
"Hiks... hiks... hiks... anak-anak, kalian dimana?" Ucap Jumirah terlihat begitu sedih duduk seorang diri disebuah taman tempat dimana ia bertemu dengan anak-anak jalanan itu, ditempat itu pula pertama kali Jumi mengajarkan anak-anak itu menggambar dan melukis.
"Seandainya ada yang bisa aku lakukan untuk bisa mengembalikan senyummu." Jumirah merasa terkejut saat tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Hah...!" Jumirah langsung menoleh, terlihat seorang laki-laki tampan tau-tau sudah duduk disampingnya.
"Ma...mas...!" Jumirah membulatkan matanya dengan sempurna karena kaget, ia segera bangkit untuk meninggalkan laki-laki itu.
"Jum... tolong jangan pergi." Laki-laki itu langsung menarik tangan Jumirah dan menggenggamnya dengan erat.
"Maaf tolong lepaskan tanganku, aku harus pergi." Jumirah memutar tangannya agar terlepas dari genggaman tangan laki-laki yang tidak asing lagi bagi Jumirah, dia adalah Aden, mantan kekasihnya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu lagi." Jawab Aden kembali menarik tangan Jumirah hingga akhirnya Jumirah pun kembali duduk di tempat semula.
"Ekhem... apa mau mu mas? Ke... kenapa kamu tiba-tiba ada disini?" Tanya Jumirah mengatur nafasnya berusaha bersikap tenang, ia berbicara tanpa melihat wajah laki-laki yang sedang duduk disampingnya, sedang tangan kanan dia masih digenggam mantan kekasihnya itu.
Sret...
Tidak perduli dilihat oleh banyak orang, Aden kembali menarik tangan Jumirah hingga tubuh Jumi menempel ditubuhnya, lalu Aden mendekap tubuh Jumirah kedalam pelukannya.
"Mas Aden tolong lepaskan aku, banyak yang melihat kita." Jumirah menggerak-gerakkan tubuhnya memukul dada Aden agar mau melepaskan dirinya.
"Izinkan aku seperti ini sebentar Jum, aku sangat merindukanmu sayang, aku tidak pernah berhenti memikirkan kamu, aku sangat mencintaimu ." Ucap Aden lirih malah mempererat pelukannya.
"Maafkan aku jika aku sudah bersikap kurang ajar, aku ...!"
Plak....
Jumirah menampar pipi Aden saat laki-laki itu melepas pelukannya.
"Anda pikir aku perempuan apa tuan? Maaf aku tidak akan mudah anda permainkan lagi, jangan pernah mengatakan kata cinta didepan ku lagi karena aku sudah tidak percaya dengan kata itu." Ucap Jumirah langsung bangkit dari duduknya dan segera berlari menjauh dari Aden.
"Jum ...." Aden tidak mau menyerah begitu saja, ia langsung mengejar Jumi, dengan langkah panjangnya, tidak lah susah baginya untuk mengejar seorang Jumirah. Ditariknya tangan Jumi, Aden menggenggam kedua tangan Jumirah dan dijadikan satu kebelakang saat Jumirah berusaha memberontak, sekarang Jumirah benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa, jantungnya berdebar kencang saat wajah Aden begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Ma...mau apa kamu!" Ucapnya ketus sambil memalingkan wajahnya, tapi dengan cepat tangan Aden yang satunya memegang pipi Jumirah, dipalingkan kembali wajah Jumi agar menghadap kearahnya lagi.
Deg....
Jantung Jumi seakan berhenti saat kedua mata mereka bertemu, seperti terhipnotis Jumirah tidak bisa menolak saat dengan tiba-tiba Aden mencium bibirnya dengan lembut, ia tidak bisa melawan karena kedua tangannya berada dalam genggaman laki-laki yang saat ini sedang mendekap tubuhnya.
"Maaf sayang, aku tidak bisa menahan diri,aku benar-benar mencintai kamu, aku tidak akan mempermainkan atau membohongi kamu lagi." Ucap Aden dengan satu tangannya masih menggenggam tangan Jumirah yang dijadikan satu kebelakang Jumi.
"Hiks.." Jumirah tidak bisa berkata apa-apa dia hanya bisa menangis antara bahagia dan sedih.
"Sayang, maafkan aku, jangan pernah menangis lagi." Aden melepas genggamannya,ia kembali mendekap tubuh Jumirah dengan erat.
"Hua ...." Jumi mengencangkan tangisannya.
Ditempat lain.
"Haduh Jon, bagaimana ini, dia harus segera dibawa kerumah sakit, badannya panas sekali." Ucap seorang anak perempuan yang suka dipanggil kepala suku oleh teman-temannya sambil memangku seorang bocah perempuan yang diperkirakan baru berusia lima tahun.
Brak... brak... mak ompong... bukain pintunya... emak...!" Teriak Joni sambil menendang dan memukuli pintu dengan tangan kecilnya.
Klek...klek...
Ceklek....
Pintu dibuka oleh seseorang dari luar.
"Woy... berisik, ngapain lo bocah!" Bentak seorang laki-laki bertubuh kekar setelah membuka pintunya.
"Bang gondrong tolong bang, Sisil sakit, cepetan abang harus bawa dia kerumah sakit kalau gak dia bisa mati!" Teriak Joni dengan suara keras.
"Bodoh amat, mau mati kek terserah... gue tidak perduli, mati ya tinggal dikubur susah amat." Jawab laki-laki itu tampak cuek.
"Dasar bang gondrong gak punya perasaan, uh... rasakan." Teriak Joni dengan penuh keberanian langsung menendang kaki laki-laki itu.
__ADS_1
"Heh... bocah cilik, berani lo sama gue?" Laki-laki itu melintir tangan Joni kebelakang.
"Aaa...aduh bang sakit!" Teriak Joni kesakitan tangannya dipelintir oleh laki-laki berbadan kekar dan berambut gondrong itu.
"Makanya jangan sok jagoan!" Bentak laki-laki itu melepas dan menghempaskan tangan Joni dengan kasar, lalu ia mendorong tubuh Joni hingga terpental kebelakang.
"Aw..." Joni meringis kesakitan.
"Joni...!" Teriak teman-teman Joni langsung menghampiri dan menolong Joni berdiri.
"Hahaha... tenaga kayak kerupuk melempem seperti itu aja mau bersikap sok jagoan," ucap laki-laki berbadan kekar serta memiliki rambut gondrong sambil tertawa mengejek Joni.
"Cih... awas saja ya bang, nanti kalau sudah gede lo bakal gue bikin rujak bebek." Ucap Joni dengan polosnya,dari belakang teman-teman Joni nampak cekikikan menahan tawa mereka mendengar ucapan bocah laki-laki yang memiliki keberanian seperti seorang laki-laki dewasa.
"Apa lo kate? Berani lo ngatain gue? Heh bocah curut! ngimpi tuh dimalam hari jangan disiang bolong seperti ini!" Seru laki-laki itu sambil tersenyum sinis kearah Joni yang terlihat sok kuat petentengan sambil berkacak pinggang menatap tajam kearah dirinya, laki-laki itu mendadak merinding saat melihat sorot mata bocah laki-laki yang bernama Joni, sorot mata tajam seperti seekor singa siap menerkam mangsanya.
"Bocah itu." Gumam laki-laki berambut gondrong sambil menatap Joni, dalam lubuk hatinya yang terdalam sabenarnya ia merasa kagum dengan keberanian yang dimiliki Joni, dengan usia dan badannya yang masih sangat kecil tapi ia memiliki keberanian luar biasa.
"Ada apa ribut-ribut." Terdengar suara perempuan dari depan pintu.
"Mak... emak harus membawa dia kerumah sakit, badannya panas sekali, dia bisa mati kalau tidak diobati!" Seru Joni saat melihat seorang perempuan paruh baya memasuki ruangan mereka.
"Hah...." Perempuan yang suka dipanggil emak ompong itu langsung berjalan dengan langkah cepat menghampiri anak-anak yang sedang duduk menjadi satu dilantai.
"Ada apa dengannya?" Tanya perempuan paruh baya itu.
"Sudah jelas dia sakit, emak bagaimana sih? Pakai tanya lagi!" Seru Joni tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Perempuan paruh baya itu menempelkan telapak tangannya di kening bocah perempuan yang berada dipangkuan anak perempuan yang satunya.
"Hah... panas sekali badannya," gumamnya lirih.
"Kalian jangan ribut,awas jangan ada yang berani keluar dari sini, aku akan membawa anak ini kerumah sakit." Bentak perempuan paruh baya sambil membopong tubuh mungil bocah perempuan tadi.
__ADS_1