Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 19. Di tolong.


__ADS_3

" Lo jadi mau ke Jogja Jum?" Tanya Alda saat mereka sedang berada di gedung seni lukis.


"Jadi dong Da, ini yang ngundang aku seorang seniman hebat lho Da, aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja, sekalian aku ingin belajar dari beliau untuk bisa seperti beliau." Jawab Jumirah." Kamu temenin aku ya Da, biar Mas Farel dan Irul yang mengawasi anak-anak." Lanjut Jumi.


"Siap bos, gue siap menemani anda kemanapun anda pergi." Jawab Baldatun sambil memberi hormat.


"Hihihihi... kamu tuh ya!" Jumirah terkekeh melihat tingkah Baldatun.


"Kapan kita berangkat?" Tanya Baldatun lagi.


"Besok pagi." Jawab Jumirah singkat.


Keesokan paginya mereka berkumpul di terminal terdekat untuk pergi ke Jogja. Setelah melakukan perjalanan satu hari satu malam akhirnya mereka sampai di kota Jogja yang terkenal dengan julukan kota pelajar karena Jogja memiliki kampus terbanyak dan berkualitas terbaik di Indonesia. Disana juga dijuluki sebagai kota budaya, kota wisata dan kota perjuangan.


"Wih... kita sudah sampai Jogja Jum!" Seru Baldatun kegirangan begitu bus yang mereka tumpangi berhenti.


"Ayok kita turun sekarang." Ajak Jumirah memeriksa barang-barang bawaannya yang diletakkan di-laci bus yang ada diatasnya.


"Ye... Jogja...!" Baldatun berjingkrak saat sudah berada diluar sambil merentangkan tangannya.Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke hotel tempat menginap selama mereka berada di Jogja dengan naik taksi yang kebetulan lewat didepan terminal.


"Akhirnya sampai juga kita Da,ah...!" Jumirah merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk setelah mereka sampai di hotel tempat mereka menginap.


"Gue mandi dulu lah." Baldatun langsung ke kamar mandi karena sudah tidak tahan dengan badannya yang terasa lengket, sedangkan Jumirah malah kembali tertidur.


"Lo gak mandi dulu Jum?" Tanya Baldatun selesai membersihkan diri." Yaelah ini bocah malah tidur." Ucapnya lirih menoleh kearah Jumirah yang terlihat tenang rebahan diatas kasur dengan kedua mata terpejam.


"Woy... bangun-bangun mandi dulu." Baldatun melempar handuk basah bekas ia mandi di-wajah Jumi.


"Ah... mengganggu saja kau baru juga lagi bermimpi keliling dunia." Jumi yang merasa terkejut langsung bangun dari rebahannya menyingkirkan handuk basah yang menutupi wajahnya. Ia duduk dipinggir ranjang untuk mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul semua dari alam mimpinya.


"Udah siang bos, mimpinya lanjut nanti malam saja." Ledek Baldatun.


"Ah...." Jumirah melempar handuk basah itu kembali kearah Baldatun yang sudah mengganti bajunya dengan baju santai.


Jumi dengan malas berjalan ke kamar mandi.

__ADS_1


****


"Da, aku mau keluar sebentar kamu mau ikut tidak?" Tanya Jumirah yang sudah terlihat rapih.


"Enggak ah, gue malas pingin istirahat dulu." Jawab Baldatun rebahan diatas kasur empuk sambil memainkan ponselnya.


"ya sudah aku tinggal ya." Ucap Jumirah keluar kamar.


Jumirah berkeliling dengan naik becak melihat keindahan kota Jogja yang terkenal dengan hasil kerajinan tangannya.


"Berhenti disana ya pak!" Perintah Jumirah sambil menunjuk kesuatu tempat.


"Aku jadi rindu kampung halaman." Gumam Jumirah sambil berjalan santai ketika sudah turun dari becak yang membawanya.


"Indahnya pemandangan disini, sejuk!" Ucapnya menghirup dalam-dalam udara pedesaan sambil memejamkan kedua matanya, ia mundur beberapa langkah mencari tempat yang tinggi untuk bisa melihat pemandangan dari jauh, tiba-tiba....


Brug....


Jumirah langsung menoleh kebelakang saat merasa telah menabrak seseorang dibelakangnya.


"Em...." laki-laki itu nampak sedang berfikir berusaha mengingat siapa perempuan cantik yang sedang berdiri didepannya.


"Oh... kamu Jumirah ternyata, em...." Ucap Tuan tanah setelah mengingat sambil tersenyum licik.


"Maaf aku...," Jumirah yang tau dengan arti tatapan dari laki-laki mata keranjang yang ada didepannya berusaha menghindar namun tangannya langsung ditarik oleh tuan tanah.


"Maaf tuan tolong lepaskan tanganku." Jumirah berusaha melepas cengkraman tangan tuan tanah yang begitu kuat menggenggam tangannya.


"Akhirnya... kita bertemu lagi Jum, kenapa dulu kamu kabur saat kita akan menikah? Ayok sekarang ikutlah denganku, kita akan menikmati indahnya surga dunia bersama disini." Kata tuan tanah sambil menyeringai menatap Jumi.


"Ih... dasar bandot tua, lepasin!" Jumirah menarik tangannya berusaha melepas cengkraman tangan tuan tanah, merasa usahanya tidak berhasil, Jumi menggigit tangan tuan tanah dan.....


"Auw...." Teriak tuan tanah merasa kesakitan.


Jumirah langsung berlari sekuat tenaga menjauh dari laki-laki yang sudah memiliki banyak istri ketika tangannya sudah terlepas dari genggaman tangan laki-laki itu.

__ADS_1


"Hah... kenapa aku lari kesini?" Gumamnya lirih memperhatikan aliran sungai yang mengalir cukup deras." Bagaimana cara aku menyeberang sungai ini, aduh...." Jumirah nampak kebingungan sambil memperhatikan sungai.


"Hahaha... sekarang kamu sudah tidak bisa kemana-mana, em... gadis pintar, ternyata kamu ingin melakukan dipinggir sungai ya?" Ucap tuan tanah itu sambil menyeringai.


"Ih menjijikan, pergi kau bandot tua," Jumirah nampak kebingungan.


"Ini orang kok bisa ada di sini ya?" Batinnya sambil mundur beberapa langkah ketika tuan tanah itu mendekati.


"Tolong... tolong...." Teriak Jumirah berusaha meminta pertolongan dari orang lain saat tuan tanah itu menarik tangannya lagi hendak berbuat kurang ajar.


Sret...bug...bug....


Tiba-tiba seseorang menarik jaket yang dipakai tuan tanah itu dan memukulinya berulang kali membuat wajah dan tubuh tuan tanah menjadi babak belur.


Setelah laki-laki itu sudah tidak berdaya seseorang yang menolong Jumirah yang ternyata berjumlah dua orang berlari menghampiri Jumi yang terlihat sangat ketakutan.


"Jangan mendekat."Teriak Jumirah waspada.


"Tenanglah nona, kami bukan orang jahat, mari kami antar nona kembali ke hotel, percayalah nona, kami hanya ingin menolong," ucap salah satu dari laki-laki yang memakai seragam atau setelan serba hitam berusaha meyakinkan Jumirah.


"Aduh kakiku...!" Jumirah merasakan sakit dipergelangan kakinya saat ia hendak berjalan. Dengan sigap salah satu dari laki-laki itu langsung membantu memapah Jumi untuk dibawa kembali ke hotel tempat Jumi menginap menggunakan mobil mereka.


"Jumi..., lo kenapa?" Tanya Baldatun merasa terkejut saat melihat Jumirah kembali ke hotel sambil dipapah oleh seorang laki-laki.


Laki-laki yang menolongnya tadi langsung pamit ketika Jumirah sudah berada dikamar hotel bersama dengan sahabat wanitanya. Sedangkan seorang laki-laki yang satunya lagi nampak sedang menelpon seseorang.


"Iya bu, sekarang dia sudah kembali ke hotel." Ucapnya dengan seseorang yang ada diseberang telpon.


"Bagus, kamu terus awasi dan lindungi dia, aku gak mau terjadi apa-apa dengannya." Terdengar perintah dari seorang perempuan yang ada diseberang telpon.


"Baik bu." Jawab laki-laki itu singkat lalu panggilan telpon dimatikan.


"Siapa yang telpon Son?" Tanya laki-laki yang tadi mengantarkan Jumirah saat sudah kembali ke mobil.


"Bu Caroline menanyakan keadaan non Cristina." Jawab laki-laki yang satunya.

__ADS_1


Ternyata mereka ditugaskan oleh Caroline, ibu kandung Jumirah untuk melindungi putrinya.


__ADS_2