Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 75. Tersipu malu.


__ADS_3

"Motor gue dicuri orang." Jawab Dewi sambil sempoyongan berjalan meninggalkan Choirul yang masih berdiri ditempat semula.


"Kok bisa? Ayok gue antar pulang!" Ucap Choirul mengejar Dewi.


"Gak perlu, gue bisa pulang sendiri." Balas Dewi persikap cuek.


"Sudah jangan ngeyel, gue antar." Choirul menarik tangan Dewi. Choirul membuka jaket yang ia pakai lalu diberikan kepada Dewi yang memakai kaos pendek dan ketat, sehingga terlihat dengan jelas lekuk tubuh Dewi dan dua buah gundukan di-dadanya yang menonjol membangunkan nafsu kaum laki-laki.


"Pakailah ini, jangan biasakan memakai baju seperti itu jika berada diluar rumah, bahaya Wik, untung gue tadi lewat dan lihat lo sedang diganggu mereka, kalau gak lo bisa habis menjadi santapan sahur para pemuda tadi yang sepertinya haus akan sentuhan seorang wanita seperti lo." Nasehat Choirul.


"Em..." Dewi menundukkan kepala sambil memakai jaket milik Choirul, ia mengikuti langkah kaki Choirul menuju motornya yang terparkir di pinggir jalan.


"Memangnya mase sendiri darimana mau kemana tadi?" Tanya Dewi setelah mereka sudah berada diatas motor.


"Tadinya gue mau kerumah teman gue, mau ikut sahur bersama mereka." Jawab Choirul jujur.


"Hah... ya sudah sana kalau mau pergi kerumah teman mase, biar gue nyari ojek saja!" Perintah Dewi merasa tidak enak.


"Sudah gak apa-apa, lagian gue juga gak pernah puasa tapi karena teman gue nyuruh datang kesana buat makan sahur bersama mereka ya sudah gue datang aja. Kan yang penting makan, hehehe." Jelas Choirul sambil cengengesan.


"Ish... mase!" Ucap Dewi tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Lo memangnya darimana tadi? Kok jam segini baru pulang?" Tanya balik Choirul sambil menjalankan motornya.

__ADS_1


"Gue habis kumpul bareng teman-teman, tapi saat gue mau pulang, motor gue lenyap sedang teman-teman gue sudah pada kabur dengan motor mereka masing-masing. Bukan hanya motor gue saja yang lenyap, tapi tas, dompet sama handphone gue juga ikut lenyap." Jawab Dewi.


"Hah... kok bisa? Wah... teman lo gak beres tuh! Pasti mereka sudah merencanakan untuk mengambil semua yang lo punya." Ucap Choirul merasa terkejut dengan penjelasan Dewi.


"Bede**bah mereka memang, awas saja besok gue mau bikin perhitungan dengan mereka." Ucap Dewi dengan penuh emosi.


"Lho... mase kok bisa tau sih kalau gue tinggal di sini?"Tanya Dewi merasa kaget ketika menyadari kalau dirinya sudah berada didepan rumahnya sendiri (eh..., ralat, bukan rumah Dewi tapi rumah Jumirah yang diambil secara licik oleh Dewi dan kedua orangtuanya. 🤭)


Choirul menjalankan motornya menuju rumah Jumirah yang dulu, karena ia yakin jika Dewi pasti tinggal dirumah itu, Baldatun sudah menceritakan semuanya tentang Dewi dan kedua orangtuanya yang telah mengambil dan menguasai rumah Jumirah. Namun, ia tidak bisa membenci gadis remaja itu karena menurut Choirul Dewi adalah seorang gadis remaja yang seperti hilang arah, membutuhkan seseorang untuk membimbing dan membantu menemukan jalan yang benar untuk hidupnya. Choirul menghentikan motornya didepan rumah milik Jumirah dulu. Dewi masih bengong tidak percaya kalau pemuda tampan yang sudah menolongnya dua kali itu bisa dimana rumahnya padahal ia tidak pernah mengatakan dimana ia tinggal.


"Sudah jangan bengong, cepetan masuk sana, ya sudah gue pamit pulang." Ucap Choirul sambil tersenyum menatap wajah Dewi yang sabenarnya sangat manis, tapi sayang, dia gadis sombong dan jutek membuat wajah manisnya jadi hilang karena sifatnya itu.


"Em... ma... makasih mase, ayok mampir dulu mase!" Kata Dewi agak gugup.


"Besok-besok saja deh, gue cuma berpesan satu hal. Tolong jangan berpakaian seperti itu lagi jika lo hendak keluar rumah Wik, lo sabenarnya sangat manis, apalagi jika lo berpakaian tertutup pasti lo kelihatan lebih manis." Kata Choirul dengan suara lembut sambil tersenyum manis menatap Dewi membuat gadis remaja itu jadi tersipu malu.


"A... a... apaan sih!" Dewi jadi semakin gugup, wajahnya jadi berubah merah karena malu.


"Hehehe... lo sungguh menggemaskan kalau lagi malu-malu meong seperti itu Wik." Ledek Choirul kembali menggoda Dewi. Bagi seorang Choirul soal merayu seorang wanita tidaklah sulit, apalagi gadis remaja seperti Dewi, karena Chairul rajanya menaklukkan hati wanita dengan kata-katanya yang lembut dan manis bikin ser-ser Jantung para wanita yang mendengarnya.


Klek... klek....


Terdengar suara pintu rumah dibuka oleh seseorang dari dalam.

__ADS_1


"Wah... sepertinya calon mertua sudah bangun, ya sudah gue tinggal dulu ya Wik, gue belum siap disidang hari ini, pasti mereka mengira gue yang sudah ngajak lo jalan hingga pulang sepagi ini, gue belum siap jika harus bertanggung jawab hari untuk nikahi lo karena sudah dikira melakukan anu sama lo!" Ucap Choirul asal.


"Hah... melakukan anu? Anu apa mas?" Tanya Dewi bingung dengan maksud ucapan Choirul.


"Nanti lo juga bakal tau sendiri kalau sudah dewasa Wik!"


"Eh... gu... gue...!" Dewi tidak menyelesaikan ucapannya karena Choirul sudah bergegas pergi setelah mendengar pintu rumah seperti ada yang membuka dari dalam.


"Eh... mase... jaketnya!" Teriak Dewi saat menyadari jaket milik Choirul masih ia pakai tapi, Choirul sudah terlanjur jauh sehingga tidak mendengarkan teriakan dari Dewi.


"Apa dia bilang tadi? Gue belum dewasa? Hah...," gumam Dewi lirih sambil berkacak pinggang saat mengingat ucapan terakhir dari Choirul.


"Ealah Wik... kamu darimana ndu'? Kok jam segini baru pulang, mana motor kamu ndu'?" Tanya Bu Lasmi setelah pintu rumah dibuka merasa terkejut melihat anak gadisnya sudah berdiri didepan pintu.


"Dicolong orang." Jawab Dewi singkat langsung nyelonong masuk kedalam rumah.


"Hah... maksudnya apa Wik? Aduh...!" Bu Lasmi tiba-tiba merintih kesakitan sambil memegangi dadanya sendiri.


"Bu, ibu kenapa bu?" Tanya Dewi jadi panik berlari menghampiri Bu Lasmi yang sepertinya sedang menahan rasa sakit.


"Tolong ambilkan obat ibu nak!" Perintah Bu Lasmi sambil berjalan dibantu Dewi menuju sofa ruang tamu, Dewi bergegas lari keruang tengah untuk mengambil obat penyakit jantung yang diberikan oleh dokter beberapa hari yang lalu setelah sebelumnya membantu sang ibu duduk di sofa ruang tamu.


Sementara ditempat lain terlihat seorang laki-laki paruh baya sedang berada didalam mobil dengan seorang supir pribadinya yang mengemudikan mobil menuju kesuatu tempat, beliau adalah Tuan Alex Fernandez, wajahnya terlihat datar dan dingin.

__ADS_1


"Sialan, kalian berani main-main denganku rupanya, heh... tidak bakalan aku biarkan kalian mengusik perusahaan yang sudah susah payah aku kembangkan hingga sebesar seperti sekarang ini." Gumam Alex sambil menahan amarahnya.


"Kita mau kemana pak?" Tanya supir pribadi Alex Fernandez yang belum diberitahu oleh tuannya itu kemana mereka akan pergi. Tanpa Alex sadari dibelakang ada sebuah mobil yang diam-diam mengikuti mobilnya.


__ADS_2