Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 36. Pertemuan antara Pak Sutejo dan ibu kandung Jumirah.


__ADS_3

"Haduh Jum, sabenarnya hatimu terbuat dari apa sih? Sudah berapa kali kamu disakiti mereka tapi kamu masih mau memaafkan." Ucap Farel sambil berjalan mengantarkan bapaknya yang hendak pulang.


"Sudahlah mas,gak baik menyimpan dendam."Jawab Jumirah berdiri didepan pintu.


"Terimakasih ndu', kamu sungguh memiliki hati yang baik." Sambung Pak Sutejo yang sudah berada diluar rumah.


"Yah... semoga mereka benar-benar menyesali perbuatan mereka tidak hanya berakting saja untuk mendapatkan apa yang mereka mau, setelah mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau dengan liciknya mereka kembali menyakiti kamu Jum." Ucap Farel menyindir bapaknya.


"Jahat sekali pikiran kamu Rel, kami benar-benar sudah menyesal, kenapa kamu tidak mempercayai kedua orang tua kandungmu sendiri? Sampai kapan kamu mau mempercayai kami, kalau kami benar-benar sudah berubah." Kata Pak Sutejo menatap anak laki-lakinya dengan sendu, dadanya sungguh terasa sesak mendengar ucapannya.


"Heh... kita lihat saja, apa benar kalian sudah berubah atau hanya modus." Fareal masih belum mau mempercayai ucapan bapaknya.


"Sudah.... sudah... sampai kapan kalian akan terus berdebat." Lerai Jumirah.


"Pak, salam buat Dewi dan ibu ya pak! Kapan-kapan ajaklah mereka main kesini."


"Iya nak, nanti bapak sampaikan, terimakasih uangnya ya nak." Ucap Pak Sutejo.


Jumirah memberi sejumlah uang simpanannya untuk biaya pengobatan Bu Lasmi yang katanya sedang sakit juga untuk biaya sekolah Dewi.


Siit....


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan kontrakan mereka.Terlihat dua orang laki-laki bertubuh kekar keluar dari dalam mobil, salah satu dari laki-laki itu membukakan pintu untuk seseorang, kemudian terlihat seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam mobil setelah pintunya dibuka oleh laki-laki tadi.


"Mommy!" Panggil Jumirah langsung berlari menghampiri perempuan itu.


"Siapa perempuan itu Rel?" Tanya Pak Sutejo penasaran menatap Farel.


"Hem..." Farel terlihat cuek tidak menjawab pertanyaan dari bapaknya.

__ADS_1


"Sayang... bagaimana keadaan kamu nak? Maaf kemarin mommy gak sempat menjenguk mu saat kamu dirumah sakit karena mommy berada diluar kota." Ucap Caroline sambil memeluk tubuh Jumirah.


"Kenapa kamu sudah keluar dari rumah sakit nak? padahal baru sehari semalam kamu dirawat, tadi mommy sempat marah sama pihak rumah sakit karena membiarkan kamu pulang, kenapa kamu memaksa pulang nak?" Lanjutnya setelah melepas pelukannya sambil memeriksa keadaan putrinya itu.


"Jumirah sudah sembuh kenapa harus dirawat mom, lihatlah Jumirah tidak apa-apa kan!" Jawab Jumirah sambil memperlihatkan badannya yang sudah terlihat segar." Terimakasih ya mom, sudah menolong Jumi dan anak-anak, Jumi gak tau apa yang bakal terjadi sama kita kalau mommy gak datang saat itu, mungkin Jumi sudah...."


"No... jangan mengucapkan apapun, itu sudah menjadi tanggung jawab mommy melindungi putrinya" Caroline menutup mulut Jumirah menghentikan ucapannya.


"Darimana mommy bisa tau kalau kita sedang berada disana?" Tanya Jumirah yang dari kemarin terus bertanya-tanya kenapa mommy-nya bisa mengetahui keberadaannya.


"Hem... itu rahasia perusahaan yang penting sekarang kamu baik-baik saja." Jawab Caroline tidak mau berterus terang kalau dirinya memiliki banyak anak buah, untuk mengetahui keberadaan Jumirah bukanlah hal yang sulit bagi seorang Caroline.


"Syukurlah nak, dari kemarin mommy kepikiran kamu terus, mommy mau langsung kerumah sakit untuk melihat keadaan kamu tapi adikmu Angela tidak mau ditinggal, tadi mommy kerumah sakit kamu malah sudah pulang." Lanjut Caroline sambil menggenggam tangan Jumirah.


"Maaf... anda siapa? Kenapa putriku memanggil anda mommy?" Tanya Pak Sutejo penasaran berjalan menghampiri Jumirah dan perempuan paruh baya itu sambil memperhatikan Caroline dari atas sampai bawah berganti melihat kedua laki-laki yang sedang berdiri dibelakang Caroline dan sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman rumah kontrakan.


"Oh... iya maaf pak, perkenalkan ini ibu kandung Jumirah, akhirnya Jumirah bisa bertemu dengan kedua orang tua kandung Jumi pak." Jumirah memperkenalkan ibundanya kepada Pak Sutejo.


"Maaf anda...!" Ucap Caroline memperhatikan Pak Sutejo.


"Mom... perkenalkan ini bapak Jumirah, yang sudah merawat dan membesarkan Jumirah." Kata Jumirah memberitahu.


"Oh... terimakasih pak, berkat bapak akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan putriku ini." Ucap Caroline dengan tulus.


"Ayok mom masuk!" Ajak Jumirah.


"Ya sudah bapak pamit ya Jum." Ucap Pak Sutejo yang terpaksa menghentikan niatnya untuk pulang saat melihat kedatangan Caroline dan anak buahnya dirumah kontrakan Jumi dan Farel.


"Oh iya pak, hati-hati." Jawab Jumirah.

__ADS_1


"Hem... ternyata orang tua Jumirah orang kaya, baguslah. Mereka harus memberikan banyak uang kepada kami karena kami sudah menyelamatkan nyawa anak mereka yang hampir mati saat itu kalau tidak segera kami bawa." Gumam Pak Sutejo dalam hati sambil memperhatikan mobil mewah saat ia sedang berjalan melewati mobil mewah itu.


"Hem...." Pak Sutejo tersenyum licik sambil berjalan menjauh meninggalkan rumah kontrakan Jumirah dan anak laki-lakinya.


"Sayang... mommy sudah membelikan kamu rumah, mommy ingin kamu pindah dari tempat ini, tinggallah dirumah baru kamu dan ajaklah anak-anak itu untuk tinggal bersama kamu!" Perintah Caroline setelah mereka sudah berada didalam rumah sambil duduk diruang tamu bersama Farel dan Jumirah.


"Hah... tapi mom!" Jumirah tampak ragu, ia menoleh kearah Farel yang dari tadi diam saja duduk sambil mendengarkan pembicaraan antara ibu dan anak itu.


"Bagaimana mas?" Tanya Jumirah meminta pendapat dari kakaknya.


"Terserah kamu Jum, mas ikut senang jika kamu juga senang." Jawab Farel sambil tersenyum menatap adiknya.


"Sayang... Maaf hanya itu yang bisa mommy berikan untuk kamu nak, tolong jangan menolaknya, besok pagi mereka yang akan menjemput dan mengantarkan kalian kerumah baru kalian, mommy tidak mau melihat kamu menderita lagi, kamu juga bisa membuka sekolah melukis disana karena mommy sudah menyediakan tempat khusus yang cukup luas untuk kamu dan anak-anak kembali menunjukkan bakat kalian, kalau kamu menganggap mommy sebagai ibu kandungmu, maka terimalah pemberian mommy nak, untuk menebus kesalahan mommy yang sudah membiarkan kamu hidup menderita diluar sementara kami hidup berkecukupan." Ucap Caroline dengan kedua mata meneteskan cairan bening.


"Mommy, hiks...." Jumirah kembali memeluk tubuh Caroline sambil terisak.


"Maafkan mommy juga Daddy ya nak, mommy akan terus berusaha untuk membuat Daddy kamu mau mengakui kamu sebagai anaknya." Ucap Caroline memeluk erat Jumirah.


"Apakah Jumirah boleh mengajak kakak Jumi juga mom?" Tanya Jumirah melepas pelukannya.


"Boleh dong sayang, kamu boleh mengajak siapapun yang kamu mau karena rumah baru kamu muat untuk Seratus orang sekalipun." Jawab Caroline.


"Hah... se... seratus orang mom?" Tanya Jumirah membelalakkan matanya karena kaget.


"Iya." Jawab Caroline singkat.


"Berarti besar sekali mom?" Tanya Jumirah.


"Nanti kamu juga lihat sendiri." Jawab Caroline sambil tersenyum menatap putrinya.

__ADS_1


"Mommy pulang dulu ya nak, kasihan adik kamu dirumah hanya bersama para asisten rumah tangga saja." Pamit Caroline sambil berdiri


"Oh... iya mom, mommy hati-hati ya." Ucap Jumirah berdiri mengantarkan Caroline sampai kedepan rumah.


__ADS_2