
"dari mana lo belajar potong rambut?" tanya dewa saat melihat pantulan dirinya melalui kaca spionnya.merasa puas dengan hasil potongan dira.
"wulan kan punya adik laki-laki tuan,jadi udah biasa potong rambutnya" ucap dira sambil membereskan rambut dewa yang tercecer ditanah.
dewa menjawab oh tanpa suara "lo berapa bersaudara?" tanya dewa masih sibuk menyisir rambut barunya didepan spionnya dengan sisir yang dira beli tadi diwarung.
"tiga tuan,wulan anak pertama,adik wulan satunya cowok satunya cewek" jawab dira membuang rambut dewa pada kubangan yang tidak jauh dari mereka.
"oh...yaudah,sekarang waktunya belajar naik motor" dewa mempersilahkan dira naik keatas motor besarnya.
"gimana tuan?" tanya dira setelah dia menaiki motor dewa kemudian meletakan kedua tangannya pada stang motornya.
"yang ada ditangan kiri lo ini namanya kopling,kalo lo mau masukin persneleng jangan lupa tarik koplingnya" dira manggut-manggut "nyalain dulu mesinnya" perintah dewa kemudian dira mengikuti dengan menekan starter pada motor itu.
setelah motornya menyala"tarik koplingnya, kemudian masukan perseneleng yang ada dikaki kiri lo, kalo injek satu kali kedepan berarti masuk satu,dan selanjutnya lo injak arah belakang buat masuk dua dan seterusnya,mengerti?"jelas dewa dan dira menurutinya.
dira mangangguk"ngerti tuan"ucap dira.
"kamu tarik gasnya sambil lepaskan koplingnya pelan-pelan"
dira menurut "eh...bisa jalan tuan!!" ucap dira girang karna bisa menjalankan motor dewa.
"eh...eh...tuan!!!gimana ini caranya buat berhenti?" teriak dira histeris pasalnya motor yang ia naiki berjalan lurus menuju semak-semak yang dibaliknya ada sungai kecil.
"tarik kopling sama remnya bersamaan!" dewa mengeraskan suaranya berharap dira mendengar ucapannya.
namun karna terlalu gugup,dira malah menarik gasnya dan menjadikan motor itu melaju lebih cepat "woooo....gimana ini tuan!!" teriak dira.
dewa yang bingung ia berlari secepat mungkin untuk mengejar laju motor tersebut, setelah agak dekat dewa melemparkan sebuah ranting yang ada didekatnya.
dan ranting itu menyusup kedalam velg motor sehingga motor berhenti mendadak,membuat dira yang tidak siap untuk berhenti menjadikan motornya ambruk kesamping dan menindih sebelah kaki dira,membuat gadis itu meringis menahan sakit.
dengan nafas ngos-ngosan dewa menghampiri dira dan dengan susah payah dewa mengangkat motornya.
"mana yang sakit" dewa panik karna melihat dira yang meringis menahan sakit dikakinya.
"awww!!" dira berjengit saat dewa memegang bagian kakinya yang sakit.
"sorry" dewa membantu dira berdiri,dan memapahnya ketempat batang pohon yang ia duduki tadi waktu potong rambut "lo tunggu disini dulu ,gue beliin air ya?" dewa beranjak setelah dira menganggukan kepalanya.
"nih" dewa memberikan satu botol air mineral yang sudah ia bukakan penutup botolnya,dan dira menerimanya kemudian meminum air itu hingga tersisa setengahnya "aus bu??" ejek dewa yang melihat dira minum seperti orang yang kehausan.
"hehe" dira dengan nyengir kudanya.
"gimana kakinya?"
"mendingan sih tuan,tapi kayaknya kesleo"dira menatap kakinya yang masih terasa nyut-nyutan.
__ADS_1
" sini gue pijitin"dewa meraih kaki dira,namun dira menepis dan menjauhkan kakinya.
"jangan dipegang tuan,sakit" ujar dira,bukan takut sakit hanya dira tidak ingin majikannya menyentuh kaki kotornya.
dia kan tuan muda yang agung...
"mau gue gendong?"dewa menawarkan diri.
"gak!" jawab dira cepat.
"cepet banget jawab nggaknya" dewa bersidekap memperhatikan dira "terus gimana pulangnya?"
"wulan masih bisa jalan kok" dira berdiri walau masih menahan rasa sakit pada kakinya ia mencoba berjalan.
nyut...nyut...nyut... kaki dira terasa berdenyut ngilu,tapi malu banget kalo sampe ketahuan sama juragannya.
dengan tergopoh-gopoh dira berjalan menuju motor dewa.
"yakin nggak mau dibantuin?" dewa memastikan lagi.
dira berhenti "mending tuan bantuin wulan dengan bawa motornya kesini deh,terus buruan pulang!" ucap dira sewot.
dewa menggedikan bahunya kemudian sedikit berlari mendekati motornya,kemudian membawa motor itu kearah dira.
dira naik dengan susah payah,karna kakinya yang sakit dia merasa kalau jog motor dewa jadi lebih tinggi "kenapa sih,beli motor kek gini?" gerutu dira setelah berhasil naik dibelakang dewa.
"susah buat naeknya bos!" seru dira.
"besok gue ajarin pake motor matic aja deh" ucap dewa kemudian melajukan motornya.
***
"loh...wulan kenapa kakinya?" tanya bulek siti saat mendapati wulan yang baru pulang dengan dipapah dewa.
"jatoh bulek" jawab dira kemudian mengalihkan tangannya pada buleknya,bermaksud meminta tolong agar buleknya gantian memapahnya, karna dipapah sama bosnya bikin dia nggak enak hati.
bulek siti memapah dira menuju kamarnya "jatuh dari mana sih kok sampe lecet-lecet kayak gitu?" tanya bulek siti setelah dira duduk diranjangnya.
"dari motor bulek,tadi diajarin naik motor sama tuan muda" ucap dira yang sedikit meringis karna bulek siti mengoleskan alkohol pada luka lecet dikaki dira.
bulek siti menghela nafas "jangan terlalu dekat sama tuan muda" bulek siti menasehati.
dira tersenyum "iya bulek,wulan ngerti kok maksud bulek"
perbedaan kasta tentu saja...batin dira.
bulek siti tersenyum kemudian memijat kaki dira yang keseleo tadi.
__ADS_1
***
hari ini orang tua dewa kembali dari perjalanan bisnisnya.
mereka tampak terkejut ketika melihat dewa dan dira sedang menonton tv bersama sambil sesekali saling mengejek,saling tertawa bersama.
"siapa gadis itu" tanya tuan rian.
"mungkin pembantu baru pa,mama dapat kabar ada pembantu baru yang umur nya masih belia" jawab sarah.
"pembantu? seorang pembantu bisa berperilaku seperti itu dengan majikannya?" papa rian memicingkan mata "suruh dewa keruanganku ada yang ingin aku katakan!" perintah papa rian.
setelah papa rian menaiki tangga untuk menuju ruang kerjanya,sarah mendatangi kedua anak abg yang sedang asyik menonton tv.
"dewa" panggil sarah,dan dewa menoleh.
wajah yang tadinya cerah,kini berubah menjadi kelam,"ada apa?"tanya dewa dingin seperti tak tersentuh.
bahkan dirapun merasa dewa seperti orang lain.
"papa memanggilmu diruang kerja" sarah menjelaskan.
tanpa menjawab,dewa beranjak kemudian menuju ruang kerja papa rian dan meninggalkan dira sendiri.
"jadi,kamu pembantu baru?" tanya sarah memastikan.
dira menunduk dalam "iya nyonya" jawab dira gugup.
"saya harap kamu bisa mengerti posisi kamu," ucapan sarah seperti mengingatkan bahwa orang seperti dira memang tidak pantas untuk dekat dengan dewa.
karna status dan perbedaan kasta.
hati dira bagai remuk seperti dicacah dengan pedang panjang,
oh,ya tuhan...apa kisahnya akan seperti disinetron-sinetron itu yang akan dihina oleh orang-orang kaya?
dira masuk kekamarnya dengan wajah menunduk kusut,apa dia akan dipecat? lalu bagaimana dengan sekolahnya yang baru masuk dua minggu?
bagai mana dengan adik-adiknya yang menantikan kiriman uang dari kakaknya?
lalu bagaimana dengan orang tuanya yang begitu mengkhawatirkannya, karna dia yang bersikeras akan membantu ekonomi keluarganya?
baru saja dia nernafas lega karna bisa melanjutkan sekolahnya.
next?
like n koment please...
__ADS_1