Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
duapuluh enam


__ADS_3

"Desi"


"Wulan"


Ucap mereka berdua bersamaan.


"Aaaa...." Dira menjerit hingga membuat Desi dan Elang menutup telinga mereka masing-masing. Dira berlari berhambur memeluk sahabatnya itu.


Walau hanya dua tahun tak bertemu,namun Dira sudah merasa bertahun-tahun ia tak berjumpa dengan Desi.oh...Dira rindu...


Desi membalas pelukan Dira yang erat padanya. Namun, seketika dia tersadar dimana ia berada sekarang.


Buru-buru Desi melepaskan pelukannya, membuat Dira merasa sedikit tidak rela.


Desi beralih pada Elang yang tengah sibuk dengan laptopnya."Pak Elang, ada yang bisa saya bantu" ucap Desi yang merasa begitu takut,karna aksi bar-bar Dira tadi.


"Dia chef baru bagian desert,kau antar dia ke pantry, sekaligus ajarkan tentang peraturan direstoran ini" ucap Elang tetap dengan nada dinginnya.


Jantung Desi begitu cepat berdetak setiap kali bertemu dengan bos nya yang satu ini. Bukan karna naksir,melainkan takut jika membuat sedikit saja kesalahan akan berakibat pada pekerjaannya ini.


"Baik pak" dengan menundukan kepalanya pertanda undur diri, Desi menarik tangan Dira agar gadis itu mengikutinya.


Jantung Desi sudah berjalan normal kembali setelah ia meninggalkan ruangan bosnya tersebut.


Agak merasa aneh juga dengan bosnya, kenapa bosnya tidak langsung memecat Dira saat ini? padahal Dira yang baru akan menjadi karyawannya sudah melakukan kesalahan yang biasanya dianggap fatal oleh bosnya. Tapi kenapa bosnya membiarkan Dira begitu saja?


Desi tidak habis fikir, mungkin kini bosnya itu sedang dalam mood yang bagus.


"Jadi sudah berapa lama kamu bekerja disini?" tanya Dira antusias.


"Wulan,pelan kan suaramu, ini masih jam kerja jadi nostalgianya nanti saja saat jam kerja mu sudah selesai, oke?" Desi menghentikan ucapan Dira saat memasuki ruang berisi lemari-lemari disana.


Desi memberikan chef jacket pada Dira " ini chef jacket mu ".


Dira menerimanya dan langsung memakainya. " Profesional sekali"


Desi melanjutkan langkah kakinya menuju dapur restoran itu dan diikuti Dira dibelakangnya.


Semua karyawan juga memberikan hormat mereka pada Desi yang menjabat sebagai seorang manager disana.


" Wah...ternyata pangkatmu boleh juga... tidak sia-sia ya sekolahmu" bisik Dira, membuat Desi tak bisa menahan senyumnya. Sahabatnya yang satu ini memang seperti ini. Sedikit gila.

__ADS_1


"Jadi,ini daftar menu nya" Desi menyerahkan buku tebal yang berisi menu desert di restoran itu.


"Wah...hampir tujuh puluh persen aku tau ini resepnya" ucap Dira saat membuka buku menu tersebut.


"Bagus kalau begitu, selamat bekerja" ucap Desi kemudian membalik badannya untuk meninggalkan tempat itu.


Namun tanpa ia sadari, ternyata Chef Elang sudah berdiri dibelakangnya dan membuatnya terkejut.


"Chef" ucapnya kemudian menunduk hormat pada Elang yang berdiri dihadapannya.


Tidak hanya Desi, semua koki dan asistenya juga menunduk hormat kepada Chef Elang.


Elang membalas dengan menganggukan kepalanya,kemudian berjalan mendekati Dira yang tengah sibuk membolak-balikan buku yang diberikan Desi.


"Eghm..." Sebuah deheman dari Elang membuat Dira mengalihkan perhatiannya pada pria yang kini berdiri disampingnya.


Dira hanya menyengir menyambut kedatangan Elang, dan aksinya membuat seluruh pegawai disana melotot kearah Dira yang begitu beraninya tidak menunduk hormat pada atasannya.


Elang melihat Dira dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan, kemudian mencengkaram kepala Dira dan mengarahkan pada pantrynya.


"Karna dia chef baru aku sendiri yang akan mengajarinya" ucap Elang kemudian membawa gadis." kembali bekerja!" serunya kemudian membuat para pegawai kelabakan menuju posisinya masing-masing.


Tidak ada yang berani bersuara, padahal ada ratusan pertanyaan dibenak mereka masing-masing.


***


"Sekitar satu minggu" jawab Dira kemudian dengan acak mengambil sebuah map yang berisi laporan yang ada di meja didepannya. Dan hanya membolak-balikannya.


Desi mendekat,kemudian duduk disamping Dira dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh diatasnya "Kau sudah bertemu dengan Dewa?".


Pertanyaan Desi membuat Dira menutup map yang ia buka tadi dengan sedikit hentakan, kemudian melemparnya kembali keatas meja. "Memangnya jika aku ada di jakarta, aku harus bertemu dengannya?".


" Sepertinya, melihat reaksimu ini, kamu sudah bertemu dengannya" ucap Desi dengan entengnya.


"Sejak kapan kau bisa membaca pikiranku?" Dira menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, dan menjatuhkan kepalanya disana.


"Jadi benar,kau sudah bertemu?" tanya Desi antusias " lalu bagaimana reaksinya melihatmu?".


Dira mencebik "Memang harus bagai mana lagi? sudah tau kabar masing-masing ya sudah, tidak ada yang ingin dibicarakan lagi".


" Masak tidak ada peluk-pelukan tanda pelepasan rindu? atau minimal ciuman lah-"

__ADS_1


Brakh...


"awh..." Desi meringis karna map yang Dira lemparkan kemeja tadi tiba-tiba menjadi gulungan dan menghantam kepalanya.


"mulut mu...!" geramnya malah membuat Desi terkekeh.


"Rugi sekali dong kalau Dewa bisa bertemu denganmu namu tidak melakukan apa-apa,?" Desi menjeda ucapannya " kau tau? hampir setiap hari dia mendatangiku dan selalu menanyakan tentangmu, dimana kamu, kira-kira sekarang kau sedang apa, kenapa tidak mengabari dia dan masih ada jutaan pertanyaan yang tidak bisa kujawab".


"hah...sepertinya kamu cocok dengannya, kenapa tidak menjadikannya pacar saja?" goda Dira.


"heh...begini-begini aku juga punya standar sendiri ya"


"Memangnya seperti apa standarmu?"


"Aku tidak mau bekasmu ya... ya, meskipun aku mengakui Dewa itu tipe pria idaman para wanita, namun aku masih tidak mau menerima bekasmu"


Dira tersenyum meremehkan "Jika Dewa saja tidak termasuk, lalu seperti apa model yang kau ingin kan?"


"Ya...minimal seperti chef Elang...boleh lah..." Desi mengibas-ngibaskan tangan kekiri dan kekanan.


Dira terdiam,kemudian tersenyum geli mendengar ucapan Desi. Apa tadi? tidak mau bekas ku? kalau saja dia tau jika pria yang dia maksud sudah menjadi suamiku, apa yang akan dia pikirkan?.


"Jam kerjamu sudah selesaikan?" Dira melihat jam yang melingkar ditangan kirinya sudah pukul lima sore.


Desi mengangguk " iya kenapa?"


"kalau begitu ayo ikut aku" Dira menarik tangan Desi namun sebelum keduanya beranjak, Dira menyerutup teh yang sudah dingin buatan Desi tadi.


"Eh...eh...mau kemana?" Tanya Desi namun tidak dijawab oleh Dira.


***


"Kau sudah gila ya? malam-malam membawaku kesalon?" Desi uring-uringan saat keluar dari mobilnya dan ternyata Dira mengajaknya kesalon.


"hehe...tidak pernahkan kesalon malam-malamkan?" Ucap Dira cengengesan "makanya ayo kita coba" Dira kembali menarik tangan Desi untuk masuk kedalam bangunan tersebut.


Mereka berdua disambut oleh pegawai salon itu dengan ramah,kemudian mempersilahkan duduk dikursi pelanggan.


"Tolong cat rambutku" ucap Dira pada pegawai salon yang berdiri dibelakangnya sambil melihat pantulan wajahnya didepan cermin.


Pegawai itu tersenyum kemudian melakukan permintaan Dira yang ingin mewarnai rambut barunya.

__ADS_1


"Saya creambath saja" ucap Desi saat salah satu pegawai mendekatinya.


__ADS_2