tapi yang mengangkat panggilan telpon seorang laki-laki, dan...." Aden menatap laki-laki yang sedang berdiri disamping ranjang pasien.


"Hem...." Aden menyipitkan matanya merasa bingung.


"Maksud aku Jumirah." Ulang Arya tau maksud dari tatapan laki-laki yang saat ini sedang berdiri didepannya. Sedangkan Aden terlihat tidak terlalu memikirkan hal itu ia menghampiri kekasihnya dan menggenggam tangannya dengan lembut.


"Kamu kok bisa seperti ini Jum? Siapa yang sudah melakukan ini sama kamu? Kamu tadi habis darimana? Kenapa pergi sendiri gak minta kakakmu Farel atau Choirul untuk mengantar?" Aden menyerbu banyak pertanyaan untuk kekasihnya itu.


"Aduh...!" Jumirah memegang kepalanya yang terasa sakit menghentikan ucapan Aden.


"Maaf mas, untuk saat ini keadaannya masih sangat lemah, jangan kamu serbu dia dengan banyak pertanyaan." Ucap Arya tidak suka dengan sikap laki-laki yang ada disampingnya itu.


"Memangnya kamu siapa? Terserah aku dong, dia kekasihku." Protes Aden tidak mau ada orang yang berani mencampuri urusannya.


"Hah...baru kekasihnya saja sudah belagu." Ucap Arya sambil tersenyum sinis kearah Aden.

__ADS_1


"Heh... kamu!" Aden menarik kerah kemeja yang dipakai Arya dan mencengkeramnya dengan kuat, ia juga melayangkan tinju ke wajah Arya tapi langsung ditahan oleh Jumirah


"Mas jangan mas, dia kakakku." Kata Jumirah berusaha menghentikan aksi kekasihnya yang hendak memukul Arya. Aden langsung melonggarkan cengkeramannya, ia membelalakkan mata merasa terkejut." Maksud kamu?" Tanya Aden masih bingung.


"Dia kakak kandungku mas." Jelas Jumirah memberitahu.


Saat Arya merasakan cengkraman dari laki-laki disampingnya itu melonggar, ia menarik tangan laki-laki itu dari kerah bajunya dan menghempaskan nya dengan kasar ke-sembarang arah.


"Heh...kok kamu bisa pacaran sama laki-laki emosian seperti dia sih dek!" Ucap Arya sambil merapikan kemeja yang ia pakai.


"Kalian? Kok bisa." Aden masih belum percaya.


"Ya bisa lah." Jawab Arya menatap sinis kearah Aden.


"Sebentar dek kakak mau telpon mommy dulu," ucap Arya mengambil handphone yang ia simpan didalam kantong celananya.


"Jangan kak, jangan menelpon mommy, please." Ucap Jumirah melarang Arya menelpon mommy-nya.


"Kenapa dek? Dia juga harus tahu keadaan kamu dek!" Seru Arya.


"Jangan mas, aku mohon jangan beritahu mommy, aku gak mau mommy khawatir, aku sudah terlalu sering merepotkan mommy," jelas Jumirah dengan wajah sendu.


"Tapi dek...."


"Kak, please!" Ucap Jumirah memotong ucapan Arya.


"Hufh... terserah kamu lah dek!" Jawab Arya menyerah.


"Tolong jangan beritahu mommy tentang apa yang terjadi sama aku ya kak!" Sambung Jumirah menyatukan kedua telapak tangannya memohon.


Di tempat lain.

__ADS_1


"Kenapa susah sekali melenyapkan anak itu, aku cuma tidak ingin nama besar keluarga ini jadi buruk karena memiliki anak seperti dia, bagaimana kalau sampai rekan bisnisku mengetahui tentang dia, bisa hancur semua usaha yang sudah susah payah aku bangun dari nol hingga sebesar ini dan juga usaha peninggalan orang tua Caroline."


__ADS_2