
"Dia..." Gumam Aden lirih saat melihat seorang wanita memakai jilbab pashmina panjang berwarna hitam berdiri menatap gedung sekolah melukisnya yang sudah hangus terbakar.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Farel dengan suara ketus menatap pemuda itu dengan tatapan penuh kewaspadaan membuat wanita yang sedang berdiri membelakangi pemuda yang baru datang dengan seorang gadis remaja itu langsung menoleh kearah mereka.Mereka adalah Aden dan adik perempuannya, Margaretha.
"Ma... Mas Aden!" Panggil wanita berjilbab nampak terkejut dengan suara gelagapan.
"Jum..." Panggil Aden, saat ia hendak melangkah ingin menghampiri wanita pujaannya langsung dihalangi oleh Farel.
"Jangan dekati dia, pergilah kamu dari sini!" Usir Farel tidak ingin laki-laki itu mendekati adiknya.
"Aku ikut prihatin dengan apa yang terjadi, maaf aku harus bicara dengannya mas, tolong biarkan aku menemuinya, aku ingin meminta maaf." Ucap Aden tidak mau pergi." Jum, tolong maafkan aku, aku sudah tahu semuanya, ternyata kedua orang tua dan adikmu yang sudah menjebak kamu saat berada di-hotel atas perintah ibuku." Kata Aden dengan wajah sendu menatap wanita yang ada didepannya, wajahnya terlihat begitu pucat.
"Jum... kembalilah bersamaku, mari kita mulai dari awal, aku ingin selalu ada untukmu, kita hadapi masalah ini bersama." Aden menarik tangan Jumirah." Bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan aku."
"Maaf mas, tolong jangan ganggu aku lagi,aku sudah tidak mencintaimu, aku sangat membencimu dan tidak ingin melihatmu lagi, pergilah." Ucap Jumirah sambil melepas genggaman tangan Aden dari tangannya.
"Tidak mungkin, kamu pasti berbohong." Aden tetap tidak mau pergi.
"Sebaiknya kita pulang saja dek,aku gak mau kamu kembali terluka karena laki-laki itu." Farel menarik tangan Jumirah untuk menjauh dari Aden, sedangkan Aden hanya diam saja menatap kepergian Jumirah dan Farel.
"Kakak... tolong maafkan Kak Aden kak, dia sangat mencintaimu kak," teriak Margaretha berlari mengejar Jumirah dan Farel.
"Retha... berhentilah mengejar mereka,ini semua kesalahan kakak, kakak yang salah, kakak tidak pantas dimaafkan, Retha... berhenti, ayok kita pulang saja!" Perintah Aden yang lebih memilih untuk kembali ke mobilnya.
"Tidak... aku akan membantu kakak untuk mendapatkan Kak Jumi lagi." Teriak Margaretha sambil berlari mengejar Jumirah yang sudah berjalan jauh bersama Farel.
"RETHA...!" Teriak Aden tapi tidak didengarkan oleh Margaretha yang sudah sangat geram melihat kakaknya selalu terlihat sedih dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Retha!" Panggil Jumirah lirih." Sebentar mas, biarkan aku menemuinya."
"Tapi... mereka...."Ucap Farel nampak khawatir.
"Percayalah." Ucap Jumirah sambil tersenyum manis menatap wajah Fareal membuat Farel jadi luluh hatinya saat melihat senyum adiknya yang meneduhkan.
__ADS_1
"Ada apa Retha?" Tanya Jumirah dengan suara lembut menatap adik dari mantan kekasihnya.
"Kakak, kembalilah bersama Kak Aden lagi, aku tidak tega melihat kak Aden terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri. Dia sangat menyesal setelah mengetahui kebenarannya, aku mohon kak, hanya kakak wanita yang dicintainya," jelas Margaretha dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Maaf Retha untuk saat ini aku tidak bisa, hatiku masih sakit jika mengingat apa yang sudah terjadi, percuma menjalin sebuah hubungan jika tidak ada kepercayaan terhadap pasangannya, yang ada kita akan terus menyakiti pasangan kita sendiri." Ucap Jumirah dengan tegas menolak keinginan Margaretha.
"Tapi kak...!" Seru Margaretha.
"Maaf Retha, kakak mohon tolong mengertilah perasaan kakak, untuk saat ini kakak belum berfikir untuk menjalin hubungan asmara dengan siapapun, kakak hanya memikirkan nasib anak-anak yang belum diketahui keberadaannya, kakak sangat berterimakasih kalau kalian mau membantu kakak mencari keberadaan mereka, hanya mereka yang bisa mengobati luka kakak, hanya mereka yang mampu membuat kakak bahagia."
"Sebegitu pentingkah anak-anak itu untuk kakak Jumi?" Tanya Margaretha.
"Mereka sangat penting dalam hidupku, merekalah alasan aku untuk tetap hidup." Setelah mengucapkan itu Jumirah bergegas pergi bersama Farel dengan berboncengan motor. Sedangkan Margaretha berjalan dengan gontai menghampiri Aden yang sedang duduk di kursi kemudi sambil memainkan ponselnya. Aden menoleh kearah adik perempuannya yang terlihat murung tidak bersemangat.
"Sudahlah dek, ayok masuk!" Ucap Aden yang mengerti kalau adiknya gagal merayu Jumirah.
Di tempat lain.
"Uh...kita harus cepat pergi dari sini." Bisik seorang anak laki-laki sambil berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu.
"Hiks... aku pingin keluar dari sini kak, hiks...." Tiba-tiba seorang anak perempuan yang diperkirakan baru berusia lima tahun menangis.
"Tenanglah dek, aku akan mencari cara agar kita bisa keluar dari sini." Kata anak laki-laki dengan penuh percaya diri berusaha menenangkan anak perempuan yang sedang menangis, anak laki-laki itu adalah Joni, ya... mereka anak-anak jalanan yang hilang itu.
Kejadian malam itu sebelum terjadi kebakaran.
Teeet....
Saat mereka sedang tertidur pulas tiba-tiba terdengar suara bel.
"Jon... Jon...!" Panggil teman Joni yang tidur bersamanya.
"Apa sih...?"Jawab Joni menggeliat tanpa membuka matanya.
__ADS_1
Teeeet...teeet....
Terdengar suara bel lagi membuat semua anak yang sedang tertidur langsung bangun, mereka beramai-ramai keluar dari dalam kamar mereka masing-masing.
"Siapa yang datang ya malam-malam begini?" Ucap seorang anak perempuan yang terlihat paling besar diantara anak-anak yang lain. "Mana Joni?"
"Noh... masih ngorok!" Jawab salah seorang anak laki-laki yang tidur satu kamar dengan Joni.
"Waduh nih bocah, Jon bangun Jon." Panggil anak perempuan itu sambil menarik-narik kali Joni.
Brag....
"Aaa...."
Tiba-tiba ada yang mendobrak pintu membuat semua anak-anak yang ada didalam berteriak bersamaan.
"Ada apa?" Joni langsung loncat dari ranjang berlari menghampiri teman-temannya yang terlihat ketakutan.
"Em... mak!" Seru Joni saat melihat seorang perempuan paruh baya dan beberapa orang berbadan tinggi besar tiba-tiba ada didalam.
Anak-anak yang lain saling berpelukan karena ketakutan.
"Hai emak ompong, ngapain emak kesini?" Tanya Joni dengan penuh keberanian.
"Hahaha... dasar anak nakal, tidak tau balas budi, kenapa kalian pergi, ayok kembali cari uang yang banyak, kalian sudah lama tidak setoran, kalian cepat bawa mereka semua!" Perintah perempuan paruh baya itu kepada anak buahnya.
"Tidak... aku tidak mau kembali kesana,aku tidak mau mengemis lagi... iya... aku juga... aku juga tidak mau mengemis lagi,aku mau tinggal disini saja." Terdengar teriakan dari anak-anak itu memberontak membuat perempuan yang dipanggil emak ompong jadi geram. ia mengeluarkan senjata apinya.
"Diam... kalian tau apa ini? Sekali lagi kalian berteriak maka peluru yang ada didalam sini bakal menembus jantung kalian, ayok ikut kalau tidak besok kalian tidak akan melihat kakak kalian yang bernama Jumirah itu karena dia juga akan emak tembak dengan menggunakan senjata ini. "Ancam perempuan itu membuat anak-anak langsung diam karena takut.
"Tidak... jangan sakiti kakak Jumi!" Bentak Joni terlihat sangat marah.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau lihat perempuan itu celaka ayok ikut emak jangan ada yang berani melawan!"
__ADS_1
Mereka digiring ke dalam mobil mereka tanpa perlawanan karena merasa takut dengan ancaman dari perempuan paruh baya itu.
Setelah memastikan semua anak-anak sudah masuk kedalam mobilnya, perempuan itu memerintahkan anak buahnya untuk membakar gedung tempat tinggal mereka sekaligus tempat mereka belajar melukis.