
"Lepaskan aku!" Teriak Jumirah tapi langsung dibekap oleh dua laki-laki itu menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, badan Jumirah mendadak lemas, ia-pun tidak sadarkan diri. Dengan gerakan cepat seorang laki-laki berbadan besar langsung membopong tubuh Jumirah dan dibawa masuk kedalam mobil, mobil pun melesat dengan cepat meninggalkan gedung rumah sakit. Setelah tiga puluh menit akhirnya mereka sampai ditempat para anak-anak disembunyikan.
Brug....
Dengan kasar mereka meletakkan tubuh Jumirah diatas lantai setelah mereka membuka pintu ruangan dimana ada anak-anak didalamnya.
"Kakak...!" Teriak mereka bersama-sama melihat seorang perempuan yang dibawa oleh laki-laki berbadan besar tadi dengan keadaan tidak sadarkan diri. Mereka berlari menghampiri perempuan yang saat ini sedang tergeletak di atas lantai.
"Hai... apa yang lo lakukan dengan kakak Jumi," teriak Joni menatap tajam laki-laki bertubuh besar yang masih berdiri didepan pintu.
Bug...bug...duak....
Dengan tangan kecilnya Joni memukul tubuh laki-laki itu dan menendangnya dengan sekuat tenaga.
"Hahaha... dasar bocah!" Laki-laki itu menarik kaos yang dipakai Joni hingga terangkatlah badan Joni keatas lalu dengan kasar laki-laki itu melempar tubuh mungil Joni hingga jatuh kelantai.
"Joni...!" Teriak teman-temannya merasa kasian melihat Joni yang sepertinya sangat kesakitan.
"Woy... awas ya lo, suatu saat nanti kalau gue sudah kuat akan gue balas lo!" Teriak Joni walaupun badannya terasa remuk tapi tidak menghilangkan keberaniannya, dengan penuh keberanian ia menantang laki-laki bertubuh besar yang tadi melempar dirinya dengan kasar ke lantai.
"Oke bocah, aku tunggu, hahaha...!"
Brak ....
Terdengar tawa laki-laki bertubuh besar tadi lalu pintu ditutup dengan kasar olehnya.
"Ah...!" Terdengar suara perempuan yang tadi.
"Kakak...!" Panggil anak-anak.
Perempuan itu membuka matanya berlahan.
"Hah... anak-anak! Hiks... anak-anak, hua...." Tangis perempuan itu langsung pecah sambil memeluk anak-anak itu secara bergantian.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kalian? Apa kalian baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa mereka menyakiti kalian? Jumirah terus bertanya sambil menatap wajah anak-anak itu satu persatu.
"Hua... kakak...!" Mereka semua menangis sambil memeluk tubuh perempuan memakai jilbab berwarna biru yang ternyata adalah Jumirah secara bersama-sama.
"Joni... bagaimana keadaan kamu sayang? Ada apa dengan kakimu? Apa mereka telah menyakiti kamu?" Tanya Jumirah saat melihat Joni sedang berjalan dengan keadaan pincang dipapah oleh dua temannya menghampiri mereka yang sedang berkumpul
"Kenapa kakak bisa tertangkap oleh mereka kak?" Joni malah balik bertanya.
"Tadi kakak tidak sengaja melihat mereka membawa Sisil dirumah sakit, kakak diam-diam ikuti mereka, eh... malah ketahuan," jawab Jumirah.
"Bagaimana dengan keadaan Sisil kak? Apa dia baik-baik saja?" Tanya seorang anak perempuan yang tingginya hampir sama dengan Jumirah.
"Kata seorang suster, Sisil terkena demam berdarah dan harus dirawat." Jelas Jumirah.
"Hah...," mereka nampak terkejut.
"Kasihan Sisil!" Ucap anak perempuan itu yang sangat menyayangi bocah perempuan bernama Sisil.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku gak mau dibawa pergi dari sini, aku takut!" Seru seorang anak laki-laki seumuran dengan Joni.
"Besok mereka mau membawa sebagian dari kita keluar kota kak," kata anak perempuan yang tingginya sama dengan Jumirah memberitahu, anak perempuan itu bernama Murni tapi sering dipanggil teman-temannya kepala suku.
"Hah... mereka bener-bener keterlaluan, tidak... kalian tidak ada yang boleh dibawa pergi,kita harus melakukan sesuatu," Jumirah bangkit dari duduknya, ia memperhatikan apa yang ada diruangan itu.
"Ha... itu ada jendela kaca,kita harus menghancurkan kaca itu agar kita bisa keluar dari tempat ini." Ucap Jumirah berjalan mendekati kaca dengan ketinggian satu setengah meter itu.
"Itu tinggi sekali kak, bagaimana caranya kita naik keatas?" Ucap Murni atau kepala suku.
Jumirah menoleh ke kanan-kiri mencari sesuatu.
"Itu ada meja, kita naik dengan menggunakan meja itu." Kata Jumirah menunjukkan sebuah meja berukuran besar yang ada didalam ruangan." Kita nanti angkat bersama-sama." Lanjutnya.
"Tapi... kalau kita memecahkan kaca itu pasti mereka mendengarnya dan langsung masuk ke sini, kita bakal ketahuan sebelum sempat keluar melalui jendela itu." Kata Murni.
__ADS_1
"Coba kaca ini besar, kita bisa lewat sini aja." Sambung Joni menunjuk ke sebuah kaca berukuran sedang yang ada diatasnya.
"Itu buat lewat lo aja gak muat Jon, apalagi kita!" Seru Murni sambil tertawa kecil melihat sebuah kaca tebal dengan panjang hanya beberapa centimeter yang ada diatas Joni.
"Jadi bagaimana kak?"
"Eh... biasanya kalau malam mereka semua kan pergi hanya ada bang gondrong saja yang tinggal disini,kita rame-rame hajar dia kalau dia berani masuk dan menghentikan usaha kita untuk kabur dari tempat ini, bagaimana gaes? Apa kalian berani?" Tanya Joni dengan kedua mata bersinar penuh semangat.
"Hem... boleh juga!" Seru Murni tersenyum mendengar ide dari Joni.
"Jadi bagaimana? Apa kalian semua nanti malam siap untuk menjalankan rencana kita?" Tanya Jumirah menatap anak-anak itu penuh harap.
"Ya... aku siap..., gue siap... aku juga!" Seru mereka semua.
"Oke... kita akan melakukannya nanti malam saat mereka semua sudah pergi.
Klek... klek... ceklek....
Terdengar pintu dibuka oleh seseorang dari luar, semua anak-anak mendekati Jumirah karena merasa takut. Tidak lama terlihat seorang perempuan paruh baya memasuki ruangan itu.
"Wah... ternyata kalian sedang reunian ya? Bagaimana apa kerinduan kalian sudah terobati? Oke... malam ini emak membiarkan kalian untuk bersama perempuan itu, tapi besok pagi kalian harus bersiap-siap karena kita akan pergi ke batam, kalian akan bekerja dengan seorang bos mafia yang ditakuti oleh orang.Kalian tenang saja kehidupan kalian akan lebih baik bersama bos itu yang memiliki kekayaan luar biasa." Kata perempuan paruh baya itu memberitau.
"Dasar perempuan tidak memiliki hati, teganya kamu menjual anak-anak yang tidak berdosa ini. Aku sumpahin kamu bakal masuk neraka!"Ucap Jumirah sambil tersenyum sinis kearah emak ompong.
"Kamu... hah... kamu juga harus bersiap-siap karena besok malam bakal ada seorang pengusaha muda yang akan membeli-mu, jadi kamu harus mempersiapkan diri, puaskan pengusaha muda itu kalau kamu tidak ingin kehilangan anak-anak ." Ucap perempuan itu sambil tersenyum licik.
"Dasar emak ompong peot...!" Seru Joni langsung berlari menghampiri perempuan paruh baya itu dan memukulinya berkali-kali dengan kedua tangannya.
"Joni... kamu,"
Plak... brug....
Perempuan itu menampar lalu mendorong tubuh Joni hingga terjatuh, terlihat ada darah segar keluar dari sudut bibir Joni.
__ADS_1
"Hai perempuan jahat, jangan pernah menyakiti mereka lagi!" Teriak Jumirah menghampiri Joni dan membantunya berdiri.