Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 34.Rencana Pak Sutejo.


__ADS_3

"Bagaimana ini pak, kita sudah tidak memiliki uang lagi untuk kebutuhan sehari-hari,uang yang diberikan oleh Nyonya Claudia sudah habis." Kata Bu Lasmi saat mereka sedang bersantai di teras rumah yang mereka ambil secara licik dari Jumirah.


"Hah... uang segitu banyak sudah habis?" Tanya Pak Sutejo kaget.


"Yaelah pak, namanya juga buat makan setiap hari ya habis lah pak, buat beli pulsa listrik, HP, minyak goreng yang harganya tambah selangit, dan juga keperluan lainnya seperti beli gas, dan kebutuhan pokok lainnya yang harganya sudah naik semua, belum buat biaya sekolah anak kita." Jelas Bu Lasmi.


"Lagian, Dewi pakai gaya-gaya sekolah di-sekolahan elite, disitu kan biayanya mahal, kalian setiap hari syoping terus." Ucap Pak Sutejo.


"Habisnya mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur, bapak harus kerja jangan cuma diam dirumah saja." Kata Bu Lasmi karena suaminya selama ini cuma ongkang-ongkang kaki dirumah tidak bekerja sama sekali.


"Mau kerja apa bu, bapak bisanya cuma bertani, sedangkan disini tidak ada sawah apa kebun." Balas Pak Sutejo.


"Kerja apa kek yang penting menghasilkan uang, noh... seperti orang itu juga bisa." Bu Lasmi menunjuk seorang laki-laki memakai topi dengan baju lusuh sedang berdiri di pinggir jalan meminta belas kasihan dari orang yang lewat disekitar jalan itu.


"Hah... yang benar saja bu, masa bapak disuruh jadi pengemis." Protes Pak Sutejo.


"Ya enggak apa-apa lah pak, yang penting dapat duit." Ucap Bu Lasmi.


"Malas, ibu saja sana kalau mau!" Pak Sutejo yang sedang duduk langsung bangun dan pergi meninggalkan istrinya yang masih duduk dikursi teras didepan rumah mereka.


"Pak... pokoknya bapak besok harus cari kerja, kita mau makan apa kalau bapak gak mau kerja." Teriak Bu Lasmi dari teras rumahnya, ia berjalan masuk mengikuti langkah kaki sang suami.


"Makan angin." Jawab Pak Sutejo dengan santainya.


"Bapak...!" Seri Bu Lasmi jadi kesal.

__ADS_1


Brum....


Terdengar suara motor berhenti didepan rumah menghentikan saat kedua pasangan suami-istri itu sudah berada didalam rumah mereka.


"Bapak... tolongin Dewi...!" Teriak Dewi dari luar, Terlihat kedua pasangan suami-istri itu langsung berlari terburu-buru keluar rumah saat mendengar teriakkan dari putri mereka.


"Dewi... kok kamu bisa jatuh sih nak?" Tanya Bu Lasmi terkejut melihat putrinya tergeletak di tanah dengan posisi kaki kanannya tertimpa motor yang juga jatuh bersama dirinya.


"Lha ini bocah kenapa bisa jatuh gitu toh ndu'?" Tanya Pak Sutejo tidak kalah terkejutnya langsung mengangkat motor yang mengenai kaki putrinya.


"Dewi mau berhenti malah motornya tiba-tiba oleng, jatuh deh!" Jelas Dewi sambil meringis kesakitan.


"Makanya kalau naik motor jangan ngebut-ngebut, ibu sudah ingetin berkali-kali tapi kamu bandel! Sudah sampai depan rumah pun kamu masih ngebut gak mau pelan." Ucap Bu Lasmi.


"Haduh udah dong bu, jangan ceramah dulu, sakit nih!" Seru Dewi sambil memegangi kaki kanannya yang terasa sakit.


"Aw... sakit bu, pelan-pelan dong!" Bentak Dewi saat lukanya sedang diobati oleh Bu Lasmi.


"Ini ibu sudah pelan-pelan nak!" Jawab Bu Lasmi.


"Kamu tuh ya Wik, sudah tau keuangan kita sedang sekarat, kamu malah seperti ini tidak mau hati-hati!" Kata Pak Sutejo duduk disebelah anak dan istrinya.


"Bapak kerja dong cari duwit,itu kan tugas bapak sebagai kepala rumah tangga untuk nyari duit buat kita, anak dan istri bapak!" Ucap Dewi.


"Memangnya gampang nyari kerja dikota seperti ini, kalian kalau ngomong asal." Protes Pak Sutejo.

__ADS_1


"Ikut Mas Farel aja kerja di bengkel!" Perintah Dewi.


"Hah... kamu tau darimana Farel kerja di bengkel nak?" Tanya Bu Lasmi kaget.


"Aku lihat sendiri saat mau tambal ban motor teman Dewi yang bocor waktu itu, ternyata yang bekerja di bengkel itu mas Farel tapi Dewi pura-pura gak kenal sama dia, malu dong Dewi bu, saat itu Dewi sedang bersama teman-teman Dewi yang anak orang kaya itu, dan sepertinya mas Farel juga tidak mengenali Dewi karena Dewi memakai topi dan kacamata jadi dia tidak tau kalau yang ada disana Dewi." Jelas Dewi.


"Farel, ibu sangat merindukannya, baru bertemu sebentar setelah sekian lama bekerja diluar negeri, belum sempat ngobrol harus berpisah lagi sampai sekarang, hiks...." Bu Lasmi terisak mengingat anak laki-lakinya.


"Semua gara-gara Mbak Jumi bu, perempuan itu yang sudah membuat Mas Farel pergi meninggalkan kita, huh... aku sungguh membencinya." Kata Dewi mengepalkan tangannya dan memukuli sofa yang ia duduki.


"Kenapa semua orang harus memilih Mbak Jumi, apa yang mereka lihat dari perempuan cacat seperti dia." Lanjut Dewi terlihat sangat kesal jika mengingat Jumirah yang selalu mendapat perhatian dari kakak laki-lakinya sedangkan dia yang jelas-jelas adik kandungnya sendiri malah dicuekin, Dewi iri melihat kakak laki-lakinya yang selalu perhatian kepada Jumirah, memperlakukan Jumirah dengan penuh kasih sayang, sedang terhadap Dewi Farel tidak pernah menganggapnya ada, Farel bahkan tidak pernah memperlakukan Dewi seperti ia memperlakukan Jumirah, itu yang membuat Dewi sangat membenci dan ingin menyingkirkan Jumirah agar semua orang hanya menyayangi dirinya seorang.


"Dimana ndu' bengkelnya? Bapak mau menemuinya, bapak yakin dia pasti bersama Jumirah, bapak mau minta uang ke mereka lumayan kan bapak gak perlu bekerja keras, kita minta uang mereka saja." Ucap Pak Sutejo tanpa merasa malu, padahal mereka sudah dengan licik mengambil rumah Jumirah dan membiarkan Jumi harus meninggalkan rumahnya sendiri gara-gara mereka.


"Bapak yakin mau mencari mereka? Bagaimana kalau mereka tidak mau memberi bapak uang? Mereka pasti masih marah dengan kita yang sudah mengambil rumah ini dari Jumirah." Balas Bu Lasmi.


"Ibu tenang saja, bapak punya rencana untuk membuat mereka kasihan dan mau menolong kita, karena bagaimanapun juga kita orang tua mereka jadi mereka harus menolong kita."


"Kalau mereka tetap gak mau menolong bagaimana pak?" Bu Lasmi terlihat begitu khawatir karena uang simpanannya sudah sangat menipis.


"Haduh bu, sudah ibu diam saja serahkan urusan ini ke bapak, biar bapak yang urus semuanya, yang penting ibu cepetan masak sana, bapak sudah lapar!" Perintah Pak Sutejo karena dimeja makan tidak ada makanan untuk mereka makan, sedangkan dirinya sudah sangat kelaparan.


"Oalah pakne... ibu lupa kalau ibu belum masak, hehehe...." Ucap Bu Lasmi sambil terkekeh saat menyadari kalau dirinya belum masak.


"Sebentar bu, obatin dulu luka Dewi!" Seru Dewi karena ibunya belum selesai mengobati lukanya.

__ADS_1


"Kamu lagi, obati sendiri, jangan manja seperti anak orang kaya saja!" Ucap Pak Sutejo menatap tajam kearah Dewi yang sedang duduk sambil selonjoran diatas sofa panjang. "Sudah sana bu ditinggal saja, masak cepetan bapak sudah lapar!" Perintahnya kepada Bu Lasmi.


__ADS_2