Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
empatpuluh dua


__ADS_3

di Mension Hermawan


"Diamana Dewa?dia tidak turun untuk sarapan?" tanya papa Rian pada Sarah yang sudah duduk disampingnya.


"Sepertinya Dewa tidak pulang dari semalam" jawab Sarah.


"Siti,apa benar Dewa tidak pulang lagi?" kini Papa Rian bertanya pada bik Siti.


"Benar Tuan" jawab bik Siti.


Papa Rian mengehela nafasnya berat, sepertinya begitu sulit untuk menasehati anak itu.


"Apa dulu kita salah langkah" Sarah bersuara.


"Tentang?"


"Tentang menjauhkan Dewa dengan Wulan"


"Tentu saja itu tidak salah, bibit bebet bobot dalam urusan mencari pasangan hidup itu bukankah penting?"


"Tapi,kau lihatkan bagai mana Dewa selalu menentangmu,apa kamu tidak merasa-"


"Jangan melewati batas mu,kau hanya perlu diam dan memperhatikan bagaimana kehidupan putraku" potong papa Rian.


Sarah tersentak, sudah lima belas tahun dia menemani seorang Adrian Hermawan, dan apakah memberi tahu apa yang ada dipikirannya masih dilarang disana.


Sarah mengepalkan tangannya kuat-kuat sebagai pengalihan emosinya, ia sudah menjadi nyonya Hermawan, namun tak memiliki hak untuk bersuara, Sungguh menyedihkan. Apa kah bila dia bisa memiliki putra sendiri akan berbeda ceritanya?.


"Maaf,aku sudah lancang" ucap Sarah dengan suara bergetar.


Kemudian dengan berat hati, menenangkan hatinya dan melayani suaminya.


***


"Kau belum pergi?" ucap Elang saat mendapati Dewa yang masih duduk bersantai diatas kursi ruang makan sambil memperhatikan Dira yang sedang membersihkan rumah.


Dewa tersentak,kemudian melihat kearah Elang yang sudah rapi "Oh,kakak akan pergi?" tanyanya.


Elang mengangguk "Apa kau tidak ke Kantor?"


"Aku adalah bosnya,berangkat sedikit terlambat tidak masalah"


"Ku harap kau tidak melakukan hal seperti semalam,jika salah satu pemegang saham ada yang mempergokimu,kau bisa habis!" Elang memberi peringatan.


Dan sama sekali tidak ditanggapi oleh Dewa.


"El,kau sudah siap?" kini Dira yang bersuara.


"Kau ini istrinya,kenapa memanggil kak Elang dengan namanya?" Seru Dewa karna tak terima Dira memanggil Kakaknya dengan panggilan sedekat itu.


"Apa urusannya denganmu?" sengit Dira. "Itu adalah panggilan sayangku untuk Suamiku".


" Cepat lah bersiap,aku akan menunggumu" ucap Elang memotong perdebatan mereka berdua.


Dira menuju kamarnya untuk bersiap.


"Apa kalian akan pergi?" Dewa bertanya.


"Kami bukan pengangguran" jawab Elang dingin.

__ADS_1


"Ck...apa itu sebuah jawaban?" cibir Dewa.


Tak lama,Dira sudah keluar dengan memakai kaus putih dengan blazer navy yang menutupinya tak lupa celana jeans kesukaannya.


"Apa kau akan berangkat bekerja dengan penampilan mu yang seperti itu?" Dewa seperti mengolok.


Dira mencebik,kemudian memperhatikan penampilannya sendiri dari bawah. "Kenapa kau banyak bicara? El saja tidak masalah" ucap Dira.


"Apa kakak tidak masalah?" Dewa beralih pada Elang.


Elang hanya menaikan bahunya,tanda dia tidak masalah.


"Lihat kan?" Dira kemudian melangkah lebih dulu.


"Jangan menggoda wanita yang sedang hamil muda" Ucap Elang ketika melewati Dewa sambil menepuk bahu pemuda itu.


"Apa Wulan hamil?".


" Wanita akan lebih sensitif saat hamil" ulang Elang.


"Aku bisa mendengar ucapan mu El!" Teriak Dira yang sudah berada diluar apartemen.


***


"Kenapa bicara seperti itu pada Dewa?" tanya Dira,kini mereka sedang ada didalam mobil, dengan Elang yang menyetir.


"Kau tidak suka?" tanya Elang balik.


"Bukannya tidak suka, hanya saja kita belum tau apakah aku sudah hamil atau belum, aku bahkan belum pernah mengeceknya".


" Tapi aku yakin kalau kau pasti sudah hamil" ucap Elang yakin.


"Kau bisa mengeceknya"


"Bagai mana jika ternyata aku tidak hamil?"


"Maka aku akan berusaha lebih leras lagi"


Dira memutar bola matanya malas "Tuan, kenapa kau begitu ingin aku cepat hamil?" tanya Dira namun,belum sempat Elang menjawab Dira lebih dulu berspekulasi "ah... apa karna usiamu?".


Elang mengerutkan keningnya " Ah,benar itu pasti benar" ucap Dira lagi.


"Sepertinya kau senang sekali mengejek ku dengan membawa umur" ucap Elang "Tapi untuk alasan kau harus secepatnya hamil kau bisa berpikir bahwa umurku yang memang sudah tidak muda lagi ini sebagai alasannya"


"Ck,jika kau bilang seperti itu,maka pasti bukan itu alasan sebenarnya"


"Akan memudahkan ku untuk mempertahankanmu jika kau mengandung anakku" Elang memberikan senyumnya kemudian mengacak rambut Dira.


"Maksudmu tentang tuan Hermawan?" tanya Dira,Elang mengaguk.


"Aku akan berpura-pura menutup mata dan telingaku untukmu,aku akan selalu mempercayaimu El" ucap Dira.


Elang tersanjung kemudian Elang mengganti mobilnya dengan mode kemudi otomatis, sehingga mobil mewahnya secara otomatis bisa terkemudikan sendiri.


Elang meraih tengkuk Dira,kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pink milik Dira.


"Terimakasih kau mau mempertahankannya" ucap Elang disela-sela ciumannya.


Dira mengangguk,kemudian kembali menyatukan bibirnya diatas bibir Elang.

__ADS_1


Mungkin kini aku sudah benar-benar terjatuh, tapi tidak masalah,aku yakin Elang bisa menjagaku,aku yakin dia bisa mempertahankanku. Elang...ku percayakan hatiku untukmu...


Sesampainya didepan restoran...


"Kau tidak masuk?" Dira menundukan wajahnya untuk melihat Elang yang masih didalam mobil.


"Tidak,aku akan pulang".


" Jadi kau kesini hanya ingin mengantarku saja?"


"hm" Elang mengangguk.


"Manis sekali" sanjung Dira.


Elang sedikit melengkungkan bibirnya "Jangan menggodaku,kau bisa melakukannya dirumah".


Dira tertawa kemudian berbalik dan berjalan menuju restoran " Istirahatlah tuan Chef" ucap Dira sambil melambaikan tangannya.


Elang hanya tersenyum melihat punggung Dira yang berjalan menjauhinya sambil melambaikan tangannya,kemudian ia melajukan mobilnya.


"Pagi chef,ini daftar menu hari ini" Sapa Salsa, Asisten Dira.


"Ya,kau sudah menyiapkan bahannya?" Dira menerima kertas berisi daftar menu desert yang akan ia buat hari ini,kemudian membacanya.


"Sudah Chef" Jawab Salsa.


"Oke,langsung kita kerjakan" Dira menuju pantry nya,kemudian mengerjakan pekerjaannya.


Saat bekerja,mereka bekerja dengan profesional,seperti saat diSurabaya dulu.


Sistem pekerjaan disini juga sama dengan restoran tempat Dira bekerja dulu,jadi ia dengan mudah menyesuaikan diri.


Hanya pegawainya saja yang berbeda.


Usai bekerja,Dira langsung menuju ruang Manager,yaitu ruangan sahabatnya.


tok...tok...tok...


Dira memasuki ruangan itu setelah Desi mempersilahkannya masuk.


"Ada apa nyonya bos kemari?" tanya Desi yang lebih tepatnya sebagai sindiran.


"Oh ayo lah...kau marah?".


" Kau bahkan tidak menceritakan pernikahanmu padaku!"


"Hehe" Dira terkekeh.


"Aku bahkan memuji suamimu sebagai pria idaman yang aku inginkan sebagai suamiku" cibir Desi "Kau tau? aku merasa menjadi orang idiot didepanmu saat itu"


"Ayo lah Des, aku bahkan tidak mempermasalahkannya" Dira masih dengan kekehannya.


"Kau berhutang cerita padaku,coba ceritakan semua padaku!" ucap Desi yang terlihat begitu tidak sabar ingin mendengar bagai mana kisah hidup Dira setelah gadis itu meninggalkan Jakarta dua tahun lalu.


Dan perlahan,Dira pun menceritakan pada Desi bagai mana ia bisa menjadi istri dari Chef Elang,Chef tampan yang begitu di elu-elu kan oleh begitu bayak wanita.


next?


like n coment please...

__ADS_1


__ADS_2