Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 6. Dia harus menjadi milik gue.


__ADS_3

Ting tong ...


Terdengar suara bel rumah berbunyi saat Jumirah baru pulang dari galeri gedung pameran seni lukis milik temannya sekaligus tempatnya bekerja, Jumirah termasuk wanita yang tidak mau diam di rumah, dia selalu mencari kesibukan agar tidak merasa kesepian setelah Kakek Sebastian tiada.


"Siapa ya jam segini kok tumben ada yang datang," gumam Jumirah sambil berjalan untuk membukakan pintu.


Ceklek ...


Pintu rumah dibuka, Jumirah langsung membulatkan matanya dengan sempurna melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. "Bapak, Ibu, Dewi ...!" panggil Jumirah merasa terkejut, ia langsung memeluk tubuh Bu Lasmi yang paling dekat dengannya." Hiks, Bu ... darimana kalian tahu rumah Jumi, aku sangat merindukan kalian." ucap Jumirah sambil terisak memeluk Bu Lasmi, wanita yang sudah merawat dan membesarkannya, menyelamatkan nyawanya di tengah-tengah dinginnya udara waktu itu. Walaupun sikap mereka selalu kasar dan sering memperlakukan dirinya tidak adil, tapi Jumirah tetap menyayangi mereka karena hanya merekalah keluarga Jumirah.


"Ndu' maafin sikap kami ndu', kami sudah jahat sama kamu." ucap Bu Lasmi mengusap lembut rambut Jumirah.


"Wow ... rumah Mbak Jumi besar sekali!" teriak Dewi langsung masuk ke dalam rumah, ia terlihat sangat kagum dengan isi rumah Jumirah yang terlihat begitu rapih, Jumirah sangat pintar mengatur rumahnya walaupun ia tinggal sendirian tanpa seorang asisten rumah tangga yang membantu membereskan rumah. Sabenarnya rumah itu berukuran sedang tidak terlalu besar tapi bagi Dewi dan kedua orangtuanya yang biasa tinggal di rumah kecil mengatakan kalau rumah Jumirah sangat besar. Dewi langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruang tamu.


"Ayok masuk Pak, Bu." ajak Jumirah membantu membawakan tas yang dipegang ibunya.


"Ah ... nyaman sekali rasanya!" teriak Dewi lagi dengan memejamkan matanya.


Jumirah hanya bisa tersenyum bahagia melihat adiknya juga bahagia. Mereka semua duduk di ruang tamu sementara Jumirah masuk ke dalam untuk membuatkan kedua orang tua dan adiknya minuman, setelah beberapa menit Jumi keluar lagi ke ruang tamu dengan membawa nampan di atasnya terdapat empat gelas teh manis hangat.


"Maaf ndu', Bapak sama Ibu kesini karena kami sudah tidak punya rumah lagi, kami ingin tinggal bersama kamu di sini, karena kami tidak tau mau tinggal di mana." ucap Pak Sutejo langsung mengatakan maksud dari kedatangan mereka.


"Oalah ..., memangnya rumah Bapak sama Ibu kenapa?" tanya Jumirah kaget.


"Rumah Bapak jual untuk melunasi hutang-hutang ndu', ini semua ya karena kamu juga, coba waktu itu kamu gak pergi dari rumah dan mau menikah dengan tuan tanah, rumah kami tidak mungkin kami jual," kata Pak Sutejo malah menyalahkan Jumirah.


"Pak," Bu Lasmi langsung melototi suaminya.

__ADS_1


"Maaf ndu', jangan dengarkan ucapan Bapakmu Nak!" perintah Bu Lasmi merasa tidak enak dengan Jumirah, padahal jelas-jelas mereka yang salah malah menyalahkan Jumirah yang tidak salah sama sekali.


"Maaf Pak, bukan maksud Jumi ingin menentang keinginan kalian, tapi ...." Jumirah menundukkan kepalanya dengan wajah sendu.


"Sudahlah ndu' jangan dipikirkan, kami yang salah kamu tidak bersalah sama sekali, toh sekarang kami masih tetap mendapat tempat tinggal, bolehkan nak kami ikut tinggal di sini bersama kamu." potong Bu Lasmi dengan suara lembut.


"Boleh dong Bu, rumah Jumi juga rumah kalian, Jumi malah senang jika kalian mau tinggal bersama Jumi jadi jumi ada teman gak sepi lagi." balas Jumirah.


"Terima kasih Nak, hiks ...." Bu Lasmi malah menangis karena terharu dengan ucapan Jumirah. Lain halnya dengan Pak Sutejo dan Dewi yang nampak biasa saja.


"Em ... seandainya ini rumah gue ...!" gumam Dewi dalam hati sambil memejamkan matanya membayangkan rumah itu adalah miliknya.


"Kalian lelah dan lapar, sebentar ya, Jumi bersihkan kamar buat kalian. Maaf Jumi nggak tahu jika kalian mau ke Jakarta, jadi nggak membersihkan kamar tamu." ucap Jumi bangkit dari duduknya.


"Biar Ibu saja ndu', di mana kamarnya?" Bu Lasmi bergegas bangun dari duduknya mengikuti langkah kaki Jumirah.


***


Ting tong ...


Terdengar suara bel rumah berbunyi.


"Wik ...! Bukain pintu sana Nak, Mbak sedang mandi." perintah Bu Lasmi karena Jumirah tadi pamit mau mandi dulu setelah selesai masak bersama Bu Lasmi.


"Em ...." Dewi berjalan malas menuju ke depan untuk membukakan pintu.


Ceklek ...

__ADS_1


Dewi berjalan dengan malas membukakan pintu untuk tamu.


"Mau car ...." Dewi tidak melanjutkan ucapannya saat melihat siapa yang datang, ia langsung bengong melihat seorang pemuda tampan sedang berdiri sambil tersenyum ke arahnya.


"Jumirah ada Dek?" tanya pemuda tampan itu yang ternyata adalah Aden, kekasih Jumirah.


"I ... iya ada." jawab Dewi gugup.


"Adek siapa ya? Apa aku boleh masuk ke dalam." ucap Aden ramah.


"Si ... silakan." jawab Dewi masih terlihat gugup.


"Terima kasih Dek." jawab Aden sambil tersenyum membuat wajah tampannya semakin tampan. Aden masuk ke dalam dan langsung duduk di sofa ruang tamu. Dewi masih bengong terus menatap laki-laki tampan yang sedang duduk di sofa, ia sungguh terpesona terus menatap wajah Aden sampai tidak berkedip


"Siapa yang datang Wik?" tanya Jumirah yang sudah rapih sambil berjalan ke ruang tamu." Oalah Mas Aden ternyata." lanjut Jumirah setelah melihat tamunya yang ternyata adalah sang pujaan hati, ia berjalan menghampiri kekasihnya.


"Halo Sayang apa kabar, maaf ya, aku selama satu minggu ini tidak datang untuk menemui kamu Sayang, aku baru pulang dari luar kota urusan bisnis." jelas Aden bangun dari duduknya, ia mencium pipi Jumirah setelah kekasihnya itu berada di depannya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terlihat tidak suka melihat keromantisan mereka, dia adalah Dewi.


"Hem..., dia harus menjadi milik gue, apa sih yang istimewa dari Mbak Jumi sampai seorang laki-laki tampan seperti dia mau dengannya, dia cacat, penampilannya juga tidak menarik, cantikan gue kemana-mana, lihat aja gue bakal bikin dia tertarik dan tergila-gila dengan gue, apapun yang dimiliki Mbak Jumi harus menjadi milik gue termasuk laki-laki itu." gumam Dewi dalam hati sambil tersenyum licik. Ia pun berjalan masuk ke dalam meninggalkan sepasang kekasih yang sedang berkangen-kangenan.


"Sayang, apa kamu sudah mau berangkat sekarang? Ayok aku antar sekalian aku mau ke kantor."


"Ya sudah, tunggu ... aku mau pamit dulu sama ibu, oh iya, mas Aden kan belum aku kenalkan dengan keluargaku ya, Oalah aku sampai lupa." Ucap Jumirah menepuk keningnya sendiri. "Ayok mas aku kenalkan dulu dengan keluarga aku!" ajak Jumirah mengajak kekasihnya masuk ke dalam untuk dikenalkan kepada kedua orang tua dan adiknya yang sudah berada di ruang tengah. Jumirah memperkenalkan satu per satu keluarganya yang sudah satu minggu tinggal di rumahnya, lalu mereka pamit karena Aden harus ke kantornya.


"Bu, Pak, pokoknya cowok tadi harus menjadi pacar Dewi, kalian harus membantu Dewi buat dapetin tuh cowok." rengek Dewi setelah Jumirah dan kekasihnya sudah pergi.


"Kamu suka dengan orang tadi Wik?" tanya Bu Lasmi.

__ADS_1


"Iya Bu, Dewi sepertinya sudah jatuh cinta dari pandangan pertama." jawab Dewi nampak bersungguh-sungguh.


"Kalau kamu memang menyukainya, kami akan membantu kamu untuk mendapatkan dia, tenang saja sayang, kami akan selalu membantu kamu mendapatkan apa yang kamu mau, kamu lebih pantas bersamanya dibandingkan Mbak kamu yang cacat itu." ucap Pak Sutejo dengan sebuah rencana licik untuk memisahkan Jumirah dengan kekasihnya.


__ADS_2