
"Terserah aku mau melakukan apa terhadap mereka karena mereka adalah milikku, nasib mereka ada di tanganku, dan kamu... karena kamu sudah mencampuri urusanku maka kamu harus diberi pelajaran, kamu juga harus bekerja menggantikan apa yang sudah kamu ambil dariku, gara-gara ulah kamu aku jadi kehilangan sumber pendapatan." Ucap perempuan paruh baya itu menatap tajam kearah Jumirah.
"Hah...apa? Hahaha... kok ada ya, perempuan seperti anda, kata Jumi sambil tertawa mengejek." Anda merasa mereka adalah milik anda,anda selalu bilang mereka adalah anak-anak anda. Kalau memang benar mereka adalah anak-anak anda seharusnya anda perlakuan mereka dengan baik, dengan penuh kasih sayang, jangan bersikap kasar seperti tadi, anak adalah titipan yang harus kita jaga, dididik, diberi ilmu yang bermanfaat agar mereka tumbuh menjadi anak yang berakhlak.
Jangan karena merasa kita sebagai orang tua mereka, terus kita bisa berbuat seenaknya, mengatur dan menguasai mereka, berilah mereka kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk berkarya, mengeluarkan imajinasi mereka, biarkan mereka bergerak melakukan apa yang mereka mau, sebagai orang tua kita cukup mengawasi dan membimbingnya agar mereka tidak salah melangkah." Nasehat Jumirah.
"Diam kamu, jangan sok menceramahi aku,"perempuan itu menarik jilbab yang dipakai Jumirah dengan kasar.
"Cih... anda benar-benar perempuan menjijikan, aku sumpahin agar anda membusuk dipenjara." Ucap Jumirah menatap perempuan itu dengan tatapan penuh kebencian.
Plak...
Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Jumirah oleh perempuan itu dan satu tangannya lagi masih menggenggam jilbab Jumirah, dengan kasar didorongnya tubuh Jumirah hingga jatuh tersungkur kebelakang dengan keadaan jilbabnya yang miring hampir terlepas dari kepalanya, pipinya berubah warna menjadi gelap keunguan akibat tamparan cukup keras dari perempuan paruh baya itu.
"Sesering apapun anda memukul dan menamparku, aku tidak akan pernah merasa takut, aku malah akan semakin ingin melawan dan menjebloskan anda ke penjara." Ucap Jumirah dengan penuh keberanian.
"Hahaha... coba saja kalau bisa." Ucap perempuan paruh baya itu sambil tertawa terbahak-bahak, lalu ia membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu.
Brak... ceklek... ceklek...
Pintu ditutup dengan kasar lalu dikuncinya kembali.
"Kak Jumi... kakak tidak apa-apa?" Tanya anak-anak menghampiri Jumirah.
"Kakak tidak apa-apa, bagaimana dengan Joni?"Jawab Jumi malah mengkhawatirkan keadaan Joni.
"Joni tidak apa-apa kak, kakak tenang saja, Joni anak laki-laki jadi harus kuat agar bisa melindungi kalian semua." Jawab Joni penuh percaya diri sambil menepuk dadanya sendiri.
"Bagus Joni," ucap Jumirah sambil menunjukkan jempolnya.
Ditempat lain.
__ADS_1
"Apa...? kurang ajar! Cepat kamu cari keberadaan mereka, hajar mereka semua yang sudah berani menyakiti anakku." Kata seorang perempuan dipanggilan telpon. Perempuan itu adalah Caroline, beliau mendapat kabar dari orang suruhannya yang secara tidak sengaja melihat Jumirah dibawa oleh seseorang dengan paksa.
"Ada apa mom? Kenapa mommy terlihat sangat marah?" Tanya Angela menghampiri Caroline.
"Tidak ada apa-apa sayang, biasa orang-orang suruhan mommy bikin masalah." Jawab Caroline tidak ingin bicara terus terang.
"Ayok mom kita makan, mommy belum makan kan?" Ajak Angela.
"Iya nak, ayok."
Saat bersamaan terlihat seorang gadis remaja berlari menghampiri kakaknya yang sedang berada dikantornya.
"Kakak...!" Teriak gadis remaja itu.
"Ada apa Retha, bisa gak sih kamu bersikap kalem kalau datang kekantor kakak!" Seru Aden.
"Haduh maaf kak, untuk kali ini aku tidak bisa bersikap kalem, lihat ini kak, ini gambar yang diambil cowokku saat ia sedang berada dirumah sakit, cowokku yang saat itu sedang menunggu temannya tidak sengaja melihat kakak Jumirah sedang dibawa oleh laki-laki masuk kedalam mobilnya, sepertinya mereka hendak berniat jahat kak," kata Margaretha memperlihatkan sebuah foto di handphonenya yang dua jam yang lalu dikirim oleh kekasihnya saat ia sedang berada di sekolahnya, Margaretha bergegas pergi ke kantor sang kakak untuk memberitahu soal Jumirah.
"Hehehe... aku yang kasih tau lah waktu itu tidak sengaja bertemu dengan kakak Jumirah di Mall, aku kasih tau dia kalau perempuan itu yang bernama kakak Jumirah, kekasih kak Aden." Jelas Margaretha.
Brag....
Aden menggebrak meja yang ada didepannya, ia mengambil kunci mobil dan handphonenya setelah sebelumnya mematikan laptop dan menutupnya.
"Kakak mau kemana?" Tanya Margaretha.
"Mencari Jumirah." Jawab Aden sambil berjalan.
"Memangnya kakak tau dimana keberadaannya?" Tanya Margaretha lagi." Sebaiknya kita laporkan masalah ini ke polisi kak ,aku gak mau terjadi apa-apa dengan kakak."
"Kelamaan, kakak harus mencarinya sekarang, kakak bisa melacak keberadaannya melalui handphone." Jelas Aden.
__ADS_1
"Memangnya kakak tau nomor kak jumirah?" Tanya Margaretha sambil berlari kecil mengikuti langkah kaki kakaknya.
"Taulah, aku meminta nomornya dari teman Jumirah yang bernama Baldatun." Jawab Aden terus berjalan tanpa menoleh kearah Margaretha.
"Sayang... tunggu...! kamu mau kemana?" Tanya Nyonya Claudia yang tiba-tiba datang kekantor Aden saat Aden sedang berjalan menuju mobilnya diluar gedung.
"Maaf bu,aku harus pergi." Jawab Aden terlihat cuek dengan kedua mata fokus ke mobil miliknya yang terparkir di parkiran mobil dihalaman kantor yang sangat luas, tidak memperdulikan ibundanya yang sedang berjalan menghampirinya bersama dengan seorang perempuan cantik.
"Aden... kami datang untuk mengajak kamu makan bersama kok kamu malah pergi." Ucap Nyonya Claudia.
"Maaf bu, lain kali saja aku terburu-buru." Jawab Aden yang sudah berada didalam mobil lalu ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya pergi meninggalkan gedung kantornya dan ibundanya serta adik perempuan dan Rosita yang datang bersama Nyonya Claudia, ia pergi untuk mencari Jumirah.
Aden mencari keberadaan Jumirah melalui handphonenya, setelah berputar-putar seharian mengelilingi kota Jakarta akhirnya ia dapat menemukan lokasi keberadaan nomor handphone Jumirah, Aden menghentikan mobilnya disuatu tempat sesuai dengan petunjuk di handphone tepat pukul 20.00 WIB, terlihat sebuah gedung seperti sebuah bangunan tua tetapi masih terlihat kokoh,ia meminggirkan mobilnya. Didepan rumah itu ada sebuah mobil yang sepertinya hendak jalan untuk pergi, Aden langsung menundukkan kepalanya menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh seseorang yang ada didalam mobil saat mobil itu melewati mobilnya.
Sementara didalam gedung itu, Jumirah dan anak-anak bekerjasama mengangkat meja yang lumayan besar dan berat, diletakkan meja itu dibawah jendela yang akan digunakan sebagai tempat untuk mereka kabur.
"Cepat-cepat... ambilkan kakak kayu itu!"Perintah Jumi. Seorang anak perempuan berlari mengambil kayu yang ada dipojok ruangan lalu diserahkan kepada Jumirah yang sudah naik diatas meja.
Prang... prang....
Jumirah memukul kaca berkali-kali dengan menggunakan kayudan...
Ceklek... ceklek....
Pintu dibuka oleh seseorang saat mereka berhasil memecahkan kaca.
"Hah..., bagaimana ini kak?" Ucap mereka terlihat panik.
"Tenanglah, kita hadapi bersama." Ucap Jumirah turun dari atas meja, tidak lama terlihat dua orang laki-laki bertubuh kekar memasuki ruangan, ternyata perkiraan mereka meleset, mereka pikir yang jaga ada satu orang ternyata ada dua orang.
"Woy... kalian mau kabur ya? Hahaha... kalian jangan bermimpi." Ucap laki-laki itu sambil menyeringai menatap mereka.
__ADS_1