
Brug...
"Aw... hati-hati dong kalau jalan, kamu gak punya mata ya?" Bentak seorang wanita paruh baya nampak marah saat seseorang tiba-tiba menabraknya dari depan.
"Maaf... maaf, Aku tidak sengaja." Ucap seorang perempuan memakai jilbab warna biru sambil menundukkan kepalanya.
"Nyo... nyonya Claudia...!" Panggil perempuan yang memakai jilbab tadi setelah melihat wajah wanita paruh baya yang tidak sengaja ditabraknya.
"Hah... kamu...." Ucap wanita itu terlihat sedang berfikir sambil memperhatikan wanita berjilbab yang terlihat begitu cantik dan anggun.
"Wajah kamu seperti...! Ah... gak mungkin, kamu siapa?" Tanya wanita tadi.
"Aku Jumirah nyonya? Apa nyonya sudah melupakan aku?" Jawab Jumirah.
"Jadi kamu beneran Jumirah? Si-pelukis jalanan yang pincang itu?" Tanya Nyonya Claudia.
"Iya, aku Jumirah nyonya." Jawab Jumirah lagi.
"Oh... Ternyata kamu sudah merubah penampilan? Lumayan...!" Ucap Nyonya Claudia manggut-manggut sambil memperhatikan gadis cantik berjilbab yang sedang berdiri didepannya.
"Tante sedang apa disini? Siapa yang sakit tante? Tanya Jumirah dengan suara lembut.
"Heh... bukan urusan kamu." Jawab Nyonya Claudia ketus.
"Ada apa tante, ayok tante sekarang giliran tante untuk diperiksa." Ucap seorang wanita muda memiliki postur tubuh tinggi dan langsing seperti seorang model menghampiri Nyonya Claudia dan Jumirah. Mereka saat ini sedang berada dirumah sakit.
"Ini siapa tanya?" Tanya perempuan cantik itu sambil menatap Jumirah dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Ini perempuan yang tante ceritakan, kamu harus lebih rajin mendekati Aden Ros, jangan biarkan perempuan ini kembali menguasai hatinya." Bisik Nyonya Claudia lirih ditelinga Rosita, mantan pacar Aden.
__ADS_1
"Oh...jadi dia orangnya,heh... kampungan." Gumam Rosita dalam hati sambil tersenyum sinis kearah Jumirah.
"Maaf tante, saya permisi." Jumirah berusaha bersikap seramah mungkin walaupun ia tau jika kedua perempuan itu tidak menyukai dirinya. Jumirah langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan dua perempuan yang sok kaya itu.
"Hah... sombong sekali dia!" Kata Rosita menatap punggung Jumirah yang sudah menjauh.
"Sudah ayok Ros!" Ajak Nyonya Claudia.
"Hah... sabar Jum," ucap Jumirah lirih pada dirinya sendiri sambil berjalan untuk kembali kerumah setelah menebus obat untuk dirinya yang akhir-akhir ini sering tiba-tiba pusing, setelah diperiksa ternyata dia kurang darah.
"Hah...anak itu," gumam Jumirah dalam hati saat melihat wajah bocah perempuan yang tidak asing baginya sedang digendong oleh seorang perempuan sambil berjalan terburu-buru, sepertinya perempuan itu tidak melihat Jumirah.
"Iya...dia," Jumirah langsung bersembunyi dibalik tembok, dengan hati-hati ia berjalan mengikuti langkah kaki perempuan dan laki-laki yang tampak terburu-buru masuk keruang pemeriksaan.
"Aku harus bisa mengikuti orang itu, pasti mereka yang sudah menyembunyikan anak-anak." Kata Jumirah dalam hati sambil bersembunyi memperhatikan kedua orang tadi dengan seorang bocah perempuan yang sangat dikenali oleh Jumirah.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya kedua orang tadi keluar dari ruang pemeriksaan, Jumirah diam-diam mengikuti mereka yang ternyata hendak memindahkan bocah perempuan tadi keruang perawatan yang lain, sepertinya bocah perempuan sakit serius sehingga harus dirawat.
Ceklek... seorang perawat membuka pintu ruangan dan menutupnya kembali.
"Sus...!" Panggil Jumirah kepada seorang perawat yang baru keluar dari ruangan.
"Ada apa mbak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster itu.
"Maaf mau tanya sus, yang dirawat diruang ini atas nama siapa ya sus? Dan sakit apa dia?" Tanya Jumirah.
"Pasien yang dirawat diruang ini atas nama Ananda Sisil mbak,anak berusia lima tahun yang terkena demam berdarah." Jelas perawat itu jujur.
"Apa boleh saya menjenguknya sus?" Tanya Jumirah lagi.
__ADS_1
"Maaf mbak, kedua orang tua anak ini berpesan agar tidak membiarkan siapapun masuk menjenguk anak mereka." Jawab perawat itu memberitahu.
"Dua orang yang tadi baru keluar? Apa mereka orang tuanya?" Tanya Jumirah.
"Iya benar, mereka adalah kedua orang tua pasien." Jawab si perawat.
"Oh... ya sudah terimakasih sus." Ucap Jumirah sambil tersenyum ramah, iapun pergi meninggalkan ruangan bocah perempuan yang ternyata terkena demam berdarah.
"Sisil... akhirnya ada petunjuk, aku harus segera memberitahu polisi." Gumam Jumirah dalam hati sambil berjalan keluar menuju motornya.
Sret...
Tiba-tiba tangan Jumirah ditarik oleh seseorang untuk dibawa ketempat yang tidak ada seorangpun melihat mereka.
"Aw...!"Teriak Jumi merasa terkejut.
"Heh... diam, jangan berteriak,kamu perempuan yang membawa dan mengajarkan anak-anak itu melukis kan? Aku peringatkan sama kamu jangan pernah mencampuri urusanku,kalau kamu ingin melihat anak-anak itu selamat jangan berani memberitau polisi, jika sampai kamu memberitau polisi maka kami akan menyiksa dan membunuh mereka satu persatu." Ancam seorang perempuan yang tadi membawa Sisil untuk di obati karena sakit, setelah diperiksa dokter ternyata dia terkena demam berdarah dan harus dirawat, perempuan itu ternyata mengetahui kalau dirinya diikuti oleh Jumirah. Ia sengaja menunggu Jumirah diluar untuk memberitahunya agar tidak berbuat macam-macam kalau tidak ingin anak-anak celaka.
"Hah... anda, jadi anda yang telah menyembunyikan anak-anak? Kembalikan mereka perempuan jahat!" Bentak Jumirah langsung ditutup mulutnya oleh perempuan tadi.
"Sekali lagi kamu bicara seperti itu maka aku juga akan menghabisi kamu, semua yang telah terjadi juga karena kesalahan kamu yang sudah dengan seenaknya mengambil mereka dariku." Ucap perempuan itu lirih sambil mendorong tubuh Jumirah setelah berada ditempat yang sepi.
"Aku tidak pernah takut sama perempuan jahat seperti anda, tega menyiksa dan memaksa anak-anak untuk melakukan pekerjaan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh anak seusia mereka, anda benar-benar jahat!" Seru Jumirah menatap tajam kearah perempuan yang suka dipanggil emak ompong oleh mereka para anak-anak jalanan.
"Tau apa kamu tentang aku, mereka pantas melakukan itu karena mereka sudah aku selamatkan jadi mereka harus membalasnya, mereka adalah anak-anakku jadi terserah aku mau berbuat apa dengan mereka, dan kamu... gak usah sok baik seolah-olah paling perduli dengan mereka, padahal gara-gara kamu yang sok baik itu yang sudah membuat mereka harus seperti ini." Ucap perempuan itu tidak mau disalahkan.
"Hahaha... lucu, anda sangat lucu, berarti apa yang anda lakukan tidak ikhlas karena anda meminta imbalan, dan... tadi anda bilang mereka adalah anak-anak anda? Hah... sungguh ironis seorang ibu membiarkan anak-anaknya menjadi seorang pengemis bahkan membiarkan anak-anaknya mencopet, ibu macam apa anda ini." Ucap Jumirah dengan lantang sambil tersenyum sinis kearah perempuan paruh baya yang ada didepannya.
"Kamu... hai kalian berdua...! Seret perempuan ini bawa masuk kedalam mobil, dia harus diberi pelajaran biar gak seenaknya berbicara!" Ucap perempuan paruh baya itu memerintahkan kedua laki-laki yang sedang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Hah... mau apa kalian,"