
"Kakak ..., kakak ...!" Terdengar teriakan dari anak-anak saat Jumirah baru memasuki halaman rumahnya dengan menaiki sepeda motor.
"Duh ... terharunya kakak baru pulang sudah disambut," ucap Jumirah sambil tersenyum melihat enam anak asuhnya yang sedang berdiri dihalaman rumah, wajah mereka terlihat begitu ceria menyambut kedatangan Jumirah. Seorang wanita berhati mulia yang sudah merubah nasib mereka yang tadinya tidak memiliki tempat tinggal, tidur hanya beralaskan kardus atau lembaran koran, sekarang mereka dapat merasakan tinggal di rumah mewah dan hangatnya tidur di kasur empuk. Memakai baju yang layak tidak seperti sebelumnya terpaksa harus memakai baju dekil dan sobek-sobek karena tidak memiliki uang untuk membeli baju baru. Berkat Jumirah mereka mempunyai penghasilan yang lebih dari cukup untuk membeli baju baru, yaitu hasil dari penjualan karya lukis yang sudah mereka buat bersama.
"Kak Jumi kereeeen, tadi kita semua lihat kakak di TV. Wow ... kakak sungguh luar biasa, kami terharu kakak sudah menganggap kami sebagai adik-adik kakak, terimakasih kak, sudah mau menjadikan kami keluarga Kakak Jumi." Ucap Joni langsung memeluk Jumirah ketika Jumirah sudah turun dari motornya diikuti oleh ke lima teman Joni, Empi, Shella, Murni, Tiger dan Sisil. Mereka semua bersama-sama memeluk Jumirah bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Mendengar tangis dari anak-anak membuat Jumirah juga ikut menangis, tangis penuh kebahagiaan.
"Jum!" Panggil Farel dengan kedua mata berkaca-kaca menghampiri Jumirah dan anak-anak yang masih berada dihalaman rumah. Farel cepat-cepat mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar.
"Sudah anak-anak biarkan Kakak Jumi masuk dulu, Kakak Jumi pasti capek baru pulang." Kata Farel
Tin ... tin ....
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.
"Hai ... ada apa? Kok kalian jadi seperti Teletubbies yang suka berpe ... lukaaaan!" Kata seorang pemuda tampan setelah keluar dari dalam mobil.
"Biarin wek ... Kak Aden pasti cemburu ya 'kan ...!" Balas Joni menjulurkan lidahnya kearah pemuda tampan tadi yang ternyata adalah Aden.
"Eh ... dasar kau si bocil," ucap Aden menarik hidung Joni.
***
__ADS_1
"Mas Aden ada apa kesini?" Tanya Jumirah setelah mereka sudah berada didalam rumah duduk di sofa ruang tamu.
"Kangen, aku kangen banget sama kamu Jum. Tadi aku lihat kamu di televisi, aku jadi semakin cinta sama kamu Jum." Kata Aden menggeser duduknya mendekati Jumirah.
"Sayang, aku ingin segera miliki kamu seutuhnya. Menikahlah denganku," ucap Aden menatap serius wajah Jumirah sambil menggenggam tangannya.
"Maaf Mas, aku belum siap." Jawab Jumirah menarik tangannya dari genggaman tangan Aden.
"Kenapa?" Aden membelalakkan mata merasa terkejut.
"Aku akan menikah setelah mendapat restu dari kedua orang tua Mas Aden, dan ...."
"Dan apa Jum?" Tanya Aden penasaran.
"Kalau ternyata orang tuamu tetap tidak Kamu temukan, berarti Kamu tidak mau menikah?" Tanya Aden, Jumirah hanya menundukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah katapun, wajahnya terlihat sendu.
****
"Ibu ... oh Ibu, Dewi pergi dulu ya Bu!" Teriak Dewi sambil berjalan menghampiri Bu Lasmi yang sedang menyapu lantai.
"Mau kemana lagi Kamu Wik? Kenapa sih Kamu susah banget suruh dia m di rumah, Kamu gatal ya kalau sehari aja tidak pergi?" Tanya Bu Lasmi tanpa menoleh kearah Dewi, pada saat melihat kearah Dewi, Bu Lasmi terdiam beberapa menit sambil mengucek matanya, kembali menatap Dewi yang terlihat berbeda dari biasanya. Bu Lasmi sampai terbengong, Ia menepuk pipinya sendiri beberapa kali saat melihat perubahan putrinya yang tidak berpakaian terbuka seperti biasa.
__ADS_1
"Ini beneran Kamu 'kan Wik? Ibu enggak salah lihat 'kan?" Bu Lasmi membolak-balikkan badan Dewi memeriksa apa benar gadis remaja yang saat ini sedang berdiri didepannya beneran Dewi putrinya atau bukan.
"Yaelah Bu, ini Dewi Bu! Waduh gahwat, sepertinya Ibu terkena penyakit amnesia." Kata Dewi.
"Hus ... sembarangan!" Potong Bu Lasmi.
"Ya habisnya Ibu aneh, masa lupa sama putrinya sendiri." Protes Dewi.
"Kamu kesambet dimana Wik? Kenapa Kamu tiba-tiba berubah seperti?" Tanya Bu Lasmi.
"Idih, Ibu jahat banget sih ngomongnya, kenapa memangnya Bu? Dewi kelihatan aneh ya Bu berpakaian seperti ini, Dewi enggak kelihatan seperti ondel-ondel kan Bu? Dewi ganti baju aja deh ya Bu kalau kelihatan aneh," ucap Dewi jadi minder.
"Eh jangan Nak, Kamu cantik kok memakai pakaian seperti ini. Kamu jadi kelihatan anggun dan lebih dewasa. Ibu suka melihatnya. Alhamdulillah, akhirnya kamu dapat hidayah juga, Ibu senang kamu mau berpakaian tertutup seperti ini, nah seperti itu dong Nak, kan enak dilihatnya, Ibu demen nih kalau Kamu memakai pakaian seperti ini, jadi Ibu gak was-was takut kamu dilecehkan sama laki-laki kurang ajar." Lanjut Bu Lasmi merasa senang. Dewi terlihat begitu cantik memakai kemeja panjang dan celana kulot panjang, terlihat jilbab pashmina panjang menutupi rambutnya yang telah ia warna dengan pewarna rambut.
Ternyata kejadian waktu itu telah membuat seorang Dewi tersadar, yaitu ketika ia sedang berjalan seorang diri menjadi korban pelecehan dari beberapa pemuda berandalan. Untung saja saat itu ada Choirul yang menolongnya, ucapan Choirul telah membuat seorang Dewi akhirnya menyadari kesalahannya ditambah dengan keadaan Bu Lasmi yang kembali terserang penyakit jantung membuat Dewi merasa takut, ia takut kehilangan orang yang paling ia sayangi.
"Bu, Dewi mau menemui teman Dewi dulu ya Bu, mau mengembalikan jaket milik teman Dewi." Pamit Dewi dengan suara lembut.
"Ya sudah, tapi cepat pulang jangan nunggu gelap, pokoknya jam lima sore harus sudah sampai rumah," ucap Bu Lasmi.
🌹🌹🌹
__ADS_1
hari ini up segini dulu lah ya, bulan puasa waktu emak buat nulis sangat sedikit, kesibukan di dunia nyata yang bertumpuk-tumpuk sebagai seorang petani, jadi tukang kredit + sebagai ibu rumah tangga membuat emak jadi jarang main HP 😁 maafin emak ternyata tulisan emak masih juga berantakan padahal emak sudah berusaha merevisi memperbaiki tulisan emak yang kacau balau, tapi ternyata masih banyak yang salah. Hua ... 😭 Emak mau nangis dulu lah ya, kesel sama diri sendiri yang masih belum pinter-pinter, pantas saja Mas bojo suka panggil emak Oneng, karena Emaknya memang gak mudeng-mudeng 🤭 Emak masih belum paham soal PEUBI. Emak mau belajar PEUBI dulu sama Kakak-kakak author lain yang sudah paham dengan PEUBI 😁. Kasih Emak semangat dong kawan, Emak akhir-akhir ini gampang banget ngantuk. Senengnya emak kalau ada yang kasih emak kopi biar emaknya melek terus dan tambah semangat. Setangkai bunga juga gak apa-apa 🤭🤭.