
"Cihuy... kereeeen!"Seru Joni setelah berada didalam rumah yang super luas dan mewah itu.Joni langsung salto sangking senangnya bisa tinggal dirumah baru yang super mewah dan besar.
Terlihat cairan bening keluar dari kedua mata Jumi.
"Sayang...!"Aden menggenggam tangan Jumirah.
"Hem...aku sungguh merasa bahagia melihat mereka bahagia mas,aku jadi teringat masa kecilku,dulu aku selalu sendiri tidak memiliki banyak teman, temanku cuma satu hanya Baldatun seorang tapi ia-pun harus pergi karena dibawa kedua orang tuanya ke Jakarta,aku kembali sendiri,di sekolah aku selalu diejek karena keadaanku, mereka menertawakan aku, aku suka iri melihat taman-tamanku, mereka mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua mereka, sementara aku tidak ada yang memperdulikan.Mereka hanya menyayangi adikku seorang,dulu aku sering menangis seorang diri,aku selalu berfikir kenapa Tuhan tidak adil kepadaku, kenapa aku harus dilahirkan dengan keadaan seperti ini, kenapa kedua orang tuaku selalu memarahi dan memperlakukan aku tidak adil, kenapa semua orang jahat kepadaku?Apa salahku? Kenapa aku harus dilahirkan jika aku tidak diinginkan.Banyak sekali yang aku keluhkan.Aku juga pernah berfikir untuk mengakhiri hidupku saat kedua orang tuaku memaksaku untuk menikah dengan seorang laki-laki yang sudah tua dan memiliki banyak istri,tapi semua aku urungkan saat aku akhirnya tau kalau ternyata aku bukan anak mereka.Aku bertekad ingin mencari keberadaan kedua orang tua kandungku, dengan harapan mereka akan menyayangi dan memperlakukan aku dengan baik,tapi lagi-lagi aku harus mengalami banyak kekecewaan, masa lalu itu kembali hadir dalam hidupku dan mengambil apa yang aku punya, saat aku sudah tidak memiliki semangat dan mulai putus asa, Tuhan mempertemukan aku dengan mereka, anak-anak yang begitu polos dan memiliki semangat yang luar biasa, ternyata hidup mereka jauh lebih menderita dariku,tapi mereka tidak pernah mengeluh, tubuh mereka yang masih sangat kecil harus berjuang untuk hidup mereka sendiri di-jalanan tidak memiliki tempat tinggal ataupun orang tua, hiks... mereka membuatku sadar bahwa hidup ini penuh perjuangan, Tuhan itu Maha adil, ternyata Tuhan memiliki sebuah rencana untukku,dan inilah rencana Tuhan,aku berjanji akan terus berjuang untuk masa depan mereka agar kehidupan mereka kelak menjadi lebih baik."Ucap Jumirah dengan kedua mata meneteskan cairan bening sambil melihat kearah anak-anak yang terlihat begitu ceria berlarian masuk kedalam rumah."Tidak akan aku biarkan siapapun menghina dan menertawakan kami."
"Sayang...!"Aden mendekap tubuh Jumirah kedalam pelukannya."Jangan menangis,aku tidak akan membiarkan kamu juga anak-anak itu menderita lagi,aku juga tidak akan membiarkan siapapun menghina dan menertawakan kalian,aku berjanji akan membantu kalian meraih cita-cita kalian."Janji Aden sambil mengusap lembut punggung Jumirah.Hatinya terasa sakit melihat kekasihnya bersedih,rasa cintanya kepada Jumirah semakin bertambah saat mendengar ceritanya, ia baru tau ternyata perempuan cantik yang saat ini sedang ia peluk memiliki hati yang lembut dan penuh kasih terhadap sesama, Dadanya terasa sesak mendengar cerita masa lalu Jumi yang ternyata begitu menyedihkan, ia berjanji dalam hati tidak akan membiarkan kekasihnya itu menderita lagi.
"Sayang...aku mau kekantor dulu ya,kamu jangan sedih lagi,aku bakal sering datang kesini untuk melihat keadaan kalian,semangat!"Lanjut Aden melepas pelukannya, ditatapnya wajah kekasihnya itu dengan lekat, Aden mengusap cairan bening yang keluar dari kedua mata Jumi dengan menggunakan jarinya, sambil tersenyum ia memberikan semangat untuk kekasihnya itu.
"Hehehe...iya mas terimakasih,mas juga semangat ya!"Balas Jumirah.
"Pasti sayang,aku harus semangat supaya kekasih aku ini bisa secepatnya aku miliki seutuhnya."Jawab Aden menggenggam tangan Jumirah dengan lembut,ia mencium kening Jumirah sebentar setelah itu ia bergegas pergi untuk kembali ke kantornya karena akan ada rapat sebentar lagi.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Ditempat lain.
"Bune... cepetan ambilkan minum bune!"Teriak Pak Sutejo dengan suara keras memanggil istrinya sambil berjalan pincang menuju ruang santai.
"Haduh pak, jangan teriak-teriak napa pak,ih...bapak sudah seperti Mbak Jumi saja deh,jadi pincang gitu jalannya,"ucap Dewi yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya diruang tengah.
"Dewi...anak durhaka kamu!"Seru Pak Sutejo menoleh kearah Dewi yang malah menghinanya, dengan hati-hati Pak Sutejo duduk di sofa.
"DEWI!"Bentak Pak Sutejo merasa geram dengan sikap putrinya.
"Ada apa sih pak, dari tadi berisik aja,gak tau apa ibu sedang nyuci dibelakang!"Ucap Bu Lasmi sambil berjalan menghampiri suami dan anaknya yang sedang berada diruang tengah.
"Itu anak kamu tuh bu, ngatain bapaknya sendiri pincang, dasar anak durhaka."Jawab Pak Sutejo dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Lha... memang kenyataannya bapak pincang kenapa mesti marah!"Ucap Bu Lasmi membuat pak Sutejo jadi tambah geram melotot kearah istrinya.
"Kalian... sudah berani sama bapak!"Pak Sutejo mendelik kearah mereka berdua.
"Haduh...ah malas lah dengerin bapak kerjaannya marah-marah mulu, mending tidur saja lah."Ucap Dewi langsung bangun dan bergegas pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang saat ini sedang duduk di sofa.
"Dasar kamu bocah kurang ajar,gak ada sopan-sopannya sama sekali sama orang tua,anak durhaka kamu!"Teriak Pak Sutejo menatap punggung anak perempuannya yang sedang berjalan dengan santai menuju kamar.
"Sudah Pak sabar..., gitu-gitu juga anak bapak!"Seru Bu Lasmi mengusap lembut lengan suaminya.
"Lama-lama bapak bisa setruk ngadepin bocah satu itu bune!"Balas Pak Sutejo geregetan.
"Bapak jadi ingat Jumirah bu, dulu bapak sering banget ngatain dia pincang, sekarang setelah bapak merasakan sendiri bagaimana rasanya jadi orang pincang dan dihina,bapak jadi merasa bersalah sama anak itu bu,"ucap Pak Sutejo berubah sendu.
"Iya pak,ibu juga akhir-akhir ini sering teringat dengan anak itu pak, dulu ibu sering banget marahin dia dan suka menghukumnya, padahal jelas-jelas dia tidak bersalah, meskipun ibu tau sabenarnya yang salah Dewi tapi ibu tetap menghukumnya, seandainya waktu boleh diulang,ibu ingin merubah sikap ibu yang suka berbuat tidak adil kepada anak itu pak,dan rumah ini... tidak seharusnya kita mengambil rumah ini dari dia, kasihan anak itu dari kecil selalu kita perlukan tidak adil,dia selalu kita suruh melakukan pekerjaan rumah,setelah dewasa pun kita masih juga jahat ke-dia.Kenapa kita jadi sejahat ini sih pak, hiks...!"Bu Lasmi terisak saat mengingat perbuatannya sendiri ke Jumirah.
__ADS_1