
Dert...dert...
"Siapa yang menelpon aku malam-malam ya?" Gumam Jumi lirih mengambil handphonenya yang diletakkan di atas meja yang ada di samping ranjang tempat tidurnya.
"Halo selamat malam." Sapa Jumirah setelah mengangkat panggilan telpon dari seseorang yang tidak dikenal.
"Halo... apa ini benar dengan Mbak Jumirah?" Tanya seseorang diseberang telpon.
"Iya bener, ini aku sendiri, maaf ini dengan siapa dan ada keperluan apa bapak menelpon saya malam-malam?" Tanya Jumirah.
"Maaf mbak, ini saya dari tim pemadam kebakaran, tadi kami ditelpon sama warga setempat, gedung sekolah melukis milik Mbak Jumi mengalami kebakaran."
"APA PAK? Ke... kebakaran? Lalu bagaimana dengan keadaan anak-anak pak?" Tanya Jumirah membelalakkan matanya merasa terkejut, ia langsung loncat dari tempat tidurnya dan bergegas mengambil jaket dan hijabnya sambil mendengarkan seseorang yang sedang bicara diseberang telpon.
"Hah... aku segera kesana, terimakasih atas pemberitahuannya pak." Ucap Jumirah dan mematikan panggilan telpon, Ia bergegas memakai jilbab dan jaketnya, dimasukkan handphone miliknya disaku jaket yang dipakai lalu ia berlari keluar kamar.
Tok tok...
"Mas... mas... hiks...!" Jumirah mengetahui pintu kamar Farel dengan sangat kencang sambil terisak.
Tok tok...
"Mas Farel cepetan bangun mas, sekolah kebakaran mas, hiks..."
Ceklek....
"Ada apa dek?" Tanya Farel setelah membuka pintu kamarnya.
"Hua... ayok mas kesekolah sekarang, anak-anak, hiks... sekolah... hua...!" Jumirah semakin mengencangkan tangisannya.
Tidak pakai lama, mereka langsung ke-gedung sekolah melukis untuk melihat keadaan gedung.
"Bagaimana dengan keadaan anak-anak pak?" Tanya Jumi kepada seorang polisi yang sudah ada di sana begitu sampai ditempat kejadian.
Terlihat kobaran api melahap gedung sekolah melukis yang dibangun oleh pemerintah untuk anak-anak berkarya.
__ADS_1
"Maaf mbak, kami tidak menemukan siapapun didalam gedung, kami tidak tau dimana anak-anak sekarang berada. Kami masih menyelidiki kasus ini, kami menemukan kejanggalan, sepertinya ada seseorang yang sengaja melakukan semua ini Mbak." Jelas polisi itu.
"Anak-anak dimana kalian? Hiks... Joni... hiks...." Gumam Jumirah lirih teringat dengan anak laki-laki yang baru tadi sore bercanda dengannya.
*****
🌹🌹🌹🌹
"Halo bang, akhirnya datang juga si abang!" Seru seorang pemuda tampan ketika melihat kakaknya datang kerumah utama keluarga Mahendra saat dipagi hari menjelang siang.
"Dimana ibu Bran?" Tanya Aden.
"Akhirnya kamu datang juga nak," terdengar suara seorang perempuan dari belakang mereka. Terlihat sepasang suami-istri sedang berjalan berdampingan, mereka adalah Tuan Surya Mahendra dan Nyonya Claudia.
"Ada apa ibu memanggil Aden?" Tanya Aden menatap ibundanya yang sedang berjalan menghampirinya.
"Sayang... duduklah dulu nak, ada yang ingin kami bicarakan sama kamu!" Perintah Tuan Surya, ayahanda Aden. Aden memutar bola matanya, dengan malas ia mengikuti perintah sang ayahanda.
"Mau bicara apa ayah? Aku satu jam lagi mau ketemu klien, sebaiknya langsung aja ada perlu apa." Ucap Aden dengan wajah dingin.
"Kita sudah lama tidak ngobrol seperti ini lho nak, apa kamu tidak kangen atau rindu dengan kami kedua orang tuamu sendiri? Apakah pekerjaan jauh lebih penting daripada kami kedua orang tuamu?" Tanya Tuan Surya menatap tajam anak pertamanya.
"Cepatlah yah, Aden tidak ada waktu untuk becanda!" Potong Aden. Sedangkan Nyonya Claudia dan Gibran hanya diam saja tidak ada yang berani bicara." Kalian sabenarnya mau bicara apa?" Tanya Aden sudah tidak sabar. sesungguhnya Aden masih marah dengan ibunya yang begitu liciknya bekerja sama dengan keluarga Jumirah untuk menjebak dan memfitnah perempuan malang itu yang mengakibatkan hubungannya dengan Jumirah akhirnya harus putus.
"Oke... tunggulah sebentar lagi nak, ada yang ingin bertemu denganmu." Jawab Tuan Surya.
Ting tong....
"Nah itu dia orangnya sudah datang." Lanjut Tuan Surya.
Terlihat seorang perempuan cantik berbadan tinggi langsing memasuki ruang utama keluarga Mahendra.
"Selamat siang om, tante, maaf saya terlambat." Ucap perempuan cantik itu sambil berjalan menghampiri keluarga Tuan Surya Mahendra.
"Rosita?" Aden nampak terkejut dengan kedatangan Rosita dirumah utama.
__ADS_1
"Halo Den," sapa Rosita sambil tersenyum menatap Aden, ia duduk di kursi yang ada disamping Aden.
"Karena orang yang kita tunggu sudah datang, sekarang ayah mau memberitahu kamu nak, kami tidak mau melihat kamu sedih terlalu lama, kami ingin melihat kamu bahagia, ada seseorang yang selalu mendampingi dan mengurus kamu, maka kami sepakat akan menikahkan kalian dalam waktu dekat apa kalian setuju dengan rencana kami?" Tanya Tuan Surya menatap kedua pemuda yang sedang duduk berdampingan secara bergantian.
"Hah... maaf ayah, Aden gak bisa." Jawab Aden dengan tegas.
"Sayang... kenapa? Bukannya kita saling mencintai?" Tanya Rosita terkejut mendengar ucapan dari Aden.
"Iya nak, bukannya kalian selama ini saling mencintai? Lalu kenapa kamu menolaknya?" Sambung Tuan Surya jadi bingung.
"Maaf Ros..., ayah, iya aku akui dulu aku begitu tergila-gila dengan perempuan ini, aku dulu begitu ingin menikah dengannya, tapi tiba-tiba dia menghilang begitu saja tanpa ada kabar, aku bahkan sudah mencarinya seperti orang gila berharap bisa menemukannya." Jelas Aden.
"Nah... kalian kan sekarang sudah bertemu, kembali bersama, maka dari itu kami ingin kalian cepat melangsungkan pernikahan saja agar kalian tidak terpisahkan lagi." Potong Nyonya Claudia.
"Maaf ibu, dihati Aden sekarang sudah ada perempuan lain, dan aku rasa ibu sudah tau siapa perempuan yang ada didalam hati aku sekarang ini." Jawab Aden sambil berdiri.
"Tunggu nak, kamu mau kemana?" Tanya Nyonya Claudia.
"Kembali ke kantor, aku mau ada pertemuan dengan klien." Jawab Aden.
"Den... tunggu, kami belum selesai bicara, batalkan dulu pertemuan kamu itu nak, kita harus membahas masalah kamu dengan Rosita, kami ingin kalian menikah!" Seru Nyonya Claudia.
"Sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi bu, sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengannya." Jawab Aden lalu ia bergegas pergi meninggalkan kedua orang tua, adik dan mantan pacarnya yang masih duduk diruang utama di kediaman keluarga Mahendra.
"Siapa perempuan yang dimaksud Aden tante?" Tanya Rosita penuh selidik.
"Dia... sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan mereka." Ucap Nyonya Claudia nampak marah.
"Apakah pelukis jalanan itu bu? Bukannya kata ibu mereka sudah berpisah?" Tanya Tuan Mahendra tidak kalah terkejutnya.
"Iya, perempuan pincang itu, mereka memang sudah berhasil kita pisahkan, ibu gak tau pak kenapa anak kita begitu menyukai perempuan pincang itu, sabenarnya apa keistimewaan perempuan itu sampai Aden begitu tergila-gila dengannya.
Kamu harus bisa membuat Aden melupakan perempuan itu Ros!" Perintah Nyonya Claudia kepada Rosita yang masih terlihat bingung dengan.
"Em... siapa perempuan itu, aku harus menyelidikinya,aku tidak akan membiarkan perempuan itu merebut Aden dariku." Gumam Rosita dalam hati.
__ADS_1
"Apa tante mempunyai foto perempuan yang disukai Aden tan?" Tanya Rosita.
"A... ada, sebentar tante ambilkan." Nyonya Claudia langsung bangun dari duduknya dan bergegas pergi kekamarnya untuk mengambil foto Jumirah yang dulu sempat ia ambil saat hendak menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang keluarga Jumirah.