
"Halo..., apa benar ini Mbak Jumirah si-pelukis yang biasa melukis di pinggir jalan dekat taman Situ lembang?" Tanya seseorang diseberang telpon.
Jumirah yang sedang beristirahat setelah seharian bekerja mempromosikan hasil karyanya ditempat biasa sambil melukis tiba-tiba mendapat telpon dari seseorang yang tidak ia kenal.
"Benar ini saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya? Dan ada perlu apa bapak menelpon saya?" Tanya balik Jumirah kepada si penelpon.
"Ini mbak, saya adalah seorang manager di perusahaan galeri online, saya mengetahui anda dari sebuah surat kabar yang saya baca kemarin, kami juga lihat data tentang anda di internet, ternyata hasil karya lukis anda begitu menakjubkan membuat kami jadi ingin mengundang anda untuk bergabung dengan kami anda mau mengajak anda untuk bergabung dengan kami mempromosikan hasil karya lukis anda, itu akan menguntungkan untuk anda, jadi anda tidak perlu lagi turun kejalan untuk mempromosikan hasil karya anda, cukup dirumah saja nanti pembeli yang akan mencari sendiri lewat iklan yang kami sebar di internet atau media sosial." Jumirah diam saja mendengarkan orang yang ada diseberang telpon menjelaskan panjang lebar tentang tugas mereka di galeri online.
"Bisakah kita bertemu untuk lebih jelasnya, soalnya susah jika dijelaskan jika kita tidak bertemu." Lanjut si penelpon.
"Baiklah, kita ketemu dimana?" Tanya Jumirah sudah mulai tertarik dengan penawaran dari si penelpon.
"Di hotel XX...jam sebelas siang." Jawab si penelpon.
"Oke." Jawab Jumirah singkat lalu panggilan telpon dimatikan.
"Kakek..., ada yang ingin mengajak Jumirah bekerjasama, do'akan Jumi ya kek, semoga orang itu beneran ingin melakukan kerjasama dengan Jumi, Tuhan tolong lindungi aku dari segala macam marabahaya dan dari kejahatan, baik itu kejahatan dari manusia atau jin." Gumam Jumirah lirih sambil menatap foto dirinya bersama kakek Sebastian yang ada diatas meja riasnya.
Keesokan siang harinya Jumirah pergi ketempat yang sudah diberitahu oleh si penelepon. Ia datang seorang diri di hotel itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Jumirah...." Terdengar seseorang memanggil namanya, Jumirah mencari sumber suara, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki dewasa melambaikan tangannya kearah dirinya yang tampak bingung ketika sudah memasuki hotel ternama di Jakarta.
Jumirah berjalan menghampiri laki-laki itu dengan langkah cepat.
"Maaf pak saya terlambat tadi jalanan sedikit macet jadi terlambat deh, he...!" Ucap Jumirah sambil tersenyum ramah setelah berada didepan laki-laki yang memanggilnya tadi.
"Tidak apa-apa mbak, mari duduk." Kata laki-laki paruh baya itu sambil menatap lekat wajah Jumirah yang memiliki kecantikan alami dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai dan sebuah topi kain menutupi kepala hingga kedua telinganya sehingga orang tidak tau jika ia hanya memiliki satu telinga saja.
"Jadi bagaimana pak kelanjutan dari perbincangan kita semalam." Jumirah langsung pada intinya menyadarkan lamunan laki-laki paruh baya itu yang malah bengong menatap wajah Jumirah.
"Ah iya, maaf saya sampai lupa,mari minum dulu mbak, anda pasti haus kan?" Laki-laki itu menyuruh Jumirah untuk minum.
"Bapak tau saja, aku memang sedang merasa haus, terimakasih pak, hem..." Jumirah tersenyum dan langsung menyeruput jus jeruk tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Laki-laki dewasa yang sedang duduk didepannya tersenyum tipis saat melihat Jumirah meminum jus jeruk yang sabenarnya sudah ia kasih obat tidur.
__ADS_1
"Jadi begini mbak, kita bermaksud ingin mengajak anda bekerja sama dengan keuntungan nanti kita bagi dua...." Laki-laki itu terus berbicara tapi tidak didengar lagi oleh Jumirah yang sudah mulai oleng, tiba-tiba kepalanya mendadak pusing, pandangannya mulai kabur, tapi laki-laki itu seakan tidak perduli ia terus berbicara.
"Maaf pak, sepertinya saya harus pulang sekarang, tiba-tiba kepala saya sakit." Kata Jumirah menghentikan laki-laki itu berbicara.
"Apa anda sakit? Mari saya bantu." Laki-laki itu langsung bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Jumirah untuk membantu Jumirah berdiri. Jumirah yang sudah setengah sadar mengikuti langkah kaki laki-laki yang sedang memapahnya, ia sampai tidak menyadari jika laki-laki itu ternyata membawanya kedalam kamar hotel yang sudah disewa sebelumnya oleh laki-laki itu yang memang dari awal ingin berniat jahat kepada Jumirah. Saat sudah didepan kamar laki-laki itu mencium bibir Jumirah dengan begitu lembut membuat Jumirah langsung tersadar, ia membuka matanya dan langsung mendorong tubuh laki-laki dewasa yang sedang memeluk dan menciumnya.
"Ah..., apa yang anda lakukan?" Tanya Jumirah mencoba melawan rasa kantuknya yang terasa begitu berat.
"Tenanglah sayang, ayok kita bersenang-senang dulu." Jawab laki-laki itu dengan santainya kembali mendekati Jumirah yang tampak sempoyongan, diraihnya tangan Jumirah.
"Dasar laki-laki brengsek, ternyata kamu menjebak aku, kamu pasti sudah memasukkan sesuatu kedalam minuman yang aku minum tadi, kurang ajar!" Jumirah menendang laki-laki yang sedang menarik tangannya berusaha membawanya untuk masuk kedalam kamar hotel.
Dug...dug....
Jumirah dengan sekuat tenaga menendang kaki dan ******** laki-laki dewasa itu hingga membuat laki-laki itu melepas tangan Jumirah.
"Aw... dasar wanita sialan...!" Seru laki-laki itu meringis kesakitan sambil memegangi barang berharganya yang berhasil ditendang oleh Jumirah. Dengan sempoyongan Jumirah berlari menghindari laki-laki yang ternyata hendak berbuat jahat kepada dirinya.
Jumirah menabrak seseorang.
"Jum...." Panggil seseorang .
Belum sempat melihat wajah orang yang ditabraknya, Jumirah yang sudah dikuasai oleh obat tidur oleh laki-laki yang sudah menjebaknya langsung jatuh tidak sadarkan diri.
****
"Em...." Jumirah menggeliat membuka matanya berlahan.
"Aduh..., kepalaku, apa yang terjadi denganku?"Jumirah memegang kepalanya yang masih terasa sakit. "Kok aku..., hah... jangan-jangan...!" Seru Jumirah ketika ia mengingat apa yang terjadi dengan dirinya yang ternyata telah dijebak, Jumirah langsung memeriksa tubuhnya ternyata masih mengenakan baju lengkap.
"Syukurlah...." Jumirah merasa lega karena dirinya masih utuh tidak seperti yang ia pikirkan. "Siapa yang sudah menolongku?Kamar siapa ini?" Gumamnya lirih sambil memperhatikan keadaan kamar seperti kamar perempuan.
Ceklek....
__ADS_1
Pintu kamar dibuka oleh seseorang dari luar.
Terlihat seorang perempuan masuk kedalam sambil membawa nampan.
"Syukurlah ternyata kamu sudah sadar Jumi." Kata perempuan itu sambil tersenyum menatap Jumirah yang sudah bangun.
"Da...." Panggil Jumirah merasa terkejut ternyata ia berada didalam kamar temannya yang bernama Baldatun.
"Semalam lo kenapa tiba-tiba pingsan? Jadi kita bawa lo kerumah gue aja." Kata Baldatun memberitahu.
"Kita? Berarti kamu gak sendirian?" Tanya Jumirah menatap serius kearah Baldatun.
"Hem... kebetulan gue sedang berada di hotel bersama dengan Irul untuk menemui sahabat Irul yang kebetulan menginap di hotel itu." Jelas Baldatun meletakkan nampan yang diatasnya terdapat satu piring berisi nasi dan ayam goreng, satu mangkuk sayur sup dan juga satu gelas besar berisi teh manis hangat. Ia letakkan nampan itu diatas meja yang ada didalam kamar.
"Yang menolongku semalam?" Tanya Jumirah semakin penasaran menatap tajam kearah temannya yang sedang menggeser meja agar lebih dekat dengan ranjang supaya Jumirah bisa lebih mudah mengambil makanannya.
"Ya kita lah,l o tiba-tiba datang dan menabrak Irul." Jelas Baldatun lagi.
"Jadi yang semalam aku tabrak adalah Choirul...?" Tanya Jumirah memastikan.
"Yupz..." Jawab Baldatun sambil menunjukkan jempolnya.
****
Sementara ditempat lain terlihat Aden membanting apa saja yang ada didepannya.
Lima menit yang lalu ia mendapat chat dari seseorang yang tidak ia kenal, saat ia buka ternyata sebuah foto kekasihnya yang sedang berciuman dengan seorang laki-laki.
"Kurang ajar!"
Prang....
Terdengar suara pecahan kaca didalam kamar Aden.
__ADS_1