Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 54.Anak itu sekali-kali harus diberi pelajaran.


__ADS_3

"Mbak Jumi sekarang tinggal dimana? Kemarin ibu pergi kerumah kontrakan Mbak Jumi tapi kata ibu, Mbak Jumi dan Mas Farel sudah tidak tinggal disana lagi, kalian pindah kemana?"Tanya Dewi.


"Oh...iya maaf Wik, sabenarnya Mbak inggin memberitahu bapak sama ibu kalau kami sudah pindah tapi mbak gak tau nomor telepon bapak atau ibu, Mbak juga tidak tau nomor telepon kamu.Kalian mengagganti nomor telepon ya?" Jumirah kembali bertanya kepada Dewi.


"Iya mbak, kami memang mengganti nomor telepon karena kami terus mendapatkan teror dari orang tak dikenal."Jelas Dewi.


Cukup lama mereka berbincang-bincang hingga akhirnya Joni mengajak Jumirah untuk kembali kerumah mereka.Jumirah memberitahu tempat tinggalnya yang baru kepada Dewi.


"Hem... bagus, alamat rumah Mbak Jumi sudah aku dapat, nomor telponnya juga sudah aku dapat sekarang tinggal menjalankan rencana-ku." Gumam Dewi dalam hati sambil tersenyum tipis menatap kepergian Jumirah dan kedua laki-laki berbeda usia itu.Dewi pun segera pergi dengan naik sepeda motor.


****


"Dewi... darimana kamu?"Tanya Pak Sutejo menghadang anak gadisnya yang baru pulang.


"Ih bapak kepo saja deh, mainlah!"Jawab Dewi santai sambil menenteng kantong plastik berisi belanjaan.


"Apa itu?"Tanya Pak Sutejo menatap sebuah plastik berwarna putih yang sedang dibawa Dewi.


"Baju dong!"Jawab Dewi sambil berjalan lenggak-lenggok menuju kamarnya.


"Kamu beli baju lagi Wik? Darimana kamu mendapatkan uang?"Tanya Bu Lasmi penasaran.


"Ada deh...!"Jawab Dewi mengibaskan rambut.


"Dewi... darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli semua itu,ayok ngaku,kamu tidak mencuri kan nak?"Tanya Bu Lasmi lagi merasa curiga.


"Ih... apaan sih bu,aku tidak mencuri ya bu,aku mendapatkan uang ini dari Nyonya Claudia."Jawabannya dengan cuek.


"Hah...apa kamu sedang merencanakan sesuatu dengan perempuan sombong itu?"Tanya Bu Lasmi yang tidak menyukai Nyonya Claudia yang memiliki sifat sombong.

__ADS_1


"Awas ya kalau sampai kamu berencana untuk menyakiti mbak kamu lagi,ibu tidak akan membiarkan itu terjadi."Kata Bu Lasmi mengancam.


"Ibu apaan sih, kenapa jadi memikirkan anak pungut itu sih bu,aku memang bermaksud ingin menghancurkan anak pungut itu bu, Nyonya Claudia sudah membayar mahal untuk itu."Jelas Dewi.


"DEWI!"Bentak Pak Sutejo yang dari tadi diam saja menahan amarahnya."Kamu jangan bicara seperti itu kepada ibumu sendiri."


"Ah... sudahlah kalian gak usah ikut campur urusanku, yang penting aku bisa membeli apapun yang aku mau karena kalian tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan, makanya kalian kerja dong cari duwit yang banyak biar bisa nyenengin anak!"Ucap Dewi dan....


Brak....


Dewi membanting pintu kamarnya dengan kasar menimbulkan suara keras.


"Ealah pakne...!"Ucap Bu Lasmi sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri sangking kagetnya.


"Bu...kamu tidak apa-apa bunne!"Ucap Pak Sutejo mengusap punggung Bu Lasmi, Dengan hati-hati Pak Sutejo menggandeng tangan istrinya berjalan dan duduk di sofa ruang tengah, beliau merasa khawatir dengan keadaan istrinya, takut penyakit jantung istrinya itu kambuh lagi.


"Sudah biarkan saja pak,ibu gak apa-apa kok."Ucap Bu Lasmi dengan suara lembut sambil menggenggam tangan suaminya.


"Dia bakal terus seperti itu kalau dibiarkan saja bu, sekali-kali anak itu memang harus kita kasih pelajaran supaya tidak bersikap kurang ajar kepada kita orang tua kandung dia."Potong Pak Sutejo.


"Sudah Pak, ibu gak mau ada keributan dirumah ini."Kata Bu Lasmi dengan suara lembut.


"Ibu beneran tidak apa-apa?"Tanya Pak Sutejo lagi sambil menatap sendu kearah istrinya.


"Tidak apa-apa pak, hanya sedikit nyeri saja, tolong ibu ambilkan minum pak!"Perintah Bu Lasmi, Pak Sutejo segera bangkit dan berjalan dengan kaki pincang menuju dapur untuk mengambil minuman, semenjak jatuh saat betulin genteng rumahnya yang bocor,kaki Pak Sutejo mengalami cidera, beliau harus menerima kenyataan dan harus berjalan pincang, mungkin itu hukuman dari Tuhan karena dulu Pak Sutejo sering menghina Jumirah yang memiliki kaki panjang sebelah dan harus berjalan pincang.


Sementara didalam kamar Dewi terlihat ceria langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi telentang.


"Ah... senangnya aku hari ini,hem...!"Ucap Dewi lirih sambil tersenyum dengan kedua mata terpejam.

__ADS_1


"Oh iya...."Dewi langsung bangun dari rebahannya saat mengingat sesuatu.Ia berjalan mencari celana pendek yang kemarin dipakainya didalam keranjang pakai kotor didalam kamar mandi."Untung saja masih ada, hufh...."Dewi membuang nafasnya dengan kasar,ia merasa lega sambil menggenggam sebuah kertas yang baru diambil dari kantong celananya.


"Untung saja celana ini belum dicuci sama ibu, hufh...nomor telepon Mas Aden yang kemarin dikasih Nyonya Claudia masih selamat."Gumamnya lirih.


"Hem...!"Dewi tersenyum sambil mengambil handphonenya,ia memencet tombol handphone untuk menghubungi nomor telepon yang tertulis di kertas.


"Halo...siapa ini?"Tanya seseorang diseberang telpon setelah panggilan telponnya diangkat oleh orang itu.cepat-cepa Dewi mematikan panggilan telponnya karena ia hanya ingin mengecek apakah nomor telepon yang diberikan oleh Nyonya Claudia aktif atau tidak.


"Huh...kok malah diangkat sih,aku kan cuma ingin mengecek nomor handphonenya aktif atau tidak."Ucap Dewi meletakkan handphonenya atas meja.


"Oke...aku akan mulai rencana aku besok, pertama aku akan mendekati Mbak Jumi dulu,aku kompor-kompori Mbak Jumi supaya membenci pacarnya itu, hahaha... lihat saja aku pasti bisa membuat kalian berpisah, Mbak Jumi...kamu sudah mengambil Mas Farel dan sekarang bapak sama ibu juga sudah mulai menyesal ingin meminta maaf.Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil mereka dariku, akan aku buat hidupmu hancur hingga tidak berbentuk lagi, hahahaha...!"Ucap Dewi sambil tertawa terbahak-bahak.


Tok tok...tok tok.


Terdengar pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar.


"Huh...apa lagi sih mereka ini mengganggu saja."Gumam Dewi lirih memutar bola matanya malas sambil berjalan kepintu.


Ceklek....


Pintu kamar dibuka.


"Kamu kenapa nak?"Tanya Bu Lasmi nampak khawatir saat pintu kamar dibuka oleh Dewi.


"Ada apa lagi sih bu, Dewi gak kenapa-kenapa bu, Dewi mau istirahat capek."Jawab Dewi dengan wajah malasnya.


"Tadi ibu mendengar suara kamu seperti sedang tertawa tapi juga seperti sedang menangis,ibu kira kamu kenapa-kenapa."Ucap Bu Lasmi terlihat sangat mencemaskan keadaan putrinya itu.


"Dewi gak apa-apa bu,ya sudah Dewi mau tidur lagi ya bu, tolong ibu jangan mengganggu Dewi karena Dewi capek pingin istirahat."Ucap Dewi menutup pintu kamarnya dengan pelan dan menguncinya kembali.

__ADS_1


__ADS_2