
"Anak-anak, bagaimana keadaan Mas Aden?Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Jumirah saat ia teringat dengan laki-laki pujaan hatinya yang kemarin terluka parah.
"Aku disini." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki saat Jumirah merasa panik memikirkan keadaan kekasihnya, semua menoleh ke sumber suara.
"Hiks...."Jumirah langsung terisak melihat seorang pemuda tampan sedang berjalan mendekati dirinya, terlihat sebuah perban membungkus pipi dan keningnya.
"Hua..." Tangisnya langsung pecah saat pemuda itu duduk disampingnya. Jumirah langsung memeluk tubuh pemuda tampan itu sambil menangis.
"Hehehe... udah dong jangan nangis seperti itu," ucap Aden sambil tertawa kecil melihat sikap Jumirah yang bertingkah seperti anak kecil.
"Seorang anak perempuan menyenggol Joni dan dua temannya yang lain memberi isyarat supaya keluar dari kamar memberi kesempatan untuk kedua pemuda itu berduaan.
"Kami keluar dulu ya kak,mau lihat keadaan Sisil.Kata Murni langsung menarik Joni, diikuti oleh dua temannya yang lain.
"Eh... kok kalian mau pergi sih? Baru juga datang." Protes Jumirah.
"Kata siapa kami baru datang, kami sudah dari tadi disini nungguin kakak bangun, kakak yang bangunnya kesiangan." Ucap Murni lagi, mereka pun berlari keluar kamar meninggalkan dua pasang kekasih itu.
"Hai...lo! Jangan macam-macam sama Kakak Jumi, awas lo!" Ancam Joni sambil menatap tajam kearah Aden ketika sudah berada didepan pintu.
"Udah ayok!" Murni menarik tangan Joni.
"Awas jangan macam-macam dengan Kakak Jumi kalau gak lo bakal berhadapan sama gue!" Seru Joni kembali mengancam Aden, lalu iapun keluar dari dalam kamar inap Jumirah saat ini sedang dirawat.
"Wow... anak itu sangat menakutkan, masih kecil tapi cara bicaranya sudah seperti bapak-bapak." Ucap Aden setelah ke-empat anak-anak itu sudah keluar.
"Hehehe... mas jangan macam-macam sama dia, kecil-kecil si cabe rawit dia!" Kata Jumirah sambil terkekeh.
"Sepertinya aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan wanita pujaan ku ini, karena dia memiliki bodyguard-bodyguard yang luar biasa tangguh-tangguh." Goda Aden sambil tersenyum menatap Jumirah, sedang yang ditatapnya langsung menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu,wajahnya tampak merah.
Jumirah mengangkat wajahnya memberanikan diri untuk menatap wajah kekasihnya.
__ADS_1
"Em... apa itu sakit?" Tanya Jumi menyentuh sebuah pembungkus luka yang menempel di kening dan pipi Aden.
"Enggak," Aden tersenyum menatap wajah kekasihnya yang tampak malu-malu.
"Ah Mas Aden bohong,aku yakin itu pasti sakit." Ucap Jumirah sambil mengerucutkan bibirnya, sedangkan tangan Jumirah masih menyentuh perban yang menempel di pipi Aden, memeriksa luka kekasihnya itu.
"Kata siapa ini sakit, luka ini tidak seberapa sakitnya dibandingkan saat wanitaku ini pergi meninggalkan aku dulu, sakitnya disini." Aden menggenggam tangan Jumirah dan ditempelkan di-dadanya.
"Sayang... maafkan aku, jangan pernah pergi lagi." Ucap aden diangkatnya tangan Jumirah lalu dikecupnya punggung tangan itu dengan lembut membuat si-pemilik tangan jadi semakin salah tingkah.
"Bukannya Mas Aden yang ninggalin aku?" Protes Jumirah memalingkan wajahnya tidak mau disalahkan karena kenyataannya Aden lah yang sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Iya maaf." Aden memegang pipi Jumirah,ia memalingkan wajah Jumirah lagi dengan kedua tangannya agar menghadap kearahnya.
"Em... Mas mau apa?" Tanya Jumirah ketika Aden mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Jumirah.
"Aku sangat bahagia akhiratnya kita bisa kembali seperti dulu," ucap Aden sambil mengusap lembut pipi Jumirah, kedua matanya fokus ke bibir merah milik Jumi yang sudah dari kemarin ingin dikunjungi." Sekarang sudah tidak ada siap-siap, boleh ya? Aku sangat merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu."
"Eh... em... jangan, Allah melihat ki...." Belum selesai bicara Aden sudah mencium bibirnya membuat Jumirah sangat terkejut bagai tersengat listrik. jantungnya berdetak tak karuan, hening... tidak ada yang bersuara hanya terdengar nafas mereka yang begitu cepat seperti sedang lomba lari maraton.
"Hiks... ini air mata kebahagiaan mas,aku sangat bahagia." Jawab Jumirah sambil terisak.
"Sayang...." Aden langsung mendekap tubuh Jumirah.
Tanpa mereka sadari dari tadi ada seseorang dibalik pintu yang mendengar percakapan mereka. Dia adalah Farel.
"Jumi... jika memang dia yang bisa membuatmu bahagia, baiklah aku ikhlas." Gumam Farel dalam hati sambil menyenderkan tubuhnya ditembok dengan kedua mata terpejam berusaha menahan air matanya agar tidak keluar dari tempatnya, ia membuka matanya perlahan dan membuang nafasnya dengan kasar lalu bergegas pergi.
"Mas Farel...!" Panggil Baldatun yang baru datang bersama Choirul.
"Hai Da." Sapa Farel sambil tersenyum yang dipaksakan.
__ADS_1
"Kok Mas Farel mau kemana? Bagaimana keadaan Jumirah?" Tanya Baldatun menghentikan langkahnya saat sudah didepan Farel.
"Aku mau pulang dulu Da, Jumi sepertinya sudah membaik, jangan bilang ke dia ya kalau aku habis dari sini, soalnya dia tidak tau aku datang kesini." Pesan Farel.
"Lho kenapa mas?" Tanya Baldatun dan Choirul penasaran.
"Hehehe... gak ada apa-apa, tadinya aku mau menemuinya tapi melihat dia baik-baik saja aku mau pulang saja, kalian beneran jangan bilang kalau aku datang kesini, ya sudah aku tinggal ya."Fareal bergegas pergi meninggalkan dua pemuda yang masih terbengong-bengong merasa heran dengan sikap Farel.
"Ada apa dengannya ya Rul?" Tanya Baldatun menatap sahabatnya merasa bingung.
"Entahlah....!" Jawab Choirul mengangkat kedua bahunya sama-sama tidak tau.
Sementara didalam kamar inap terlihat sepasang kekasih tampak bahagia, hati mereka dipenuhi bunga-bunga asmara yang bermekaran.
"Boleh bicara jujur gak? Kamu sekarang jadi tambah cantik setelah memakai hijab, terlihat lebih dewasa dan anggun.Berarti yang aku lihat di cafe waktu itu beneran kamu ya?" Tanya Aden masih menggenggam tangan Jumirah.
"Hah... di cafe?"Jumirah mengerutkan keningnya terlihat sedang berfikir."
"Saat itu sepertinya kamu sedang membicarakan sesuatu dengan beberapa orang, kalau dilihat dari penampilannya mereka orang-orang penting," jelas Aden.
"Oh... iya, waktu itu mas Aden datang bersama seorang perempuan,apa dia pacar Mas Aden?Aku sudah beberapa kali bertemu dengan perempuan itu, sepertinya Nyonya Claudia sangat berharap kalian bakal menikah, apa kalian akan menikah?" Tanya Jumirah dengan wajah sendu.
"Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan kamu sayang, aku akan menikah hanya dengan kamu seorang." Jawab Aden menatap dengan intens wajah Jumirah.
"Tapi Nyonya Claudia bilang...."
"Hus... jangan pernah dengarkan dan percaya apapun dari orang lain termasuk kedua orang tuaku, kamu harus percaya denganku, aku tidak akan pernah menikah dengan perempuan manapun selain kamu seorang bidadariku." Ucap Aden membuat Jumirah jadi tersipu malu, Aden menarik hidung Jumirah karena gemas.
"Ih... Mas aden...!" Ucap Jumirah manja mengusap hidungnya sendiri sambil memalingkan wajahnya.
"Heit... jangan berani-berani memalingkan wajahmu dariku!" Aden memegang kedua pipi Jumirah memalingkan wajahnya kembali untuk menatap wajahnya."
__ADS_1
"Mas Aden aku malu." Kata Jumirah lirih dengan suara manja. Aden kembali mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium bibir kekasihnya tapi tiba-tiba....
"Eghem...." Terdengar suara deheman dari seseorang mengagetkan sepasang kekasih yang hendak berciuman itu.