Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 12. Bertemu lagi.


__ADS_3

Dengan menggunakan tabungan hasil ia bekerja menjadi TKI diluar negeri, Farel menyewa sebuah rumah berukuran lumayan besar yang sengaja disewakan oleh pemiliknya.


Farel bekerja di bengkel milik temannya untuk kebutuhan sehari-hari mereka berdua, sedangkan Jumirah kembali melakukan pekerjaannya sebagai seorang pelukis.


"Mas... nanti siang aku mau ke mall mau cari alat-alat lukis." Ucap Jumirah saat mereka sedang sarapan di pagi hari.


"Sama siapa?" Tanya Farel sambil mengunyah nasi.


"Sama Alda mas." Jawab Jumirah.


"Ya sudah hati-hati ya,ada uang gak? Bawalah ATM mas buat beli." Ucap Farel sambil merogoh tas ranselnya untuk mengambil dompet.


"Gak usah mas, aku masih punya uang!" Jawab Jumirah.


"Oh... kirain kamu sudah tidak punya uang, bawalah ATM mas saja buat beli alat-alat lukis yang kamu butuhkan." Kata Fareal memberikan ATM miliknya setelah berhasil mengeluarkan dompet dari dalam tas ranselnya.


"Mas simpan saja, itu milik Mas Farel, tabunganku masih banyak kok." Ucap Jumirah sambil tersenyum.


"Aduh...aku jadi malu, iya lah aku percaya uangmu pasti lebih banyak dari aku." Farel menyimpan ATM itu kedalam dompet lalu dimasukkan kedalam tas ranselnya lagi.


"Eh...bukan begitu mas, maksud aku...itu... aku...."Jumirah jadi merasa tidak enak, ucapannya telah membuat kakaknya tersinggung.


"Hehehe...iya, kamu santai aja kali Jum, mas gak apa-apa kok, ya sudah mas pamit kerja dulu ya, kamu hati-hati, kalau sudah selesai mencari apa yang kamu butuhkan langsung pulang kerumah." Pesan Farel sebelum ia pergi bekerja di bengkel temannya.


"Oke mamasku sayang." Jawab Jumirah manja membuat Farel tersenyum menatap adiknya yang terlihat menggemaskan.


****


"Aduh...." Ucap Jumirah sambil menepuk keningnya sendiri saat ia baru menyadari ternyata ada yang kelupaan ketika dirinya dan Baldatun selesai membeli alat-alat lukis yang ia butuhkan di toko buku yang ada didalam Mall.

__ADS_1


"Ada apa Jum?" Tanya Baldatun menoleh kearah Jumirah.


"Balik lagi kedalam yok, ada yang kelupaan." Jumirah menarik tangan Baldatun untuk kembali ke toko buku.


Brug....


Karena terburu-buru tidak melihat jalan Jumirah menabrak seseorang membuat alat-alat lukis yang tadi dibelinya jatuh berantakan diatas lantai.


"Ealah Jum...Jum...!" Seru Baldatun menggelengkan kepalanya melihat alat-alat lukis Jumirah yang sudah berantakan dilantai.


"Waduh...kantong plastiknya bolong, Da tolong beliin aku kantong plastik yang baru buat wadah!" Perintah Jumirah sambil berjongkok mengumpulkan alat-alat lukisnya yang berantakan dilantai


"Kamu gak apa-apa nak? Hati-hati jalannya nak!" Kata seorang perempuan ikut membantu mengumpulkan alat-alat lukis milik Jumirah yang berantakan dilantai.


"Aduh mom...udah biarkan saja dia,ayok kita mencari makanan, aku sudah lapar." Rengek seorang gadis remaja yang tadi bersama perempuan paruh baya itu.


"Ini mau di masukkan kemana nak? Kantong plastik kamu kan sudah sobek." Tanya perempuan itu sambil memegang alat-alat lukis milik Jumirah.


"Sudah biarin aja bu, kumpulin jadi satu disini saja, temanku sedang mencari plastik buat wadah." Jawab Jumirah tanpa menoleh kearah perempuan yang ada didepannya.


"Ya sudah ibu taruh di sini saja ya nak!" Ucap perempuan itu meletakkan alat-alat lukis bersama dengan alat-alat lukis lain yang sudah berhasil dikumpulkan oleh Jumirah.


"Terimakasih bu." Jumirah kembali berdiri, ia mengangkat wajahnya melihat perempuan paruh baya yang sudah menolongnya.


Deg....


"Dia..." Gumam perempuan paruh baya itu setelah melihat wajah Jumirah.


"Perempuan ini... sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya?" Batin Jumirah menyipitkan matanya mencoba mengingat sambil menatap wajah perempuan paruh baya yang mampu menyejukkan hatinya.

__ADS_1


"Kenapa rasanya begitu sejuk saat melihat matanya, siapa perempuan ini? Kenapa aku ingin sekali memeluknya?" Batin Jumirah lagi tanpa ia sadari setetes cairan bening berhasil lolos dari kedua mata indahnya. Begitu juga dengan perempuan paruh baya yang ada didepannya, yang terlihat diam dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Ya Tuhan kenapa aku merasa kalau dia adalah putriku yang hilang? Apakah dia memang putriku?" Gumam perempuan paruh baya itu dalam hati masih menatap wajah Jumirah.


"Nak, si... siapa...."


"Mommy...! Kenapa malah bengong, ayok kita cari makanan." Rengek gadis remaja disampingnya menarik tangan perempuan paruh baya itu sehingga membuat beliau tidak jadi melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba putrinya menarik tangannya dengan kasar.


"Iya sayang..., sabar dong nak, ayok!" Perempuan paruh baya itupun pergi meninggalkan Jumirah tanpa mengucapkan sepatah katapun karena putrinya terus menarik tangannya untuk meninggalkan Jumirah, sedangkan Jumirah masih diam mematung seorang diri menatap kepergian perempuan paruh baya yang memiliki wajah mirip dengannya itu.


"Woy...! Ealah nih bocah malah bengong lagi, gue lari-lari nyari plastik, dianya malah bengong." Kata Baldatun yang baru datang sambil membawa kantong plastik jumbo berwarna putih yang cukup tebal jadi tidak mudah sobek.


Sementara ditempat lain.


"Kamu yakin mau keluar kota bang?" Tanya Gibran kepada kakaknya yang sedang bersiap-siap memasukkan bajunya didalam koper.


"Iya Bran, mungkin aku akan lama disana, nitip kantor ya Bran, aku serahkan urusan kantor sama kamu selama aku pergi, aku tetap akan memantau perkembangan perusahaan dari sana jadi kamu jangan berani macam-macam dibelakang ku."Ucap Aden mengancam adiknya.


"Eladalah... sudah dikasih tugas diancam pula."Protes Gibran."Kenapa sih kamu mesti pergi bang?"Tanya Gibran yang masih belum tau kenapa tiba-tiba kakaknya itu memutuskan untuk meninggalkan Jakarta.


"Aku ingin menenangkan diri dulu disana Bran,aku ingin melupakan perempuan itu, yang sudah melukai hatiku, kalau aku tetap tinggal di sini aku terus mengingatnya dan itu membuat hatiku sakit, nanti jika hatiku sudah tenang aku akan kembali." Aden berjalan keluar dari dalam kamarnya sambil menarik koper besar.


"Apa ibu sudah dikasih tau bang?" Tanya Gibran mengikuti langkah kaki kakaknya.


"Belum, biarkan saja, kalau nanti ibu atau bapak bertanya bilang saja aku sedang ada urusan bisnis keluar kota." Pesan Aden kepada adik laki-lakinya.


"Terus kalau Margaretha yang nanya? Dia pasti bakal ribut kalau tau abang gak ada dirumah, bisa mati aku terus ditanyain terus sana tuh nenek lampir." Ucap Gibran sambil memikirkan bagaimana nanti akan menjelaskan kepada adik perempuannya yang begitu manja dan sangat menyayangi Aden.


"Ah..., lo cari cara sendiri deh untuk mengatasi dia, sudah...aku tinggal ya, nitip rumah juga kantor, awas jangan berani bawa perempuan kedalam rumah, aku potong gaji kamu kalau sampai ketahuan kamu bawa perempuan masuk kedalam rumah aku." Aden kembali mengancam adiknya yang terkenal playboy memiliki banyak pacar.

__ADS_1


__ADS_2