Impian Jumirah

Impian Jumirah
Bab 39. Sikap keras kepala Nyonya Claudia.


__ADS_3

"Pak, bapak harus melakukan sesuatu, ibu gak mau Aden kembali dengan perempuan pincang itu, bagaimana kata orang nanti anak seorang pengusaha sukses menikahi wanita jalanan, anak yang gak jelas bebet-bobotnya, wanita miskin yang hidupnya hanya mengandalkan dari hasil lukisan, cantik sih cantik tapi kalau memiliki kaki pincang seperti itu, haduh pak, ibu gak bisa membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga anak kita nanti, ibu malu, mau ditaruh dimana muka kita nanti pak, mereka pasti bakal menertawakan kita. Ibu heran sama Aden, kenapa sih tuh anak begitu menyukai perempuan jalanan itu, apa istimewanya perempuan itu coba." Gerutu Nyonya Claudia terus menghina keadaan Jumirah.


"Terus bapak mesti bagaimana bu, ya sudah biarkan saja kalau memang dia wanita yang bisa membuat anak kita bahagia." Jawab Tuan Surya.


"Tidak, pokoknya ibu tidak setuju jika Aden harus menikah dengan perempuan miskin itu. Orang tuanya aja gak jelas siapa!" Seru Nyonya Claudia tetap bersikeras tidak setuju jika anak pertamanya menikah dengan Jumirah, seorang pelukis jalanan yang tidak diketahui siapa kedua orang tua kandungnya, mereka tidak tau kalau Jumirah sabenarnya anak dari seorang pengusaha sukses juga, kedua orang tua kandung Jumirah adalah orang terkaya nomor tiga di dunia. Kekayaan keluarga Mahendra tidak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan kedua orang tua kandung Jumirah.


"Mending Aden kita nikahkan saja dengan Rosita, sudah jelas siapa kedua orang tuanya, pemilik perusahaan rokok, kita sama-sama pengusaha, Jika mereka menikah maka usaha kita bakal tambah maju, banyak pengusaha yang ikut bergabung untuk bekerja sama dengan kita nanti jika kedua perusahaan bersatu." Saran Nyonya Claudia yang begitu menginginkan Rosita menikah dengan Aden,anak pertama Nyonya Claudia dan Tuan Surya.


"Terserah ibu saja, bapak tidak mau ikut campur dalam urusan asmara anak kita, mending bapak fokus mengurus perusahaan, masalah anak-anak itu urusan ibu." Jawab Tuan Surya lebih memilih untuk pergi daripada mendengarkan ocehan istrinya yang keras kepala itu suka membuatnya jadi tambah pusing.


"Ealah pak, jangan pergi dulu napa pak, ibu belum selesai bicara sudah nyelonong aja." Teriak Nyonya Claudia terlihat begitu kesal karena suaminya malah pergi meninggalkan dirinya.


"Bapak mau ketemu klien bu, ibu saja yang mengatur, bapak manut saja, tapi kalau bisa kita lebih baik jangan terlalu ikut campur urusan anak-anak, biarkan mereka sendiri yang memilih siapa yang bakal menjadi pasangan untuk menjadi pendamping mereka." Nasehat Tuan Surya kepada istrinya sambil berjalan keluar rumah.


"Pokoknya ibu mau menjodohkan Aden dengan Rosita, Aden harus meninggalkan perempuan jalanan itu!" Teriak Nyonya Claudia dari dalam rumah.


"Terserah...!" Teriak Tuan Surya Mahendra dari luar sudah tidak mau berdebat dengan istrinya lagi.


Brum....


Terdengar suara motor berhenti dihalaman rumah mereka.


"Selamat siang om." Sapa seorang pemuda saat melihat Tuan Surya sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir disebelah motor pemuda itu, cepat-cepat pemuda yang baru datang itu meminggirkan motornya agar tidak menghalangi mobil Tuan Surya yang hendak jalan.

__ADS_1


"Kamu temannya Retha kan? Em...siapa nama kamu?" Tanya Tuan Surya sambil berfikir mencoba mengingat nama pemuda yang ada disampingnya.


"Galih om." Jawab pemuda itu sambil membungkukkan badannya.


"Oh ya..., kamu mau menemui Retha ya? Retha ada didalam, ya sudah om tinggal dulu nak Galih!" Ucap Tuan Surya membuka pintu mobilnya,ia bergegas masuk kedalam mobil. Tuan Surya mengendarai mobilnya sendiri tanpa seorang supir yang mengantarnya.


"Mas Galih!" Teriak Margaretha berlari menghampiri laki-laki pujaannya yang tau-tau ada didepan rumah.


"Sayang... kok gak telpon dulu sih kalau mau datang kesini?" Tanya Margaretha lagi dengan wajah ceria menyambut kedatangan pemuda yang ternyata adalah kekasih Margaretha yang bernama Galih Saputra.


"Aku mau ajak kamu jalan sebelum aku berangkat ke Jogja." Jawab Galih.


"Mau jalan kemana? Ayok masuk dulu!" Ajak Margaretha menarik tangan Galih.


"Bagaimana kalau kita nonton, nanti jam empat sore ada film bagus lho yang, Misteri hantu tanpa kepala." Kata Galih memberitahu sambil berjalan menuju taman dengan bergandengan tangan.


"Ih... serem lah, ogah ah!" Tolak Margaretha melepas genggamannya begitu sudah berada di kursi besi yang ada di taman.


"Kenapa? Biasanya kamu suka film horor yang menyeramkan," balas Galih sambil duduk dikursi besi itu diikuti Margaretha duduk disamping galih.


"Aku lagi malas nonton film horor, aku lagi pingin nonton film romantis." Jawab Margaretha menyenderkan kepalanya di-pundak kekasihnya itu, sedangkan Galih melingkarkan tangan kanannya di-pinggang Margaretha.


"Kamu lagi pingin romantis- romantisan ya?" Goda Galih sambil menyilakan rambut Margaretha yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Hehehe...." Tawa Margaretha.


"Liburan nanti kamu rencananya mau kemana yang?" Tanya Galih.


"Gak tau belum ada rencana, jadi mas sudah mau berangkat ke Jogja? Kenapa harus ke Jogja sih? Kenapa gak kuliah di Jakarta aja." Ucap Margaretha dengan suara manja sambil menatap wajah kekasihnya itu." Kamu mau ambil jurusan apa?" Lanjutnya.


"Aku sudah lama pingin kuliah disana, fakultas sosial dan politik,:aku ingin menjadi seorang pengacara, itu cita-cita aku dari dulu." Jelas Galih yang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pengacara.


"Yah... kita bakal berpisah dalam waktu lama dong!" Ucap Margaretha sambil memanyunkan bibirnya." Nanti kamu pasti disana bakal ketemu cewek-cewek cantik, terus lupa deh sama aku."


"Ya enggaklah yang, aku tipe laki-laki setia tau, biarpun banyak perempuan cantik disana bagi aku kamulah wanita yang paling cantik, aku melakukan itu kan untuk masa depan kita juga, aku ingin bersungguh-sungguh kuliah, terus bekerja mencari uang banyak untuk melamar kamu!" Kata Galih mengangkat wajah Margaretha, ditatapnya wajah kekasihnya itu yang terlihat murung.


"Gombal, sekarang aja bilang kayak gitu, nanti kalau sudah ketemu sama cewek cantik jadi lain." Margaretha memalingkan wajahnya.


"Sayang... aku tidak akan melakukan itu percayalah sama aku, hanya kamu seorang wanita yang aku suka, tidak ada wanita lain yang mampu membuat seorang Galih jatuh cinta selain kamu." Ucap Galih membetulkan posisi wajah Margaretha agar kembali menatapnya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Margaretha, saat ia hendak mencium bibir kekasihnya itu tiba-tiba....


"Ekhem...!" Terdengar suara deheman dari seseorang mengagetkan kedua anak remaja yang sedang bermesraan di-taman.


"Apa yang kalian lakukan disini? Retha... jaga diri kamu jangan mau disentuh oleh laki-laki sembarangan." Kata seorang laki-laki menatap tajam kearah Margaretha dan Galih.


"Dia bukan laki-laki sembarangan kak, dia pacar Retha." Protes Margaretha.


"Hay kamu... jangan berani mempermainkan adik kesayanganku, awas kalau sampai adikku ini terluka gara-gara kamu, maka akan aku potong kedua tangan dan kaki kamu!" Ancam laki-laki itu dengan suara keras, dia ternyata adalah Aden, kakak pertama Margaretha.

__ADS_1


"Enggak kak, mana aku berani menyakiti wanita pujaan ku ini kak, aku sangat menyayangi dia kak." Jawab Galih dengan tegas.


__ADS_2