Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 11. Pergi dari rumah.


__ADS_3

"Mas Farel kok bisa tau kami ada di sini?" Tanya Dewi terlihat kaget melihat kedatangan kakak laki-lakinya tiba-tiba datang dirumah Jumirah padahal ia tidak memberitahu kakaknya kalau mereka tinggal dirumah Jumirah.


"Kenapa Wik? Kok kamu seperti ketakutan begitu melihat mas? Joko yang memberitahu mas tentang keberadaan kalian, jadi ini beneran rumah Jumirah ya Wik? Bagus ya Wik rumah Jumirah, tadi mas sempat ndak yakin saat tukang ojek menurunkan mas didepan rumah ini, mas tadi sempat ragu pingin pergi saja tapi mas juga penasaran. Bapak sama ibu juga Mbak Jumi ada kan?" Tanya Farel sambil tersenyum menatap adik kandungnya yang malah terlihat tegang.


"A...ada... hehehe...!"Jawab Dewi gugup sambil tertawa yang dipaksakan.


"Lha..., kok mas gak disuruh masuk dek?Wah..., kamu keterlaluan sekali dek, masa masmu datang jauh-jauh suruh berdiri saja diluar." Protes Farel yang belum tau telah terjadi sesuatu didalam. "Mas kangen pingin ketemu Jumirah." Fareal langsung masuk kedalam rumah.


"Wah..., keren banget." Farel kagum melihat isi rumah yang luas dan rapih, banyak terdapat gambar lukisan yang begitu menakjubkan berjejer dengan rapih di-dinding .


"Apa ini hasil karya Jumirah? Dia sungguh luar biasa ya Wik!" Farel tidak henti-hentinya memuji Jumirah.


"I...iya mas, Mbak Jumi memang hebat, Hehehe..." Jawab Dewi sambil tertawa kecil ikut memuji Jumirah, tawa palsu tentunya, dalam hati ia menggerutu menghina Jumirah.


Saat mereka sudah sampai dirumah tengah langkah mereka berhenti ketika melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang dibiarkan terurai, memakai celana jeans panjang berwarna hitam dipadukan dengan kaos berwarna putih dan jaket kulit asli berwarna coklat berjalan sambil menarik koper besar dan mendekap sebuah bingkai foto berukuran sedang.


"Ma... Mas Farel...!" Panggil Jumirah lirih, ia nampak terkejut saat melihat seorang pemuda yang terlihat tidak asing baginya, ia langsung melepas koper yang sedang dipegang dan langsung berlari menghampiri pemuda itu.


"Mas Farel...." Jumirah langsung memeluk Farel. "Hiks..., mas aku kangen, hua...." Tangis Jumirah langsung pecah didalam dekapan kakaknya.


"Hiks.... Mas Farel sudah kembali, hiks...." Jumirah terus menangis menyembunyikan wajahnya di-dada kakaknya. Sedangkan Dewi adik kandung Farel nampak ketakutan, ia mundur beberapa langkah bersembunyi dibelakang punggung ibunya yang juga sudah berada di ruangan itu bersama dengan bapaknya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu dek? Kenapa kamu membawa koper?" Tanya Farel kaget sambil menatap sebuah koper berukuran besar yang ada dibelakang Jumirah.


"Fa...Farel..., kamu sudah pulang nak? Kok kamu bisa tau rumah ini?" Tanya Bu Lasmi nampak gugup.


"Apa yang sabenarnya terjadi? Kenapa kalian seperti orang ketakutan melihatku?" Tanya Farel curiga.


"Mereka telah mengambil alih rumahku mas, rumah yang aku dapatkan bersama Kakek Sebastian dari hasil kerja keras kita menjual lukisan,hiks... sekarang aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi, mereka telah mengambil semuanya dariku." Jumi melepas pelukannya, ia mengadukan perbuatan kedua orang tua dan adiknya kepada Farel, kakak laki-laki yang selalu membelanya saat ia dimarahi atau diperlukan tidak adil oleh kedua orang tua maupun kawan-kawan Jumirah dulu sewaktu Jumirah berada dikampung.


"Apa?" Farel nampak kaget.


Wajah Farel yang tadinya nampak sumringah merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang tua dan kedua adiknya lagi setelah lima tahun ia pergi merantau menjadi TKI di negri seberang. Namun, kini Wajahnya berubah menjadi merah karena marah.


"Bukan seperti itu ceritanya nak, lihat ini... adikmu sendiri yang sudah menandatangani surat pengalihan rumah ini kepada kami, dia sendiri yang menginginkan pergi dari rumahnya padahal kami sudah berusaha menahannya agar dia tidak pergi." Ucap Bu Lasmi berbohong sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang tadi pagi diberikan oleh pengacara.


Mereka ternyata bekerja sama dengan pengacara dan kedua orang tua Aden untuk membuat Jumirah pergi menjauh dari Aden dengan bayaran 1 Milyar membuat mereka gelap mata tidak memperdulikan perasaan Jumirah karena uang yang ditawarkan oleh ibundanya Aden begitu banyak.


"Hah...." Jumirah mengusap air matanya sendiri dengan jarinya, lalu ia menoleh kearah Bu Lasmi, dia tidak menyangka ibunya akan berbicara seperti itu. "Aku... hahaha...." Jumirah hanya bisa tertawa getir. "ya... tidak apa-apa, baik...aku memang yang menginginkan untuk pergi mas, lebih baik aku memang harus pergi, semoga mereka bahagia tinggal dirumah-ku ini." Ucap Jumirah sambil melihat keatas, menatap langit-langit rumah dengan kedua mata kembali berkaca-kaca. "Selamat tinggal Kakek,em...." Ucapnya lagi sambil tersenyum, senyum penuh kesedihan.


"Kalian benar-benar keterlaluan, kenapa kalian jual sawah dan rumah di kampung hah...!" Bentak Farel nampak emosi.


"Darimana kamu tau?" Tanya Bu Lasmi kaget.

__ADS_1


"Kemarin aku pulang ke kampung dan ternyata rumah sudah kalian jual, kata Mbok rondo kalian pergi mencari Jumirah yang katanya sudah menjadi orang sukses di Jakarta, dan berkat informasi dari Joko akhirnya aku menemukan rumah Jumirah." Jelas Farel.


"Rumah dan sawah terpaksa kami jual untuk melunasi utang-utang kami." Jawab Pak Sutejo dengan tegas.


"Membayar utang? Kenapa kalian bisa mempunyai banyak utang? Padahal setiap bulan aku kirim uang untuk kebutuhan kalian sehari-hari dan untuk modal menanam padi juga untuk membayar utang kalian, kemanakan uang selalu aku kirimkan, kenapa kalian masih memiliki banyak utang?" Tanya Farel menatap tajam kearah kedua orang tuanya.


"Kamu mana tau kebutuhan kami selama ini sangat banyak belum untuk membiayai sekolah adik kamu, mana cukup uang yang kamu kirim." Jawab Pak Sutejo dengan suara beratnya sambil melotot kearah Farel.


"Kalian sungguh memalukan, setelah kalian sudah menjual semua yang kalian punya sekarang kalian mengambil hak anak kalian sendiri, ayok dek kita sebaiknya pergi saja dari rumah ini, kamu tenang saja suatu saat nanti kamu akan mengambil rumah ini kembali karena ini memang rumahmu, mereka tidak akan tenang tinggal dirumah yang bukan menjadi hak mereka." Farel menarik koper adiknya, mereka pergi meninggalkan kedua orang tua dan adik mereka.


"FAREL...JAGA UCAPAN KAMU, JANGAN BERBICARA SEPERTI ITU TENTANG KAMI." Bentak Pak Sutejo dengan suara keras, beliau nampak begitu marah dengan ucapan anak laki-lakinya tapi tidak dihiraukan oleh Farel yang lebih memilih untuk pergi sambil menarik koper milik Jumirah, tangan yang satunya menggandeng tangan Jumirah meninggalkan orang tua dan adik kandungnya yang sudah kelewatan.


"Farel tunggu nak jangan pergi dulu kita baru saja bertemu!" Seru Bu Lasmi menarik tangan anak laki-lakinya.


"Lepas bu, maaf aku tidak bisa tinggal bersama kalian yang ternyata begitu serakah." Ucap Farel melepaskan tangan ibunya yang sedang menggenggam tangannya. Mereka pergi dengan berjalan kaki meninggalkan rumah Jumirah, dengan sebuah tas ransel berukuran sedang dipunggung Farel dan sebuah koper besar milik Jumirah yang juga ditarik oleh Farel.


"Kita mau kemana mas?" Tanya Jumirah yang merasa bingung kemana kakaknya hendak membawanya.


"Untuk sementara kita cari kontrakan dulu didaerah sekitar sini." Ucap Farel.


"Kita istirahat dulu disana yok!" Ajak Farel yang sudah nampak kelelahan menggendong tas ranselnya yang lumayan berat belum ditambah menarik koper adiknya yang juga lumayan berat. Mereka akhirnya berhenti di sebuah bengkel untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2